Saat keluar dari toilet, Bunga bertemu dengan Stella. "Bunga?" Stella nampak senang bertemu dengan Bunga. "Stella?" Begitu pun sebaliknya. "Apa kabar, kok kamu masih langsing aja sih, masih awet muda, gak pernah berubah." Stella memuji Bunga. Bunga hanya tersenyum. "Kamu udah nikah?" Pertanyaan Stella membuat Bunga tersentak. "Ah, pasti cowok-cowok pada minder sama kamu. Kamu tuh cantik dan sekarang sudah jadi wanita sukses." Lanjut Stella. Bunga merasa lega mendengarnya. "Sebenarnya bukan begitu kok." Bunga merendah. "Pokoknya kalau kamu nikah, jangan lupa undang aku ya." Pinta Stella. "Iya." Bunga mengangguk. "Yaudah, aku masuk dulu ya, kebelet." Stella lalu masuk ke dalam kamar kecil.
Bunga memilih kembali ke lokasi acara. "Aku gak boleh kalah hanya karena ejekan Cecil." Dia menyemangati dirinya sendiri. "Kakak alumni di sini ya?" Tanya seorang siswa. "Iya." Jawab Bunga. "Serius? Kakak kelihatan masih muda sekali." Puji siswa tersebut. "Terimakasih." Ucap Bunga. "Oya kak, sebentar lagi acara makan-makan, ayo ambil makanannya lebih dulu." Ajak siswa itu. Bunga lalu mengikutinya untuk mengambil makanan yang dia sukai lalu kembali ke tempat duduknya tadi.
Pembawa acara mengumumkan bahwa acara makan-makan sudah dimulai dan mempersilahkan semua undangan untuk mengambil makanan sambil panitia menampilkan foto-foto lama alumni di layar.
Bunga mengingat persahabatannya dulu bersama Stella, Munny, Aji dan Emon. Bunga telah menyelesaikan cerita karangannya dan dia memanggil keempat temannya itu untuk berkumpul. "Dramanya sudah selesai?" Tanya Emon yang bertubuh gemuk. "Iya, kali ini tokohnya lebih banyak." Jawab Bunga. "Aku jadi cowok yang tampan dan keren ya?" Pinta Aji yang bertubuh atletis. "Hu, maunya. Emon aja." Ledek Munny, si tomboy. "Kali ini tokoh utamanya Stella." Kata Bunga. Stella yang dulu, bertubuh kurus dan pemalu. "Iya deh." Jawabnya tersipu malu. "Ayo kita mulai." Ajak Aji. Permainan mereka adalah berakting lewat cerita yang ditulis oleh Bunga. Bunga merindukan masa-masa itu.
Antrian mengambil makanan masih lumayan panjang. Di antara barisan orang-orang itu Bunga melihat Jaka. Dia sudah tampak lebih dewasa sekarang. Jantung Bunga masih saja berdegup kencang jika melihatnya. "Gak, aku gak boleh punya perasaan sama dia lagi." Bunga menguatkan hatinya.
Sangat sulit bagi Bunga melupakan Jaka, itu karena dulu Jaka selalu berusaha mendekati Bunga. Kali ini sepulang sekolah, Jaka menghampiri Bunga dengan sepeda motornya. "Mau aku antar pulang?" Tawarnya. "Gak perlu, makasih." Jawab Bunga sambil terus berjalan. "Nunggu bis lama." Bujuk Jaka. Bunga tak menggubris dan dia terus berjalan ke tepi jalan. "Itu bis nya." Tunjuk Bunga. "s**l!" Jaka menggerutu di dalam hati, dia nampak kecewa. "Maaf ya, aku duluan." Ucap Bunga pada Jaka. Bunga naik bis dan dia duduk di dekat jendela. Tapi kemudian Jaka melintas di sisi bis. "Lain kali pulang denganku saja, lebih cepat sampai." Teriak Jaka. Bunga terkejut melihatnya. Beberapa penumpang saling berbisik. "Pacarnya kali ya." Hal itu membuat Bunga merasa malu.
Rupanya Jaka serius dengan ucapannya, di lain hari dia mengikuti Bunga lagi. "Ayo aku antar sampai ke depan." Tawarnya. "Gak papa, makasih, aku jalan kaki aja." Jawab Bunga. Mendengar jawaban Bunga, Jaka memilih mendorong sepeda motornya. Hal itu membuat Bunga terkejut. "Kalau gitu, aku juga jalan kaki sampai depan." Gumam Jaka. Bunga pun tersipu melihat pengorbanan Jaka.
Tibalah mereka di depan gerbang. "Ayo menyebrang." Jaka tampak sangat melindungi Bunga hingga tiba ke seberang jalan. Bis yang ditunggu belum juga datang. "Bunga, pulang naik motor saja bareng Jaka, hari ini tidak ada bis, mereka demo kenaikan harga BBM." Ujar salah seorang teman sekelas Bunga. Bunga menundukkan kepalanya, merasa malu pada Jaka. "Ayo." Tetapi senyuman Jaka membuatnya kembali bersemangat.
Jaka merasa senang bisa mengantarkan Bunga pulang hari itu. "Aku bersyukur banget hari ini bisa meminjam motor Paman, kalau tidak, aku pun tidak bisa pulang karena tidak ada bis." Ujar Jaka. "Makasih ya." Ucap Bunga. "Untuk apa?" Tanya Jaka. "Kamu mau mengantarkan aku." Jawab Bunga. "Aku yang berterimakasih karena gadis secantik dan sepintar kamu mau diantar pulang dengan motor butut ini." Kata Jaka. Bunga tersipu mendengarnya. "Awas nanti Paman kamu dengar loh." Goda Bunga. "Oh iya, maaf Paman. Makasih ya Bunga, kamu sudah ingetin aku." Ucap Jaka sambil tertawa. Bunga pun ikut tertawa. "Tapi kok kamu tau namaku?" Tanya Bunga. "Siapa sih yang tidak kenal siswa berprestasi seperti kamu." Puji Jaka. "Ah, biasa saja. Nama kamu siapa?" Tanya Bunga. "Jaka." Jawab Jaka. Bunga mengangguk. "Sebenarnya aku sudah tau." Bisik hatinya.
Baru sebentar bersama, rupanya mereka sudah bisa berteman. "Kita sudah sampai." Jaka bahkan tau rumah Bunga. "Kamu tau rumah aku juga?" Bunga takjub. Jaka tak menjawab dan hanya tersenyum. "Makasih ya." Ucap Bunga. "Tunggu dulu, ongkosnya mana?" Jaka menghentikan langkah Bunga. "Ongkos?" Bunga mengernyitkan alis. Jaka mengambil ponselnya lalu memberikannya pada Bunga. "Nomor handphone kamu." Pinta Jaka. Bunga tertawa. "Jadi ada udang di balik batu ya." Godanya. "Lain kali kita janjian pulang naik bis ya." Kata Jaka. "Ok." Jawab Bunga. Setelah menyimpan nomornya di handphone Jaka, Bunga pun masuk ke dalam rumah. Perasaan hati keduanya berbunga-bunga, mungkin inilah cinta pertama bagi mereka berdua.
Kini Bunga mendapat teman baru yang memiliki hoby yang sama, yaitu membaca buku. Mereka juga sering pulang bersama dengan bis sambil bercanda ria. Bunga merasa sangat nyaman berada di dekat Jaka. Hingga suatu hari, Bunga mendapat jadwal piket dan dia sendirian di kelas, kebetulan Aji melintas. "Bunga, kamu belum pulang?" Aji masuk ke dalam kelas. "Iya, lagi piket." Jawab Bunga sambil menyapu lantai. "Aku bantuin ya." Aji mengambil sapu dan membantu Bunga membersihkan kelas. "Makasih ya." Ucap Bunga. "Gak perlu makasih, kita kan sahabat, masa hanya karena sudah naik kelas dan beda kelas terus kita gak saling bantu lagi." Aji memang sangat bijaksana sejak dulu. Bunga kagum kepadanya.
Bunga lupa kalau dia ada janji dengan Jaka untuk pulang bersama hari itu. Jaka sudah lama menantinya di lapangan upacara. "Bunga kemana ya?" Jaka merasa khawatir, lalu dia menuju ke kelas Bunga. "Akhirnya selesai juga." Bunga nampak senang. "Ayo kita pulang." Ajak Aji. Bunga melihat jam tangannya. "Hah, Jaka pasti udah lama nunggu." Bunga teringat pada Jaka, dia buru-buru keluar dari kelas tanpa teringat lagi bahwa ada sandungan di depan pintu, Bunga pun hampir terjatuh tetapi Aji segera memegang pinggang Bunga dan menarik tanganya agar tak terjatuh. Rupanya Jaka melihat hal itu dan dia menjadi salah paham. "Hati-hati." Ucap Aji. Bunga merasa sangat malu atas kecerobohannya itu. Terlebih lagi kakinya sudah terlanjur terkilir dan tak sanggup berjalan.
Jaka memilih bersembunyi di balik pohon dan melihat apa yang terjadi selanjutnya. "Aduh." Bunga kesakitan. "Kamu kenapa?" Cemas Aji. "Kaki aku." Bunga memegang kaki kanannya. "Pasti terkilir." Tebak Aji. "Ayo aku bantu ke UKS, mudah-mudahan masih buka." Aji merangkul Bunga dan menuntunnya menuju ke ruang UKS. Hati Jaka terasa sakit melihatnya. Dia memilih pergi dan pulang seorang diri.