Karena sudah jam pulang sekolah, maka ruang UKS pun sudah ditutup. "Biar aku antar kamu pulang." Aji menawarkan bantuan. "Gak usah, aku naik bis aja." Jawab Bunga. Aji mengangguk. "Aku antar sampai depan ya." Pintanya lagi. Bunga pun setuju. Siswa yang lain sudah pulang dan hanya tinggal mereka berdua. "Jaka mana ya?" Bunga celingukan mencari Jaka. "Kamu gak papa aku tinggal sendirian? Soalnya aku harus ke bengkel untuk kerja." Aji masih mencemaskan Bunga. "Iya, gak papa kok." Jawab Bunga. Maka Aji pun pergi dari sana. "Aku pergi dulu ya." Dia berpamitan pada Bunga.
Bis berikutnya sudah datang tapi Bunga memilih tidak naik. Dia masih menunggu Jaka di halte. Bunga mengambil ponsel dan menghubungi Jaka, tetapi tidak mendapat jawaban. "Kamu dimana? Aku nungguin di halte." Bunga mengirim pesan. Jaka yang masih di dalam perjalanan membaca pesan itu. "Maaf, tadi ada urusan mendadak, jadi aku pulang duluan." Jaka membalas pesan itu. Membacanya membuat Bunga merasa sedih. Dia tak membalas lagi pesan itu. Setelah hari itu mereka jadi jarang bertemu meskipun di satu sekolah yang sama.
Bunga sudah menghabiskan makanannya, tampaknya acara berikutnya akan segera dimulai. "Sambil menunggu teman-teman semua selesai menikmati makanan, adakah yang mau berbagi cerita indahnya semasa SMA dulu?" Tanya Max. Seorang alumni mangangkat tangan kanannya. "Silahkan." Max mepersilahkan pria itu naik ke pentas. "Terimakasih Max, perkenalkan saya Dalton, alumni kelas XII IPS 5, mungkin guru-guru senior paling ingat sama saya nih, saya si juara bikin masalah." Mendengar cerita Dalton semua alumni tertawa sedangkan salah satu guru senior yang belum pensiun merasa terharu. "Tapi saya bersyukur mendapatkan banyak perhatian dari dewan guru, kalau tidur di kelas dibangunin pakai alarm penghapus papan tulis." Kembali semua orang tertawa. "Kalau saya gak kerjain tugas malah dapat bonus gak belajar dan berdiri hormat bendera di lapangan." Kini raut wajah Dalton nampak sedih, mungkin memorinya sedang kembali pada kenangan itu.
Dalton lalu melanjutkan ceritanya. "Kapan lagi coba, kalau terlambat bisa jadi tukang kebun dadakan?" Dalton tertawa begitupun dengan para alumni. Guru senior menundukkan kepalanya. "Kalau bolos sekolah dikasih kerjaan jadi office boy." Dalton terus bercerita. Kini beberapa alumni merasa terharu. "Terimakasih atas didikan Bapak/Ibu guru semua, tanpa kalian saya tidak akan sekuat ini, dan kami mungkin tidak akan seberani hari ini, kami berjuang, kami berhasil meraih kesuksesan." Ucapan Dalton membuat guru senior meneteskan air mata. Dalton lalu menghampiri guru senior, berlutut dan memeluknya dengan erat. Semua orang berdiri dan memberikan penghormatan pada sang guru.
Bunga menghapus air matanya melihat momen haru tersebut. Setelah itu dia duduk kembali dan teringat pada Bu Aya. "Kok sekarang Bunga udah jarang ke pustaka?" Tanyanya pada Bunga saat berkunjung. "Lagi banyak tugas di kelas Bu." Bunga memilih berbohong. "Bukan karena si Jaka punya pacar kan?" Tanya Bu Aya. Seketika Bunga terkejut. "Apa, Jaka punya pacar?" Rupanya Bunga baru mengetahui hal itu. Bu Aya membekap mulutnya sendiri. "Aduh, kok aku malah ngomong yang aneh-aneh." Dia merasa bersalah pada Bunga.
Bunga mencoba mencari tau kebenaran cerita itu. Rupanya saat masuk ke kelas, dilihatnya Jaka sedang mengobrol bersama Cecil, mereka nampak akrab. Keduanya duduk berhadapan hingga Bunga tak bisa melewati lorong. "Permisi." Bunga menabrak kaki mereka. "Aw, hati-hati dong." Protes Cecil. Bunga duduk di bangkunya yang berada di barisan belakang. Jaka nampak acuh pada Bunga, seolah mereka tak saling mengenal. "Kok Jaka gak sapa aku sih?" Kesal hati Bunga. "Tapi kamu keren loh bisa lolos tim cheersleader." Jaka malah memuji-muji Cecil. Hal itu membuat Bunga cemburu, dia mengambil buku dan kotak pensil di dalam tasnya lalu kembali melewati Jaka dan Cecil. "Ih Bunga hati-hati dong." Kesal Cecil.
Bunga pergi ke taman, dia duduk sendirian sambil bicara sendiri. "Ternyata benar kan, dia punya pacar." Hingga tak menyadari kedatangan Stella. "Siapa sih?" Tanya Stella. "Stella?" Bunga terkejut melihat sahabatnya itu. "Sejak naik kelas, kita udah jarang ketemu ya." Kata Stella. "Iya, karena kita harus beradaptasi dengan teman-teman baru. Tapi aku senang kita bisa ngumpul lagi." Ujar Bunga. "Justru itu, aku mau bilang kalau aku mau pindah sekolah." Pernyataan itu sangat mengejutkan. "Hah, kenapa?" Tanya Bunga. "Kamu kan tau sejak orang tuaku meninggal, aku tinggal sama kakak aku, sekarang kakak aku udah nikah dan akan ikut suaminya keluar kota." Jelas Stella. Bunga nampak sedih mendengarnya. Baru saja dia merasa kehilangan Jaka, kini dia harus kehilangan salah satu sahabatnya yaitu Stella.
Bunga tidak tau bahwa dulu Jaka sengaja membuatnya cemburu untuk membalaskan kecemburuannya pada Aji. Tetapi tindakan Jaka justru membuat hubungan mereka makin renggang bahkan sampai mereka lulus SMA. "Bunga, kamu mau lanjut kuliah dimana?" Tanya Munny. "Ummi pengen aku jadi guru, jadi aku akan lanjut ke perguruan tinggi." Jawab Bunga. "Kamu beruntung, orang tua kamu punya biaya untuk menguliahkan kamu, aku sih mau dinikahkan sama anak sahabat Ibuku." Wajah Munny tampak lesu. "Apa, nikah? Tapi kamu kan baru lulus SMA." Bunga terkejut mendengarnya. Munny malah tertawa. "Bunga, kamu ni polos banget ya. Kamu udah dewasa tau, udah 17 tahun, aku bahkan udah 19 tahun." Ujar Munny. Bunga terdiam, apalagi yang bisa dikatakannya, itu sudah menjadi pilihan hidup Munny.
Setelah lulus SMA, Bunga merasa kesepian, di kampusnya dia belum mendapat seorang teman baik. "Bunga?" Tapi dia malah bertemu dengan Jaka lagi. "Kamu kuliah di sini juga?" Tanya Jaka. Bunga mengangguk. "Kebetulan sekali kita ketemu lagi ya. Kamu mau pulang?" Tanya Jaka lagi. "Iya." Jawab Bunga. "Ayo barengan, rumah kita kan searah." Ajak Jaka. Bunga tertegun, melihat ketulusan di wajah Jaka. "Apa kamu hanya ditakdirkan menjadi tukang ojek aku aja, setelah mengantar aku pulang, kamu pun menghilang?" Pikir Bunga. "Bunga, ayo?" Jaka membuyarkan lamunan Bunga. "Oh, iya, gak usah, makasih. Aku ada janji sama teman." Jawab Bunga sambil tersenyum. "Teman atau pacar?" Tanya hati Jaka. "Oh, begitu. Ya sudah, aku pergi." Jaka pun berlalu dari hadapan Bunga.
Sebenarnya Bunga merasa bersalah pada Jaka. "Maaf ya, aku cuma gak mau kamu menghilang lagi dan cuekin aku." Dia bicara seorang diri sambil melihat Jaka yang semakin menjauh dari pandangannya. "Aji bilang mereka hanya berteman, tapi rupanya di kampus dia punya pacar." Jaka mencurigai Bunga.
Hari berganti dan Bunga tak lagi bertemu dengan Jaka. "Apa dia menghilang lagi?" Tanyanya. "Siapa yang hilang?" Vina, sahabatnya datang. "Lama banget sih." Keluh Bunga. "Sorry, tadi ada tugas yang harus dikumpulkan segera. Ayo ke kantin." Ajak Vina.
Selama belajar di kampus, Bunga hanya fokus pada mata kuliah dan dia tidak peduli urusan asmara seperti teman-temannya yang lain. "Mau aku comblangin tidak?" Goda Vina. "Vina...!" Bunga selalu saja kesal tiap Vina membahas soal pasangan.
Bunga memang memiliki banyak teman di kampus, tetapi Vina adalah sahabat terbaiknya, maka saat Vina memberi tahukan Bunga kalau dia akan berhenti kuliah, Bunga kaget bukan kepalang. "Tapi kenapa, apa suami kamu gak ngizinin kamu kuliah?" Tanya Bunga. "Bukan gitu Bunga, aku sedang hamil dan itu akan merepotkan kalau aku gak cuti. Jadi lebih baik aku berhenti dan fokus pada rumah tangga." Jelas Vina. "Tapi pendidikan itu penting Vin." Tutur Bunga. "Aku tau, tapi bagi perempuan, pada akhirnya setelah mereka menikah, mereka akan lebih sering menghabiskan waktu di rumah ketimbang bekerja. Suatu saat kamu bakal ngerti kok." Vina tetap teguh pada pendiriannya.
Bunga merasa kesepian karena sendirian lagi. Hanya keluarga tercinta yang hadir saat acara wisuda sarjananya. "Selamat ya sayang." Ummi memeluk dan mencium pipi Bunga. "Selamat ya kak." Ucap Sonya, adik Bunga. "Makasih ya." Bunga memeluk mereka dengan erat.
Handphone Bunga berdering, panggilan dari sopirnya. "Kamu sudah sampai?" Tanya Bunga. "Iya Bu." Jawab Miko. "Berikutnya siapa lagi yang mau menceritakan kisah masa SMAnya?" Tanya Max. "Baik, saya segera ke sana." Kebetulan Bunga berdiri dan semua orang mengira dia akan tampil ke depan. "Ternyata Bunga." Rupanya Max mengenal Bunga. Bunga terkejut melihat semua mata tertuju padanya. "Bukan, saya...." Dia melambaikan tangan. "Iya, silahkan." Max tersenyum padanya. Bunga bingung harus bagaimana. "Bunga? Apa itu Ibu?" Miko mendengar nama Bunga disebut lewat pengeras suara, segera dia meninggalkan mobil di area parkir dan menuju ke lapangan.