Tiba di rumah yang dituju, Langit turun dan menghampiri pintu di samping sang istri, membukanya kemudian menyingkir saat dengan kasar Rindu bangkit. Tidak sang istri rasakan sakit akibat operasi caesar beberapa hari lalu. Rindu kesal dan ingin segera masuk rumah. Jika bisa dia ingin langsung menuju kamar untuk merebahkan diri. “Sayang, tunggu!” raih Langit pergelangan tangan yang dengan cepat berjalan menjauh. “Bisa nggak dikit aja sok romantis depan orang tua kita?” “Aku capek, pingin tidur.” Langit mengangguk cepat seolah sangat setuju dengan perkataan sang istri. “Yah, itu bagus. Dengan senang hati aku bakal temenin.” “Hih!” Rindu menepis kasar tangannya dan kembali menyeret langkah. Mbok Darmi membuka pintu setelah dua kali dirinya mengetuk. “Mbak Rindu,” sambut mbok Darmi dengan

