Anyelir berlari ke arah pintu kemudian mengintip celah di baliknya. Seseorang membuat kebisingan di sana. Dia berpikir mungkin Langit dan papanya kembali datang setelah mengantarnya pulang beberapa waktu lalu. Namun yang terlihat adalah seorang pria dengan tangan berlumur darah. “Morgan,” seru Anyelir bergerak memutar handle pintu. “Kenapa, Lo?” “Kena tembak,” balasnya sambil terus memegangi tangan berbebat kain seadanya. “Kok bisa?” Gadis itu bertanya tak percaya sembari memapah Morgan masuk dan mendudukkannya di sofa. Morgan meraih ponsel mengarahkannya pada Anyelir. “Tolong hubungin Steve! Suruh ke sini.” Anyelir paham meskipun tidak mengenal. Steve adalah dokter yang selalu Morgan mintai bantuan untuk memberikan obat-obat berbahaya. Seperti chloroform yang hampir pria itu berikan

