Jika malam waktunya beristirahat maka pagi sudah saatnya kembali menjalani rutinitas seperti biasanya.
"Harus buru-buru nih," ucap Ezra kocar-kacir.
Kelihatan dari wajah Ezra, ia sudah panik. Terlihat dari tindakannya yang menjinjing sepatu bukan dikenakannya.
"k*****t, segala kesiangan lagi."
Ezra langsung keluar dari kamarnya dan mengendap-endap turun ke bawah. Hendak menuruni anak tangga, ia justru melotot melihat abangnya yang tak kalah panik sambil memeluk laptop dan menjinjing sepatu.
"Kesiangan juga lu, Dek?" tanya Aryan yang diangguki Ezra dengan wajah melas.
"Lu juga, Bang?" Aryan pun mengangguk.
Mereka kompak menghela napas kasar, entah apa yang mereka hindari.
"Ya udah, ayolah turun kita," ajak Aryan.
Mereka pun turun sambil menoleh kiri kanan, mengendap-endap seperti maling yang ingin kabur.
"Belum bangun kali ya, Bang?"
"Gak bisa dipastikan itu. Ayo buruan," ucap Aryan.
Mereka bisa bernapas dengan lega saat sudah sampai di depan pintu yang masih terbuka. Tinggal membuka pintu lalu bisa bernapas dengan lega.
"Pelan-pelan bukanya, Dek." Ezra pun mengangguk.
"Pakai sepatu dulu kali ya, Bang?"
"Gak osa, buat lama. Entar di mobil aja, buruan."
Ezra pun membuka pintu dengan pelan-pelan. Aryan pula menoleh ke belakang menjaga situasi, takut ada yang muncul.
"Bang," panggil Ezra dengan nada lemah.
"Buruan, Dek." Aryan pun menoleh ke depan.
"Hayooo, mau kabur?" tanya Rani sambil mengacungkan sapu ke arah Ezra dan Aryan.
"Kepergok nih yeee, cieee," ejek Rangga dekat kolam renang.
Ezra dan Aryan merasa tercekik sekarang. Niat kabur dari rumah malah kepergok di depan pintu rumah. Kebiasaan ibu mereka adalah akan ada acara gotong royong bersama kalau semua anggota keluarga berkumpul. Inilah salah satu alasan Ezra dan Aryan yang tidak mau menginap di rumah orang tuanya.
"Ma, Aryan harus ke kantor ada meeting pagi," ucap Aryan.
"Alasan yang sudah biasa. Kamu alasan apa, Dek?" tanya Rani pada Ezra.
"Hehe, enggak kok, Ma. Gak ada alasan," jawab Ezra. Sudah kecebur ya sudah langsung berenang saja, begitulah pemikiran Ezra.
Rangga tak henti menertawakan putra dan putrinya dan itu membuat Ezra dan Aryan kesal.
"Papa, diam! Lanjutin bersihin kolam renangnya," ucap Rani seketika membuat Rangga bungkam.
Ezra dan Aryan ganti menertawakan ayah mereka yang sedang menyerok daun-daun yang gugur di dalam kolam renang.
Walau asisten rumah tangga banyak di rumah mereka, tapi kebiasaan bersih-bersih tetap saja ada. Dan selalu terlaksanakan ketika Aryan dan Ezra berada di rumah. Walau pun begitu, asisten rumah tangga mereka tetap membantu.
"Kalian mau ngapain?" tanya Rani. Walau pun gotong royong begini, tapi Rani tetap memberikan keringan kepada suami dan anak-anaknya untuk memilih melakukan tugas apa.
"Bareng Papa aja, bersihin kolam renang," jawab Ezra yang disetujui Aryan.
Rani tampak mikir terlebih dahulu, "Ah, gak seru."
Ezra dan Aryan sudah saling pandang, seakan mereka berbicara hanya melalui mata.
"Sikat kamar mandi ajalah," ujar Rani sambil tersenyum tanpa dosa.
Pirasat Ezra dan Aryan benar bakalan aneh-aneh dan selalu begitu. Mereka sudah paham dengan ibu rumah satu ini. Walau pun bertanya, tapi tetap memberikan pekerjaan yang tidak Aryan dan Ezra ajukan.
"Belum pernah juga sikat kamar mandikan," ucap Rani lagi.
Rangga yang masih bisa mendengar pun tertawa. Beruntung ia melakukan pekerjaan yang sedikit enak walau ia harus berdiri dan membungkuk sedikit, tapi masih mending dari pada menyikat kamar mandi yang Aryan dan Ezra dapatkan.
"Ma, gak bisa gitulah," ucap Arya tidak setuju.
"Iya, Ma. Masa sikat kamar mandi." Ezra juga tidak setuju.
"Oh kalau gitu nyapu sama ngepel aja, mau?" tanya Rani sudah melipat tangan di depan d**a.
"Oh, tentu TIDAK!" jawab Aryan dan Ezra kompak. Ya, kali nyapu dan ngepel rumah segede ini. Apartemen mereka saja di sapu kalau ingat doang.
"Ya udenlah, sikat kamar mandi di kamar kalian masing-masing," ucap Rani.
Mau tidak mau, Aryan dan Ezra pun mengangguk pasrah. Menyetujui melakukan pekerjaan itu.
"Terserah kalian mau masing-masing atau kerja sama, yang penting sikat kamar mandi di kamar kalian sampai wangi dan bersih," ujar Rani.
"Lah kalau gitu, Mama bantuin Papa juga. Kita kerja sama," teriak Rangga sambil cengir.
"Oh, tentu TIDAK BISA!" Rani menjawab dengan sombongnya.
"Mama mau otw masak," ujar Rani lagi.
"Paling juga gosong," ucap Rangga.
"Mama denger, ya Pa."
Rangga langsung diam dan tersenyum, "Telinga wanita emang panjang," lirih Rangga.
"Ok, go go, semangat," ucap Rani lalu masuk ke dalam rumah bersama dua asisten rumah tangga.
"Kerja sama ajalah kita, Dek," ajak Aryan.
"Oh, tidak mau. Kamar mandi Abang lebih gede. Ogah," jawab Ezra berbalik arah masuk ke dalam rumah.
Aryan pun menyusul Ezra.
"Ayolah, Dek." Ezra menggelengkan kepalanya tanda tidak setuju. Pasalnya kamar mandi abangnya memang jauh lebih luas dari kamar mandinya. Rugi dong.
"Nanti Abang belikan tas deh," ucap Aryan sambil menaiki tangga mencoba beriringan dengan adiknya.
"Ok, deal." Ezra pun senang. Siapa coba yang menolak gratisan.
"Tapi terserah Adek milih merknya," ujar Ezra berhenti dan melirik abangnya dengan ekor matanya.
Napas kasar pun terdengar di telinga Ezra pertanda abangnya pasrah saja.
"Ok." Aryan semakin tidak bersemangat. Yang pertama, ia sangat malas untuk melakukan pekerjaan menyikat kamar mandi. Kedua, ia yakin adiknya pasti memilih tas paling mahal dengan merk terkenal.
"Kamar mandi Abang dulu deh," seru Ezra bersemangat.
Tidak masalah lah menyikat kamar mandi. Toh, bisa dipastikan kamar mandi abangnya pasti bersih-bersih saja. Dan satu yang membuat ia makin semangat adalah tas baru. Ia tidak akan melewatkan kesempatan yang satu ini.
"k*****t, bau banget kamar mandi lu, Bang," teriak Ezra saat sudah masuk ke dalam kamar mandi abangnya.
"Maklum habis makan jengkol," jawab Aryan sambil cengengesan.
"Bau juga ya, Dek," ujar Aryan menutup hidungnya.
Ezra memandang abangnya dengan ekspresi heran juga geram.
"Di mana-mana jengkol memang bau, Abang." Ezra rasanya ingin muntah karena ia tidak pernah makan jengkol, bukan karena tidak mau, tapi bau nya akan keluar setelah memakan. Contohnya saja saat buang air kecil.
"Cobain, rasanya mantap," ucap Aryan.
"Semprot dululah. Minggir," ujar Ezra keluar dari kamar mandi dan mengambil pewangi lalu menyemprot segala sisi kamar mandi.
Setelah merasa wangi barulah mereka melakukan pekerjaan menyikat kamar mandi.
"Dek tahu gak lagu ini?"
"Haa, apa?"
Ezra menggosok kamar mandi dan abangnya menyiram.
"Bangun pagi, sikat kamar mandi, tidak lupa..tak mandi." Aryan menyanyikan sebuah lagu yang liriknya ia ubah. Dan ia yakin adiknya tidak tahu.
Ezra menyipitkan matanya mencoba memahami lagu abangnya.
"Astoge, gosok gigi woilahh," ucap Ezra sedikit berteriak dan tidak menyangka abangnya sedudul ini.
"Eeh salah ya," kekeh Aryan.
"Dek, tahu gak, kenapa zombi nyerangnya barengan?" tanya Aryan serius.
"Ya, karena kalau sendiri namanya ZOMBLO kayak elu," jawab Ezra santai sambil menyikat kamar mandi.
"Kampretttt." Aryan menyemprot adiknya dengan air. "Elu kan zomblo juga," ucapnya lagi.
"Sadar diri kok," jawab enteng Ezra.
"Enggak seru lu, Dek."
"Udah ah buruan, kamar mandi Adek belum loh. Sarapan juga belum," ujar Ezra.
"Kelaparan nih, yee. Siapa suruh enggak makan roti di atas nakas di kamar," ejek Aryan.
"Buru-buru sampai lupa. Emang Abang makan?" tanya Ezra yang diangguki Aryan.
"Walau buru-buru, perut tidak bisa dikosongin," ucap Aryan bangga.
"Dasar buncit," ejek Ezra padahal abangnya tidak buncit sama sekali.