6-Sakit

1178 Kata
Ezra sudah kembali bekerja di butik. Ada beberapa desain yang harus ia rancang. Libur dua hari membuat kerjaannya menumpuk di kantor. Bukan keinginannya untuk libur selama dua hari hanya saja ia jatuh sakit karena kelelahan. Saat ini, Ezra sedang menutup matanya masih terasa nyeri di kepalanya. "Pagi Buk Boss," sapa Tama, asistennya yang baru saja membuka pintu. Ezra yang sedang menutup mata tentu sudah tahu jika yang masuk pasti asistennya karena tadi ia sempat menghubungi Tama untuk datang ke ruangannya. "Ada apa?" tanya Tama yang bingung melihat Ezra yang tak membuka mata walau ia sudah duduk di depan bos nya. "Kamu sibuk?" tanya Ezra yang kini sudah memijat keningnya. Ibu Ezra sudah memperingati Ezra sebelumnya untuk jangan bekerja dahulu karena masih belum pulih, tapi mengingat beberapa desain sudah menumpuk itulah mengapa kini Ezra sudah berada di ruangannya walau jam masih menunjukan pukul 10 pagi. "Tidak, kamu pusing?" tanya Tama yang menyakini bahwa bosnya masih belum pulih. Ezra mengangguk karena memang ia merasakan pusing di kepala padahal masih pagi dan pekerjaannya belum ada satu pun yang selesai. Sejak ia tiba pukul 9 tadi, ia hanya membolak-balik beberapa desain yang ada. Belum sama sekali ada yang dirancang. Inilah kenapa tidak boleh memaksakan suatu pekerjaan jika kondisi tubuh masih kurang sehat yang ada justru semakin memburuk, lebih baik istirahat sampai benar-benar segaran barulah melakukan pekerjaan. "Bisa pesankan saya bubur?" tanya Ezra. "Astaga, kamu belum sarapan. Gimana mau cepat fit kalau sarapan aja kamu lalai!" Tama marah, tak habis pikir dengan Ezra yang sudah tahu masih sakit, tapi belum sarapan. Padahal tadi pagi, ia juga sudah menelpon untuk jangan bekerja dulu cuma dasar Ezra yang suka ngeyel. "Lupa," jawab Ezra santai. "Astaghfirullah, tolong ingatkan aku untuk laporin ini ke ibu besar," ujar Tama tak habis pikir dengan ucapan Ezra barusan yang lupa untuk sarapan. Walau sebenarnya, ia tahu memang Ezra orangnya lupaan. Ponsel diketekin aja dicariin. "Pengadu," ejek Ezra yang kini sudah berdiri dan berpindah berbaring ke sofa yang ada di ruangannya. "Buruan pesanin dah lapar nih," titah Ezra. "Ya udah bentar," ucap Tama yang keluar dari ruangan Ezra. Ezra memejamkan matanya kembali, mungkin tidur sejenak bisa mengurangi pusing di kepalanya sambil buburnya datang. Terkadang, apa yang dijalani terasa sangat berat tanpa adanya penyemangat seperti dulu. Sulit memang membiasakan diri tanpa sosok yang setiap waktu selalu ada. Kini, ada berubah menjadi tiada. Perlahan-lahan menghilang dan sekarang sudah biasa saja. Tak selamanya yang datang akan menetap. Sadarkan, yang hadir hanya untuk singgah sesaat dalam kurun waktu yang tidak bisa ditebak oleh manusia. Kehadiran seseorang dalam hidup kita selalu punya tujuan. Tujuan yang baik karena setiap apa pun yang sudah Tuhan takdirkan untuk kita alami adalah yang terbaik. Entah itu mengajarkan sesuatu atau memberikan pelajaran. Yang datang pasti akan melukai hati, entah itu disengaja mau pun tidak disengaja. Ada yang hadir dengan menyakiti, ada juga yang perginya justru melukai hati. Tiap-tiap orang yang hadir pasti akan meninggalkan kenangan. Entah itu kenangan manis ataupun kenangan pahit, tapi setiap kenangan pasti akan mendobrak hati untuk menangis. Karena kenangan hanya dikenang, tidak bisa dirasakan kembali. Seperti masa kecil yang tidak bisa diulang lagi dan selalu dirindukan ketika menginjak usia dewasa. Pada saat menjadi anak-anak yang tidak perlu mengetahui urusan orang dewasa, masa bodo menanggapi sesuatu yang jelas tidak bisa dipahami di usia anak-anak. Sekarang di usia dewasa, beban kehidupan justru sangat terasa. Apa lagi perempuan yang dianugerahi dengan jiwa kelembutan yang melekat, terkadang pemikiran dan perasaan menyakiti diri sendiri. Tetapi apa pun yang sudah ditakdirkan untuk dialami adalah yang terbaik dan harus dinikmati dengan rasa syukur. Kalau lelah, tak apa menangislah, nanti juga akan lega. Menangis bukanlah pertanda kelemahan, tapi justru itu menyalurkan jiwa perasa yang ada di dalam diri kita. Jangan pernah mengkhawatirkan sesuatu yang bukan urusan kita. Ingat, tugas kita hanya berdo'a dan berusaha, selebihnya itu urusan Tuhan. "Buk boss," panggil Tama untuk kesekian kalinya sambil mengguncang pelan tubuh Ezra. Ezra pun membuka matanya karena terkejut, ternyata ia ketiduran. Rasa pusing langsung sangat terasa. "Aduhh sakit," ucap Ezra sambil memegang kepalanya yang berdenyut. "Makan dulu, terus minum obat," ujar Tama yang diangguki patuh oleh Ezra. Tama pun duduk di kursi lainnya sambil memastikan Ezra memakan dan menghabiskan bubur yang ia pesankan tadi. "Habiskan!" Tama memberikan peringatan kepada Ezra. "Baru satu suap yang masuk sudah diperingati saja," ucap Ezra mengeluh tak terima dengan ucapan Tama barusan. Ia sadar untuk makan, tapi perihal menghabiskan, ia tak yakin karena satu suap yang masuk saja sudah bikin e'nek. Tama hanya menaikan sebelah alisnya menanggapi pernyataan Ezra. Suapan kelima, Ezra menyerah. "Dah, gak sanggup lagi. Enggak enak," ujar Ezra menyingkirkan buburnya lalu meneguk secangkir air hangat. "Baru lima suapan, makan lagi." Perintah Tama tidak takut dimarahi. Kalau posisinya sekarang dipastikan ia bukan sebagai asisten, tetapi sahabat. "Udah males, gak enak. Kalau mau, makan aja," kekeh Ezra membuat Tama sinis menatapnya. Ezra hanya tertawa sambil mengambil obat yang disedia Tama, lalu meminum obat tersebut. "Mending pulang aja," ucap Tama merasa kondisi Ezra tidak baik-baik saja. Khawatir jika bosnya semakin parah. "Kok malah nyuruh!" Ezra tentu tidak serius mengatakan ini. Ia tahu, kalau Tama sedang khawatir padanya. "Pulang atau dipulangkan!" "Pertanyaan berujung penyataan itu," ujar Ezra menyadarkan punggungnya di sofa. "Ayolah biar dianter, atau aku laporin sama abang ganteng," ujar Tama mengancam. Oh, tidak. Jika orang yang dimaksud Tama tahu kondisi Ezra saat ini, bisa dipastikan hidupnya akan terasa dipenjara. "Pengadu," ejek Ezra sambil meraih ponselnya. "Aku telpon dokter aja ya?" tanya Tama mencoba mencari pilihan lain untuk Ezra yang ia yakini pasti ditolak juga. "Enggak osa," ucap Ezra cepat. Benar saja, ditolak oleh Ezra. Makan teratur dan obat, itulah yang dihindari Ezra. "Terus mau ngapain?" "Percuma punya sahabat dokter kalau gak dimanfaatin," ujar Ezra memberi pernyataan. Tama langsung bingung. Apa yang diucapkan Ezra membuat ia bertanya-tanya. Seingat ia, Ezra tidak punya sahabat dokter umum. Ezra menaik turunkan alisnya sambil tersenyum. Lalu, ia menekan nomer seseorang agar telpon terhubung. Tak lama sambungan pun terhubung. "Halo, aku sakit," lirih Ezra. Ia sengaja membuat suara sangat lirih biar orang di seberang telpon tidak banyak bertanya. "Ditunggu," jawab Ezra setelah orang di seberang telpon bicara sesuatu. Telpon pun berakhir. Dan Ezra langsung terkekeh. Katakan lah ia jahat, tapi tak apa. Nanti juga dimaklumi orang tersebut. Tama pula masih bingung. Ia masih mencoba mengingat, siapa orang yang dimaksud Ezra. "Ya elah masih bingung," ujar Ezra melihat Tama yang kebingungan. "Siapa?" tanya Tama mencoba mencari tahu. "Lihat aja nanti, bentar lagi orangnya sampai," ucap Ezra. Ezra pun berbaring lagi sambil menunggu orang yang dinanti datang. Paling sekitar 15 menitan orang tersebut pasti sampai dan bisa dipastikan Ezra, orang itu pasti akan buru-buru. Siapapun yang ada di sekitar kita, hargai dan kasihi. Berikan semampu kita apa yang bisa dikasih misalnya kasih sayang karena tidak semua orang membutuhkan materi. Brakk.. Bantingan pintu terdengar dan menganggetkan Ezra dan Tama. "Sakit apa!" ujar seseorang dengan nada khawatir dan nyaring. Dan tentu saja sudah diketahui Ezra, siapa orang yang masuk. Tama pula langsung menaikan sebelah alisnya ketika melihat orang yang masuk. Ia kenal dan ada yang membuat ia bertanya-tanya tak paham. "Apa?" tanya Ezra kala melihat ekspresi Tama. "Seriuss?" Ezra hanya mengangguk.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN