"Aku dokter gigi!"
Itulah pernyataan nyaring yang keluar dari seorang wanita yang beberapa menit yang lalu memasuki ruangan Ezra. Ia bernama Alisa atau akrab dipanggil Dokter Lisa. Perempuan berumur 25 tahun ini sudah memiliki klinik yang berlokasi tidak jauh dari butik Ezra.
"Iya, kan sama aja. Tetap dokter," ujar Ezra.
"Dapat bos di mana sih?" tanya Alisa pada Tama.
"Diskonan kali yaa," ujar Alisa sambil menghela napas kasar. Tak habis pikir ia dengan Ezra yang meminta untuk diperiksa. Jelas-jelas profesinya adalah dokter gigi. Walau tetap dokter, tetap saja berbeda.
"Tinggal periksa aja susah."
"Wah..." ucap Alisa setelah mendengar kalimat yang meremehkannya.
"Pura-pura bodoh aja kali ya aku," ujar Alisa sambil meletakan tasnya di atas meja. Dan sialnya, ia juga membawa asisten yang saat ini sedang berdiri di belakangnya. Lebih parah lagi, ia juga membawa peralatannya.
"Kamu kembali ke klinik, sekalian bawa ini peralatan. Gak berguna di sini," ujar Alisa pada asistennya yang mengangguk.
"Lagian ngapain bawa asisten sama peralatan, kan repot. Rempong amat," ucap Ezra santai sambil kembali merebahkan tubuhnya di sofa. Tadi, ia sempat duduk sebentar.
"Iya aku rempong. Ngalah aja, Lisa. Gak selesai debat nanti," ucapnya untuk dirinya sendiri yang masih bisa didengar oleh Ezra dan Tama.
"Makanya nanya dulu," ucap Ezra yang tidak mau disalahkan atas apa yang terjadi. Toh, tidak salah ia sepenuhnya. Ia sudah jujur kalau sedang sakit, tapi salahnya ia sengaja tidak memberitahu tentang sakitnya pada Alisa. Dan bonus bagi Ezra, Alisa juga tidak bertanya. So, ini kebohongan yang tidak jadi.
"Ya, aku pikir sakit gigi karena nelpon aku," jawab Alisa duduk di sofa lainnya. Lalu, ia mengambil botol mineral.
"Yaelah, kan wajar kalau aku kasih tahu," ucap Ezra memejamkan matanya kembali.
Alisa meneguk air mineral karena ia ngos-ngosan. Ternyata, tenaganya terkuras karena buru-buru.
"Au ah gelap," ujar Alisa yang sudah malas meladeni ucapan Ezra. Dalam hal bicara, ia selalu kalah oleh Ezra apa lagi berdebat.
"Demi kamu, aku sampai nabrak mobil orang tadi," ucap Alisa lanjut minum.
"Hah!" Ezra kaget, tentu saja.
"Kok bis..."
"Ya, bisalah!"
Belum sempat Ezra menyelesaikan ucapannya, Alisa sudah memotongnya duluan.
"Makanya hati-hati," ucap Ezra.
"Parahnya, aku kabur dari tanggung jawab."
Alisa menayangkan kembali dalam pikirannya bagaimana kejadian beberapa menit yang lalu terjadi. Pada saat Ezra menelponnya, ia sedang berada di klinik sedang istirahat. Duduk sambil mengecek ponselnya dan panggilan masuk dari Ezra. Ia langsung mengangkat dan terkejut karena ia tahu Ezra sakit. Ia langsung bergegas memanggil asistennya dan menyuruh asistennya untuk membawa peralatan yang diperlukan karena dibenaknya, Ezra pasti sakit gigi.
Setelah keluar dari Klinik, Alisa langsung bergegas masuk ke dalam mobil bersama asistennya. Alisa yang sudah khawatir kepada Ezra lantas berkendara dengan kecepatan yang terbilang tinggi. Asistennya sampai ketakutan karena Alisa mengklakson mobil yang menghalangi mobil mereka karena terburu-buru dengan kecepatan tinggi mobil mereka menyerempet mobil yang menyemberang jalan. Sebenarnya hanya tergores sedikit saja. Namun, setelah Alisa sadar, mobil yang ia serempet adalah mobil sport. Wah, tentunya tergores sedikit cukup menguras isi dompet. Buru-buru plus takut, Alisa langsung tancap gas saja dan tidak memperdulikan pengendara mobil sport itu memanggil.
"Parah, main kabur aja. Tidak bertanggung jawab sekali," ujar Ezra menggelengkan kepalanya. Tak habis pikir dengan Alisa yang kabur dari kesalahan dan tanggung jawab.
"Aku do'ain kalau orang itu jomblo kalian berjodoh," kekeh Ezra membayangkan pertemuan kembali Alisa dengan orang yang ditabraknya.
"Gila lu," ucap Alisa ikut membayangkan pertemuan ia dengan pengendara mobil sport itu.
Tama yang masih berada di antara Alisa dan Ezra pun ikut terkekeh mendengar pembicaraan bos dengan sahabat bosnya itu. Ia tidak merasa canggung hanya saja ia tahu kapan ia diam dan bersuara.
"Tama, kamu kasih makan apa bosmu ini. Pikirannya keras kali," ujar Alisa sedikit emosi. Apa yang ia alami juga akibat dari perbuatan Ezra walau tak sepenuhnya.
"Dikasih batu," jawab Ezra sambil tertawa.
Tama hanya tertawa mendengar ucapan Ezra yang mengatakan bahwa ia dikasih makan batu.
"Omong gak gigi lu," ucap Alisa yang sudah malas meladeni Ezra, tapi mulutnya tetap saja berucap mengikuti alur.
"Yang ada langsung patah-patah gigi gue," ucap Ezra.
Mereka bertiga pun langsung tertawa.
"Ya udah ayo ke rumah sakit. Dari penglihatan aku, kamu sakitnya gak jelas kayak orangnya," ucap Alisa sok-sok an menerawang.
"Bilang aja gak tahu," ucap Ezra.
"Tu tempe."
"Iya, ayolah periksa ke dokter aja," ujar Tama yang setuju dengan masukan Alisa.
Ezra yang memang sudah lemas pun mengangguk saja. Ia berdiri dibantu oleh Alisa dan Tama.
*****
"Bisa tidak usah dirawat aja, Dok?" tanya Ezra setelah pernyataan dokter membuat ia semakin lemas.
Tama dan Alisa sudah menggelengkan kepala mendengar pertanyaan Ezra.
"Tidak bisa. Kamu dirawat saja biar cepat pulihnya," jawab Dokter yang baru saja memeriksa Ezra. Ia mengatakan Ezra terkena gejala tipes dan harus dirawat beberapa hari di rumah sakit.
"Huh," helaan napas kasar dari Ezra bahwa ia pasrah saja. Sebenarnya, ia tidak apa untuk dirawat, hanya saja pasti akan membosankan ditambah lagi dengan abangnya yang akan banyak berkata tidak.
"Merasa dipenjara cek," lirih Ezra setelah dokter yang memeriksanya keluar dari ruangannya.
"Makanya kesehatan dijaga, jangan kertas-kertas aja yang dijaga," ucap Alisa.
"Kertas-kertas itulah yang menghasilkan duit, Dokter Lisa." Ezra tahu apa yang dimaksud oleh Alisa. Kertas yang dikatakan Alisa adalah kertas yang sudah ada hasil desain pakaian yang ia rancang.
"Tinggal minta pun langsung dikasih orang tua sama abangmu, Rara," ucap Alisa yang tahu sekali sekaya apa keluarga Ezra.
"Tidak berlaku untuk wanita mandiri seperti aku," ucap Ezra menyombongkan dirinya sendiri.
Dan Alisa setuju dengan pernyataan Ezra barusan. Menurutnya, Ezra memang wanita mandiri, tapi tidak sepenuhnya, masih sedikit manja walau manjanya dalam hal perhatian.
Sekaya apa pun orang tua kita, tetap saja itu adalah harta milik orang tua, bukan milik diri sendiri. Harusnya, hal itu yang memacu diri sendiri untuk bisa mandiri dengan jerih paya sendiri walau tetap saja kita pasti akan membutuhkan bantuan orang tua kita, tapi jika bisa sendiri kenapa tidak mau mencoba. Kalau gagal, ya coba lagilah. Tidak ada batasan untuk mencoba sesuatu, selagi mau pasti akan berujung berhasil. Keberhasilan juga tidak instan, butuh usaha, perjuangan dan do'a. Kalau cuma angan-angan semata, sampai mati juga tidak akan tercapai kalau tidak mau bergerak mencoba. Begitulah pemikiran Ezra
Mencobalah sesuatu yang ingin kamu coba selagi masih ada waktu. Bersedih boleh ketika gagal, tapi ingat masih bisa mencobanya kembali sampai berhasil. Tergantung masing-masing pribadi, masih ingin mencoba sesuatu yang sama atau mau mencoba sesuatu yang baru.
Tetap belajar di setiap waktu dan berusaha memaksimalkan serta sungguh-sungguh saat mengerjakan sesuatu yang kita coba dan jangan lupakan untuk selalu berdo'a pada Tuhan agar meridhoi apa yang kita jalani.
Dan belajarlah untuk selalu ikhlas dalam hal apa pun. Keikhlasan dalam diri harus tertanam dengan kukuh dan selalu diperbarui setiap saat agar saat merasa kecewa kita sudah lapang d**a menerima ketetapan Tuhan.
Ingat, selalu bersyukur atas segala nikmat. Dan jangan melupakan seribu kenikmatan hanya karena satu kesedihan.