"Tidak."
"No."
"Enggak."
Itulah tiga kata yang selalu keluar dari mulut Aryan.
"Semua gak boleh, ribet," ucap Ezra sudah muak dengan larangan abangnya.
Ezra ingin keluar menikmati udara malam karena ia bosan berada di dalam ruangan saja, tapi tidak di izinin oleh abangnya sendiri.
"Pakai kursi roda pun!" Ezra manyun karena ia benar-benar butuh bergerak.
"Di sini ajalah, ribet amat!" Aryan tetap tidak mau mengalah sedikitpun karena ia tidak mau adiknya semakin sakit.
"Ya udah, gak osa keluar rumah sakit, tapi keluar dari ruangan." Ezra tetap memohon pada abangnya.
Sejak abangnya datang, ia benar-benar merasa seperti tahanan. Berdiri saja tidak dibolehkan abangnya, nanti kaki kamu capek berdiri biar abang gendong, begitulah ucapan abangnya sore tadi. Buat apa coba digendong-gendong kayak anak bayi saja.
"Semua ini karena dokter gigi itu," ucap Ezra kesal.
Setelah Ezra dinyatakan harus rawat inap di rumah sakit. Alisa langsung laporan kepada Aryan dan itu membuat Ezra semakin kasihan pada diri sendiri.
"Jadi, ada niatan kamu enggak mau kasih tahu abang, gitu?"
"Gak gitu, Bang."
Aryan memasang raut wajah kecewa. Ia langsung duduk di sofa. Memandang adiknya sekilas lalu membuang muka.
"Akting," lirih Ezra.
Abangnya memang baperan. Tidak sesuai dengan postur tubuhnya yang gagah.
"Hilih ngambek," ucap Ezra menggelengkan kepalanya.
Ezra ingin turun dari ranjang agar bisa duduk di sofa bersama abangnya. Sebagai bentuk pujukan juga.
"Teruskannn!"
Itulah ucapan nyaring yang keluar dari mulut Aryan.
"Ih, Bang! Jangan jerit-jerit gitu," ujar Ezra kesal. "Rumah sakit ini," ucapnya lagi.
"Ya lagian ngapain mau turun. Di situ aja," ujar Aryan sambil menghampiri ranjang adiknya.
Aryan duduk di kursi tepat sebelah ranjang Ezra.
"Ya, jangan ngambekan lah. Kayak anak kecil aja."
"Iya, enggak."
"Mau buah," ucap Ezra meminta buah.
"Buah apa?"
"Apel," jawab Ezra yang diangguki Aryan.
Aryan mengupas buah apel yang sempat ia belikan tadi sore di seberang rumah sakit.
"Kamu tuh jaga kesehatan, kalau sakit-sakit mulu mending pulang aja ke rumah," ujar Aryan.
"Ihhh gak mau," jawab Ezra. Tentu ia tidak mau pulang ke rumah orang tuanya karena ia ingin belajar mendiri.
"Sempet sekali lagi sakit, awas aja Abang usir kamu dari apartemen," ucap Aryan memperingati adiknya. Ia sungguh-sungguh dengan ucapannya barusan.
"Aku pulang, Abang jugalah." Ezra tidak mau kalah tentunya.
Ezra tahu kalau abangnya itu khawatir. Tentulah, karena ia adalah adik satu-satunya dan kesayangan.
"Setuju," ujar Aryan santai.
"Bercandakan?"
"Abang tidak sebercanda itu. Abang serius," tegas Aryan. Tidak masalah jika ia juga pulang ke rumah orang tua. Ia juga lebih bisa memantau adiknya.
Ezra memandang abangnya dengan serius mencoba mencari ketidakseriusan.
"Apa, lihat-lihat! Ganteng? Emang," ujar Aryan sambil merapikan rambutnya.
"Dih, jijayyy." Ezra e'nek jika melihat kenarsisan abangnya sendiri, tapi untuk kegantengan, emang abangnya ganteng banget.
Aryan pun memberikan buah apel yang sudah ia potong-potong agar memudahkan adiknya mengunyah.
"Besok abang bawa blederan aja deh, biar di blender buah-buah yang keras," ucap Aryan memberitahu keinginannya.
"Biar apa?" tanya Ezra serius karena ia tak mengerti dengan ucapan abangnya.
"Buat juz?" tanya Ezra lagi.
"Biar memudahkan kamu makannya," jawab Aryan.
"a***y, aku masih punya gigi, Bang," ucap Ezra sambil menggelengkan kepalanya, tidak menyangka pemikiran abangnya yang berlebihan.
"Lah bukannya dah ompong," kekeh Aryan.
"Jangan ngadi-ngadi," ucap Ezra tak terima.
"Buktinya dokter gigi yang periksa pertama, iyakan?"
Ezra tahu maksud abangnya ke mana.
"Dah ah, lelah Hayati," ujar Ezra berbaring setelah ia meminum air putih.
Ceklek
Pintu terbuka dan ternyata orang tua Ezra dan Aryan yang datang.
"Sayang," sapa Rani kepada putra dan putrinya.
"Makan yuk, Mama masak ayam," ujar Rani semangat sambil mengangkat rantang yang ia bawa.
Ezra dan Aryan justru melihat papa mereka yang sudah melambaikan tangan pertanda, jangan!
Ezra dan Aryan saling memandang, tentunya mereka berdua tahu.
"Ma, kata dokterkan aku gak boleh makan yang lain dulu. Jadiiii, abang aja yang bisa makan," ucap Ezra sambil cengir.
Aryan langsung melotot ke adiknya.
"Ma, Aryan dah makan tadi," ujar Aryan. Tentunya, itu sebuah kebohongan yang hanya diketahui oleh Ezra saja.
Ezra sudah menahan tawanya.
"Sasaran terakhir, yah Papa," batin Ezra sambil memandang Aryan.
Aryan yang mengetahui arti pandangan Ezra pun ikut menahan tawa.
"Yaaahh, masa cuma Papa doang yang makan," ujar Rani.
"Tepat," batin Aryan sambil mengedipkan mata ke Ezra.
"Ya gimana lagi dong," ucap Ezra dan Aryan barengan.
Rangga tentu kesal dengan kedua anaknya.
"Papa masih kenyang," ujar Rangga ikut berbohong.
"Halah bohong!" Rani tentu tidak percaya dengan ucapan suaminya.
Ezra dan Aryan senang sekali melihat ayah mereka yang tertekan seperti saat ini.
"Papa makan aja belum," ujar Rani mengingat-ingat kalau suaminya belum makan malam.
"Ya udah, Mama juga belum makankan, barengan ayuk makannya," ajak Rangga.
"Sayangnya, Mama udah makan duluan," ujar Rani jujur.
"Mama makan apa? Perasaan baru tadi Mama selesai masak." Rangga heran tentu saja karena saat ia pulang tadi, ia sempat melihat ke dapur memastikan siapa yang masak dan ternyata istrinya lah.
"Mama tadi pengen nasi goreng, ya udah tadi dibeliin Mbak," ucap Rani santai sambil duduk di sofa.
"Enak di elu, sepet di gua," lirih Rangga menghela napasnya.
Rani membuka rantang satu persatu. Rangga pun pasrah saja. Untungnya walau ada ayam n***o, tetap juga ada sayur lainnya.
"Makan, Pa," ucap Rani yang diangguki Rangga.
Ezra dan Aryan menahan tawa melihat sepasrah apa ayah mereka.
"Ayamnya juga dimakanlah, Pa," suruh Rani saat melihat piring suaminya hanya di isi sayur dan tempe, tahu, tapi tidak dengan ayam.
"Pengen bilang, gak layak dimakan, tapi nanti marah," batin Rangga.
Dan akhirnya Rangga pun tetap mengambil ayam yang lumayan hitam itu. Kalau ia bilang apa yang dipikirkan, tentu istrinya bakalan marah. Dan marahnya perempuan itu beda apalagi istrinya.
Pernah sekali, Rangga mengatakan kalau ayam yang digoreng istrinya itu tidak layak makan dan Rani langsung marah. Selama 1 hari Rani diam, tidak mau berbicara padanya dan lebih parahnya itu sorenya tiba-tiba ojol berdatangan satu-persatu membawa orderan ayam goreng yang dipesan istrinya itu. Bukan 1 atau 2, tapi puluhan.
"Ini nih yang layak. Jadi, silahkan dimakan!" Inilah ucapan Rani saat itu.
Sejak kejadian itu, Rangga tidak mau berulah lagi yang menimbulkan kemarahan istrinya. Ia hanya akan mengatakan apa yang ia pikirkan hanya sebatas di batin saja.
"Enak, Pa?" tanya Rani setelah melihat suaminya memakan ayam goreng buatannya.
"Lumayan," ucap Rangga.
"Banyak perkembangan dong Mama." Bangga Rani setelah mendengar jawaban suaminya.
"Mau jujur juga kena marah," batin Rangga.
Rangga mengangguk sambil tersenyum saja menanggapi rasa bangga istrinya.
"Tambuh, Pa," ujar Aryan.
Rangga melototi putra kurang ajarnya itu.
"Ma, coba suapi Aryan ayamnya, gak papa lah kalau makan ayam doang," ujar Rangga.
"Eeh iya," ucap Rani.
Rangga mengejek putranya itu dengan menaik-turunkan alisnya.
"Kena," batin Rangga.
"Makan, Bang," ujar Rani yang diangguki Aryan.
Aryan mau tidak mau juga harus menuruti kemauan ibunya itu karena takut juga jika kemarahan ibunya muncul. Marahnya ibunya bukan melalui ucapan melainkan dengan mendiaminya juga.