"Udah ya semua beres," ujar Aryan yang diangguki Ezra.
Setelah 3 hari di rawat, kini saatnya Ezra pulang.
"Bang, Lisa mana ya?"
"Gak tahu," jawab Aryan sambil meletakkan tas-tas yang akan di bawa pulang.
Berhubung Ezra yang baru sembuh, ia tidak diperbolehkan keluarganya untuk pulang ke apartemen. Alhasil, Ezra harus pulang ke rumah orang tuanya.
Ceklek
"Astaga-astaga," ucap Alisa yang masuk tanpa salam sambil menutup pintu kembali. Dan karena ulah Alisa barusan tentu membuat Aryan dan Ezra kaget.
"Nutup pintu yang baik-baik, Lisa," ucap Aryan sambil menggelengkan kepalanya.
"Refleks, Bang," jawabnya sambil menghampiri Ezra.
"Tahu gak?" tanya Alisa pada Ezra.
"Enggak," jawab Ezra sambil menggelengkan kepalanya.
"Aku lihat orang yang kemarin itu," ucap Alisa sambil menghela napas kasar.
"Siapa?" tanya Ezra yang tidak mengerti maksud dari Alisa.
"Orang yang aku tabrak kemarin, eeh ralat mobil," jawab Alisa merinding.
Pikiran Alisa kembali terputar beberapa menit yang lalu.
Setelah Alisa memarkirkan mobil, ia langsung bergegas untuk masuk ke dalam rumah sakit karena sahabatnya Ezra, akan pulang ke rumah. Berhubung ia juga tidak ada jadwal untuk pagi, jadi berinisiatif untuk membantu sahabatnya itu.
Dringg
Ponsel Alisa berbunyi pertanda ada telfon masuk. Ia mengangkat dan ternyata dari asistennya di klinik.
"Iya, hallo," ucap Alisa sambil berjalan terus.
"Oh baik," jawab Alisa setelah ia tahu maksud dari asistennya yang menelpon.
Brukk
"Jalan lihat pakai mata, Mbak," ucap seseorang dengan suara bass nya.
"Maaf, Mas," ujar Alisa tidak sengaja menabrak seseorang yang berada di depannya.
Pandangan mereka bertemu untuk beberapa saat. Alisa tanpa berkedip memandang pria yang saat ini juga memandangnya.
"Setan," kaget Alisa.
"Saya manusia, Mbak. Sembarangan mulut anda," ujar pria itu.
Alisa merutuki mulutnya yang random kalau mengumpat. Ia kaget karena setelah dipandang dan diperhatikan, Alisa menyadari bahwa orang yang sedang di depan ia ini adalah orang pemilik mobil sport yang kemarin tidak sengaja ia tabrak.
Alisa sudah gugup berhadapan dengan pria itu.
"Hallo, Mbak?" Pria itu heran karena wanita yang di depannya diam saja.
Alisa tersadar dari lamunannya. "Eh, iyaa," jawabnya.
"Boleh minggir, Mbak menghalangi jalan," ucap pria itu.
Alisa pun bingung dengan ketakutannya. Ia ke kanan, pria itu juga ke kanan. Ia ke kiri, pria itu juga ke kiri.
"Aduh Mbak." Frustasi pria itu melihat tingkah wanita Alisa.
"Minggir," ucap pria itu sambil menggeser tubuh Alisa. Dan Alisa pun minggir ke kiri.
Alisa hanya melihat pria itu berlalu saja. Dan ia tersadar harus buru-buru kabur.
Alisa terselamatkan karena pria itu tidak menyadari kalau ia lah yang menabrak mobilnya beberapa hari yang lalu. Untung saja, saat itu hanya Alisa yang mengingat pria itu, tidak sebaliknya.
"Woi, ngelamun," ujar Ezra.
"Kaget gue," kata Alisa.
"Ya habisnya, ngelamun. Ngelamunin apa sih?"
"Enggak ada," jawab Alisa.
"Ya udah, terserah deh," ucap Ezra.
"Ayok, Dek. Kita pulang," ajak Aryan yang diangguki Ezra.
"Gantian kamu yang berbaring di situ ya, Lisa," ucap Aryan.
"Biar apa, Bang?" tanya Alisa yang saat ini tidak mengerti dengan ucapan Aryan.
"Punya sahabat kok lemot sih, Dek," bisik Aryan pada Ezra.
"Biasa, dapatnya diskonan," kekeh Ezra.
"Mau ikut atau mau coba praktek di sini?" tanya Ezra yang melihat Alisa tidak bergerak sedikit pun dari duduk di atas ranjang. Padahal Ezra sendiri sudah berdiri.
"Emang bisa?" tanya Alisa.
Dan pertanyaan Alisa sukses membuat Aryan tertawa, sedangkan Ezra sudah menggelengkan kepala.
"Punya sahabat kok gini amat," batin Ezra.
"Terserahlah, Lisa," ujar Ezra yang kesal dengan kelemotan sahabatnya pagi ini.
Ezra pun berjalan bersama Aryan, saat mereka berdua sudah hendak keluar, mereka menoleh lagi ke belakang dan melihat Alisa yang masih duduk sambil melamun.
"Kadaluarsa kayaknya, Dek," kekeh Aryan yang menggelengkan kepala.
Menurut Aryan, sahabat-sahabat adiknya memang tidak ada yang normal. Toh, adiknya juga tidak normal. Wajar saja kalau adiknya memiliki sahabat-sahabat yang sebelas dua belas dengan dirinya.
"WOILAHH!"
"Kaget woi," ucap Alisa yang kaget.
"Gerak lu dari situ, ayo ikut gue," ujar Ezra yang sudah frustasi.
Ini Alisa kenapa, lemot banget pagi ini, begitulah pemikiran Ezra sekarang.
Alisa pun teranjak lalu duluan keluar dari ruangan Ezra. Berjalan dengan santainya.
"Woilah, buruan. Lemot amat jalannya," ujar Alisa yang menoleh ke belakang. Melihat Aryan dan Ezra yang berjalan dengan pelan.
"Masih untung jalan kami yang lemot, dari pada kamu, otak lemot," ucap Aryan kesal karena dikatakan lemot.
"Jangan diladenin, Bang." Ezra memilih tidak menanggapi ucapan sahabatnya itu.
"Besok ganti baterainya, Dek," ujar Aryan yang diangguki Ezra.
Ezra membenarkan perkataan abangnya barusan, ia harus mengupgrade sahabatnya Alisa.
Alisa lebih dulu ke parkiran baru di susul oleh Ezra dan Aryan.
Ezra dan Aryan justru heran dengan Alisa yang malah diam saja, tidak menghampiri mobilnya sendiri.
"Kenapa?" tanya Aryan pada Alisa.
"Ah, gak ada, Bang. Duluan aja," ucap Alisa sambil tersenyum padahal ia sedang menutupi ketakutannya karena pria yang tadi ia tabrak berada di dekat mobilnya.
Alisa menebak kalau pria itu pasti sedang mencari pemilik mobil yang saat ini pria itu perhatikan dan itu adalah mobil Alisa.
"Lisa, ikut gak?" tanya Ezra yang bingung dengan sahabatnya itu.
"Ituuu," tunjuk Alisa ke arah mobilnya.
"Iya, itu mobil kamu," jawab Ezra santai. Toh, ia benar.
"Bukan, tapi itu," tunjuk Alisa ke arah pria yang sedang celingak-celinguk.
"Aku gak kenal," jawab Ezra.
"Lah." Kaget Alisa. "Ya, aku juga gak kenal," ucap Alisa.
"Lah terus?" tanya Ezra yang menaikan alisnya sebelah. Sahabatnya ini lagi kenapa coba, pikir Ezra.
Alisa geram sendiri dengan dirinya. Bisa-bisanya ia bingung.
"Maksudku, itu pria pemilik mobil sport yang kemarin aku tabrak," ujar Alisa.
"Dan tadi, pas sebelum ke ruangan mu, aku nabrak dia juga," ucapnya lagi.
"Terus?"
"Ahhh, Ra yang bener lah tanggapinya," ucap Alisa yang kesal dengan Ezra yang tidak serius.
"Nasib aku gimana?"
"Ya, tinggal minta maaf, ganti rugi, beres. Lagian banyak duit kok," jawab Ezra yang tetap santai.
"Siapa suruh lari dari tanggung jawab," ucap Ezra lagi.
"Kalau dilaporin ke kantor polisi gimana?" tanya Alisa.
"Dih, pengen bilang g****k, tapi kasihan," ujar Ezra menggelengkan kepalanya.
"Kalau dia niat laporin, dah dari kemarin-kemarin dia laporin," ucap Ezra.
Alisa mencerna ucapan Ezra terlebih dahulu. Baru setelah itu ia mengangguk, setuju dengan ucapan Ezra barusan.
"Ayo, Dek," ajak Aryan yang kini sudah berada di dekat Ezra.
"Ayo," ajak Ezra pada Alisa.
"Duluan deh," jawab Alisa yang mengangguk.
Ezra pun dipapah oleh abangnya untuk masuk ke dalam mobil. Setelah masuk ke dalam mobil, barulah mereka pergi meninggalkan rumah sakit. Tujuan selanjutnya adalah rumah orang tua mereka.
Sedangkan Alisa mereka tinggal di rumah sakit. Yang katanya akan menyusul.
Ezra pun setuju saja, kalau Alisa menyusul. Barangkali, Alisa mau menyelesaikan urusannya dengan pria yang ditunjuk oleh Alisa tadi, pikir Ezra.
Ezra merasa lega sekali akhirnya ia bisa keluar dari rumah sakit. Kondisinya saat ini juga sudah membaik dan jauh lebih segaran. Mungkin, ia akan kembali bekerja esok hari karena hari ini ia harus istirahat.