10-Ke Kantor

1098 Kata
"Jalan-jalan ke kota padang," ujar Rangga. "Cakeppp," seru Ezra dan Aryan. "Ya jangan lupa makan sate lah," kekeh Rangga. "Yassalam, punya papa begini enaknya di selebeww," ucap Aryan kesal. Tentu saja Aryan dan Ezra kesal. Mereka kira itu bakalan menjadi pantun. "Kan Papa memberikan info," ucap Rangga santai sambil memakan keripik yang berada di genggamannya. "Au ah, gelap," ucap Ezra yang sudah malas mempedulikan ucapan ayahnya lagi. "Buah nangka buah ceri, ah saya tidak peduli," kekeh Rangga. "Gak jelas memang," ujar Rani datang dengan membawa nampan berisi juz jambu. "Gak seru memang," ucap Rangga mengangguk. "Papa yang gak jelas." Saat ini mereka sedang berada di ruang tamu. Berkumpul menikmati indahnya malam walau dari dalam rumah. Mau nongkrong di luar rumah, tapi mengingat Ezra yang baru keluar dari rumah sakit maka urungkan niat tersebut. "Masa cuma juz doang?" tanya Rangga saat melihat minuman saja yang dibawa oleh istrinya. "Terus mau apa?" Rani duduk di sebelah suaminya. "Makanan gitu," jawab Rangga. Ezra dan Aryan pun mengangguk setuju. Bosen juga hanya ngemil jajanan. "Ya apa?" "Hmm, apa?" tanya Rangga pada Aryan dan Ezra yang justru mengedikkan bahu tanda tidak tahu. "Yang ada mie-mie nya gitu," ujar Rangga. "Mie apah?" tanya Rani menggoda suaminya. "Mie sampah," ucap Rangga lalu menutup mulutnya. "Mulut sembarangan ngomong," ujarnya lagi. "Semena-mena nih mulut," ucap Rani sambil menyumbat mulut suaminya dengan keripik singkong. Aryan dan Ezra tertawa melihat ke uwu an orang tua mereka yang jauh dari kata romantis. Berbeda memang. "Bi, buatkan mie goreng dong," ujar Aryan ketika melihat salah satu ART. "Tadi ditanya, gak tempe. Sekarang malah duluin Papa," ujar Rangga. "Lama prosesnya kalau Papa," ucap Aryan yang disetujui oleh Ezra. Ezra merasa tubuhnya sudah normal kembali. Sudah bertenaga dan bersemangat. "Besok adek kerja ya?" tanya Ezra. Bagaimana pun ia harus meminta izin orang tua serta abangnya. "Enggak boleh," jawab Aryan cepat. "Di rumah dulu aja," sambungnya lagi. Ezra lemas seketika karena pengajuannya tidak disetujui oleh abangnya. Sedangkan orang tua Ezra hanya diam saja. "Bosennn," ujar Ezra. Ia memang merasa sudah sangat bosan. Tidak melakukan apa pun selama beberapa hari. Ponselnya saja baru diberikan hari ini ketika ia sudah sampai rumah. Ya, ponselnya kena sita oleh abangnya agar lebih beristirahat. "Ikut abang ke kantor boleh ya?" Pujuk Ezra sambil merangkul lengan abangnya. "Oh tidak bisa," jawab Aryan cepat. "Kamu akan merepotkan sekali," ujarnya lagi. Pernah sekali, Aryan membawa Ezra ke kantor atas permintaan orang tuanya agar Ezra tahu tentang perbisnisan. Namun, bukannya membantu, Ezra justru membuat kekacauan di kantor. Kekacauan yang diperbuat Ezra bukanlah suatu kegaduhan, tapi kebisingan. Ezra yang antusias saat itu banyak sekali bertanya. Tidak masalah, kalau Ezra bertanya padanya. Namun, Ezra juga bertanya kepada rekan bisnisnya yang lain dan pertanyaan yang Ezra lontarkan selalu saja yang aneh-aneh. Aryan ingat betul kejadian beberapa bulan yang lalu. "Pak, tahu gak kenapa tahu ini persegi?" tanya Ezra. Aryan sudah melototi adiknya itu. "Enggak, emangnya kenapa?" tanya salah satu rekan bisnis Aryan. Mereka saat ini sedang berada di sebuah restoran khas indonesia. "Ya karena kalau bulat namanya, 'tahu bulat digoreng dadakan', haha," ujar Ezra tertawa karena ia merasa lucu. Rekan bisnis Aryan pun ikut tertawa. Sedangkan Aryan sudah menutup wajahnya. Malu dengan kelakuan adiknya. "Enggak boleh ikut-ikut lagi," ujar Aryan lagi. "Aku kan gak ngapa-ngapain nanti," ucap Ezra manyun. "Pa, lihat abang," adu Ezra pada ayahnya. "Gagah kok, kayak Papa," ucap Rangga sambil menepuk dadanya. "Mama lihat papa," adu Ezra pada ibunya. Ia tak terima aduannya justru jadi bahan bercandaan. "Ganteng kok," ucap Rani menoleh ke suaminya sambil terkekeh. "Ahhhhh," pasrah Ezra. "Jadi Mama akui kalau papa ganteng ya kan!" Goda Rangga. "Salah ngomong tadi," jawab Rani sudah e'nek dengan kenarsisan suaminya ini. "Ya bawalah adikmu itu, bang," ujar Rani. "Tapi Maaa..." "Bawa, Bang," ucap Rangga. Aryan membuang napasnya kasar. Mau tidak mau ia harus membawa adiknya ke kantor besok pagi. "Yesss," seru Ezra merasa menang dari abangnya. "Jangan buat gaduh," ucap Aryan tidak mau dibantah. Ezra pun mengangguk sambil memberikan jempol. "Ok," jawabnya. ***** Aryan berjalan dengan gagahnya memasuki kantor. Di susul oleh Ezra karena ketinggalan di belakang. "Bang," panggil Ezra. Aryan pun berhenti dan menoleh ke belakang. Ezra mensejajarkan diri dengan abangnya. "Tungguin ngapa," rajuk Ezra. Ezra yang memiliki badan mungil, tapi tidak kerdil tentu langkah kaki tidak selebar abangnya. Makanya, ia ketinggalan di belakang. "Makanya cepat," ujar Aryan. Ezra acuh saja dengan ucapan abangnya itu. Jelas-jelas ia sudah merasa berjalan cepat bahkan hampir saja ia tersandung kaki sendiri karena mengejar langkah abangnya yang lebar itu. Ezra pun berjalan duluan dan disusul oleh abangnya dan tentu saja terkejar. Mereka berjalan dengan sejajar. "Pak, Buk," sapa karyawan yang berpapasan dengan Aryan dan Ezra. "Eeh jangan panggil saya Buk," ujar Ezra tidak terima dipanggil ibuk oleh karyawan perusahaan. "Iya panggil aja tante," ucap Aryan tetap dengan ketegasannya. "Hahah, gak lucu!" Karyawan yang tadi menyapa Aryan dan Ezra terkekeh melihat interaksi bos dan adik bosnya. "Permisi Pak," ucap karyawan itu hendak berpamitan. Dan Aryan mengangguk. Aryan yang memang aura wibawa serta memiliki ketegasan yang kuat tentu membuat beberapa para karyawan dan karyawati takut untuk berlama-lama dekat dengan Aryan. "Manis sedikit gitu loh, Bang. Ini tegang amat," ujar Ezra saat mereka sudah memasuki lift. Lift yang mereka gunakan memang khusus, sedangkan untuk karyawan dan karyawati ada lift tersendiri. "Ini kantor," jawab Aryan. "Dih, au ahhhh," ucap Ezra yang sudah malas. Pintu lift terbuka. Aryan dan Ezra pun segera keluar dan berjalan beriringan. Banyak karyawan dan karyawati yang menyapa Aryan serta Ezra. Seluruh karyawan dan karyawati perusahaan Aryan tentu tahu Ezra adalah adik dari bos mereka. Makanya mereka juga menyapa Ezra dengan ramah. Ezra yang mendengar sapaan dari orang-orang pun mengangguk dan tersenyum. Berbeda dengan Aryan yang hanya mengangguk tanpa menoleh kepada yang menyapa. Aryan terkenal dengan wibawanya di kantor. Hampir seluruhnya tahu kalau Aryan tidak banyak bicara dan minim senyum hanya beberapa orang saja yang tahu kalau Aryan juga humoris. "Lain kali gak osa disapa bos kalian ini, sombonggg," ujar Ezra yang membuat para karyawan dan karyawati terkekeh kecil. "Ehem," deheman dari Aryan membuat semuanya diam. "Masuk," suruh Aryan pada adiknya itu. "Semangatttt," seru Ezra memberikan semangat kepada seluruhnya. Setelah itu, ia masuk ke dalam ruangan abangnya dan disusul oleh Aryan. "Jangan buat ulah kamu, Dek." Aryan memperingati kembali Ezra. "Iya, takut amat," ucap Ezra sambil duduk di kursi kebesaran abangnya. "Kamu duduk di sofa," ujar Aryan. "Yaelah pelit amat," ucap Ezra. Ezra pun berdiri dan memilih duduk di depan kursi abangnya. "Di sofa, Dek," ujar Aryan lagi. "Dih," ucap Ezra merasa kesal dengan perintah abangnya. Tapi mau tidak mau, Ezra tetap menuruti perintah abangnya. Ia duduk di sofa sambil memainkan ponselnya yang sudah lama tidak ia pegang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN