Rasa bosan, tentu itulah yang dirasakan oleh Ezra. Sejak ia menginjakkan kaki di kantor, tidak ada yang dikerjakannya selain rebahan sambil main ponsel.
"Bang, bosan," ujar Ezra duduk di sofa.
"Siapa suruh ngikut," ucap Aryan tanpa menoleh ke arah adiknya. Ia masih fokus dengan laptopnya.
Ezra menghela napasnya kasar kalau ia tahu semembosankan ini maka ia tidak akan jadi untuk ikut. Ia pikir akan seru, ngobrol dengan semua orang yang ada di kantor seperti dulu yang pernah ia lakukan.
Pikiran Ezra kembali ke belakang mengingat sesuatu yang sangat seru.
"Terus-terus?" tanya Ezra antusias.
Saat ini Ezra sedang berada di tempat para karyawan dan karyawati. Agak berjauhan dari ruang rapat. Ya, abangnya sejak rapat. Jadi, ia melarikan diri dari ruang kerja abangnya walau sudah diperingatkan untuk tidak keluar.
"Iya, Ra. Auranya itu kelihatan banget," ucap salah satu karyawati.
"Ah masa iya, padahal kalau di rumah kayak hello kitty," kekeh Ezra membuat gelak tawa.
Ezra yang bosan memutuskan untuk keliling-keliling, kali saja ada yang cocok untuk diajak ngobrol. Dan benar saja, karyawan dan karyawati di kantor sangat seru untuk diajak ngobrol.
"Kamu berdosa sekali, Ra. Gosipin abang sendiri," kekeh karyawan berkaca mata.
Mereka semua sedang membicarakan Aryan. Ezra yang penasaran dengan penilaian terhadap abangnya sangat antusias ketika jawaban karyawan dan karyawati jauh berbeda.
Setelah Ezra pikir-pikir, abangnya memang jauh berbeda karakternya jika sudah berada di kantor.
"Gak papa lah sekali-kali ceritain abang sendiri." Ezra tertawa puas setelah mengatakan kalimatnya. Dipikir-pikir, ia memang adik kurang ajar juga.
"Bapak Aryan punya pacar gak?" tanya salah satu karyawati berhijab.
Ezra mengingat-ingat dahulu. "Enggak kayaknya sih," jawab Ezra sambil menggelengkan kepala. Ia yakin abangnya itu tidak memiliki kekasih.
"Seganteng itu gak punya?" tanya yang lainnya sedikit kaget.
Ezra mengangguk sebagai jawaban untuk mempertegas kembali ucapannya tadi. Lagian abangnya juga tidak pernah membawa satu gadis pun ke rumah.
"Kalau mau, coba aja deketin," ujar Ezra.
"Selamat mencoba dan semoga beruntung," kekeh karyawan lainnya.
"Kayak jawaban dari jajanan cika-cika," ucap karyawati yang memang humor sekali. Dan tentu saja ucapannya berhasil membuat gelak tawa.
"Ciki-ciki, woilahhh," ujar Ezra sambil memegang perutnya karena merasa menggelitik. Yang lainnya juga ikut terbahak.
Kalau tahu Ezra di kantor bisa seasik ini maka sudah dari dulu ia mau ikut. Rugi juga setelah ia pikir-pikir baru sekarang ia mau untuk ikut.
"Ada apa ini?"
"Lagi gosipin pak boss," jawab Ezra tanpa menoleh ke belakang.
Ezra yang masih tertawa dibuat heran dengan seluruh karyawan dan karyawati yang justru diam.
Ezra tentu bingung sambil mengisyaratkan pertanyaan, ada apa?
Setelah itu, Ezra memutar kepalanya ke belakang dan kaget sudah pasti itu sebagai respon pertamanya. Namun, setelah itu ia kembali cengengesan.
"Eeeh abang," ujar Ezra sok manis.
"Kembali bekerja," suruh Aryan kepada seluruh karyawan dan karyawatinya yang menunduk merasa takut.
Setelah mendengarkan perintah itu, seluruhnya langsung bubar dan kembali ke meja masing-masing untuk melanjutkan pekerjaan.
Kepergok bos sendiri saat sedang gosip itu rasanya seperti kejatuhan kelapa, tapi kepergok bos sendiri saat gosipin bos sendiri itu jauh lebih nikmat, sudah ketimpa kelapa jatuh ke sawah. Rasanya, ah mantap.
Ezra pun berdiri dari kursinya.
"Segala kepergok," lirih Ezra mendumel kepada diri sendiri.
Ezra tak menyangka jika abangnya lah yang bertanya, ia pikir yang bertanya juga salah satu pekerja di kantor. Jadi, ia santai saja menjawab, tapi ternyata pemikirannya salah. Ya, sudahlah tidak apa ketahuan sekali.
"Ngomong apa?" tanya Aryan saat melihat adiknya justru komat-kamit seperti baca mantra.
Ezra menggeleng cepat sebagai jawabannya. Mulutnya mendadak bungkam lagi. Tadi saja lancar sekali gosipin abang sendiri.
"Balik," ujar Aryan dengan nada tegas. Ia tidak menyangka dengan adiknya yang tidak mendengarkan ucapannya tadi untuk tidak jangan keluar dari ruangan. Dan lebih parahnya, adiknya mengajak karyawan dan karyawati untuk menggosip dan itu menggosipi perihal dirinya.
"Balik ke rumah, Bang?" tanya Ezra dengan raut wajah serius.
Aryan rasanya sudah sangat geram dengan tingkah adiknya hari ini. Sejak adiknya menginjakkan kaki di kantornya, ada saja ulahnya.
"KE RUANGAN, EZRA!" Aryan menegaskan kembali.
"Ouhhh," jawab Ezra santai dan itu membuat beberapa karyawan dan karyawati yang mendengar jadi terkekeh.
Aryan bisa naik darah jika lama-lama meladeni ketidakjelasan adiknya ini. Ia pun memilih untuk meninggalkan adiknya. Lebih baik, ia kembali ke ruangan untuk bekerja.
"SELAMAT BEKERJA EPRIBADEHHH," teriak Ezra berlagak memberikan semangat. Mungkin kalau ia jadi supporter bola, suaranya akan mengalahkan 3 suara pria.
Aryan yang masih belum jauh tentu mendengar teriakan adiknya itu. Berjalan sambil menggelengkan kepala.
Setelah memberikan semangat, Ezra pun undur diri. Tujuannya ya untuk kembali ke ruangan abangnya sesuai dengan perintah abangnya tadi.
Ezra pun terkekeh dan itu membuat Aryan heran.
"Bayangin apa?" tanya Aryan curiga kepada adiknya yang sekarang justru tertawa.
"Lucu, Bang," ucap Ezra sambil tertawa.
"Apa yang lucu?"
"Aku lah, masa situuu," jawab Ezra pede. Padahal ia baru saja mengingat kembali kejadian beberapa waktu yang lalu saat ia ikut ke kantor.
Untuk kali ini, bukannya Ezra tak ingin berkeliling hanya saja ia takut kelelahan, bisa-bisa jatuh sakit lagi. Ia sudah sangat merindukan kertas-kertas desain dan segalanya yang menyangkut butik. Dan juga sesuai dengan perintah abangnya semalam untuk jangan banyak bergerak.
"Bang, keluar bentar ya?" pujuk Ezra. Ia ingin sekali keliling untuk sebentar saja.
"Enggak!"
"Bolehlah, bentar aja. Janji gak bakal keliling jauh-jauh," ujar Ezra tetap berusaha memujuk abangnya agar mendapatkan izin.
Aryan yang melihat raut wajah melas adiknya pun menjadi iba. "Enggak!"
Ezra pikir setelah memelas, ia akan mendapatkan izin ternyata enggak juga. Ia berinisiatif untuk lebih mendekat ke meja kerja abangnya. Duduk tepat di kursi langsung berhadapan dengan abangnya.
"Plisssss," ucap Ezra memohon.
Aryan menghentikan pergerakan jari-jarinya yang menari di atas keyboard. Matanya memandang adiknya yang sedang menopang dagu.
"Jangan buat ulah."
"Yesss," seru Ezra berhasil mendapatkan izin.
Setelahnya Ezra berdiri bersiap untuk keluar.
"Ingat, jangan kecapekan," ujar Aryan yang diangguki Ezra.
Setelah mencium pipi kiri abangnya, Ezra menghilang dari ruangan Aryan.
Memiliki adik perempuan satu-satunya membuat Aryan harus lebih ekstra dalam memperhatikan Ezra. Ia tak mau adiknya itu terkena masalah apa pun, tidak mau adiknya kekurangan apa pun, ia ingin kasih apa pun kepada adiknya secara lebih. Pada awalnya, ia tak ingin adiknya itu tinggal di apartemen karena berjauhan dengan adiknya itu membuat ia khawatir, tapi melihat keseriusan adiknya yang ingin belajar mandiri, akhirnya ia ikut setuju.
Aryan tersenyum mengingat adiknya sekarang sudah sangat dewasa dan mandiri walau ia tetap menganggap adiknya itu sebagai adik kecil. Ia belum siap untuk melepaskan adiknya jatuh di pelukan pria lain alias pendamping hidup untuk adiknya karena itu juga ia memantau adiknya dengan sangat ketat, tapi tidak terlihat. Ia tak ingin jika adiknya merasa terkekang dengan segala peraturan dan larangan. Maka dari itu ia memutar otak bagaimana caranya agar ia tetap bisa memantau apa pun itu tentang adiknya tanpa sepengetahuan Ezra sendiri.