"Kenapa ekspresi lu berlebihan?" Elang menatap lekat wajah sang istri. Jelas terlihat kekhawatiran. "Eng—gak, gue ... yah, Elang!" Liana histeris saat hp yang dia pegang berpindah tangan. Elang mengambil di saat Liana gelagapan mencari alasan untuk menjelaskan alasan tak mengizinkan Elang untuk menjawab panggilan masuk. "Elang, please! No!" Liana semakin menjadi-jadi. Dia melompat mengambil hpnya. Tapi sayang prosis tubuh Elang yang sangat profosional membuat Liana kesusahan untuk meraih hpnya kembali. Elang menekan tombol hijau pada layar, lalu mendekatkan hp di telinganya. "Ya Allah ..." Liana merengek, menggigit bibir bawahnya. Wajah pucat, jantung berdebar kencang. Pasti akan ketahuan. 'Ya Allah, jangan sampai! Please! Bahaya buat rumah tanggaku. Aku gak mau mencetak sejarah baru

