Di sinilah sekarang mereka berdiri, Bandar Udara H. Asan Sampit. Keluarga kecil Julian nampak telah siap terbang ke Jakarta. Namun tangis haru Bu Hana menggoreskan sedikit rasa sedih di hati Aina. Wanita paruh baya itu memeluk erat tubuh mungil Arik. "Nenek jangan nangis," pinta Arik sendu. Dia mengusap pelan air mata di wajah sang nenek. "Iya bu, kita juga cuma pergi sebentar. Kita akan segera kembali ke sini." itu suara Aina yang ikut menimpali. Julian menarik tangan Aina pelan. "Kamu nggak mau menetap di Jakarta lagi?" bisik Julian sedikit kecewa. Hal itu berat dilakukan olehnya karena pusat bisnisnya di kota besar itu, Jakarta. "Kita bicara nanti mas," pinta Aina. "Sudah Bu, nanti Arik dan Aina kepikiran Ibu terus kalau begini. Biar mereka bertemu keluarga mereka dulu ya," bujuk

