27. Ragu

912 Kata

Langkah Aina terhenti ketika berdiri tepat di depan pintu sebuah rumah megah bertingkat dengan nuansa putih itu. Dia memegang lengan Julian erat. "It's okay," senyum pria itu memberi kekuatan untuk Aina melangkah. Sementara Arik yang sejak tadi di gendongan Julian hanya diam menatap takjub sekitarnya. Di ruang tengah keluarga yang begitu luas dengan sofa-sofa besar. Telah duduk seluruh anggota keluarga Djuanda. Papi Hendra, Mami Ranti dan juga eyang uti dengan Bi Minah yang setia duduk disamping kursi rodanya. Namun juga ada sosok yang tidak ingin dilihat Aina seumur hidupnya lagi duduk di situ dengan kaki yang saling menopang, Bella. "Sayangku..." lirih eyang berkaca-kaca sambil membentangkan tangannya. "Eyang!" pekik Aina kemudian berlari ke arah wanita tua itu. Dia sudah tidak perd

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN