Saat Rizki mulai nyaman memeluk Kaifa tanpa perlawanan, tiba-tiba ia mendengar suara seseorang berteriak memanggil namanya di depan pintu rumah. “Fa, sepertinya ada yang datang, aku lihat dulu sebentar,” ucap Rizki sambil melepas pelukannya perlahan. Kaifa tidak merespons, baik berupa jawaban mulut ataupun gerak tubuh. Pikirannya kosong, tatapan lurus ke depan dan benar-benar enggan melihat Rizki walau hanya sedetik. Rizki sebenarnya enggan meninggalkan Kaifa, tapi mendengar namanya terus dipanggil tanpa henti oleh seseorang di depan pintu, ia mau tidak mau harus menghampiri orang itu. “Ada apa dia memanggilku seperti itu? Apa dia sedang dikejar-kejar hantu?” gerutu Rizki saat berjalan menuju pintu. “A—“ ucapan Rizki langsung terpotong di detik pertama ia membuka pintu. “Rizki, bantu

