Damian terdiam, tubuhnya terasa menegang. Dia merasakan tubuh Lembayung yang kini menempel erat di lengan kekarnya gemetar ketakutan . Kemudian, dia menoleh ke samping, melihat wajah Lembayung yang expresinya terlihat panik di balik lipatan bahunya, lalu melirik ke depan, di mana seorang pria dengan wajah kesal sedang berjalan cepat menghampiri mereka.
Pria itu, bernama Bima, dia berdiri di hadapan mereka, menatap Lembayung dan Damian dengan pandangan curiga, marah, dan cemburu yang kentara. “Lembayung! Kamu ngapain? Siapa dia?”
Lembayung makin mengeratkan pelukannya di lengan Damian. “Dia pacarku,” jawabnya lantang, penuh penekanan.
Bima terkejut, matanya membelalak. “A—apa?! Nggak! Nggak mungkin! Kita kan masih pacaran! Kamu pasti bohong!”
Mendengar percakapan Lembayung dan Bima membuat Damian menghela napas. Dia refleks menyentuh punggung tangan Lembayung — sebuah sentuhan kecil yang bertujuan untuk menenangkan gadis itu.
Lembayung mendongak — masih menempel di lengan Damian — menatap Bima dengan pandangan meremehkan, berusaha menyembunyikan rasa takutnya. “Pacaran apaan? Cuih ... kita udah putus tahu! Dasar anak Mami! Sana pergi! Jangan gangguin aku sama pacarku!”
Wajah Bima memerah karena emosi. Dia mengalihkan pandangannya dari Lembayung ke Damian, meneliti pria yang lebih tinggi dan lebih kekar darinya itu dari ujung rambut sampai ujung kaki, mulai dari kaus polo hitamnya, hingga jam tangan yang berharga ratusan juta. Rasa cemburu Bima bercampur dengan kecurigaan.
“Nggak! Aku tahu kamu pasti disuruh Mamiku buat putusin aku, kan? Terus dia pacar pura-pura kamu, kan?” tuduh Bima, suaranya naik satu oktaf. Dia kembali menatap Lembayung dengan nada merendahkan. "Dia itu nggak cocok jadi pacarmu! Dia lebih cocok jadi Om kamu!"
“Kamu apa-apaan, sih!” seru Lembayung. “Sekarang tipeku emang yang Om-om begini! Aku lebih suka dimanja sama yang lebih tua, dari pada terus pacaran sama anak Mami yang manja macam kamu.”
Lembayung kemudian mendongak, menatap wajah Damian, yang sejak tadi hanya diam membeku dengan ekspresi datar dan dingin, seolah-olah, dia sedang menonton sebuah drama komedi yang aneh.
“Iya, kan, Abang?” Lembayung menekan kata ‘Abang’ dengan suara manja yang dibuat-buat, sambil mengedip-ngedipkan matanya.
Damian diam. Dia kini benar-benar membeku. Abang? Panggilan itu terasa tidak asing dan intim. Dia seorang Direktur, dia tahu harus menjaga citranya, tetapi di sisi lain, dia tidak mungkin membiarkan intern-nya berada dalam masalah.
Melihat Damian hanya diam tanpa reaksi, Lembayung semakin panik. Dia menggerakkan tangan Damian yang dia peluk erat, untuk memberikan kode yang jelas dan mendesak. “Abang, dijawab, dong!”
Damian tersentak dari lamunannya. Dia menyadari situasi genting ini. Jadi, dia tahu kalau harus segera mengakhiri drama ini. Pria itu menarik napas, menegakkan bahunya yang bidang, dan mengalihkan tatapan tajamnya yang dingin kepada Bima. Suaranya keluar rendah, berat, dan tegas. Suara yang penuh otoritas dan tidak terbantahkan.
"I—iya." Suara Damian, sedikit terbata pada awalnya, karena terkejut dengan situasi yang tiba-tiba ini. Namun, dia segera menguasai dirinya.
“Lembayung adalah pacarku,” lanjut Damian, suaranya kembali normal dan mengintimidasi. “Dan kami sedang kencan makan siang. Tolong jangan ganggu kami!”
Bima terlihat semakin murka, tetapi ada sedikit gentar di matanya saat berhadapan dengan Damian yang menjulang tinggi dan memancarkan aura kekuasaan yang kuat. “Lembayung, kamu akan menyesal!” ancamnya sebelum akhirnya pria muda itu berbalik pergi dengan langkah kaki yang tergesa-gesa karena merasa kalah.
Lembayung menunggu sampai Bima benar-benar menghilang dari pandangan. Barulah dia melepaskan pelukannya dari lengan Damian, mundur satu langkah, dan menghela napas lega. Seketika, rasa lega itu berganti dengan rasa malu yang luar biasa.
Dia mendongak, memandang Damian dengan tatapan bersalah. “Pak … saya … saya minta maaf banget, Pak!”
Damian memutar lengannya, sedikit untuk mengendurkan otot bisepnya yang tadi dipeluk erat Lembayung. Sentuhan Lembayung tadi itu ternyata berhasil meninggalkan sensasi hangat yang aneh. Lalu, dia menatap Lembayung dengan ekspresi yang sulit diartikan.
“Dia itu sebenarnya siapamu?” tanyanya dingin, dia kembali pada citra Direktur yang tenang namun berjarak.
“Dia mantan pacar saya, Pak! Maminya menyuruh saya untuk menjauhi dia jadi ya udah saya putusin meskipun dia nggak mau putus dari saya,” jelas Lembayung, dia membungkuk berulang kali. “Sekali lagi, saya mohon maaf karena sudah melibatkan Bapak dalam drama konyol yang tadi.”
Damian menghela napas, rasa terkejut dan pemasarannya sudah hilang. Dia menatap Lembayung, melihat kelelahan dan ketulusan dalam permintaan maaf gadis mungil itu.
“Baiklah, ayo kita lupakan insiden tadi!” ajak Damian dengan senyuman di wajahnya. “Tapi jangan pernah peluk-peluk tangan saya kalau kita lagi di kantor, ya! Ayo kita cari meja! Saya lapar.”
Lembayung tersenyum lega. “Siap, Pak!”
“Ayo kita jalan sama-sama!" Tiba-tiba Damian meletakkan telapak tangan besarnya di punggung Lembayung, tepat di tengah punggungnya yang mungil, sentuhan itu terasa lembut, tapi tegas.
“Berjalanlah di sampingku, Lembayung!” bisik Damian, suaranya kini kembali pada nada soft spoken yang menenangkan.
Sentuhan di punggung itu mengirimkan gelombang kehangatan yang kuat ke seluruh tubuh Lembayung. Ini bukan sentuhan tak sengaja di tangan seperti tadi pagi. Ini adalah sentuhan yang jelas, disengaja, dan personal.
Lembayung mendongak menatap wajah Damian, matanya memancarkan kebingungan dan semburat merah di pipinya. “Kenapa, Pak?” tanyanya penasaran dengan suaranya tertahan.
“Supaya kamu nggak ketinggalan,” jawab Damian. “Dan kamu nggak perlu lari-lari lagi.”
Damian kemudian mulai melangkah maju, tangannya tetap berada di punggung Lembayung, memberikan tekanan lembut yang memandu langkah gadis itu, sekaligus menyelaraskan tempo langkah mereka agar sejajar.
Lembayung merasa seperti tersengat listrik. Jantungnya berdebar kencang, lebih kencang dari saat dia memeluk lengan Damian di depan Bima. Sentuhan pria itu terasa begitu tepat, begitu menguasai, dan anehnya, sangat menenangkan. Dia bahkan bisa merasakan panas dari tangan Damian menembus kain pakaiannya.
Lembayung berjalan dengan langkah normal di samping Damian, melewati meja-meja lain. Pria itu menuntunnya, seolah Lembayung adalah kekasihnya. Faktanya, insting Damian yang merupakan seorang kakak sedang bekerja karena menganggap gadis mungil itu adalah adiknya. Meski sebenarnya, Damian bukan hanya menuntun langkah gadis mungil itu, tetapi juga secara fisik menjauhkannya dari segala potensi bahaya atau gangguan dari sekitar.
Saat mereka tiba di meja yang kosong, Damian menarik kursi untuk Lembayung — perlakuan gentleman yang kesekian kalinya. “Silakan duduk, pacar mungilku,” ucap Damian, dia menekankan kata ‘pacar mungil’ dengan nada jenaka, seringai tipis muncul di sudut bibirnya.
Lembayung menunduk malu, tetapi dia tersenyum geli. “Terima kasih, Abang, pacarku yang besar,” balasnya ikut-ikutan menjahili Damian.
Mereka pun duduk berhadapan. Suasana makan siang yang diharapkan tegang, kini justru dipenuhi keakraban, sebuah hasil dari drama dadakan yang baru saja terjadi.
Tapi tiba-tiba pikiran waras Lembayung menyala. "Eh, tadi Pak Damian bilang kalau umurnya 35 tahun, kan? Nah, di umur segitu otomatis ... dia ... dia pasti sudah punya istri dan anak."
Mata Lembayung membelalak, tangannya menutupi mulutnya sendiri sambil membatin, "Astaga ... berarti tadi aku curi-curi pandang dan meluk-meluk lengan tangan suami orang, dong! Ya Tuhan ... kamu benar-benar udah gila, Lembayung!"