Chapter 5. Damian dan Lembayung

1253 Kata
Rasa kagum Lembayung seketika digantikan oleh rasa bersalah dan cemas. Dia menatap Damian yang kini sedang asyik membalas pesan di ponselnya dengan tatapan penuh pertanyaan. Sebenarnya, gadis itu ingin sekali bertanya, tetapi dia takut. Terlalu lancang untuk menanyakan status pernikahan si bos di hari pertama kerja, apalagi setelah menjadikannya pacar pura-pura. “Kenapa, Lembayung?” tanya Damian, menyadari tatapan intens gadis mungil yang duduk di hadapannya. Lembayung tersentak, dia menggeleng cepat, berusaha tersenyum wajar. “Eh, nggak, Pak. Saya cuma takjub dengan restorannya. Bagus banget. Ini pertama kalinya saya datang ke restoran mewah seperti ini.” “Owh, ya ...?” Damian menyeringai tipis. "Bagus kalau kamu suka dengan restoran ini karena ini adalah salah satu restoran favoritku. Jangan sungkan, pesan saja makanan dan minuman yang kamu mau sampai kamu kekenyangan!" “Terima kasih banyak, Pak!” Mereka melanjutkan makan siang dengan percakapan ringan, tetapi pikiran Lembayung terus berputar-putar di satu topik, yaitu status Damian. Dia merasa tidak nyaman dengan keakraban yang sedang tercipta, jika ternyata pria di depannya ini sudah menjadi milik orang lain. Setelah makan siang dengan aneka menu makanan yang lezat, mereka kembali ke kantor. "Sudahlah, Lembayung! Buruan kerja. Soal Pak Damian punya istri atau nggak, nanti kamu tanya Bu Dini saja!" batin Lembayung lalu kembali fokus mengerjakan wish list tugas hari pertama. Gadis itu sendiri bahkan tidak menyangka jika ternyata dia bisa mengorganisir file digital dengan cepat dan efisien. Itu sebuah kebanggan untuknya. Lembayung bangga pada dirinya sendiri. Waktu terasa sangat cepat, setelah Lembayung menyerahkan progress report singkat melalui e-mail kepada Damian, ternyata jam sudah menunjukkan pukul 17.00 WIB, waktunya pulang. Lembayung mengemas barang-barangnya dengan terburu-buru. Dia tidak ingin berpapasan dengan Damian lagi, dia merasa harus menjaga jarak, karena takut terpesona dengan ketampanan wajah pria kekar dan tinggi itu. Takut pula merasa nyaman saat berada di sampingnya. Jadi, dia segera meluncur turun ke lantai dasar. Tujuan pertamanya adalah toilet yang ada di dekat parkiran. Lembayung masuk, membuka tas ranselnya, dan mulai berganti pakaian. Ia melepas blazer dan blouse formalnya, menggantinya dengan kaus oblong dan jaket hoodie yang longgar. Kemudian, dia melepas rok formalnya, menggantinya dengan celana panjang sport. Dia juga buru-buru menguncir rambutnya dengan asal, lalu memasang topi di kepalanya. Hal itu Lembayung lakukan karena dia menaiki sepeda — sepeda city bike yang berwarna krem dengan keranjang anyaman besar di bagian depan, sering disebut juga sepeda ontel modern. Lembayung tidak bisa mengendarai sepeda motor. Selain itu, sepeda adalah satu-satunya kendaraan yang dia miliki dan dia yakini tidak akan membuat keuangan bulanannya defisit. Gadis mungil itu keluar dari gedung megah PT Caraka Adikarya. Tas ranselnya yang berisi bekal dan pakaian kantor kini diletakkan aman di keranjang sepeda. Dia mengayuh sepedanya dengan pelan, menikmati angin sore yang sejuk. Perjalanan dari tempat magangnya ke tempat tinggalnya adalah sebuah kontras yang tajam. Lembayung mengayuh melewati jalan-jalan protokol yang bersih, lalu memasuki gang-gang sempit dan padat. Dan akhirnya gadis itu sampai di sebuah area yang bisa dibilang kampung kumuh. Di sana berdiri sebuah bangunan sangat sederhana yang memiliki banyak kamar. Kost campur, isinya perempuan dan laki-laki. Tentu saja, alasan Lembayung memilih kost ini karena harga sewanya yang murah. Di dalam kamar-kamar itu hanya cukup untuk satu kasur busa, satu meja kecil, dan lemari pakaian plastik. Lembayung memarkir sepeda di teras, lalu masuk ke kamarnya. Dia mandi cepat, mengenakan piyama usang bergambar beruang favoritnya, lalu duduk di lantai yang dilapisi tikar. Dia membuka ransel dan mengeluarkan kotak bekal makan siangnya yang gagal dia sentuh tadi. Dengan penuh rasa syukur, gadis mungil itu memakan nasi goreng bekal siangnya untuk makan malam. Lembayung tersenyum, mengingat momen di restoran tadi, di mana dia bisa makan enak dan ditemani Direktur setampan Damian. "Ya, setidaknya aku menghemat uang hari ini karena tidak harus membeli makan malam." Di dalam kost sempit itu, Lembayung menyalakan laptop tuanya. Layar yang kusam menampilkan drama Korea favoritnya. Dia jadi bisa melupakan sejenak Direktur tampan, internship, dan mantan pacarnya, membenamkan diri ke dalam alur cerita. Hingga tanpa sadar, Lembayung tertidur, dengan laptop yang masih menyala. *** Di sisi lain... Damian baru saja tiba di penthouse mewahnya yang terletak di puncak gedung pencakar langit. Keheningan yang menyambutnya terasa begitu pekat, kontras sekali dengan hiruk pikuk lobi kantor yang dia tinggalkan. Damian berjalan menuju bar mini. Jari-jarinya yang panjang mengambil sebotol bourbon single malt yang tersimpan rapi, dan dia menuangkan cairan amber itu ke dalam gelas kristal. Hanya bunyi denting es yang memecah kesunyian ruangan. Pria itu duduk di sofa single-nya, menyesap minuman itu perlahan, menikmati sensasi hangat yang menjalar di tenggorokan. Di depannya, ada pemandangan lampu-lampu kota yang berkelip dari ketinggian tampak Indah untuk orang lain, tetapi bagi Damian itu tampak dingin dan kosong. Damian adalah seorang Direktur di perusahaan besar. Jadi, dia sudah pasti memiliki kekayaan dan kekuasaan, yang tak terbantahkan. Namun, di penthouse ini, dia sendirian, dia hanyalah seorang pria berusia 35 tahun yang diliputi kesepian. Sudah bertahun-tahun dia terbiasa dengan keheningan, hasil dari kepercayaan yang dihancurkan dan pengkhianatan yang mendalam. Tangannya bergerak perlahan, menyentuh lengan kirinya, tempat Lembayung memeluknya erat tadi. Kemudian, dia melihat telapak tangannya sendiri yang tadi sempat menyentuh punggung gadis mungil itu saat membimbingnya mencari meja kosong di restoran. Sentuhan Lembayung memang singkat, tetapi terasa begitu membekas. Anehnya, dia tidak merasa risih, padahal dia adalah pria yang sangat menjaga jarak fisik dengan seorang perempuan. Justru, ada sedikit ketertarikan aneh pada gadis mungil yang berani memakinya dengan sebutan "siluman pemakan bambu". Damian tersenyum tipis, dia mengambil ponsel, membuka kalender pribadinya. Status : Duda. Dia menghela napas. Status ini sudah lama dia sandang, sebuah penanda dari kegagalan terbesarnya dalam hidup. Pikirannya langsung melayang ke masa lalu, kembali ke wanita yang pernah menjadi istrinya. Wanita yang dulu dia cintai dengan seluruh hatinya, tapi pergi meninggalkannya karena menganggap Damian terlalu fokus pada pekerjaan dan tidak cukup memberikan ‘kehangatan emosional’ — padahal, di belakangnya, wanita itu asyik berbagi kehangatan dengan pria lain. Pengkhianatan itu bukan hanya meninggalkan status duda, tetapi juga luka yang membuat Damian menutup diri, menjadi dingin dan berjarak. Setelah bercerai, Damian sebenarnya sudah pernah mencoba membuka hati. Dia jadi teringat sosok gadis cantik yang sangat dia sukai, gadis yang dia pikir memiliki perasaan yang sama. Tetapi ternyata dia itu mencampakkannya, dan memilih menikah dengan pria lain. Dua kali dikecewakan membuat Damian membangun tembok setinggi langit di sekeliling hatinya. Dia mengangkat gelas, menatap pantulan dirinya di permukaan cairan bourbon. Matanya yang tajam itu kini memancarkan kesendirian. "Lembayung," gumamnya. "Gadis mungil itu sangat menarik." Tiba-tiba, dia teringat lagi momen dramatis di restoran tadi, saat Lembayung mendongak ke arahnya, dengan mata memohon, dan suara manja yang dibuat-buat itu. "Iya, kan, Abang?" Panggilan itu ... Abang. Damian meneguk minumannya. Panggilan itu terasa sangat akrab, bahkan terlalu akrab. Itu adalah panggilan yang sama dengan panggilan mantan istrinya dulu, di masa-masa awal pernikahan mereka. Panggilan yang terasa manis dan intim, sebelum semuanya berubah menjadi dusta dan pahit. Bahkan, gadis yang mencampakkannya dulu, juga pernah memanggilnya Abang saat mereka sedang hangat-hangatnya dekat. Setelah bertahun-tahun, sekian lama dia hidup dalam keheningan dan menjaga jarak, baru hari ini ada perempuan lain — seorang mahasiswi magang yang refleks dia sebut 'Si Bocah SD'. Damian menyandarkan kepalanya ke belakang sofa. Ada sensasi geli dan hangat yang menjalari dadanya, sesuatu yang sudah lama hilang. Panggilan Abang itu, meskipun diucapkan dalam sebuah kepura-puraan yang konyol, hampir sukses menembus pertahanan dinginnya. Entah kenapa, Damian merasa enam bulan ke depan ini akan jadi masa-masa paling menarik. Mungkin saja, Lembayung dengan segala kepolosan dan kelancangannya, bisa menjadi penyembuh dari trauma masa lalunya. Atau setidaknya, gadis itu bisa mengacaukan keheningan yang membosankan di kehidupan seorang Direktur Duda seperti dirinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN