Chapter 6. Damian dan Lembayung

1113 Kata
Lembayung bangun pagi sekali. Setelah ritual membersihkan diri dan sarapan dengan roti dan s**u yang dia beli saat perjalanan pulang kemarin, dia segera mengenakan jaket dan celana sport. Gadis itu merasa bersemangat, tetapi juga diliputi rasa cemas yang baru. Misi utamanya hari ini bukan hanya menyelesaikan tugas kantor, melainkan memecahkan teka-teki, soal — Apakah Damian, si Direktur soft spoken yang super tampan dan kekar itu, sudah menikah atau masih lajang? Lembayung mengayuh sepedanya, seperti kemarin, dia ke toilet dulu untuk berganti baju. Dia tiba di PT Caraka Adikarya saat lobi masih sepi, hanya ada beberapa petugas keamanan dan kebersihan. Jadi, dia tidak berani langsung naik ke lantai 25, takut jika dia harus sendirian di lantai para elit itu sebelum Damian tiba. Dia memutuskan untuk duduk menunggu di sofa lobi yang besar dan empuk, sambil mengeluarkan buku catatan kecilnya untuk menulis hal-hal yang random yang terlintas di otaknya. Tak lama kemudian, Erika dan Alina datang bersamaan, karena mereka memang tinggal bersama di gedung kost exclusif dan tempatnya strategis, ada di pusat kota. “Hei, bocah SMP ini masih seperti di kampus saja!” sapa Erika, dia menenteng tas branded-nya. "Selalu datang paling pagi." “Keren banget deh, Lembayung. Kamu adalah anak magang paling rajin,” timpal Alina, duduk di sebelah Lembayung. "Aku jamin nilaimu pasti yang paling tinggi di antara kita." Ketiga gadis itu pun asyik mengobrol. Mereka ngerumpi soal hari pertama magang mereka yang cukup menyenangkan, meskipun penuh dengan pengarahan. Erika sudah harus membuat presentasi marketing sederhana, sementara Alina sibuk dengan media sosial perusahaan. “Vibes di lantai Marketing itu berisik, tapi para senior baik banget sama aku. Kalau di tempatmu gimana?” tanya Erika penasaran. Lembayung tersenyum. “Suasana di tempatku tenang dan sepi. Kalian nggak tahu aja rasanya harus berhadapan langsung sama Pak Direktur.” Dia sengaja tidak menceritakan detail insiden ‘siluman pemakan bambu’ dan ‘pacar palsu’. Lagi asyik-asyiknya mengobrol, Rama datang bergabung bersama mereka. “Wah, kalian udah rumpi aja pagi-pagi! Hari ini gue deg-degan banget, nih. Tugas kedua gue tuh harus bikin laporan progress financial statement dasar.” Obrolan mereka semakin asik, berkisar dari beban kerja, senior, hingga menu makan siang hari ini. Tiba-tiba, perhatian mereka semua teralihkan ke pintu masuk lobi. Seorang pria datang dengan tampilan profesional yang menawan — jas navy yang pas, kemeja putih tanpa cela, dan dasi sutra abu-abu gelap. Aura kekuasaannya langsung terasa begitu dia melangkah masuk. Langkah kakinya yang panjang menuju area sofa lobi. Matanya yang tajam menangkap Lembayung yang duduk di antara teman-temannya. “Lembayung!” panggilnya dengan suara yang cukup keras. Semua teman Lembayung memasang tatapan tak percaya. Ya ... karena seorang Lembayung dipanggil langsung oleh seorang Direktur di lobi umum. Itu adalah suatu kehormatan dan kecanggungan tersendiri. “Ayo, ikut aku naik ke atas,” perintahnya tanpa basa-basi. “Baik, Pak Damian.” Lembayung melompat berdiri, dia buru-buru pamit kepada teman-temannya, lalu berlari kecil menghampiri pria tampan yang memanggilnya. Mereka berdua berjalan menuju lift VIP. Begitu pintu lift VIP tertutup, Damian memulai percakapan basa-basi yang tak terduga. “Apa kamu sudah sarapan?” “Sudah, Pak,” jawab Lembayung, dia mendongak penuh menatap Damian. “Sarapan apa?” “Makan roti dan s**u, Pak.” Damian sedikit mengerutkan kening. “Memangnya kenyang?” Lembayung terkekeh pelan. “Kenyang kok, Pak. Itu sudah kebiasaan saya. Dulu pas di panti, bahkan kadang saya cuma kebagian roti secuil aja karena harus mengalah dengan anak yang lebih kecil.” Hening. Damian yang tadinya terlihat santai, kini wajahnya berubah serius. “Panti … panti asuhan?” Nadanya terdengar sedikit lebih lembut dari yang tadi. "Iya, Pak." Lembayung mengangguk. "Saya besar di panti asuhan sejak umur sepuluh tahun. Ibu saya meninggal karena kecelakaan." Ada rasa bersalah yang tiba-tiba menyeruak di hati Damian. Kemarin, dia mengejek Lembayung ‘bocah SD’ tanpa mengetahui latar belakang gadis itu. “Ma—maaf, Lembayung.” Lembayung kembali terkekeh, kali ini tawa yang renyah dan tulus. “Kenapa Anda minta maaf, Pak? Bapak kan tidak punya salah sama saya.” Lembayung menatap mata Damian yang terlihat menyesal. “Dan nggak usah kasihan sama saya hanya karena saya tinggal di panti asuhan, Pak. Saya bahagia sekali kok tinggal di sana. Ibu pantinya baik, saya juga jadi punya banyak saudara, plus saya bisa sekolah dan kuliah gratis.” Dia menepuk-nepuk lengan blazer-nya dengan senyum lebar. “Saya percaya, semua orang punya cobaan masing-masing. Dan sangat menikmati cobaan yang diberikan dari Tuhan kepada saya.” Tepat saat Lembayung menyelesaikan kalimatnya, lift terbuka di lantai 25. Lembayung berjalan keluar dari lift VIP terlebih dahulu, tanpa menyadari bahwa Damian tidak mengikutinya. Dan di saat dia sudah berjalan beberapa langkah, barulah dia tidak merasakan langkah kaki Damian di belakangnya, Lembayung segera menoleh untuk memastikan. Benar saja, Damian masih berdiri mematung di dalam lift, pandangannya kosong, seolah sedang tenggelam dalam pikiran sendiri. “Ayo keluar, Pak!” panggil Lembayung. “Kok Bapak malah ngalamun, sih?” “Eh .…” Damian tersentak. Dia memaksa diri untuk tersenyum. “Iya.” Lalu, dia melangkah keluar, mengikuti Lembayung menuju ruangan kerjanya. Lembayung tidak menyadari, jika saat ini Damian sedang merasakan ada sentuhan rasa kagum yang aneh di hatinya. Bagi Damian sekarang, sosok Lembayung yang sekarang itu bukan hanya sekadar gadis mungil yang polos dan ceplas-ceplos, tapi Lembayung ternyata memiliki hati yang tegar di balik penampilan kekanak-kanakannya. Saat sudah berada di ruangan Direktur, Damian segera berjalan cepat ke mejanya, mengambil list tugas yang sudah disiapkan. “Ini daftar tugasmu hari ini, Lembayung. Fokus utamamu masih di merapikan file digital di server lama. Ingat, jika ada pertanyaan, kamu tahu harus menghubungi saya lewat telepon!” Lembayung menerima list itu. "Baik, Pak." Namun, saat Lembayung berbalik menuju pintu, dia teringat dengan misinya. "Ini kesempatanmu beritanya pada Pak Damian!" batinnya semangat. Jadi, Lembayung memutuskan untuk berbalik lagi menatap Damian. “Pak Damian ....?” Damian menoleh, alisnya terangkat. "Ya?" Lembayung menelan ludah. Dia memantapkan diri, mengambil napas dalam-dalam, dan memutuskan untuk mengabaikan semua etika profesionalisme demi rasa penasarannya. Dia harus tahu, sebelum perasaan kagumnya semakin jauh. “Maafkan saya, Pak, jika ini terlalu lancang,” ujarnya sambil memegang list tugas erat-erat seolah itu adalah perisai. “Tapi saya harus bertanya. Bapak kan Direktur, dan usia Bapak sudah 35 tahun. Saya ... saya hanya ingin tahu status Bapak yang sebenarnya.” Damian menatap Lembayung lama, ekspresinya sulit dibaca. “Apa maksudmu, Lembayuny?” tanya Damian, nadanya kembali dingin dan berjarak, seolah dia sedang marah karena batas pribadinya baru saja dilewati Lembayung. Lembayung semakin gemetar, tetapi dia sudah terlanjur basah. Jadi dia harus segera menyelesaikan pertanyaannya. “Saya hanya ingin tahu. Apakah Bapak sudah menikah?” Damian terdiam, senyum tipis yang tadi terpasang di wajah tampannya menghilang dan mengakibatkan ruangan itu terasa hening mencekam.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN