"Aku sudah pernah menikah. Ta—"
“Owh, begitu,” potong Lembayung, suaranya terdengar tercekat.
Lembayung merasakan ada rasa nyeri yang menusuk tiba-tiba di dadanya. Perasaan kagum yang baru bersemi sejak kemarin pun layu dalam hitungan detik. Dia memaksakan diri untuk tersenyum — senyum yang terlihat sangat palsu dan kaku. Dia menunduk untuk menyembunyikan mata yang mulai terasa panas.
“Saya permisi, Pak,” imbuhnya lalu membalikkan badan dengan cepat, seolah sedang melarikan diri dari medan perang.
Tanpa menunggu respons Damian, gadis mungil itu membuka pintu dan segera menghilang kembali ke ruangan sekretaris.
Pintu tertutup.
Damian menggaruk tengkuk, wajahnya menunjukkan ekspresi jengkel. "Belum juga selesai ngomong udah dipotong. Aku padahal tadi mau bilang 'tapi pernikahanku gagal dan sekarang aku jadi duda'. Dasar anak muda jaman sekarang ... mereka itu emang nggak sabaran!"
Damian menghela napas panjang. Dia menatap tumpukan berkas di meja. "Sudahlah, besok dia bakal tahu sendiri kalau statusku yang sebenarnya itu duda tanpa anak."
Baru mengambil satu berkas, tiba-tiba pikiran Damian berisik lagi. "Eh ... tapi kok tadi Lembayung expresinya kayak keliatan kecewa gitu, ya? Nggak mungkin kan kalau dia suka sama Om-om macam aku gini?"
Sementara itu, di luar ruangan, Lembayung berjalan gontai menuju bilik kerjanya. List tugas yang tadinya dia pegang erat seperti perisai, kini terasa berat dan tak berarti. Rasa gembira dan cemas yang dia rasakan pagi tadi telah lenyap, digantikan oleh rasa sesak yang kini muncul.
"Ish, baru aja mulai suka, udah patah hati," gumam Lembayung pelan, bibirnya mencebik. "Ya wajar lah Pak Damian udah nikah, dia kan ganteng, tinggi, kekar, gagah, punya jabatan dan kaya raya. Pasti udah ada yang punya!"
Lembayung menepuk-nepuk pipinya yang terasa panas, mencoba menarik kembali semangatnya. "Sudah-sudah! Ayo sekarang kerjakan tugasmu! Lupakan Pak Damian, jauhin dia selama enam bulan. Eh ... maksudnya bukan jauhin, tapi jaga jarak, karena kamu harus tetap profesional!"
Gadis itu meletakkan list tugas di meja, menyalakan komputer, dan memaksa dirinya untuk fokus pada deretan file digital di server lama, bertekad mengubur rasa patah hati singkatnya di bawah tumpukan data perusahaan.
Tugas yang diberikan Damian memang bukan tugas yang menarik. Lembayung harus merapikan dan memilah ribuan file digital yang tidak terorganisir di server lama, kebanyakan adalah dokumen proyek bertahun-tahun lalu. Namun, Lembayung melakukannya dengan teliti. Dia harus membuktikan dirinya profesional, meskipun hatinya terasa remuk redam.
Beberapa jam sudah Lembayung larut mengerjakan tugasnya, tiba-tiba pintu ruangannya diketuk tiga kali.
“Masuk!” seru Lembayung.
Damian lah yang masuk, expresinya tampak tegang. “Lembayung, ayo ikut saya ke pabrik sekarang! Lagi ada sesuatu yang urgent.”
Lembayung terkejut, dia refleks berdiri. “Saya, Pak? Serius Anda mengajak saya ke pabrik?”
“iya. Ada masalah di lini produksi. Saya butuh kamu untuk mencatat semua instruksi dan data teknis. Kita harus pergi sekarang.”
“Baik, Pak!” jawab Lembayung sigap, lalu mematikan komputernya.
Di dalam lift, ketegangan Damian terasa sangat jelas. Wajahnya yang tegas tampak sedikit keras, matanya fokus ke angka lantai yang terus bergerak turun. “Sebagai sekretaris Direktur Produksi, kamu harus terbiasa kalau ada kunjungan mendadak ke pabrik!” ucapnya, tanpa menatap Lembayung.
"Baik, Pak."
Saat mereka sudah duduk di dalam mobil, dari percakapan yang didengar Lembayung, tampaknya ada masalah serius terkait mesin press di lini produksi utama.
“Kalian harus isolasi area itu, segera! Saya sedang di jalan ...."
"Tidak! Jangan coba-coba perbaiki sendiri sebelum saya dan tim service datang. Ini masalah safety!”
Lembayung mengamati profil wajah Damian. Gadis itu kini paham jika Damian adalah bos besar yang hands-on, bukan sekadar Direktur yang duduk manis di balik meja. Rasa patah hatinya tadi pagi sejenak terlupakan, digantikan oleh rasa kagum baru pada profesionalisme pria itu.
Setelah sekitar tiga puluh menit, mereka tiba di sebuah kompleks industri besar milik PT Caraka Adikarya.
Saat mobil Damian berhenti, dan dia membuka pintu mobil, sekelompok engineer dan manajer menyambutnya. Pria itu mengambil helm keselamatan dan rompi dari salah satu staf. Dia menoleh ke Lembayung yang berdiri di sampingnya, tubuh mungil gadis itu terlihat kontras dengan suasana pabrik yang besar.
“Lembayung, pakai ini!” perintah Damian. “Tugasmu adalah mencatat setiap instruksiku, setiap angka, dan setiap laporan dari para engineer. Jangan sampai ada yang terlewat. Kamu harus menjadi bank data di tempat.”
“Baik, Pak!” jawab Lembayung sigap, dia segera memakai peralatan safety, mengeluarkan buku catatan dan pulpen dari tasnya.
“Dan satu lagi,” imbuh Damian, mendekat ke Lembayung, dia merendahkan suaranya agar hanya didengar Lembayung. “Karena kamu mungil, jadi jangan pernah pergi dari sisiku! Ingat, ini area berbahaya.”
Ucapan protektif pria itu menciptakan gelombang panas di pipi Lembayung. Dia refleks mengangguk kaku. "Ba—baik, Pak."
Setelah memakai peralatan safety, mereka melangkah masuk ke dalam pabrik. Damian berinteraksi dengan para engineer dan Lembayung mulai mencatat meski bahasa teknis itu terasa asing di telinga gadis itu.
“Report terakhir dari engineer Budi menunjukkan penurunan pressure 20% di mesin enam. Lembayung, kamu harus catat itu!”
“Sudah, Pak!”
“Aku akan memeriksa bearing di press lima. Manajer Tio, persiapkan alat lubrication darurat dan hubungi Maintenance untuk persiapan part pengganti belt!”
Setelah dua jam penuh ketegangan, masalah berhasil diatasi. Mesin press kembali bekerja dengan normal, dan suasana tegang berangsur mereda. Tepat saat manajer pabrik melaporkan semua sudah aman, jam di ponsel Lembayung sudah menunjukkan pukul 13.00WIB.
Mereka semua melewati jam makan siang.
Di dalam mobil, suasana terasa jauh lebih santai. Kelelahan setelah bekerja keras di lingkungan pabrik membuat mereka terdiam. Lembayung memilih menatap keluar jendela. Tangannya memegang erat buku catatan yang penuh dengan istilah teknis. Gadis itu merasa bangga bisa membantu, meskipun perannya hanya mencatat.
Damian yang menyetir, akhirnya memecah keheningan. “Kerja bagus, Lembayung. Kamu cepat tanggap.”
“Terima kasih, Pak,” jawab Lembayung, dia tersenyum lega.
“Karena kamu sudah bekerja keras dan kita melewati jam makan siang, sebagai bentuk pertanggungjawabanku, aku akan mentraktirmu makan siang."
“Tidak perlu repot-repot, Pak. Saya bisa makan bekal di kantor saja,” tolak Lembayung sungkan.
“Ini perintah, Lembayung. Lagipula, kamu butuh asupan yang layak setelah menghirup banyak debu pabrik.” Damian sedikit menyeringai. “Dan kamu perlu mengisi perut. Aku tidak mau kamu pingsan nanti.”
Lembayung tidak bisa lagi membantah, dia hanya mengangguk.
Mobil Damian berbelok memasuki kawasan perkantoran elit. Mereka berhenti di depan sebuah gedung yang didominasi oleh kaca, tempat sebuah restoran Fine Dining bergaya Jepang yang berada di lantai teratas.
Damian dan Lembayung berjalan beriringan menuju lift khusus restoran.
Tepat saat mereka melangkah keluar dari lift dan sudah memasuki area resepsionis restoran yang tampak mewah — dengan interior kayu gelap dan pencahayaan temaram — tiba-tiba terdengar suara perempuan yang memanggil.
"Damian!"
Damian yang sedang memimpin jalan otomatis berhenti.
Lembayung juga refleks menghentikan langkahnya.
Mereka berdua menoleh ke sumber suara. Ada seorang wanita berpenampilan sangat modis, dengan gaun cocktail mahal dan tas tangan mini, sedang berdiri beberapa meter dari mereka.
Dalam sepersekian detik, sebelum wanita itu sempat melangkah maju, Damian menarik tubuh Lembayung dengan cepat merangkul bahu Lembayung erat-erat dengan lengan kanannya.
Lembayung terperangah di dalam rangkulan hangat itu, tubuh mungilnya menempel pas di sisi kanan Damian. "Eh ... kenapa, Pak?"
Damian membungkuk, mencondongkan wajahnya ke telinga Lembayung, dan berbisik, “Sekarang gantian kamu yang pura-pura jadi pacarku, ya!”