BAB - 5

3333 Kata
Eryna Tiap manusia akan menjalani beberapa fase dalam hidupnya. Jalan hidup dimulai ketika kita lahir ke dunia. Menjadi seorang balita, lalu tumbuh menjadi remaja, banyak hal yang dilalui bukan semata - mata tentang bahagia saja tapi lebih dari itu semua. Lalu, masalah demi masalah hadir, timpang tindih dari satu masalah yang selesai muncul lagi masalah yang baru, tidak berkesudahan tapi kita bisa rehat dan berhenti sejenak untuk mencari jalan keluarnya.           Rasa-rasanya memang sangat melelahkan. Tapi masalah bagiku adalah suatu tantangan yang harus kuselesaikan. Tantangan itu menjadikanku terlahir kembali menjadi manusia yang lebih dewasa lagi untuk kembali ke dalam perjalanan. Dan kini hidupku bukan hanya tentang aku, duniaku sudah terbagi oleh orang-orang yang kukasihi dan tak akan kulepaskan.           Dia suamiku, Ammar. Seluruh hidupku kuserahkan pada dia. Lelaki yang bertanggung jawab, penyayang, paling pengertian dan selalu membela aku dan melindungiku ketika ada orang-orang yang mengatakan hal buruk tentangku. Dia yang akan menjadi garda terdepan untuk melawan orang-orang yang jahat padaku dan keluarga kecil kami.           Kami memiliki segudang mimpi untuk masa depan kami. Aku yang ingin menjadi kepala desa di desa yang ada di kota Bandung. Desa terpencil yang masih banyak perlu perbaikan dari segi ekonomi, aliran listrik, pasokan air bila dilanda kemarau panjang dan dari segi lahan. Mengapa aku ingin menjadi kepala desa? Ini bukan tentang hal jabatan, tapi aku ingin mengikuti jejak ibu yang sudah terjun di lapangan masyarakat, bagaimana ia berusaha untuk mensejahterakan masyarakat miskin.           "Kelebihan seseorang bila tak digunakan, itu percuma. Kelebihan seseorang bila tidak bisa kita manfaatkan untuk orang lain pun sia - sia. Untuk apa kita punya kelebihan di dalam diri kita kalau tidak bisa menebar kebaikan untuk semua manusia?"           Yang dikatakan ibuku membuatku terpacu untuk menjadi seperti dirinya. Mendedikasikan sebagian dari hidupku untuk masyarakat dan memperjuangkan kesejahteraan mereka. Namaku Eryna, perempuan berhijab, istri dari seorang pengacara internasional, memiliki dua anak perempuan Lestari dan Kartika. Bukan sepenuhnya ibu rumah tangga, aku bekerja sebagai perangkat desa di daerah yang menjadi tempat tinggalku. Aku terlahir dari keluarga yang sempurna. Sempurna menurut definisiku mereka memberikan penuh kasih sayang dan selalu mendukung mimpi-mimpiku. Mereka adalah inspirasi dan idola yang kukagumi.            Ayahku adalah seorang jenderal angkatan darat. Bertahun-tahun ia telah mengabdi pada negeri ini. Sampai aku ingin seperti dia. Aku bercita-cita ingin menjadi polwan. Tapi, pada saat itu aku gagal. Kata ibu, ingin mengabdi pada negara tidak harus menjadi seorang polisi, polwan ataupun tentara, mengabdi pada masyarakat untuk memperjuangkan kepentingan kesejahteraan mereka saja sudah termasuk mengabdi pada negara. Orang - orang yang bekerja di Indonesia sudah menjadi bagian dari pengabdi negara.        Ibuku sebelum bertemu dengan ayah, pernah menjabat sebagai menteri pendidikan. Ia selalu mengutamakan kepentingan anak - anak yang kesulitan dalam pendidikannya entah itu karena ekonomi atau sarana pendidikannya yang kurang menunjang. Namun, setelah menikah ia harus ikut dengan ayah dan berhenti dari jabatannya.            Kakakku, Amira bekerja sebagai dokter. Ia lulusan Universitas Gajah Mada, ia mendedikasikan hidupnya untuk masyarakat dalam dunia kesehatan. Dan suamiku juga salah satu orangnya. Dia adalah seorang pengacara yang bercita - cita keinginannya menjadi pengacara internasional. Banyak proses yang panjang telah ia jalani untuk mencapai semua keinginannya. Dua tahun yang lalu, ia memutuskan untuk bekerja di Jakarta. Dia bilang, dia tidak bisa terus - terusan bekerja dan tinggal di daerah - daerah dan hanya mengurusi kasus - kasus yang bersifat kedaerahan saja, ia memutuskan berhijrah ke Jakarta karena di sanalah pusat - pusat perusahaan besar sebagai tempatnya ia magang. Di kota besar itulah dia bekerja dan mencari celah untuk mendapatkan peluang yang ia mau. Dan semua itu perlu pengorbanan. Dia jadi jarang punya waktu bersamaku dan Kartika yang masih berusia 6 tahun serta Lestari anakku yang kini sudah kelas 3 SMP yang sangat merindukan dia. Dan lima tahun setelahnya, akhirnya ia menembus mimpinya. Ia mendapatkan pekerjaan di perusahaan besar di New York. Akhirnya kami harus ldr selama dua tahun lamanya. Namun, ia memutuskan akan pulang setelah menyelesaikan beberapa kasus. Dan hari kepulangannya pun akan segera tiba.           "Ayahhhh!!!! Ayahhhh kapan pulang!?" seru Kartika sangat semangat sampai suara mereka itu kedengeran ke dapur.           "Ayah! Lestariii kangen ayahh!"           "Kartikaa jugaaa!"           "Kartika! Jangan diambil dong hp bunda! Kakak, 'kan mau ngomong sama ayah!"           "Gamauuuu!! Kartikaa duluan!"           "Kartikaaa!!"           "Gamauuuuu!" Kartika lantas turun dari ranjang tidur bundanya dan melarikan diri dari sang kakak. Lestari memiliki keterbatasan fisik, ia hanya memiliki satu kaki. Turun dari ranjang, ia mengambil kedua tongkatnya lalu segera keluar dari kamar bundanya.            Sedang Kartika menuju dapur----menarik kursi dan kemudian duduk---menoleh ke belakang, tersenyum pada bundanya yang tengah memasak.            "Lagi ngobrol sama ayah, ya?" tanyaku menoleh ke belakang lalu fokus lagi ke masakan di atas kompor.            "Iya bunda!" jawab Kartika.            "Tanya, ayah kapan pulangnya..." ujarku sambil mengaduk kuah sup di dalam panci.            "Ayah! Kata bunda ayah kapan pulangnya?" tanyanya menyampaikan pesanku.            "Hm, kalau menurut Tika, ayah mending pulang hari ini... Besok... Atau lusa?" Aku merasa sangat senang dalam hati melihat interaksi anak dan ayahnya bisa kembali dekat namun jarak ini membuat mereka harus terpisah. Di samping itu, aku pergi ke kamar mandi untuk mencuci tangan. Sayup - sayup aku mendengar suara kedua anakku bertengkar. Ternyata, Kartika dan Lestari berebutan hp ku. Lestari menarik hp itu sehingga Kartika ikut ketarik namun Lestari kehilangan keseimbangan dan keduanya terjatuh. Mendengar suara keras berbenturan dengan lantai, aku berlari penuh rasa khawatir. Aku menggendong Kartika yang menangis meraung - raung karena dahinya terbentur keras sampai timbul benjolan dan memerah. Begitu juga dengan Lestari yang merasakan sakit di bokongnya. Aku balik lagi ke dapur untuk menggendong anak pertamaku. Kemudian ku obati mereka di dalam kamar.            Ekspresi mereka saling cemberut saat kunasihati. Masih saling berseru dan menyalahkan satu sama lain.            "Harusnya teh Tari ngalah sama Tika."            "Ngalah kamu bilang? Aku selalu ngalah sama kamu Tika!" balas Lestari ngotot.            "Hey! Kok kalian malah berantem lagi, sih? Udah dong. Sekarang kalian mesti baikan," marahku supaya mereka bisa nurut.            "GAMAU!" balas mereka bersamaan dengan nada membentak.            "Okey," kedua tanganku terlipat di depan d**a. "Berarti kalian udah lupa dengan janji kalian sama ayah kalo ayah titip pesan sama kalian untuk gak berantem. Tapi karena kalian gak menepati janji kalian, sepertinya bunda harus bilang ke ayah biar dibatalkan aja hadiah yang ayah janjikan untuk kalian."            "Bunda...." rengek keduanya.            "Bunda.. jangan, iya, Tari mau baikan sama Tika."            "Tika juga bunda."            Aku lantas merasa lega karena ancamanku berhasil juga.            "Yasudah, kalo gitu sekarang kita hubungi ayah, ya. Bunda ambil hp bunda dulu." Dan diam - diam di luar kamar itu aku mengintip mereka.            "Maafan," Tari mengulurkan tangan untuk bersalaman tapi tidak menoleh. Tika pun sama halnya begitu. Dasar. * * * * Malam hari itu aku dan kedua anakku vc-an sama suamiku di ruang tamu. "Besok ayah pulang." Mereka berdua berseru senang, Tika turun dari kursi dan malah lompat - lompat di depan aku yang tengah - tengahnya terdapat meja. "Ayah, kira - kira besok nyampe jam berapa? Biar nanti kita langsung siap - siap jemput ayah biar ayah gak lama nunggunya." "Belum tau nak, nanti ayah kabarin lagi. Ayah sekarang lagi di jalan mau ke Apartemen," jelasnya, berhenti sejenak di tempatnya. "Ayah! Ayah bawa oleh - oleh, 'kan?" tanya Tika, kembali duduk di sampingku. "Tergantung, kalian nakal gak di rumah? Sama bunda nurut gak? Kalo gak nepatin janji, ayah kayaknya gak bisa bawain oleh - oleh buat kal..." "Kita nepatin janji kok, yah!" Lestari menyela. Ekspresi khawatir terlihat jelas, begitu juga dengan adiknya. "Tika sama kak Tari gak pernah berantem tauuu. Ya, 'kan Bun?" Aku cuma geleng - geleng kepala saja melihat tingkah lucu mereka ini. "Udah malem, 'kan di sana, tidur. Biar besok gak telat jemput ayah." "Ashiappppp bosss!" Lalu keduanya masuk ke dalam kamar. Dan tinggal aku dan suamiku. Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut kami untuk beberapa saat. Jantungku berdegup cepat ketika diperhatikan tanpa henti olehnya. Rasanya masih sama seperti pertama kali kita bertemu. "Kamu... Gak mau ngomong sesuatu sama aku?" tanya Ammar, ku lihat dia melepas jas yang kubelikan sebelum ia berangkat ke New York. Aku kok jadi gugup. "Ada.. aku mau bilang... emh... aku..." Astaga! Ngomong sama suami sendiri saja masih terbata-bata begini. "Kangen? Hm?" timpal Ammar percaya diri. Tiba - tiba saja air mataku turun setetes dua tetes tapi anehnya aku bukan sedih melainkan malah merasa geli dengan ucapannya. "Apaan, sih!" elakku. "Loh, kok jawabnya gitu. Emangnya kamu gak kangen sama aku kayak anak - anak." Ish, Ammar selalu aja bikin aku gemas sendiri, jadi kepingin meluk tubuh dia rasanya. "Eh kamu tau gak..." "Apa?" tanyaku cemberut. "Di sini kalo lagi musim dingin aku gak nemuin penghangat tau," katanya dengan ekspresi seolah-olah sedang menggigil. "Loh? Kok gitu? Emang fasilitas tempat yang kamu tinggal itu seburuk itu apa?" tanyaku kebingungan. "Gak mempan. Yang paling mempat itu kamu. Kalo dingin meluk kamu juga udah anget badan aku." Dasar tukang gombal! "Ish! Kamu ini kebiasaan banget bikin aku khawatir tapi taunya..." Ammar ini emang paling bisa kalo buat aku jantungan setengah mati. Sudah tau di sini aku mengkhawatirkan keadaan dia eh tapi dia malah mendramatisir keadaan. "Makanya... Kamu tinggal sama aku, ya, nanti di sini. Kamu... Anak - anak, pindah. Kita tinggal di sini. Temenin aku." "Waktu kamu mulai semuanya dari nol juga aku nemenin kamu terus." "Yaiya, cuma, 'kan aku perlu kamu sekarang. Gak enak tau kita jauh - jauh kayak gini. Aku pulang gak ada yang sambut, aku makan harus masak sendiri, aku tidur gak ada yang bisa aku peluk, aku mau ngobrol gak ada yang bisa aku ajak obrol..." "Kita masih bisa video call-an, 'kan--" "Aku maunya kita ngobrol langsung. Kamu ngerti gak, sih!?" Aku menghela napas kasar bila sudah membahas tentang ini. "Kamu itu istri aku Ryn. Ke mana pun aku pergi harusnya kamu ada di samping aku." "Kenapa, sih, kok sekarang kamu malah jadi egois gini?" "Egois gimananya? Salah aku bilang gitu ke kamu? Salah aku minta kamu buat ada untuk aku? Aku mintanya ke siapa, sih? Ke kamu, 'kan? Kamu masih inget aku ini suami kamu, 'kan?" "Udah... Udah... Jangan marah - marah gitu. Hari ini aku capek, banyak kerjaan, ngurus anak, ngurus rumah. Terus sekarang kamu marah - marah ke aku bikin kepala aku mau pecah tau gak rasanya." Aku benci dengan egonya yang tidak pernah mau mengalah. Kenapa, sih, dia selalu mementingkan dirinya sendiri. Kenapa, sih, dia hanya memikirkan mimpi - mimpinya saja. Kenapa dia gak pernah mikirin aku juga, apa yang aku mau, apa yang sedang ku kejar sekarang. Sama sekali dia gak mau tau tentang semua itu. Untuk sesaat kami saling mendiamkan sebelum akhirnya ia kembali bicara. "Yaudah, aku minta maaf ya, gak seharusnya aku bahas ini sekarang." "Aku mau tidur dulu, ya. Udah malem." Aku langsung mematikan hp ku walau sekilas tadi aku melihat mulutnya terbuka. Mungkin untuk mengucapkan selamat malam. Tapi sudahlah. Aku malas untuk berbincang lagi sama dia. Makanya aku memutuskan untuk mengakhiri percakapan kami malam ini. * * * * Keesokannya kami segera menuju ke bandara untuk menjemput suamiku. "Bunda! Bundaaaa nantiii di rumah Tika boleh ajak ayah main, 'kan? Main ayun - ayunan di belakang rumah Bun, boleh, 'kan?" tanya Tika penuh antusias, anak itu memang tidak sabaran sekali untuk memulai suatu hal. Di tempatnya ia duduk, tepatnya di kursi belakang kakaknya, ia terus saja berceloteh merencanakan banyak hal untuk waktunya bersama ayahnya. "Tapi gak sekarang Tika!" Lestari menoleh ke belakang. "Ayah pasti capek, mau istirahat, kita gak boleh ganggu ayah dulu." "Teh Tari ini kenapa, sih!? Aku, 'kan kangen sama ayah, mau main sama ayah masa ga dibolehin!" "Emangnya yang kangen ayah cuma kamu doang? Kita mesti ngertiin kondisi ayah juga." Aku pun lagi mengendarai mobil jadi gak konsen mendengar perdebatan mereka. Sehari gak ribut kayaknya gak bisa ya anak - anak itu.           Aku baru buka suara pada saat lampu lalu lintas warna merah menyala. Aku pun bicara pada mereka.           "Kalau kalian berdua masih aja bertengkar kayak tadi di depan ayah, bunda gak yakin ayah bakal kasih oleh - oleh ke kalian." Dengan nada seolah - olah aku sedang menakuti mereka. Sesampainya di bandara, anak - anak keluar dari mobil dan langsung memanggil ayahnya sebab sebelumnya Ammar sudah memberi tahu posisinya supaya memudahkan ku untuk menjemputnya sehingga tidak perlu mencari - cari lagi. Aku berdiri di depan mobil dengan pintu masih terbuka, memerhatikan Ammar berjongkok untuk menyamaratakan tinggi tubuhnya dengan anak - anak. Dipeluknya dua buah hatinya dengan sangat erat. Tergambar jelas bila mereka sama - sama menyimpan rasa rindu yang besar. Sampai akhirnya tatapan kami saling bertemu. Ammar menunjuk ke arahku sampai anak - anakku menatapku. Lalu mereka menghampiriku dan aku segera memeluk suami ku yang sangat - sangat ku sayang. Rasanya sulit sekali kuungkapkan. Kami melepas rasa rindu tanpa bicara apa - apa. Perdebatan kami yang kemarin seolah benar - benar tidak pernah terjadi.             "Akhirnya... Kamu pulang, Mas." Dia tidak mengatakan apapun. Tapi dari eratnya dia memelukku saat aku mengatakan empat kata tadi, aku tahu, dia telah mengatakan semua yang dia rasa walaupun tanpa kata.             Kepulangannya seperti memberikan warna kembali di keluarga kecil ini. Lestari dan Kartika sangat puas bermain bersama ayahnya di belakang rumah. Kami menghabiskan waktu piknik di taman kecil yang Ammar buat di halaman belakang rumah. Aku memasak banyak hidangan, mereka menyantapnya penuh nafsu. Melihat tawa mereka adalah kebahagiaanku. Berkumpul kembali seperti dulu adalah momen - momen yang sudah lama aku nanti. Bahkan di malam harinya, suasana terasa ramai. Ketiganya sangat menyukai pertandingan bola. Aku datang dengan membawa cemilan untuk menemani mereka menonton.             "Ayooo! Siapa yang mau cemilan, nih!!!"             "Aku! Aku! Akuuuuuu!!!!!"             "Aku juga sayanggggggg!!!"             "Cieeeeee ayahhhh manggilnya sayang - sayangggggan sama bundaaa!" Ledek Kartika sambil mencomot kentang goreng yang kubuat.             "Ayah! Ayahhh! Tau gak, bunda kadang kalau malem suka nangis diem - diem tau, yah, kangen sama ayah soalnya." Lapor Lestari tiba - tiba sampai mataku terbelalak karena ucapannya.             "Ehh! Sssttt!"             "Oh, jadi bunda kalian ini nangis berapa malem?"             "Massss!!!" Rengekku, mencubit pinggangnya sampai ia meringis. Ia tertawa lalu menarikku ke dalam pelukannya dan mencium lembut pipiku di depan anak - anak. Lestari langsung menutup matanya dan tangan satunya menutup mata Kartika.             "Mas jangan cium aku depan anak - anak, ah! Malu tauuuu!"             "Loh, ini, 'kan ciuman dari cinta yang aku punya buat kamu, gapapa anak - anak tau, biar mereka paham seharmonis apa keluarga kita ini. Ayo sayang, biar ayah peluk kalian." Keduanya pun masuk ke dalam pelukan ayahnya. Kami dirangkul oleh tangan besar dan kekarnya, kami merasa sangat dilindungi olehnya. Jauh darinya membuatku merasa takut, merasa gelisah, merasa tak ada seseorang yang melindungi kami kecuali kekuatan dari Tuhan.             Kedua anakku sudah tertidur di tengah - tengah kami. Kita berempat tidur dalam satu ranjang. Aku dan suamiku berbaring berhadapan. Saling melempar pandangan yang mengantarkan banyak makna pada kalimat yang sama - sama enggan untuk dikatakan karena takut memancing perdebatan.             "Bener yang anak - anak bilang? Kamu nangis selama aku gak ada?"             Aku cuma tersenyum tipis, mengusap rambut panjangnya Kartika. "Kamu tau, 'kan aku gak pernah ngerasain rasanya jauh dari orang - orang yang aku sayang. Waktu pertama kalinya aku udah gak tinggal sama orang tua aku, aku gak bisa berhenti nangis tiap malem.." rasanya aku mau ketawa bila mengingat momen di mana aku tinggal sama suamiku, aku cengeng banget, baru sehari aja pisah sama orang tua aku sudah kangen berat. "Tapi kamu bilang ke aku..."             "Kenapa nangis, 'kan ada aku di sini. Kalo kamu kangen sama ibu dan ayah, kamu peluk aku aja, anggep aku ayah kamu juga. Aku bakal melindungi kamu sama seperti ayah yang melindungi anak perempuannya." Setelah mendengar kembali ucapannya yang ku katakan kembali malam ini, Ammar bangun mendekat ke arahku dan menarik tanganku. Kemudian tanpa jarak, aku dan dia duduk di lantai namun aku lebih tepatnya duduk di atas pangkuannya.             Tiada henti ia terus menghujaniku dengan ciuman di seluruh wajahku. Lalu pandangan kami saling terkunci untuk menyelami perasaan satu sama lain.             "Maaf ya,"             "Kenapa? Kenapa minta maaf?"             "Karena aku. Kamu nangis karena aku."             "Ck, sayang. Kamu ini apaan, sih, aku nangis bukan karena kamu kok."             "Boong."             "Beneran!"             "Tapi aku gak ada di sini, kita terpisah karena jarak dan waktu, dan mimpi - mimpi aku. Semua dari aku. Kamu nangis karena aku. Jadi akulah yang harus disalahin."             Aku menenggelamkan wajahku di lehernya. Menghirup aroma tubuhnya yang menjadi canduku setiap malam, menghantarkan rasa hangat yang selama ini ingin ku rasakan namun harus aku tahan.             "Sayang, rasanya mimpi bisa tercapai itu bahagianya kayak gak ada yang nandingin ya."             "Gak juga, bahagiaku bisa bersama kamu dan anak - anak, itu yang menurut aku paling gak ada yang bisa nandingin."             "Tapi... Kamu tetap memilih pekerjaan kamu yang jauh dari keluarga."             "Sayang, kita udah pernah bicara soal ini..."             Aku gak pernah ngerasain gimana rasanya bisa mewujudkan mimpi - mimpi aku. Selalu ngerasa gagal sampai akhirnya aku bertemu sama kamu. Kamu orang yang paling ambisius yang ku kenal, orang yang menginspirasi aku untuk bangkit dari kegagalan.             Tapi, semua itu hanya bisa kupendam saja. Tidak kukatakan padanya. * * * *             Ketika aku sudah tahu, aku gagal ujian masuk tes polwan, aku memutuskan kuliah di Jakarta mengambil jurusan ilmu pemerintahan. Aku dan kakakku, Amira. Kami adalah anak kembar non identik. Artinya wajah kami tidak serupa seperti anak kembar yang identik. Aku merasa, Amira sangat beruntung bisa lulus masuk ke perguruan yang ia mau sedang aku kuliah di perguruan swasta karena tidak gol masuk UI. Pada masa skripsian, itu yang membuatku setres. Apalagi ketika melihat keberhasilan Amira yang lulus duluan dan telah mendapatkan gelarnya. Ah, rasanya dunia berpihak padanya. Belum lagi, ia punya pasangan yang senantiasa ada di sampingnya. Aku merasa kecil sekali walaupun orangtuaku tidak pernah membandingkan ku dengannya tapi kalau sudah berkumpul dengan keluarga besar, aku menjadi bahan obrolan mereka yang membuatku merasa insecure. Sekilas inilah kehidupanku sebelum aku bertemu dengan Ammar dan semuanya berubah.             Aku bertemu dengannya di masa - masa aku sedang down, aku mengalami banyak masalah, banyak mengalami kegagalan di hidupku. Keluargaku dihantam badai besar pada waktu di mana ibuku dituduh korupsi oleh orang yang tidak menyukai ibuku di dunia pekerjaannya. Iyah, Ammar menjadi kuasa hukum ibu. Entah bagaimana, ia juga yang menyemangati ku bahwa semua masalah pasti ada jalan keluarnya.          Kita semakin dekat. Kita ingin sama - sama mewujudkan mimpi. Perjalanan yang melelahkan dan tanpa habis untuk dijalani oleh dua orang yang saling mencintai. Di atas jembatan kawah putih, ia mengatakan hal penting yang akan mengubah kehidupanku nantinya.          "Nggak ada mimpi yang paling besar, mimpi yang lain, ketika aku ketemu kamu, aku ingin membangun keluarga dan bersama - sama untuk selamanya mempertahankan hubungan kita lalu nanti kita punya anak, kita mendidik mereka sama - sama, membantu mereka mewujudkan mimpi - mimpi mereka, aku rasa, itulah mimpi terbesarku setelah bertemu dengan kamu. Kita menikah, kamu mau?" []
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN