BAB - 4

3281 Kata
Mariana Ternyata kehidupan Zahira sangat penuh dengan drama. Dan ternyata bukan hanya saya saja yang sulit untuk kuliah tapi Zahira lebih parah dari itu.           Memang benar, hidup itu perlu perjuangan. Walau banyak yang menentang, tapi segala jalan yang diiringi dengan keyakinan. Bukan tidak mustahil, cita - cita yang kita impikan akan terwujud di masa depan.           Saya Mariana, mahasiswi yang kuliah di Universitas ternama di pulau Jawa, rela harus merantau jauh dari tanah kelahiran saya di Papua demi cita-cita saya yang sangat ingin memajukan tanah kelahirannya supaya tidak semakin tertinggal dengan Indonesia bagian barat.           Bagaimana perjuangan saya bisa sampai ke tanah Jawa pun tidaklah mudah. Banyak yang harus saya lalui hingga saya sempat ingin menyerah. Tapi hati kecil saya tidak ingin berkata, 'sudah'. Niat yang baik pasti akan Tuhan beri jalan bagi mereka yang tidak secepat itu berpasrah.           "Mama! Papa!" gumamku. Saya berlari kencang dari gedung sekolah, melewati pasar, melewati jembatan rusak yang di bawahnya terdapat sungai yang tidak terlalu deras, melewati pepohonan rindang dengan jalan yang rusak menanjak penuh batu-batu kerikil bahkan saya sempat terjatuh namun saya masih tetap bertahan berlari berkilo-kilo meter karena rumah dengan sekolah sangat jauh jaraknya. Seraya mengangkat tinggi - tinggi surat kelulusan dan surat saya diterima beasiswa untuk melanjutkan kuliah di tanah Jawa. Suatu kebanggaan bagi saya akan saya persembahkan untuk mama dan papa tercinta saya.           "Hei! Mariana!? Kenapa ko lari - lari seperti itu toh?" Salah satu tetangga saya yang muncul dari arah berlawanan dengan sepeda motornya berhenti tepat di depan saya. Saya langsung menepi.           "Pace, sa mo pulang. Sa mo kasih tahu mama papa kalo sa pu su dapat beasiswa kuliah di Bandung tapi.. lokasi kampusnya lebih tepatnya di Jatinangor sudah."           "Ko pu dapat beasiswa di Bandung toh? Wah! Ko pintar sekali kah! Ni kabar bagus eh," ucapnya terkagum-kagum.           Pace adalah panggilan kami untuk pria di Papua sama seperti mace untuk perempuan di Papua. Bisa juga diartikan sebagai bapak atau ibu tapi untuk orangtua tidak boleh kita memanggilnya pace atau mace karena terkesan kurang sopan. Pace mengantarkan saya sampai ke rumah. Rumah saya berada di distrik Sentani, Jayapura dekat danau Sentani. Rumah saya tidak terlalu besar dan masih terbuat dari kayu. Di bawahnya mengalir air karena rumah saya ada di perkampungan yang dikelilingi dengan danau Sentani. Mama dan Papa tidak ada di sini. Saya pun keluar dan memanggil mace yang membawa baskom yang isinya entah apa itu. Saya panggil mace.           "Mace!" panggil saya saat keluar dari rumah.           "Hey Mariana!"           "Di mana mama papa saya toh? Mace ada liat kah?"           "Ko pu mama papa ada di lapangan bersama tetangga yang lainnya sudah, mereka mo sedang sibuk mengadakan acara bakar batu. Ko tra ke sana toh?" tanyanya.           Oh, saya baru ingat. Ada tetangga yang akan segera menikah. Biasanya di Papua, warga satu kampung akan melakukan tradisi penting yaitu bakar batu. Tradisi ini juga bukan hanya bertujuan untuk perkawinan adat saja, tapi ada hal lain seperti penobatan kepala suku, tradisi untuk mengumpulkan prajurit yang akan berangkat untuk berperang, atau sebagai rasa syukur untuk kelahiran. Bakar batu di sini maksudnya, kami semua memasak bersama namun menggunakan batu yang sudah dibakar. Tradisi ini sangat menyenangkan karena akan memperkuat tali silaturahmi diantara kita semua. Sangat terikat sekali solidaritas antar sesama. Begitulah cinta kasih kami.           Saya langsung mencari mama dan papa di lapangan tempat kami berkumpul semua. Biasanya, nanti setelah semua sudah matang akan ditaruh di tengah - tengah lapangan di atas rumput. Dan kita semua berkumpul jadi satu di sini.           Ah, itu mama dan papa sedang duduk bersama keluarga besar saya. Saya melihat kakak saya Antonio namanya juga ikut tertawa di tengah - tengah mereka. Dulu, sewaktu saya SMP dia pergi merantau ke tanah Jawa dan Sumatra untuk bekerja demi perekonomian keluarga saya dan demi memenuhi kebutuhan istrinya yang hamil muda dan tinggal bersama kami. Saya sangat membanggakan kakak saya karena dia lelaki yang sangat bertanggung jawab dan dialah orang pertama yang sangat mendukung prestasi saya.           "Ko harus bisa lebih dari sa eh, bung ingin ko jadi perempuan yang cerdas. Ko pu harus punya wawasan lebih supaya ko bisa memajukan tanah kelahiran kita. Tra peduli seberapa banyak orang akan meremehkan cita-cita ko, tapi ko pu harus punya keyakinan dan mimpi yang besar. Jang pantang menyerah karena bung tra suka itu." Itulah pesan yang bung berikan kepada saya sebelum ia berangkat untuk merantau ke pulau yang jauh di sana.           Namun, saya keliru. Bung Antonio tidak ada di tengah-tengah kami. Seketika bayangannya menghilang begitu saja saat mama menyadarkan saya dari lamunan. Seluruh mata keluarga melihat saya yang mematung di tempat. Perlahan senyum saya memudar. Saya berdiri kikuk dan agak malu.           "Ko dari mana saja Mariana? Dorang sudah menunggu ko dari tadi eh," tanya bibiku, seraya menggigit satu potong ayam ke mulutnya dengan lengannya ia tumpu di atas satu lututnya dan kaki satunya terlipat, menumpu di atas rerumputan.           "Sa baru sudah pulang dari sekola," jawabku sekenanya. Sebab aku kurang suka dengan nada sinis bibi ketika menanyakan aku.           "Hey Martina! Di mana Antonio? Ko pu anak tara pulang-pulang ka sini eh? Apa lupa dia jalan pulang ke rumahnya kah?" Bibi-bibiku tertawa terbahak-bahak bersama sanak saudara yang lainnya. Saya tidak suka padanya. Karena dia walaupun bagian keluarga saya tapi sukanya menghina keluarga saya saja.           Bung Antonio tidak pulang - pulang sejak hari itu. Padahal bung berjanji pada saya, jika nanti dia akan pulang menemani istrinya yang sebentar lagi akan melahirkan.           "Ko sabar sedikit Sinta, Anton pasti mo pulang ka sini," kata mama berusaha menenangkan kak Sinta tengah menangis sesenggukan. Mungkin ia sangat merindukan bung atau bisa jadi juga ia sangat-sangat khawatir pada nasib bung di pulau yang sangat jauh berada di bagian barat.           "Kapan mama? Anton tara pulang-pulang ka sini toh. Dia sudah lupa kah pada sa? Sa sebentar lagi mo melahirkan, tapi dia tidak juga datang." Hari di mana kak Sinta akan melahirkan, terbaring lemah dan kesakitan di atas brankar puskesmas. Saya pun lantas pergi mencari telephon untuk menghubungi bung di pulau sana. Saya pun menuju warung kopi yang biasanya terdapat telephon di sana. "Mace, sa pinjam telpon ko punya eh." "Pakela Maria. Memangnya ko mo nelpon siapa?" tanya mace, baru saja memberikan kopi pada orang. "Bung saya. Kak Sinta sebentar lagi mo melahirkan tapi bung tra pulang ni. Sa jadi khawatir," jawabku. Aku berharap bung mengangkat panggilanku. Namun, sudah berkali-kali saya hubungi dia tapi tidak bisa juga. Bung ko di mana? Ko su lupa kah kak Sinta mo melahirkan ko pu anak. Ko di mana. Pulang bung. Pulang...             "Ko tara usah mengharapkan Anton pulang Sinta. Dia pasti su punya perempuan lain ka sana. Ko cari saja laki-laki lain." Bibiku masih saja mengompori. Di sini tempatnya kita saling mejamu bukan menghina pada satu orang yang dituju. Apa mereka bicara seperti itu tidak memikirkan perasaan kak Sinta kah? Aku meremas surat kelulusanku dengan rasa amarah yang mulai tak bisa ku tahan tapi mama seakan tahu itu pun memegang tanganku. "Sa punya anak pasti pulang ka rumahnya. Ko lebih baik tutup mulut saja eh. Jang bicara yang membuat menantu sa bersedih toh!" Tak lama datang papa ke tempat kami berkumpul bersama para lelaki yang ingin bergabung namun mendengar perdebatan mama dan bibi saya, papa bertanya, "ada apa ni ribut-ribut? Kalian sedang berantem apa?" Tidak ada yang menjawab. Bibiku dan yang lainnya malah pergi dan meninggalkan tanda tanya pada benak papa dan warga yang lainnya. * * * * "Sa su tara kuat lagi mama, kuping sa punya sudah panas. Sa tara bisa lagi bertahan pada kondisi seperti ni. Anton tra kasi sa kepastian. Sa harus apa mama papa?" Malam harinya kak Sinta menangis sambil marah-marah. Ia ingin pergi dari rumah ini untuk mencari bung Antonio tapi mama papa tidak kasi kak Sinta untuk pergi. "Anton pasti pulang, sabarlah ko sedikit Sinta," ujar papa menahan emosi. "Tapi kapan? Kapan!? Sa bertahun - tahun menunggu de tanpa kabar tapi apa toh!? Sa tara dapat info apa - apa tentang de." Saya pun memutuskan untuk ikut bicara dengan mereka. "Kalau kak Sinta tara bisa pergi, biar sa saja yang pergi." Mama, papa, dan Kak Sinta kaget karena ucapan saya. Akhirnya saya memberikan surat kelulusan dan berita bila saya diterima untuk kuliah di universitas yang ada di kota Bandung kepada mereka namun perasaan saya ketika mengatakannya bukan dengan perasaan bahagia seperti yang ingin saya tunjukkan tadinya tapi rasa takut karena tanggung jawab saya kepada keluarga saya.             Harus mencari bung Antonio dan membawanya pulang ke rumah. ****           "Ohh, selain kuliah berarti kau juga harus cari kakak kau di sini?" tanya Zahira dengan suara pelan, berbisik di telinga saya. Saya mengangguk. Siang ini kami sedang makan di gerai dekat kampus yang banyak dikunjungi mahasiswa.           "Tapi sampai saat ini saya tara tahulah dia di mana. Saya tidak mendapatkan informasi apapun. Saya tertekan karena kak Sinta juga selalu menanyakan bung Antonio tapi saya mengecewakan dia lagi."           "Kita pasti bisa temuin kakak kau, Mar. Awak juga ingin bantu kau buat cari kakak kau itu." Mata saya terbuka lebar. Saya terkejut. Saya tidak menyangka.           "Ko yakinkah Zahira mo menolong sa?" Zahira mengangguk seraya tersenyum lebar, mengangkat kedua jempolnya.           "Jangan bersedihlah Mar, kau dan awak sudah jadi sahabat bukan? Sahabat harus ada disaat salah satunya sedang menghadapi kesulitan, 'kan? Awak beruntung bisa kenal kau, kau selalu membantu awak sejauh ini walau kita baru kenal di semester 6 ini tapi awak merasa kau ini sudah seperti saudara awak sendiri."           "Dari sekian banyak manusia, ko yang paling bisa menerima saya eh. Ko pu hati begitu luas. Ko bisa menerima sa walau sa slalu dikucilkan oleh dorang." Saya bukan bermaksud memuji Zahira tapi pada kenyataannya itu benar. Saya seperti manusia aneh yang ditatap tidak ramah oleh teman - teman mahasiswa lainnya. Ketika saya lewat seorang diri, pasti mereka akan tutup hidung. Mereka bilang, saya bau padahal saya sudah mandi toh. Apa yang salah kah?             Saya sering menerima perlakuan yang tidak baik, diskriminasi dan stigma negatif sebagai cara pandang mereka terhadap saya dan mahasiswa lainnya yang berasal dari Papua.              Papa saya sangat khawatir sebelum saya memutuskan untuk pergi merantau. Karena papa saya yang bekerja ke kota sebagai pedagang di Jayapura, dia mengikuti perkembangan informasi yang ada termasuk mendengar berita tentang kerusuhan - kerusuhan yang sering terjadi yang ditimbulkan karena perlakuan rasisme non-Papua terhadap orang Papua. Dan saya juga tidak buta pada dunia. Pada orang - orang yang memandang Papua sebagai yang terbelakang, kotor, bau, suka berbuat rusuh, suka mabuk dan stigma - stigma negatif lainnya. Namun, saya tidak membenci mereka. Saya hanya membenci perlakuan mereka dan cara mereka memandang kami.             Mama juga takut saya pergi ke pulau jauh dari tanah kelahiran saya. Mama khawatir, tapi saya tetap pergi untuk dua misi yang harus saya selesaikan. Mencari bung Antonio dan menjadi seorang yang bisa meraih cita - citanya dalam pendidikan yang nanti ilmu yang saya miliki bisa untuk membuat saya memperkaya tanah kelahiran saya agar semakin maju.             Dan saya juga yakin di luar sana mereka yang merendahkan martabat kami, saya pastikan diantara mereka pasti ada yang mau menerima perbedaan diantara saya dengan mereka yang memiliki perawakan tak sama. Dan untunglah saya bisa bertemu dengan Zahira di suatu organisasi di kampus yang mencakup banyak mahasiswa dari berbagai fakultas. * * * *             Awal kami datang ke kampus ini banyak pasang mata seolah tidak menyukai kehadiran kami. Saya sudah menyadari hal itu namun saya tidaklah berkecil hati. Saya dan keempat teman saya tetap berjalan dengan rasa percaya diri. Walau saya tahu, perasaan mereka merasa dikucili. Saya juga merasakannya tapi saya tidak semudah itu menyerah dan berhenti. Saya ke sini dengan tujuan yang sudah saya rencanakan dari jauh - jauh hari. Bagi saya, ini suatu tantangan untuk saya bagaimana mengubah pandangan mereka terhadap kami. Walau tidak semua orang bisa memiliki cara pandang yang sama tapi saya rasa, saya menyederhanakannya, rasialisme itu akan ada ketika seseorang itu memperlakukan seorang yang berasal dari lingkungan, budaya, suku, agama yang berbeda dengan cara yang tidak ada nilainya.             Intinya semua itu tergantung dari diri manusia masing - masing. Semua harus membuka mata, membuka pikirannya, dan menjaga atitude sebaik mungkin karena kita sudah diajarkan untuk belajar menghargai dan menghormati bahkan adat istiadat sendiri mengajarkan nilai penting dalam kedua hal itu, juga norma - norma yang kita pelajari di sekolah yang tidak boleh kita lupakan.             Sepertinya halnya ketika saya bergabung dalam suatu organisasi kampus yang meliputi banyak mahasiswa dari berbagai fakultas dan jurusan. Di sana saya harus mencoba untuk berbaur. Saya sadar, tidak mungkin saya hanya bergaul dengan teman - teman saya yang berasal dari Papua, saya harus membuka jaringan komunikasi pada mahasiswa dari kota - kota lain karena itulah saya akan tahu sisi sudut pandang dari banyak isi kepala. Dan saya tidak ingin melakukannya sendirian. Saya ingin mengajak teman - teman saya untuk berkembang dan tumbuh bersama - sama karena teman yang baik tidak akan membiarkan dirinya menyerap ilmu sendirian tapi justru mengajak mereka untuk, "ayo, kita bisa melakukannya. Kita harus tumbuh, kita harus berkembang bersama - sama." Saya tidak menyebut diri saya sudah menjadi manusia atau teman yang baik tapi saya sedang berusaha untuk menjadi pribadi yang lebih baik dari hari - hari sebelumnya.             "Ko yakin skali kalo tong kan diterima oleh dorang eh," ucap Dani, tidak merasa yakin dengan ajakan saya.             "Kamorang kenapa jadi tra percaya diri gini toh? Kam pasti bisa seperti mahasiswa lainnya. Kamorang mo sampe kapan begini trus? Tong tra mau kah ikut sa bergabung deng yang lain?" Saya berdiri di tengah-tengah teman+teman saya. Setiap sore, di asrama tempat kami tinggal, kita akan berkumpul untuk berdiskusi.             "Kamorang bilang pada sa kalo kamorang tra sabar kuliah di Jawa. Kam bilang pada sa, nan kam tra boleh kalah pintar sama dorang yang di sini toh. Tapi kenapa semangat kamorang punya hilang padahal berjuang saja belum."             Fika berdiri yang kemudian menyerukan suaranya. "Ko buta atau ko pu telinga su tuli kah? Ko tra liat dorang melihat kita seperti..." Fika tak melanjutkan ucapannya. Air matanya sudah membasahi wajahnya walau tak kentara. Dari matanya yang sudah memerah saya tahu dia sangat bersedih. Dan saya tahu lanjutan dari ucapannya yang saya tidak perlu menyebutnya kembali. Perlakuan mereka memang membuat kami sangat bersedih tapi saya harus bangkit dan menyemangati teman - teman saya.             "Sa tau karena sa juga merasakannya toh. Tapi sa mo tong tra menyerah seperti ni. Langkah awal baru dimulai. Ingat tujuan kamorang di sini."             "Mariana benar," pandangan saya langsung jatuh pada lelaki 20 tahun itu. Fika membalikkan badannya, Bevan memberikan tatapan yakin kepada kami semua. "Kenapa tong harus menyerah toh? Kalau Mariana saja bisa, tong juga pasti bisa eh. Sa juga yakin seperti Mariana, kitong mesti ingat tujuan tong ka sini." Saya tersenyum lega pada Bevan dan menepuk - nepuk bahunya sebagai tanda terimakasih atas dukungannya. Sehingga akhirnya, saya, Bevan, Fika, Dani mendapatkan semangat kembali. Dan kami berempat juga mendapat dukungan dari mahasiswa Papua lainnya yang tidak bisa saya sebutkan nama - namanya. Dan yah, kita juga saling memberikan dukungan dan motivasi satu sama lain.            Di sinilah saya berada. Berdiri di depan banyak mahasiswa dari berbagai kota, jurusan dan fakultas. Memperkenalkan diri dengan rasa gugup namun saya usahakan tidak kentara. Saya tunjukkan rasa percaya diri saya pada mereka walaupun ada saja tatapan atau senyum ledekan yang terpancar kepada saya. Bisa dibilang mereka mahasiswa dan mahasiswi cantik, tampan nan populer pastinya.            "Saya Mariana dari jurusan hukum. Alasan saya untuk kuliah jauh dari tanah kelahiran saya, di Papua itu karena...."            "Karena tempat Lo itu yang paling tertinggal dari kota-kota lain, ya kan?"            "Oh bukan Syera. Mungkin aja karena tinggalnya di pedalaman kaliiii!!" hina dua perempuan yang ada di hadapan saya, langsung memotong ucapan saya dengan hinaan yang menyakitkan, tak sedikit yang lainnya mentertawakan saya karena ucapan gadis yang berasal dari kota Jakarta itu. Pada saat itu, teman - teman saya yang menyaksikannya menahan emosi. Bevan yang paling mendinginkan suasana Fika dan Dani juga teman - teman saya yang lainnya. Saya mencoba tegar dan tersenyum tulus pada mereka.           Saya teringat, pernah suatu ketika Papa saya berpesan sebelum saya pergi, "jangan biarkan ucapan, perlakuan yang membuat ko mo merasa rendah akhirnya membuat ko semakin terlihat rendah ketika ko balas perlakuan dorang dengan marah yang ko pu belum tentu bisa mengendalikannya eh."             Saya selalu mengingat pesan papa tapi jauh dari itu semua, hati kecil saya sangat ingin melawan perlakuan mereka. Saya ingin rasanya membalas kata-kata mereka yang membuat hati saya sakit. Tapi bukan saatnya. Orang yang bijak dalam emosinya tidak akan membiarkan egonya yang terluka menguasai dirinya.             Seorang lelaki tiba-tiba berdiri di samping saya. Tubuhnya tinggi, wajahnya putih dengan rambut lurusnya tertata rapi. Aroma dari pakaiannya bahkan sangat wangi. Kata teman-temanku waktu dia adalah kakak tingkat dari fakultas kedokteran. Berada satu forum dengannya terlebih bisa berdiri di sampingnya saja membuat saya minder dengan penampilan saya dengannya. Saya malu dan merasa rendah diri.             "Kualitas seorang mahasiswa atau mahasiswi bukan cuma pintar dan penampilan perfectnya aja yang diliat, tapi kualitas dirinya dinilai juga dari etika bicaranya. Apa bisa dibilang ada adab kesopanan, buat kalian berdua yang menyela ucapan orang yang berdiri di hadapan kalian?"             Suasana hening seketika. Tidak ada yang berani bicara. "Kamu boleh melanjutkan perkenalan kamu." Saat itu saya gugup. Entah apa yang saya pikirkan, semua kata-kata yang saya rangkai mendadak hilang.             "Hei.." dia kembali bersuara, menegurku. Memberi isyarat padaku untuk kembali melanjutkan perkenalanku. Aku menarik napas dalam-dalam. Mencoba untuk tenang. "Saya ingin memiliki pengalaman yang baru. Pengalaman di mana saya bisa ada di lingkungan baru, dengan teman-teman dari berbagai penjuru. Saya tahu, kualitas pendidikan di sini sangatlah baik dan ilmu yang saya dapatkan dari sini akan saya berikan untuk tanah kelahiran saya. Di Papua, pendidikan kami memang kualitasnya tidak seperti di sini, bagaimana anak-anak SD, SMP, dan SMA penuh perjuangan untuk mendapatkan pendidikan dengan kualitas yang baik, harus melewati jalur tempuh yang berjam - jam, berkilo-kilo meter, sarana yang kurang mencukupi kebutuhan kami. Kami ingin membangun itu semua. Dan saya rasa, kalian juga yang dari berbagai kota pun sama halnya tujuannya seperti saya. Kita ingin membangun wilayah kita semakin maju, kita ingin membantu mereka yang ingin berkarya dan melahirkan anak - anak bangsa untuk generasi selanjutnya demi Indonesia. Kelak kita akan mengabdi pada negeri ini. Kelak kita akan menjadi penerus negeri ini dari berbagai latar belakang yang berbeda - beda. Bukankah memang Indonesia penuh dengan keberagamannya dari berbagai suku dan budayanya?"             Semua yang ada di ruangan besar ini bertepuk tangan. Saya tidak tahu mengapa begitu. Apakah ini karena saya menyuarakan mimpi saya. Mimpi semua orang? []                                             
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN