BAB - 3

5419 Kata
Zahira            Menjadi mahasiswa itu gampang - gampang sulit. Apalagi kamu adalah anak perantauan, pergi merantau demi pendidikan, rela berpisah dengan keluarga, jauh - jauh untuk mengejar cita - cita. Harus tahan banting akan godaan yang berusaha merusak keteguhan dan prinsip. Sadar, kamu juga bukan berasal dari keluarga yang berada.            Aku cukup tahu diri untuk tidak banyak gaya di kampus. Meskipun, aku selalu diledekin karena mereka melihat keseharianku yang datar, hanya buku dan perpustakaan, teman yang tidak banyak, kampungan, kuno, mainnya kurang jauh, tidak punya apa - apa. Kesulitan finansial adalah kendalaku selama menjalani hidup di tempat orang. Walaupun aku adalah mahasiswi penerima beasiswa di salah satu kampus ternama di Bandung. Aku juga harus bekerja paruh waktu untuk membayar kost -kostan dan membeli kebutuhan.            "Ko punya wajah kenapa ditekuk gitu Zahira?" (Wajah kamu kenapa ditekuk begitu Zahira?) ko sedang sedih apa?" (Kamu sedang sedih apa?) Mariana, sahabatku yang berasal dari Papua duduk bersamaku di warung warteg. Sepulang kuliah, Mariana mengajakku makan sore, aku sempat menolak karena uangku takut tidak cukup, tapi Mariana justru memaksa dan dia yang mentraktirku. Dia memang sahabat yang baik yang kupunya di kampus.             Oh, ya, bicara soal bagaimana kita berkomunikasi, terkadang Mariana suka pakai bahasa Papua atau aku juga pakai bahasa Padang. Kita sudah memahami sedikit demi sedikit bahasa daerah kami lalu belajar bersama walau lebih sering pakai bahasa Indonesia saja sebagai alat komunikasi kita yang terbiasa bicara dengan bahasa daerah masing-masing.            "Awak rindu ayah sama bundo di kampung, Mar, mereka kerja keras di sano, awak mikirin, awak di sini makan... di sana mereka makan atau ndak," lirihku sedih sambil memandangi makanan warteg yang enak ini karena tempatnya di sini ramai dan banyak dikunjungi.            "Sa tra sangka sama ko, Ra. Benar - benar anak yang sayang skali sama ko pu orang tua eh," sanjung Mariana, aku terkekeh. (Saya tidak sangka sama kamu, Ra. Benar - benar anak yang sayang sekali sama orangtua.)            Aku hanya tersenyum simpul. Lalu, kulanjutkan menyuap sesuap nasi walau hati tak tenang.            "Oya, sa ingat ko pernah ditentang kuliah ke sini, eh? Cerita sudah pada sa, Zahira. Sa ingin tau toh," ujarnya antusias. (Oya, saya ingat kamu pernah ditentang kuliah ke sini, yah?) Mariana menggoyangkan bahuku dengan nada merengek.            "Beneran kamu mau tau ceritanyo?" Maria mengangguk semangat. Baiklah, sepertinya kita balik undur ke waktu beberapa tahun yang lalu. * * * *       Hari itu adalah hari bersejarah bagi kita semua yang merasakan kelulusan SMA. Kebahagiaan dan kesedihan campur jadi satu. Kita harus berpisah dan melanjutkan masa depan yang harus dituju. Dengan jalan yang berbeda - beda tentunya, iya kurang lebih seperti itu.             Saat membaca surat yang tertera dengan kalimat, "Anda dinyatakan lulus.” Semua berteriak kegirangan sambil lompat-lompat di tengah lapangan. Euforia kebahagiaan tentu tidak bisa terbendung lagi. Kita semua berfoto bersama, menangis bersama, berpelukan bersama sambil bernyanyi lagu perpisahan, ini sebagai tanda kalau masa putih abu-abu telah berakhir. Air mata pun tak lagi bisa ditahan.             Pengumuman penerimaan beasiswa menjadi kejutan. Sebelumnya, saat upacara berlangsung, telah diumumkan, bahwasanya, "Saudari Zahira Indrawarni, selamat anda dinyatakan lulus SNMPTN." Semua bertepuk riuh memberi sambutan hangat padaku. Aku diminta maju ke depan lapangan bersama anak-anak yang lain, yang namanya juga ikut disebutkan, yang namanya sama beruntungnya dengan aku.            Cita - citaku akan terwujud. Aku tidak menyangka aku lulus di kampus yang selama ini kudambakan. UNPAD menjadi jalan besarku untuk meraih mimpiku menjadi seorang pengusaha dalam bidang pertanian.             Aku menyambut uluran tangan kepala sekolahku dan berterima kasih atas pujian dan dukungan mereka semua atas prestasiku selama ini.             "Wah! Awak ndak manyangko kau bisa sabaruntuang itu, Ra, bisa kuliah di kampus yang kau suko," takjub sahabatku, Sari yang berjalan di sampingku. Aku, Sari dan Tiara sudah bersahabat sejak kali pertamanya bertemu di bangku SMA. Saat ini kita pulang bareng-bareng, sambil mendorong sepeda, mungkin ini akan menjadi yang terakhir. (Wah! aku tidak menyangka kamu bisa seberuntung itu Ra, bisa kuliah di kampus yang kamu suka.)             "Zahira ndak karna kabaruntungan biso dapek beasiswa, Sar. Tapi yo karna inyo pinta, lah, RI. Awak jadi iri, saandainyo awak bisa kuliah, ya macam kau." (Zahira bukan karena keberuntungan bisa dapat beasiswa, Sar. Tapi karena dia pintar, lah. Aku jadi iri, seandainya aku bisa kuliah, ya macam kamu.) Tiara mengatakannya dengan senyum terbit di wajahnya yang padahal ku tahu ada kepedihan dalam hatinya yang tak bisa ia utarakan. Keinginannya ingin lanjutkan pendidikan meski ia pupuskan untuk bekerja demi membiayai pendidikan adik - adiknya. Menjadi anak pertama tidaklah mudah. Beban yang dipikul begitu berat, mengorbankan masa depan demi adik - adiknya karena keterbatasan ekonomi harus Tiara empuh dan rasakan juga ia lakukan.             Aku masih beruntung. Aku harus bersyukur, aku harus rajin belajar karena ku tahu, banyak di luaran sana yang ingin kuliah namun tidak bisa karena beberapa faktor.             Aku hanya tersenyum menanggapi ucapan Tiara sambil memegang bahunya, memberikan kekuatan padanya. Suksesmu mungkin tidak harus dengan kuliah, Tir. Semua sudah digariskan oleh Tuhan bagaimana jalan nasib seseorang. Dan aku cukup sadar untuk tidak terlalu menunjukkan kebahagiaanku di depan teman - temanku yang tidak bisa lanjut kuliah. Itulah yang namanya menghargai perasaan seseorang. * * * *             Sambil mengibarkan tinggi - tinggi surat kelulusan di tanganku, aku berteriak memanggil, "AYAHHHH!!! BUNDOOOO!!" Rasa lelahku bahkan tidak lagi kurasakan padahal jarak rumah ke sekolah di kota Padang sendiri bisa berkilo-kilo meter. Terlebih aku mengayuh sepeda, alangkah bisa satu jam aku menggoes.              Nagari atau disebut desa Pariangan yang terletak di Padang adalah tanah kelahiranku. Tanah yang kubanggakan. Desa yang harusnya dieksplor keindahannya, desa yang tak kalah bagus dengan tempat - tempat yang ada di Ibukota mana pun. Desa yang sangat pantas bila disandingkan dengan desa - desa di luar negeri karena Nagari Pariangan tak kalah cantik dengan desa Hallstatt di Austria, Reine di Norwegia, Wengen di Swiss, Eze di Prancis, Niagara on the Lake di Kanada, dan Cesky Krumlov di Ceko dan Giethoorn di Belanda. Desa Pariangan membawa ketentraman dan ketenangan yang tak akan ada yang bisa menggantikannya. Rumah ini adalah tanah sejuk. Semua orang bahkan pendatang baru pun bisa betah berlama - lama tinggal di sini. Posisi desa Pariangan inilah yang berada di ketinggian 700m di atas permukaan laut dan berada tepat di lereng gunung Merapi yang masih aktif yang membawa udara sejuk.              Saat sudah sampai, aku tidak menemukan siapa-siapa di rumah ini. Rumah tradisional dari Minangkabau, rumah Gadang dengan dinding - dindingnya dibangun dari anyaman rotan, ukiran kayu menjadi penghias dan kentalnya menunjukkan khasnya Minangkabau.              "Oh, awak raso ayah, bundo ado diperkebunan, awak ka sano sajalah." (Oh, aku rasa ayah, bundo ada di perkebunan, aku ke sana sajalah.) Aku pun menuju perkebunan jagung. Dan aku melihat ayah bunda sedang mengobrol sama pemilik perkebunan yang amat luas ini juga memiliki sawah yang terhampar di beberapa titik di wilayah ini. "Ayah! Bundoooo!" teriakku sambil melompat-lompat hingga rambut lurus dan tebal tergerai ditiup angin. Kedua orangtuaku akhirnya melihatku juga dia. Dia, orang yang kukagumi sampai akhirnya perasaan itu berubah menjadi cinta.              Ayah bundo bekerja di perkebunan pemilik saudagar kaya raya di desa ini. Namanya Adit. Orang yang darmawan, baik hati, ramah, tidak sombong dan tampan. Dialah sebenarnya yang membuatku terus ingin belajar agar menjadi perempuan cerdas dan berkualitas.              Tiap langkah ku menuju padanya, aku teringat masa - masa dulu. Anak gadis berusia tiga belas tahun, masih duduk di bangku SMP, anak gadis itu adalah aku. Zahira yang selalu belajar dengan giat dan dengan motivasi yang selalu diberikan olehnya. Pada saat itu aku diajak olehnya untuk mengelilingi pemukiman setelah selesai berurusan di sawah. Di sini jalannya berbukit-bukit sehingga dibuatkan tangga untuk berjalan lalu lalang oleh warga sekitar.              "Dapek rangkiang barapa di kelas?" (Dapat rangking berapa di kelas?) tapi Uda Adit. Sambil menjilat ice cream yang ia berikan dari rumahnya karena tadi aku kepergok membuka kulkasnya sampai aku dimarahi oleh bundoku yang bekerja sebagai pembantu di rumahnya, untung saja ada Uda Adit.              "Ciek Uda," (Satu kak) jawabku dengan bangga. Uda panggilan untuk kakak laki - laki. Adit ingin aku memanggilnya seperti itu.              "Wahhh! Pinta sakali kau, Zahira. Partahankan, yo." (Wahhh! pintar sekali kamu, Zahira. Pertahankan, ya." Sambil mengacak pucuk rambut kepalaku. Aku tersenyum. Rasa kagum pada Adit semakin membuatku tidak bisa menahannya. Dasar bodoh. Aku sungguh tidak memahami perasaan apa itu.              "Kalau kau sudah besar nanti mau jadi apo?" tanyanya, kami duduk di tangga sambil memandangi pemandangan desa Pariangan di atas sini. Surganya dunia.              "Awak mau jadi pengusaha, supayo awak punya kebun sendiri macam Uda."              "Bararti kau harus jadi parempuan yang pinta saat dewasa nanti. Harus jadi parempuan yang cardaeh, karna perempuan yang cardaeh dan bijak akan dihargai nantinyo. Indak pantiang harta, tahta, yang kau punyo kalau atitudemu indak kau jaga. Ingaek itu, yo." (Berarti kamu harus jadi perempuan yang pintar saat dewasa nanti. Harus jadi perempuan yang cerdas, karena perempuan yang cerdas dan bijak akan dihargai nantinya. Tidak penting harta, tahta yang kamu punya kalau atitudemu tidak kamu dijaga. Perempuan harus punya wibawa. Ingat itu, ya.)              "Siap Uda!" seruku bersemangat.              "Anak pinta," pujinya.              Dari yang ia bilang seorang anak kini anak itu sudah menjelma menjadi gadis remaja berusia 18 tahun yang sudah memahami apa itu perasaan yang selama ini ku pertanyakan. Cinta. Aku mencintai Uda Adit. Pria duda beranak satu dengan beda 15 tahun dari usiaku. Ketika aku mengenalnya dulu, aku sudah merasa kagum dengannya. Orang yang selalu ada untuk keluargaku ketika kami terlantar di jalanan, kita bertemu tanpa sengaja. Uda mengajak kami untuk tinggal di rumahnya sementara karena sudah larut malam. Sampai akhirnya ia membelikan rumah untuk kami tinggal dan memperkerjakan orang tuaku untuk ladang mata pencaharian. Aku kagum dengannya. Kagum atas kebaikan yang ia berikan.             Aku bodoh atau tidak, hatiku memang terpaut pada pria yang saat ini sudah menginjak umur 33 tahun. Mengenal lama dirinya membuatku semakin jatuh cinta. Pria yang bijaksana dan sangat dewasa. Dia adalah malaikat yang ada di tengah - tengah keluargaku saat kami sedang dihadang kesulitan. Dia adalah sosok yang kucari, sosok yang sangat bertanggung jawab.              "Kenapa kau teriak - teriak begitu Zahira?" Bundo menyadarkan ku dari lamunan singkat antara aku dengan Uda Adit.              "Ah.. awak, awak mau kasih tau ini..." Seraya memberikan amplop berisikan surat.              "Apo ini Ra?" Bundoku tidak bisa membaca. Ia memberikannya pada ayahku.              "Kau lulus nak!?" seru ayahku. Kedua orangtuaku langsung bereaksi senang dan bahagia. Surat itu pun beralih ke tangan Uda Adit dan ikut tersenyum bahagia membaca kabar kelulusanku. Yang tak ku sangka nya juga, ia mengulurkan tangannya padaku sambil mengucapkan, "salamaik, ya, adiak." (Selamat ya, adek.) Aku masih setengah sadar, ditoel bahunya sama Bundo dan menyambut tangannya dengan rasa gugup dan malu.              "Iyo, Uda, tarima kasih. Oh, ya," mataku membulat juga senyum lebar tak bisa kutahankan, sama seperti yang ingin kusampaikan. "Awak katerimo SNMPTN di UNPAD, Bun, Yah. Awak bisa lanjut kuliah lewat beasiswa!!!" Namun yang tak kusangkanya, reaksi Uda Adit dan kedua orang tuaku berbeda. Uda Adit yang memberikan tepuk tangan dan kedua orangtuaku dengan raut wajah masam. Senyum kebahagiaan itu hilang seketika. * * * * "Awak indak mau menikah titik!" "Dengarko dulu apo yang orang tuamu bilang, Zahira!" Bundo mulai bicara dengan nada tegas. Aku langsung berdiri. Baru kali ini aku berbicara dengan nada tinggi pada kedua orangtuaku. "Apo lagi? Apo lagi yang harus awak dengar? Kalian indak mengizinkanku kuliah dan malah ingin menikahkanku dengan anak orang kayo rayo? Demi apo? Demi ekonomi kito? Kehidupan kito? Samo sajo kalian menjual anak kalian demi lelaki yang ndak awak cintai." Untuk kali pertamanya aku ditampar oleh bundoku. "Jangan bicara seperti itu!" peringat Bundo. Tanpa bicara sepatah kata, aku masuk ke dalam kamar dengan menutup pintu sampai terdengar suara bedebum.            Ketika mereka tahu aku akan melanjutkan pendidikan ke pulau Jawa. Mereka mengajakku pulang terburu-buru. Aku tidak tahu maksudnya apa. Sampai di rumah, ayah bilang padaku.            "Kau jangan kuliah, kau indak boleh marantau ka tanah Jawa. Sebaiknyo kau tetap di siko! (sini)."            Aku terkejut, patah sudah harapanku detik itu juga. "Kenapa? Kenapa awak ndak boleh kuliah? Ndak mungkin beasiswa itu awak tolak."            "Erwin ingin melamarmu minggu depan, dia mau datang ka rumah barsamo kaluarganyo. Jadi, ndak ado alasan apapun untuk kau menolaknyo. Sudah ayah katakan dari dulu, lepas lulus SMA kau ndak usah kuliah. Menikah dengan pria kayo rayo, maka hidup kau itu akan lebih baik dari pado yang sekarang."            Betapa buruknya nasibmu Zahira. Keinginan seorang anak diusia mudanya bukanlah untuk menikah dan mengabdikan hidupnya untuk lelaki, aku ingin kuliah, ingin memiliki pendidikan lebih tinggi, ingin mengangkat derajat orang tuaku, ingin membuat mereka bangga bila anaknya mendapatkan gelar sarjana. Maka itu aku belajar mati-matian untuk mendapatkan itu semua. Bukan menikah dengan lelaki yang tak kucintai. Ya Allah, ujian apa lagi yang engkau berikan padaku.            Hari demi hari kulalui di dalam kamar. Tak jarang aku keluar hanya untuk membersihkan diri saja ke kamar mandi. Berulang kali mereka membujukku untuk keluar kamar namun tak kugubris. Biarkan saja aku mati kelaparan di kamar ini dari pada aku harus menikah dengan seseorang yang tak kucintai. Aku pun teringat sesuatu bila hatiku sedang kacau balau. Aku ambil buku harianku di bawah tumpukan baju dalam lemari. Berbaring di atas ranjang sambil membuka lembaran tiap lembaran.    Tak kusangka menggapai cita - cita itu sesulit ini. Biar dikata orang - orang aku selalu beruntung, enak tak ada kesulitan tiap jalan yang kulalui. Halangan demi halangan itu tetap ada, pasti. Aku hanya ingin memiliki pendidikan yang lebih tinggi lagi. Aku ingin menjadi wanita seperti yang Uda Adit katakan ketika aku masih berusia 13 tahun. Aku ingin menjadi guru pertama untuk anak - anak kita, Uda. Bodoh memang aku berharap terlalu tinggi. Tapi, itulah yang memang hatiku ingini. Orangtuaku dan kau yang menjadi alasan kuat untukku memilih jalan ini. Kau yang jadi motivasi ku menghadapi rintangan - rintangan ini. Sejak dulu, hanya kau Uda yang kuharapkan akan menjadi kekasihku kelak. Karena itu, aku juga berusaha untuk menjadi wanita yang kau katakan, agar aku bisa setara bersanding dengan engkau. Agar aku bisa menjadi wanita yang engkau cintai. Aku tak tau, bila aku bisa mengatakan perasaan ini pada kau, Uda. Bila? Aku sadar diri siapa aku saat ini. Hanya seorang gadis dari anak pembantu yang bekerja di rumah kau. Hanya mimpi aku bisa mendapatkan hati kau tapi ku yakin, mimpi itu bisa ku jemput. Karena itu tunggulah aku sampai aku benar - benar pantas menemani hidupmu bersama Zahra anak kau. Tunggu aku Uda. Zahira. Aku tak sadar ternyata air mataku jatuh membasahi tulisanku ketika selesai ku tulis namaku. Hatiku terasa sakit membayangkan aku hidup dengan lelaki lain sedang orang yang kucintai pun belum tahu tentang perasaanku. Aku sedang berjuang untuk segalanya, untuk memperbaiki keadaan keluargaku agar lebih baik dari hari ini dan memperjuangkan cintaku padanya namun mengapa terasa sangat sulit seperti ini?           Jendela kamarku tiba - tiba saja ada yang mengetuk oh bukan tapi seperti ada seseorang yang melempar benda keras ke jendela kayu. Ku buka jendela itu dan ternyata, "Zahra! Sedang apa kau di sini?"           "Uniiiii!!! Zahra rindu Uniiii!"           Entah apa dan mengapa, hatiku terasa tenang melihat Zahra di sini. * * * * Zahra mengajakku ke tempat pemandian air panas. Anak umur lima tahun ini memang paling suka bermain di pemandian air panas ini. Aku memang sangat dekat dengan Zahra kadang kita ke sini juga datang bersama Uda Adit. "Dulu waktu di Bandung, Zahra suka jalan-jalan sama bunda main ke yang tempatnya banyak airnya, Zahra kangeeennn banget sama bunda. Zahra mau ketemu bunda uni tapi kata ayah gak bisa sekarang." Kedua kakiku terasa hangat berendam di dalam air tersebut namun bukan itu yang lebih kurasakan namun rasa rindu Zahra terasa mengikat batin ku hingga aku turut merasakan kerinduannya pada sosok ibundanya. "Kata ayah di surga itu enak, ya, Uni?" Ku belai rambut panjang yang tebal itu dengan lembut. Dan kupeluk ia dengan erat.             "Surga itu tempat yang ndak ado tandingannyo. Bunda Zahra udah bahagia ado di sana."             "Bunda kangen Zahra gak?"             "Pastilah! Makanyo Zahra banyakin doa untuk bunda, supaya bunda bisa datang ka mimpi Zahra." Sedikit yang kutahu tentang alm. Ibunya, Zahra memang memiliki ibu yang berdarah Sunda sedang Uda Adit berdarah Minang. Mereka sudah lama tinggal di Bandung yang kini setelah kepergian istri Uda Adit, mereka berpindah ke Padang sewaktu aku pun mau kelulusan smp. Ntah apa alasannya. Yang jelas pada waktu mereka akan menetap di kota ini, aku sangat bahagia.             Tak lama berselang beberapa detik, suara yang tak asing menyeru dipendengaran ku, memanggil nama...             "Zahra! Zahira! Di sini kalian rupanya."             "Uda!?"             "Ayah!" seru kami berdua dengan panggilan yang berbeda.             Adit duduk di samping Zahra dan ikut memasukkan kedua kaki ke dalam air hangat. Sangat membuat relax otot - otot yang merenggang juga melegahkan pikiran. "Sepulang ayah dari perkebunan, ayah pikir kamu ada di rumah tapi taunya hilang. Ayah sampai marah - marahin art di rumah gara - gara kamu Zahra." "Maafin Zahra, Ayah. Zahra rindu sama uni," ku sempat bersitatap pada mata coklatnya tapi ku alihkan segera. Rasa degup jantungku tak lagi bisa kukontrol. "Makanya Zahra datengin ke rumah uni."              "Bundo kau bilang, kau mengurung diri di kamar? Iyo?" Hal yang ia tanyakan makin membuatku ingin memaki mulut ibundoku sendiri. Memalukan!             "Awak ndak ingin menikah dengan siapapun..." Selain engkau Uda. Rasanya Zahira ingin mengatakan kalimat selanjutnya kalau saja ia bisa melakukannya. "Awak... Awak ingin kuliah."             "Uda paham," aku menunggu lanjutannya. Seakan ia sedang memikirkan sesuatu, matanya melirikku tiba - tiba. "Uda ingin tanya pada kau."             "Apo Uda?" Jantungku berpacu lebih cepat lagi.             "Kau sudah punya kekasih?" Ditanya seperti itu tentu aku terkejut. Uda tertawa padahal tidak ada yang lucu.             "Ndak usah dijawab," lanjutnya lagi lebih cepat. Ah, aku tidak paham kenapa malah merasa kecewa. "Uda tau kau udah punya kekasih pastinyo."             "Kenapa Uda bisa berpikir seperti itu?" tanyaku kaget sekaligus bingung.             "Kau ini gadis yang paling cantik di desa. Sudah bukan hal asing lagi kau dijuluki kembang desa oleh urang-urang di kampuang." Aku bahagia lagi bisa dipuji sama Uda Adit.             "Walau begitu bukan berarti awak udah punya kekasih, 'kan?" Sekarang gantian, Uda lah yang terkejut atas pertanyaan ku atau bisa dibilang pernyataan juga.             "Uda..." panggilku tak menatapnya. Hanya kedua kakiku yang kugerakkan dalam air di samping kaki-kaki yang dipenuhi bulu yang tentu kaki siapa lagi kalau bukan orang yang duduk di sampingku. "Zahra sudah besar, yo... Tiga tahun lebih awak jadi temannyo bermain."             "Hm," denganku, aku menoleh, ia tersenyum simpul, sempurna. Menatap Zahra yang tengah bermain air bersama anak-anak lain yang bukan lain para pengunjung dari luar kota.             "Zahra pasti kehilangan waktunyo barsama kau, Zahira. Ia pernah bilang pada awak kalau kau itu mirip sakali macam bundonyo." Aku melihat sorot kesedihan pada tatapannya meski ia tak melihatku sama sekali. Seperti rasa tidak rela bila aku menikah dengan pria lain. Hatiku berharap bahwa ia tidak rela aku menikah karena ia mengharapkan ku hidup bersamanya. Ah bodoh! Tapi itu tidak mungkin. Ia hanya sedih karena Zahra yang mungkin akan berpisah denganku. Karena jelas ketika aku menikah, aku tidak akan ada waktu untuk menemani Zahra lagi atau berkunjung ke rumah Uda.           "Zahira," panggilnya lembut nyaris terdengar serak suaranya. "Adakah seseorang yang sudah mengisi hati kau?" Demi Tuhan, apakah aku barusan tidak salah dengar?              * * * * Sudah larut malam, Aku tadi pulang ke rumah Uda untuk membawa Zahra yang tertidur di tengah jalan. Aku tadi ingin pulang sendirian karena memang rumahku dengan Adit tidak terlalu jauh jaraknya tapi karena sudah malam tidak baik perempuan pergi sendirian karena itu Adit mengantarku dengan berjalan kaki sebab aku yang minta.             "Kalau bisa kau mesti ambil keputusan, Zahira. Cepat atau lambat, apa yang kau ambil jalannyo, itu yang akan memengaruhi kehidupan kau ke depannyo."             "Iyo Uda, tarimakasih."             "Untuk?"             "Nasihatnyo."             Adit cuma manggut-manggut saja. Sunyi lagi - lagi kami ciptakan dan hanya ada suara jangkrik yang menemani perjalanan kami. Sebelum waktu terlambat, aku ingin bertanya sesuatu yang sudah lama ingin kutanyakan. Setidaknya siapa tau masih ada harapan untukku memperjuangkan Adit. Persetan dengan pernikahanku dengan Erwin. Yang kumau hanya Uda. Hanya Uda Adit.             "Uda..."             "Hm?"             "Apo Uda ndak ado keinginan untuk menikah lagi?" tanyaku penasaran.             "Uda masih mencintai Kiana, Zahira," aku mengalihkan wajahku tetiba, rasa sakit mendera seluruh isi relung hatiku. Sudah berapa kali ku memaki diriku dengan sebutan bodoh. Hal yang tadinya membuatku senang bisa berjalan bersamanya kini berubah untuk segera menghilang dari hadapannya. "Tapi Uda gak boleh egois sama diri Uda sendiri kalau Uda memang harusnya membuka hati untuk orang baru. Zahra masih membutuhkan sosok seorang ibu." Ah! Adit kenapa membuatku jadi bimbang begini? Haruskah aku terus lanjut berjuang?             "Emh, awak pikir Uda ndak akan menikah lagi."             "Memangnyo kenapa? Kau mau jadi ibu kedua buat Zahra?" godanya dengan senyum jahil.             "Eh?... Ndak.. bukan itu maksud awak... Ah..." Aku jadi gagap begini. Sungguh kentara nantinya kalau dia tahu aku suka sama dia. Aku belum siap.             "Haha memangnyo kau ndak mau jadi bundo Zahra apo?" Dia ini menjebak aku kah? Uda!!! Wajahku sudah memanas ini, kenapa coba Uda pakai segala bertanya seperti itu. "Uda! Sudah sampai, awak masuk dulu yo." Pamitan tanpa menatapnya itu lebih baik, berlari secepat mungkin dari hadapannya sudah dari tadi aku inginkan. Ketika menutup pintu rumah, jantungku sudah kayak mau copot dari tempatnya. Aku jadi sempat berpikir, apakah iya Uda memberi harapan padaku? Tapi, masa iya, aku sepertinya bukan perempuan yang Uda cari. Menarik napas dalam - dalam, keberanikan mengintip dari jendela dan pas pada saat itu Uda berbalik badan lalu pulang. Senyum pun lagi - lagi turut menghias di wajah. Dasar Uda. Pintar sekali buatku jatuh lalu terbang lagi.              "b***k tidak tau diri!" Segera lenyap perasaan bahagia itu mendengar suara ayah. Kubalikkan badanku dan melihat ayah bundoku sedang berdiri di depan kamarku.              "Dari mano sajo kau!? Pergi ndak izin, pulang larut malam. Mau jadi pembicaraannyo tetangga?"              "Zahira menemani Zahra ke pemandian panas Ayah,"              "Alasan kau! Ayah pikir kau ini cukup sadar dan masih ingat siapa kito, tapi ternyata kau itu lupa sama batasan kau dan Adit."              "Maksud Ayah apo? Awak ndak ngerti." Ayah tiba - tiba saja masuk ke kamarku lalu keluar dengan buku harianku yang ia lemparkan ke wajahku----nyaris kena bila saja aku tangkapan ku melesat. "Kau bilang cinto? Mencintai majikan kau sendiri? Kau pikir kau siapa Zahira? Kau sudah lupa apo siapa kau dan siapa Adit itu?" "Awak tau! Awak tau! Ndak perlu ayah perjelas lagi derajat awak dengannyo." Aku menangis tergugu tanpa ada yang mau memahami perasaanku. Sakit sekali. "Zahira memang mencintainya tapi Zahira juga sadar siapa Zahira." "Lantas mengapa kau masih sajo menyimpan perasaan itu? Buang jauh - jauh karena kau tak pantas bersanding dengannyo!" "Cinto indak pernah memandang derajat manusia, mau dia kayo atau anak dari seorang pembantu. Tapi cinto yang Zahira punya akan Zahira perjuangkan walaupun status kaya miskin itu menjadi penghalangnya." Ayah kemudian mendekati ku setelah aku menyampaikan jawabanku dengan sungguh - sungguh. "Bermimpilah sapuasnyo tapi kau jangan lupakan bila pernikahan kau dengan Erwin akan secepatnyo dilaksanako. Lupakan cinto bodoh itu dari pada kau harus sakit hati sampai berdarah-darah hanya karena menerima kenyataan kau ndak akan bisa barsamo dengannyo." Ayah pergi. Tinggal aku dan bundoku saja. Mataku menatap penuh harap padanya. "Bundo ndak biso melakukan apo - apo Zahira. Bundo ndak punya kuaso untuk membela kau. Turuti sajo kemauan ayah kau bila kau mau membahagiakan kito." Membahagiakan kalian juga bukan dengan cara menyerahkan hidupku begitu saja pada lelaki lain, Bundo. * * * * Hari pernikahanku telah tiba. Hari yang mungkin akan menjadi sejarah terburuk dalam hidupku. Aku benar - benar terpenjara pada tuntutan yang harus ku tanggung. Hidupku menjadi bayarannya. Mati bisa jadi pilihannya. Tapi tak sebodoh itu aku harus mengakhiri hidupku sebelum mengatakan perasaanku padanya. Sebelum semua tujuanku bisa ku wujudkan. Ayah, bundo, sejak dari awal aku sudah menentang permintaan kalian, urusan ekonomi keluarga kita, hutang-hutang kita, biarlah semua itu aku selesaikan tapi berilah aku waktu untuk membuktikannya. Aku ingin kalian tidak diremehkan, aku ingin kalian hidup tanpa kekurangan, aku akan buktikannya dengan caraku. Maka itu, aku putuskan untuk melanjutkan pendidikanku, merantau ke tanah Jawa dan di sana mimpiku sedang menungguku untuk diwujudkan. Aku teringat percakapanku dengan Uda Adit hari itu.              "Zahira, adakah seseorang yang sudah mengisi hati kau?"              "I-iya... Sudah ado, Uda." Dan kaulah orangnya, Uda. Kaulah orangnya.              "Tapi cinta awak ndak akan parnah dianggap penting oleh siapapun sampai awak bisa mamperjuangkannyo."              "Hidupmu ada di tangan kau Zahira, Uda tau perasaan hatimu saat ini sedang kacau. Maka putuskan apo yang harusnya kau lakukan, lakukanlah. Cinta ndak bisa dibayar dengan materi. Awak ndak ingin kau hidup menderita dalam pernikahan bodoh itu." Dan keputusanku hari ini telah mempermalukan kalian... Pengantin pria sudah siap di pelaminan namun ada kabar mengejutkan dari bundanya sang pengantin perempuan.             "Zahira kabur... Zahira sudah pergi." Semua orang terkejut. Adit dan Zahra saling menatap, penuh tanda tanya dan semua orang kebingungan. Namun, hanya satu orang saja yang tidak bereaksi apa-apa. Diam yang entah apa yang dirasakan oleh mereka semua sudah ia rasakan sekarang ini. Keributan tak lagi bisa ditahan. Pihak keluarga Erwin melempar kata - kata dan hinaan yang menyakitkan untuk keluarga Zahira. "Cari wanito itu sampai dapek!" seru ayahanda Erwin. Rasa malu dan marah bercampur jadi satu. "Ndak perlu kalian repot-repot mencarinyo!" Erwin mulai buka suara. Wajahnya tidak menggambarkan ekspresi apa - apa. Datar. Semua orang justru semakin dibuat kebingungan padahal Erwinlah yang jelas bersikeras ingin menikahi Zahira yang sebenarnya orangtuanya tidak merestui akan permintaan Erwin.             "Awak janji, jikalau kalian nanti mau menyerahkan putri kalian untuk awak... Awak akan manangguang semua beban kalian termasuk hutang-hutang kalian." Ketika itu, hidupku tidak tenang. Dia datang. Menjanjikan kemewahan untuk kita bisa merasakan bagaimana rasanya terbang. Bukan hanya jatuh karena penderitaan hingga membuat air mata berlinang.             Erwin sebenarnya pernah menjadi rekan kerjanya Adit. Ia pernah mengunjungi perkebunan Adit dan Adit memperkenalkannya dengan orangtuaku yang kebetulan pada saat itu ia melihatku dan sering mengunjungi ku untuk sekedar berbincang namun aku tidak memedulikannya.            Aku mendengar semua perbincangannya dengan kedua orangtuaku dari luar rumah saat pulang sekolah. "Kau balaja yang bana, bia kau capek lulus, satalahnyo kau ndak perlu balaja lagi. Bantu ayah bundo bekerja sajo. Kito sudah tuo, tinggal kau satu - satunyo yang kito harapko." (Kau belajar yang benar, biar kau cepat lulus, setelahnya kau tidak perlu belajar lagi. Bantu ayah bunda bekerja saja. Kita sudah tuo, tinggal kau satu - satunya yang kita harapkan.) "Tapi yah, awak ingin kuliah," tuturku memohon. "Buat apo lagi? Apo ijazah SMA kau itu ndak cukup? Kau parampuan, Zahira, ndak perlulah kau punyo pendidikan tinggi-tinggi. Parampuan itu ujungnyo akan di dapur juga saparti bundo kau itu." Aku teringat ucapan ayah pada malam hari, ketika rumah sedang gelap gulita karena mati listrik. Ayah sudah mematahkan harapanku namun walau tanpa dukungan siapapun dari kalian berdua, aku akan tetap berjuang untuk masa depanku dan memantaskan diriku untuk bersanding dengan Adit bila kalian menilai aku tidak pantas untuknya atau pun masyarakat, karena aku anak dari seorang petani, pembantu yang bekerja di bawah majikannya dan tidak tahu dirinya aku jatuh cinta pada pria yang umurnya sangat jauh terlampau dari umurku tapi cinta tidak pernah memandang semua pertentangan itu. Berusaha sekuat mungkin aku mengontrol diriku untuk tidak berbuat gila. Aku menoleh ke samping, memandang perkebunan jagung dan sawah-sawah yang terhampar luas di sana. Aku akan merantau ke Jawa. Keluar dari tanah kelahiran. Dengan menaiki mobil pick up dan baju pengantin, aku rela kabur dengan derai air mata yang merusak riasan make-upku. "Ketika pertama kali awak bertemu dengan kau, awak sudah jatuh hati pada kau, Zahira. Awak lakukan samuanyo asal kau bisa menjadi istri awak." "Tapi ndak dengan kau memberi apo yang keluargaku butuhkan!" Mataku sudah memerah membendung air mata yang sejak tadi ku tahan. "Kau sudah menghancurkan mimpiku, masa depanku kalau tetap bersikeras menikahiku hari ini juga. Kalau memang kau mencintaiku, biarkan aku pergi." "Kau ingin keluarga kita menanggung malu, Zahira!? Sudah gila kah engkau!?" teriaknya membabi buta. Entah dia sedang ada di mana. Aku sembunyi-sembunyi menghubunginya dari dalam kamar mandi. "Kau mencintaiku? Kalau begitu kau harus melepaskanku. Awak tidak bisa menanggung beban ini sendirian kau harus tau itu." "Siapa lalaki yang kau cintai itu Zahira? Awak tau kau ndak mencintaiku, pasti ada lalaki lain di hati kau. Katakan, siapa." Suaranya terdengar bergetar bila kurasa ia tengah menahan rasa sakit yang telah kuciptakan. "Adit. Uda Adit, awak sudah lama mencintainyo dan dengan aku sukses, itu adalah pembuktian dari perjuanganku. Memberi apo yang keluargaku butuhkan dan dengan awak sukses juga, awak bisa bersanding dengannyo tanpa harus dipandang rendang oleh siapapun." "Jadi... Kau ingin apa bila pernikahan ini ingin kau gagalkan?" "Awak akan melarikan diri... Ke tanah Jawa.” Setelah Erwin terlihat sangat sedih bahkan Adit bisa merasakan bagaimana patahnya hati pemuda itu, Erwin tetap ingin terlihat tegar dan kuat. Ia meremas pelan bahu sahabatnya sekaligus rekannya yang kemudian ia pergi dari hadapan Adit dan semua orang yang ada di dalam masjid tuo. Aku sudah menuangkan semua apa yang ingin aku katakan dalam surat ini yang kuyakini kalian tidak akan mendengarnya bila secara terang - terangan aku menolak pernikahan ini di depan kalian semua esok pagi. Setelah siapapun yang membaca surat ini, aku harap tidak ada satu pun orang yang menentang keinginanku lagi. Zahira. * * * *            "Biar awak yang urus kepergian kau dan tempat tinggal kau di sana."            "Ndak perlu,"            "Zahira, jangan tolak apa yang kukatakan barusan. Awak ndak ingin kau kenapa - napa di sana."            "Baiklah, tapi awak bisa cari tempat tinggalnyo seorang diri,"            "Dengan baju pengantin kau itu? Kau sudah gila!?"            "Kau tenang sajo. Awak bukan b***k kecil, awak bisa kerjako samuanyo." Dan aku merutuki kesombonganku yang menolak semua bantuannya. Pergi tanpa membawa pakaian, juga tujuan. Aku kelaparan. Layaknya seperti seorang pengemis, aku terduduk di depan ruko bersama gelandangan lainnya yang duduk berjarak tak jauh dariku. Saat kedatanganku tiba, mereka heran melihatku, mungkin karena riasan yang berantakan dan baju pengantin yang kupakai ini. Aku berharap Tuhan datangkan seseorang untuk menolongku. Rintihan tak lagi bisa kutahan, uangku sudah habis saat diperjalanan, sekarang di kota orang aku kebingungan. Sampai tiba suatu ketika, Tuhan menjawab doaku, seorang perempuan yang kupikir tadinya lelaki menyodorkan nasi bungkus kepadaku. Ia berjongkok di hadapanku, dengan tas jinjing besar di punggungnya, tatanan rambut bak gaya lelaki yang dicepak, tato yang penuh di tangannya bahkan di daerah punggung yang terbuka juga ada.            "Saya tau kamu pendatang baru dan pasti sedang tersesat," ia mengulurkan tangannya padaku. Aku cuma melongo saja. "Nama saya Leonna. Ifa Leonna Wangsa." Dan ku tahu, malam itu dia adalah penyelamatku. Seorang yang pernah berprofesi chef yang kini juga menjadi dosen di tempatku menempuh pendidikan. []
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN