BAB - 2

3378 Kata
Leonna             Nama gue Ifa Leonna Wangsa, tapi gue terkenal dengan panggilan Leonna. Gue seorang traveler kuliner dan juga seorang dosen di salah satu universitas yang ada di Bandung. Bandung jadi tempat gue tinggal dan menetap setelah gue memutuskan meninggalkan tanah kelahiran gue di Surabaya, sempat menempuh pendidikan di Jakarta dan gue mendapat kesempatan untuk berkarir di Bandung sebagai dosen dan ini berkat dari traveler kuliner, sesuatu yang sangat gue cintai, menjelajah ke berbagai kota-kota besar yang ada di Indonesia dan mencicipi makanan khas tiap daerahnya. Nusantara. Hingga akhirnya menghantarkan gue sebagai dosen, berawal dari seorang yang gue kenal di salah satu Universitas, menyarankan gue untuk mengajar di sana sebagai dosen hukum, menggantikan dosen yang dipindah tugas ke kota lain.             Sebelumnya, gue mengawali karier di kota ini. Menjadi chef di beberapa cafe atau restoran. Pekerjaan yang paling gue senangi karena itu merupakan hobi dari gue yang suka masak. Lepas dari chef, barulah gue mendapatkan warna baru dalam hidup gue. Gue menyukai hal yang baru, hal yang belum pernah gue lakui. Seperti setelah gue lulus S2 Hukum, ada alasan kuat dibalik jurusan yang gue ambil dan apa yang gue lakukan itu sebenarnya terdorong dari seseorang yang sangat berarti dalam hidup gue. Dia ibu gue. Dia yang membuat gue ingin menjadi seorang pengacara. Bukan karena ibu gue juga seorang pengacara dan itu membuat gue malah berkeinginan mengikuti jejaknya juga, nggak. Ada hal lain, yang belum bisa gue cerita sekarang.              Dan rencana, sih, dulu gue mau menjadi pengacara, seperti yang gue bilang tadi, tapi takdir Tuhan memang suka gak bisa ketebak. Gue malah jadi dosen dan mengajar banyak mahasiswa. Padahal gue sendiri nggak kepikiran untuk menjadi dosen. Memasak adalah hobi yang paling bikin gue merasa bahagia dan jadi wanita seutuhnya. Dengan hobi ini gue jadikan sebagai pekerjaan. Hebat bukan? Hobi yang dibayar. Apapun hobi yang Lo punya, semua bisa Lo jadiin penghasilan asal diri Lo bisa mengasah dan mengembangkannya. Uang anggap saja itu bonus. Apalagi buat gue, sebagai anak rantauan, memang gue mencari penghasilan dari kreativitas yang gue punya dan juga keahlian, tapi jangan juga hanya dengan bekerja pada orang lain dan menjadi bawahan dari atasan. Hidup itu kayak permainan, kita mesti pintar - pintar memainkan apa yang kita punya. Kalau bisa membuka usaha dan menjadikan usaha itu sebagai lapangan kerja buat orang lain, ya, kenapa tidak gitu? Berawal dari nekat, mencoba hal baru, gak takut gagal, semua dibawa enjoy asal tetap memerhatikan kualitas dan target yang ingin dicapai, pasti bisa kok kalau ada niat, usaha dan doa. Di kota orang gue pernah nggak megang uang sama sekali. Habis buat beli rumah yang nggak besar sebenarnya, sederhana saja dan gue anggap rumah yang gue tempati nanti bisa menjadi ladang Investasi buat ke depannya. Seenggaknya dari hasil gue kerja, ada sesuatu yang bisa menjadi tabungan buat gue. Tapi, keadaan saat itu tempat gue bekerja bangkrut. Pemilik dari tempat gue bekerja terlilit hutang dengan Bank yang akhirnya harus disita. Yah, dari situlah gue disarankan untuk melamar sebagai dosen hukum apalagi gue lulusan S2. Namun, dalam keadaan seperti itulah, berawal gue bingung harus gimana, dibawa menyerah pun kayaknya nggak mungkin, kalau menyerah gue gak bisa makan. Jelas, orang nggak akan mengkasihani gue dan gue harus bisa mandiri, gimana caranya gue bisa dapet uang buat makan.              Hidup itu ada naik ada turunnya, ketika Tuhan memberikan sesuatu dalam hidup, dalam keadaan dan kondisi yang tidak terduga, gue mencoba untuk beradaptasi dan menerima. Setelahnya, gue berpikir untuk melakukan suatu perubahan, ketika gue di bumi gimana caranya gue bisa naik lagi ke langit. Gimana caranya dari yang di bawah bisa naik lagi ke atas. Roda itu pasti berputar, naik dan turun. Hal biasa, gue sendiri nggak akan terlalu bersedih berlama-lama apalagi mengeluh pada keadaan. Nggak ada gunanya boy! Seperti halnya gue, gue kangen, nih, masak dan memakai baju chef dengan apron ketika memasak. Gue sedang mencari peluang, dengan membuka usaha gue sendiri. Setiap malam, gue membuka gerai kecil di depan jalanan yang banyak para pendatang lokal atau warga asing suka berjalan melihat-lihat dan membeli jajanan di kota Bandung. Di sini, biasanya gue suka memamerkan keahlian cara gue masak agar bisa menarik perhatian banyak masyarakat. Cukup ramai dan mereka terlihat khusyuk menonton gue beradu main dengan kedua pisau dan api.             Manusia itu pasti punya ciri khasnya masing-masing, keunikan, dan passion. Siapa yang belum menemukan passionnya, pasti akan menemukannya nanti setelah Lo telah mengasah keahlian yang Lo miliki dan passion Lo akan lo temukan setelah Lo merasakan dan mikir, "kayaknya ini, deh, passion gue." Ya, menurut gue, sih, begitu dari pengalaman yang gue rasa. Semua bertepuk tangan dan kagum melihat aksi gue dalam memasak. Iya, gue bukan chef yang terkenal kayak chef-chef di Indonesia atau di LN, tapi gue cukup terkenal di kota Bandung. Bagi gue ketenaran dan nama Lo yang mesti terkenal atau tergila-gila dengan rasa ingin nama Lo dikenal banyak orang dan diagung-agungkan, menjadi idola banyak orang, itu tidak terlalu penting bagi gue. Terkenal itu ya bonus saja dari Tuhan, bisa untuk mendatangkan orang-orang dan menghasilkan penghasilan. Tapi yang paling penting itu adalah, bagaimana caranya agar gue bisa memberi kepuasan dalam diri gue dan mengenal diri gue lebih jauh, itu udah amat bersyukur untuk gue sendiri. Gue bisa hidup tanpa aturan orang-orang, tanpa ada siapa yang mengatur, tapi yang gak bisa hilang dari hidup gue dan mungkin akan selalu ada di hidup gue adalah komentar, kritikan pedas, tatapan sinis dan diri gue yang selalu dijudge wanita barbar, gak benar, nakal. Iya... Hal-hal negatif yang pasti selalu gue rasakan.              "Leonna! Leonna! Lihat sini, cuy... gue mau moto Lo, nih! Satu... dua... tiga...." seru, sih, cowok berpostur gendut, pipi chubby dan tinggi badannya di bawah gue, Iyah, sedagu guelah tingginya, tengah memotret gue saat sedang memasak. Namanya Bobby. Dia sohib gue yang nemenin usaha gerai gue.               "Senyum dong, Len! Kaku amat kayak robot," komentarnya ketika sedang membidik gue yang sedang mengaduk masakan tersebut di atas teflon. Gue melotot. Di sini banyak orang masih sempetnya ngeledek gue. Bikin malu. Iyaa kali gue lagi masak terus harus senyum fokus ke kamera. Ngide kali, ya. Tiba - tiba setelah Bobby memotret gue, kejadian tak terduga datang. Semua orang yang berkerumunan berlari menjauh. Gue sendiri menyadari itu dan ketika tatapan gue dari arah sekeliling akhirnya tertuju juga pada, gue kaget, mata gue jelas terbelalak. Kompor langsung gue matikan. Bobby sendiri baru sadar saat orang-orang pada bubar, ia berbalik badan dan sebuah mobil melaju kencang ke arahnya dari beberapa meter.                "Bobbyyyyy!!!!" teriak gue. Beruntung jarak dia dengan gue tidak terlalu jauh. Gue bisa menarik Bobby dan menghindar dari sana kalau nggak mungkin dia sama hancurnya dengan gerai gue, udah gak tau lagi, deh, bentuknya. Tapi, untungnya tidak semua berantakan. Masakan gue masih aman. Kalau sampai kena tabrak gue yakin bakal meledak ini gas. Hanya saja gerainya hancur. Semuanya berantakan! Sumpah! Gue gak habis pikir sama itu orang. Tega banget menghancurkan usaha yang lagi gue bangun.                "Keluar Lo!" Gue pukulin itu kaca mobilnya berkali-kali sampai pemiliknya harus keluar dan ngehadepin dengan gue. "KELUARRR!!!!" teriak gue kencang. Seorang perempuan keluar dari mobil itu. Ia memakai tudung Hoodienya, masker menutupi wajahnya, matanya melirik takut di sekitar seakan ia tengah menyamar agar tidak diketahui identitasnya. Lagian dia siapa pula?                "Gila apa ya Lo! Bisa bawa mobil gak, sih!?" cecar gue emosi. Dia melihat gerai gue yang udah gak terbentuk itu, kayak diterpa badai tau gak itu gerai. Hancur gitu aja. "Gak sengaja," katanya santai, kembali menatap gue tapi matanya masih mencuri-curi pandang di sekitar orang-orang yang menyaksikan kami. Melempar tatapan keingintahuan mereka, rasa penasaran dengan drama ini akan berakhir seperti apa dan mungkin bertanya-tanya juga siapa perempuan yang sedang berhadapan dengan gue. "Apa?" Gue maju selangkah. "Nggak sengaja Lo bilang? Enak banget Lo bisa ngomong gitu," desis gue, "Lo pikir dengan penjelasan singkat Lo ini gue ba...." "Kamu minta ganti rugi, 'kan?" selanya, "saya ganti rugi atas kerusakan gerai kamu," sambungnya lagi. Walaupun gue gak tau tampangnya seperti apa, gue yakin dia pasti anak konglomerat. Gue menggeser tubuh gue, mata gue langsung menangkap cowok yang matanya mengerjap-ngerjap, tengah duduk di kursi sebelah pengemudi. Dia keliatan abis mabuk. Tapi, berusaha untuk menyadari kondisi saat ini. "Buka masker Lo!" pintaku. "Gue gak ada kewajiban harus ngikutin mau Lo." Bobby tetiba saja membuka tudung Hoodie yang ia kenakan, perempuan itu melotot. "Nadya? Nadya Aura Amelia, 'kan?" seru Bobby, yang tadi mangap-mangap kelimpungan kayak orang linglung sangking syoknya nyaris mau ketabrak, akhirnya bersuara dan menyebut nama cewek yang jadi samsak kemarahan gue malam ini. "Nadya model yang pernah menang masuk ke lima besar Miss Universe Indonesia itu, 'kan??" katanya lagi tapi dengan rasa antusias. "Hah!?" bingung gue. "Ihhh... Len! Masa lo gak tau, sih, ini. Makanya beli tipi di rumah. Kudet banget, deh, sumpeh," hina dia setelah menoyor kepala gue dari samping. "Gue ada tapi jarang nonton," celetuk gue. "Ini, lho, Nadya putri Miss Universe tahun kemarennn..." sambil nyengir, "tapi gak menang, sih," lanjutnya dengan cengiran terpaksa, seraya melirik ke gue. "Eh, tapi dia model yang laku keras, lho. Jangan salah, trus banyak menjuarai ajang permodelan di Indonesia tapi yaa cuma kalah di ajang Miss Universe doang, sih," jelasnya yang aku heran kenapa jadi membahas background perempuan ini. Dikata gue peduli apa? Nggak! "Bener, 'kan Mbak? Aku selalu ikutin informasi tentang Mbak, lho!" katanya bangga tapi ngomongnya malu-malu. "Pasti sebentar lagi kamu bakal mendunia, ya, kann!? Ngomong aja dulu, ya, Mbak, ucapan, 'kan doa. Aku salah satu fans kamu, lho." "Bobby!!!!" sahutku menahan emosi seraya menjewer telinganya. Tak lama semua orang yang tadi berhamburan langsung menyerbu ketika tahu siapa lawan perdebatan gue malam ini. Iyaa apalagi kalau bukan minta tanda tangan dan berfoto bersama belum lagi ternyata ada paparazi yang ntah dari mana ikut juga menyerbu dan memoto kericuhan malam ini. Sial! * * * *               Tiga hari berlalu setelah kejadian malam itu. Gue terpaksa harus mengurungkan niat gue untuk keluar rumah akibat pemberitaan yang dibesar-besarkan oleh para media yang menyebutkan bahwa gue sedang mencari sensasi atau panjat sosial atas keributan antara gue bersama model bernama Nadya itu dengan alasan yang tidak jelas. Gue tau, cuma agar beritanya bisa naik aja. Gue juga menolak para wartawan yang ingin mewawancarai gue. Sialan! Kenapa gue yang jadi terjebak dimasalah gue sendiri? Eryna, sahabat gue yang pernah satu kampus sama gue dulu terbahak-bahak dengar cerita gue. Dia juga udah tau dan menonton pemberitaan di televisi.               "Tapi harusnya Lo itu berteman sama dia, sih, mana tau dengan Lo berteman sama dia, tenarnya bakal kecipratan ke lo, 'kan?"                "Dengan cara memanfaatkan dia? Maaf, ya, gue ogah! Lebih baik gue terkenal dengan cara gue sendiri," tukas gue langsung mematikan tv. Eryna sengaja gue minta datang ke rumah gue bersama anaknya karena biasanya saat ada masalah yang lagi merudung gue, gue cuma bisa cerita sama Eryna.               "Gue seneng, deh, dengernya. Dari dulu Lo gak pernah berubah. Tetap dengan pendirian Lo," ucapnya. Gue tersenyum atas ucapan Eryna yang memang cuma dia yang bisa memahami tentang gue.               "Oh, ya," mendadak gue kepikiran dengan rumah tangga Eryna yang sedang bermasalah. "Jadi, gimana antara Lo dengan suami Lo? Udah nemu titik terangnya?" tanya gue sambil mengelus kepala anaknya yang sedang tertidur di atas pangkuan gue. Kartika yang berumur 6 tahun. Dari raut wajah Eryna, gue tahu betul belum ada titik terang diantara keduanya. Gue pikir, ketika gue menghadiri pernikahannya, Eryna menjadi orang yang paling bahagia di dunia pada hari itu. Cinta mereka begitu terlihat dan terasa dengan romantisnya keduanya saling melempar senyum, saling memandang satu sama lain dan saling menerima dan menghargai. Sempat terbesit dipikiran gue, menjadi Eryna adalah keinginan gue. Gue ingin hidup seperti dia, punya pasangan, punya keluarga kecil, bisa dicintai oleh seseorang. Tapi, melihat menderitanya Eryna dipernikahannya sendiri, gue rasa cinta itu tidak pernah mendatangkan kebahagiaan. Sama halnya masa lalu yang mengajarkan gue melihat sisi cinta yang lainnya, dibalik suatu kebahagiaan yang orang-orang selalu katakan. Kalau hidup tanpa cinta, tanpa pasangan, tanpa komitmen saja bisa memberikan ketenangan, kebahagiaan dalam kehidupan, kenapa kita harus membutuhkan cinta dari seseorang? Cinta hanya bisa menyakiti, lebih baik hidup sendiri, tanpa harus merasa mencintai atau dicintai. Gue lebih baik mencari kebahagiaan dengan cara gue sendiri. Tanpa harus menerima seseorang hadir dalam kehidupan gue untuk menawarkan sebuah cinta dan komitmen yang sama sekali gak gue ingini. * * * *                Seorang Leonna itu dalam hidupnya ada pengalaman yang sangat keras yang mau gak mau mesti dilewati. Bagaimana gue harus menjalani hidup? Bagaimana gue harus bertahan? Bagaimana gue harus mencari jati diri? Bagaimana gue harus menemukan kebahagiaan gue sendiri? Semua gue lakuin itu bertahun - tahun. Nggak mudah, nyaris gue mau bunuh diri ketika gue harus dipisahkan oleh seseorang yang sangat berarti dalam hidup gue. Dia punya peran besar dalam gue hidup gue ini. Berkaca dan melihat diri gue, membandingkan dengan diri gue yang dulu itu sangat beda jauh dengan yang sekarang. Gue sisir rambut pendek gue yang seperti lelaki. Gue sentuh tiap tato yang menghiasi hampir seluruh badan gue hingga turun ke tangan. Kulit hitam yang terlihat dekil dipenuhi tato yang sangat berbeda dari kulit putih bersihnya perempuan yang lainnya, ya jelas gue traveling ke mana-mana, panas itu udah makanan sehari-harinya gue dan gue sendiri terlahir bukan dari gen yang kulitnya putih. Entah gue bisa disebut perempuan atau bukan, yang jelas ketika gue memasak di pagi hari ini gue merasa menjadi perempuan seutuhnya.               Gue duduk di jendela kamar gue sambil makan, pemandangan yang terlihat adalah atap - atap rumah yang terbuat dari genting, rumah - rumah yang saling berhimpitan, anak - anak yang berlarian dan bermain di gang - gang sempit. Rumah gue memang seperti di perkampungan kecil. Di sini gue merasa nyaman. Orang - orang menerima gue walau dengan penampilan gue seperti preman atau perempuan gak bener. Setelah memutuskan berhenti bekerja di restoran dan mengambil pekerjaan sebagai dosen, gue bisa istirahat di hari-hari weekend seperti ini. Tanpa ada tuntutan apapun, gue bebas melakukan apa yang gue sukai. Hidup tanpa aturan dari siapapun adalah sesuatu keajaiban yang gue inginkan sejak dulu. Ketika gue sedang menyuap makanan, tiba - tiba saja suara hp gue berdering. Berjalan menuju nakas samping ranjang tidur, dan mendudukkan diri di atas lantai, gue baca nama kontak seseorang yang nyaris dua tahun belakangan ini selalu menemani gue yang padahal gue gak minta dia untuk selalu ada buat gue. Christhian.                "Hallo?" sapa gue.                "Hallo!?" Dengan nada ngegas. "Kamu di mana Ifa Leonna Wangsa!? Kamu gak ke gereja apa hari ini? Jangan bilang kamu gak----"                "Iya baweeelllll! Gue ke gereja lah, ya kali nggak. Gini-gini gue rajin ibadah kali," selaku sebelum ia menuduhku yang tidak mau beribadah ke Gereja.               "Aku jemput kamu, ya?"                "Terserah tuan muda aja," serah gue langsung mematikan sambungan. Segera gue siap - siap merapihkan diri dengan kemeja putih yang biasa gue pakai. Christhian Ignatius. Pertama kali gue ketemu dia waktu gue bekerja di restoran, keluarganya mengadakan acara besar, yang gue ingat, acara ulang tahun pernikahan kedua orang tuanya. Singkatnya, keluarganya menyukai makanan yang gue buat dan mereka berkeinginan bisa foto bareng dengan chef yang dimaksud itu adalah gue. Saat sedang mengintrupsi beberapa karyawan yang menjadi bawahan gue, datang teman gue sebagai pelayan mengatakan, "keluarga yang lagi adain acara itu mereka mau foto bareng sama Lo." "Aduh, gue lagi sibuk, nih. Bisa ntaran aja, nggak?" tolak gue yang lagi sibuk mengiris daging lalu berpindah tempat lagi mengecek masakan di atas kompor. Suara alat-alat masak saling beradu, asap mengepul membuat uap hingga di dapur ini terasa panas belum lagi, yang lainnya berseliweran ke sana ke mari, mengejar waktu untuk menghidangkan makanan agar selesai tepat waktu. Teman gue berdecak. "Ck, cuma sebentar doang." "Will! Will! Gantiin gue bentar, ya." Setelah memanggil teman gue yang biasa gue jadikan tangan kanan gue saat ada di dapur. Gue melepaskan apron atau celemek dan mencuci tangan sebentar di wastafel lalu mengikuti teman gue untuk menemui keluarga yang dimaksud itu. Di saat itulah pertama kalinya gue bertemu dengan Christhian Ignatius. Cowok tampan nan tinggi, bersih, rapi, keren abis, punya senyum manis walau kulitnya putih yang kalau gue berdiri samping dia, keliat jelas banget perbandingannya. Sangat beda jauh!                Kesan pertama dari keluarga Tian melihat gue itu, mereka agak heran dan hanya fokus dengan tato-tato di tangan gue. Salah satunya tato bunga mawar yang full tercetak di lengan gue. Tapi, beda dengan tatapan Tian yang malah seakan ia terkagum melihat tato - tato gue yang katanya, "keren." Gue rasa mereka ini orang terpandang, keturunan suku Jawa yang kental kelihatan ada seorang nenek parubaya wajahnya khas sekali dengan suku Jawa karena ya gue sendiri pun orang Jawa yah tapi gue juga melihat ada beberapa pria asing dengan anak-anak yang wajahnya ada khas orang pribumi dan ada juga khas orang asing. Namun, tetap gue foto bareng sama mereka. Ketika gue mau masuk ke dapur, Tian tiba - tiba saja mengikuti gue dan memanggil nama gue.               "Leonna!" Gue yang memang pembawaannya jutek banget, cuma mengangkat satu alis padanya saat menoleh dan pertama kalinya berhadapan dengannya.               "Mbak yang namanya Leonna, 'kan?" tanyanya basa-basi. Jelas nama gue udah dikenalin oleh manager restoran.               "Kenapa?" tanya gue. Dia tersenyum kikuk. "Perkenalkan, saya Christhian Ignatius, tapi biasa dipanggilnya Tian. Biar enak aja gitu."               "Leonna," balas gue, menyambut uluran tangannya.               "Namanya Leonna aja?" tanyanya lagi.               "Gak perlu tau nama lengkap, 'kan kalo ujungnya cuma perlu nama panggilan aja?" Sebenarnya, gue gak ada masalah sama dia, hanya saja gue emang gak terbiasa bersikap ramah sama orang yang keliatan banget sok akrabnya apalagi kesan pertama waktu Tian nanya, dia terkesan kepo. Padahal jawaban yang gue beri udah cukup gue rasa.               "Oh, iya juga, sih, ehm... Aku boleh gak minta nomor kamu?" Ya Tuhan. Dasar buaya.               "Sorry... Tapi gue lagi sibuk. Duluan, ya." Dan ternyata dia gak menyerah, dia nyari tahu tentang gue lewat sosial media gue. Karena, gue emang cukup aktif di dunia maya untuk nge-share resep - resep makanan gue. Selain itu juga, gue pernah membuka kelas masak, dan dia ternyata ikutan. Dari acara kelas itu, dia pernah ketemu Bobby, sohib gue dan dengan kurang ajarnya, Bobby malah kasih nomor gue ke dia. Dia pernah menghubungi gue ketika gue saat itu baru selesai mengajar. "Dapetin nomor kamu susah juga, ya, padahal mau kenal kamu lebih dekat, loh, aku niatnya." Wow. Frontal banget, nih, orang. "Sorry... Gue sibuk, jangan hubungi gue kalo gak penting-penting amat." Setelahnya, beratus - ratus chat dia kirim gak gue bales. Tapi, dia gak nyerah. Dia tetap saja hubungin gue dan berusaha buat ketemu sama gue yang malah akhirnya gue nyerah. Gue biarin dia, dekat aja sama gue. Yah, hanya sebatas teman. Suara klakson motor Vespa menyadarkan gue dari lamunan singkat tentang pertemuan gue dengan Tian. Tian udah ada di bawah. Segera gue meluncur, mengunci rumah dan naik ke Vespanya.                 "Lo beneran bawa Vespa?" Tian tersenyum lebar. Menggerakkan kepala tuk memberi syarat agar gue naik.                 "Katanya kamu paling suka kalo naek motor Vespa ketimbang naek mobil."                 "Yaa, gak mesti juga, 'kan Lo ngikutin maunya gue. Gak suka, ah, gua!" Gue masang muka kesal di tengah jalan. Motor berhenti di lampu merah, Tian membuka kaca helm lalu kepalanya menyamping untuk bicara sama gue.                  "Apapun itu asal bisa buat aku bareng terus sama kamu, ya, pasti bakal aku lakuin." Percakapan singkat yang berusaha mengundang perasaan namun gue tepiskan sejauh mungkin. []
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN