BAB - 12

4660 Kata
Zahira Setiap malam aku bekerja di salah satu cafe sebagai pelayan untuk tambahan biaya aku hidup di kota ini. Dan risikonya aku harus bolak-balik dari Jatinangor ke Bandung setiap malamnya karena tempat tinggalku ada di Jatinangor. Bundo selalu mengirim uang kepadaku tapi tanpa sepengetahuan ayah. Walaupun bundo tidak mendukung apa yang kulakukan, dan dia sangat marah besar karena aku kabur di hari pernikahan tapi bundo tetaplah bundo yang punya rasa kasihan dan khawatir pada anak satu-satunya. Bundo hanya bisa membantu finansial ku agar bisa meringankan ku di sini berbeda dengan ayah. Sama sekali kami tidak pernah jalin komunikasi, aku hanya tau kabarnya dari bundo. Aku juga tidak segan bertanya tentang kabar Uda Adit.             Aku dan dengannya masih jalin komunikasi walaupun bisa terhitung dengan jari. Uda tidak mengungkit permasalahan ku atas gagalnya pernikahanku hari itu, entah apa aku pun tidak tahu. Ketika telponan, kita hanya sebatas membicarakan tentang kuliahku, aku lebih banyak bertanya tentang Zahra yang ternyata sangat merindukanku. Setelah hari di mana aku kabur dari tanah kelahiran ku, baik orang tuaku atau Uda Adit belum ada yang mengunjungi ku di sini, kalau orang tuaku jelas, aku tau ayah tidak akan menemuiku dan dia juga yang melarang bundo untuk menjengukku tapi kalau Uda Adit, aku selalu berharap ia bisa menemuiku di sini.             Bundo memang selalu memintaku untuk pulang namun aku takut. Aku takut tidak bisa kembali lagi ke sini. Aku takut ayah benar-benar menahanku dan mengurungku sehingga aku tidak bisa pergi ke mana-mana. Aku takut dengan kemarahan ayah dan aku takut akan dipaksa menikah dengan lelaki lain.             "Ra, kamu anter minuman ini ke meja yang ada di sana, ya. Biar pekerjaan kamu saya yang lanjutin." Ini kak Ziko rekan kerjaku di sini. Dia juga satu kampus denganku dan aku kenal dekat dengannya tapi dia adalah katingku. Dia juga yang merekomendasikan aku kerja di sini, ya kerja part time dengan sistem shift, setelah pulang kuliah aku bakal datang ke sini dan untungnya atasan kami sangat mengerti kebutuhan mahasiswa boleh mengatur waktu dengan sendirinya namun sesuai dengan ketentuan tempat ku bekerja yang penting disiplin untuk tidak datang terlambat. Dan tiap liburnya aku mengambil double shift.             "Oh, iya kak." Aku pun mengantarkan minuman alkohol ini ke meja yang banyak tamunya. Tamu-tamu ini yang aku tahu sedang mengadakan party. Mereka itu seusiaku, dimasa-masa mereka ini aku lihat mereka itu begitu bahagia menghabiskan waktunya, berbeda nasib dengan aku menghabiskan waktu di tengah-tengah ambisiku mengejar impianku.             Suara dentuman musik yang keras mengalahkan suaraku hingga tidak terdengar oleh mereka. Terlalu asik dengan apa yang mereka lakukan, kedatangan aku bahkan diabaikan. Kalau saja aku tidak berhati-hati pun, aku bisa ditabrak dan minuman yang kubawa bisa saja terjatuh. Untungnya ada perempuan cantik nan sexy yang akhirnya menyadari kehadiranku dan membantu menaruh botol-botol minuman itu.             Selesai dari urusanku tadi, aku sempat dikasih uang tip olehnya, biasanya tamu jarang memberiku uang tip, tapi aku rasa dia orang yang ramah dan baik hati. Aku menerimanya saja lumayan bisa menambah uang jajanku hari ini. Dia pun kembali berpesta dengan teman-temannya yang sudah mabuk. Dan aku berniat mau kembali ke tempatku. Namun, tiba-tiba saja ada seorang lelaki menggangguku. Ia mencekal tanganku dengan keras, belum aku bersuara ia sudah menarik tanganku dan membawaku ke tempat sepi, masih di dalam cafe namun tempat-tempat sempit dan sepi seperti ini dengan minim pencahayaan sering dipakai oleh pria dan perempuan untuk melakukan hal intim seperti ciuman bahkan berpelukan dan bisa melakukan hal lebih dari itu.             "Tolong lepasin saya... Saya mohon, jangan apa-apakan saya," lirihku ketakutan, aku sudah bergemetar ketakutan akan disentuh lebih jauh lagi olehnya.             "Sssttt! Lo.diam. Lo tau siapa gue? Gue anak pemilik dari cafe ini, jadi jangan banyak bicara atau gue bisa aja pecat Lo sekarang juga kalo Lo masih berani ngeberontak." Ancamannya jelas membuatku takut. Aku tidak ada kemampuan untuk melawan tenaga lelaki. Aku memang tidak ada keberanian. Aku memang perempuan yang sangat lemah. Bahkan untuk melindungi diriku saja aku tidak bisa. Aku hanya diam ketika tangan besar dan kasarnya menyentuh pahaku dan naik ke atas, aku berusaha keras menyingkirkannya. Tapi, tanganku yang dicekal semakin diremas kuat sampai memerah. Aku kesakitan. Aku hanya bisa menitikkan air mata. Bau alkohol merambat masuk ke indra penciumanku, bibirnya sudah ingin menyentuh bibirku. Aku menggeleng sambil menangis. Tuhan, tolong aku. Tangannya tidak sampai menyentuh vaginaku namun ia malah ingin menyentuh payudaraku. Ia menempelkan tubuhnya agar alat vitalnya menekan keras vaginaku. Tubuhku terasa kaku. Aku tidak bisa melakukan apa-apa. Aku takut. Sangat takut.             Ketika bibir itu mau menyentuh bibirku, sudah sedikit lagi beberapa senti. Seorang lelaki menarik pria di depanku ini dan mendorongnya. "Mas! Jangan kurang ajar sama pacar saya, ya." Kak Ziko datang menyelamatkan ku. Anak pemilik cafe itu hanya menatap kami berdua. Ia sempat menunjuk ke arah kak Ziko lalu ke aku, seakan memberi isyarat kalau sewaktu-waktu ia akan melakukan hal yang dapat mencelakai kami. Ia pun pergi dan berkumpul bersama teman-temannya yang sedang party tadi.             "Ra... Kamu gak apa-apa, 'kan?" tanyanya khawatir.             Aku gak tau harus jawab apa, aku jelas sedang gak baik-baik aja. Aku pulang masih dengan perasaan trauma. Kak Ziko selalu mengantarkan ku tiap malam karena dia tidak mau aku kenapa-napa.             "Jelas ini udah keterlaluan Ra. Dia udah melakukan pelecehan ke kamu. Kamu harus laporin ini ke polisi atau setidaknya kamu laporin ke atasan kita, sekalian ke orang tuanya kalo perlu." Kak Ziko sangat marah setelah berganti pakaian tadi, kak Ziko sudah menungguku di luar dan dia mendesak ku untuk menceritakan kejadian tadi, dan aku sangat kaget dengan responsnya. Dan aku baru tahu, kalau dia kuliah di salah satu universitas swasta, dia dikenal dengan prestasi-prestasinya di kampusnya dan banyak yang mengidolakan dia karena ketampanannya. Satu kota Bandung bahkan dari luar kota pun namanya tidaklah asing lagi karena ia juga selebgram yang digemari oleh banyak orang.             "Gak usah, lebih baik aku diam saja. Aku gak mau memperpanjang masalahnya." Aku ragu kalau harus melaporkannya terlebih aku sudah tahu siapa dia berkat dari kak Ziko yang menceritakan tentang lelaki tersebut.             "Ra..." Kak Ziko masih mencoba membujukku namun aku menggeleng tegas tapi dengan rasa takut yang mendominasi.             "Dia anak dari pemilik cafe ini. Dia banyak dikenal sama orang karena prestasi-prestasinya di kampus. Di sosial media katamu, dia punya banyak followers, dia punya image yang bagus dan baik, gak akan ada yang percaya dengan ceritaku kalau dia baru saja melecehkan ku. Yang ada aku malah dituntut balik karena telah mencemarkan nama baik dia." Aku mengatakan segala hal yang kuresahkan dan kemungkinan-kemungkinan yang bisa saja terjadi. Orang-orang tidak akan ada yang percaya kepadaku pastinya. Lagian siapa aku? Yang ada nanti aku dituduh telah mencemarkan nama baiknya atau lebih parahnya bisa saja aku yang dilaporkan kembali dan dijebloskan ke penjara.             "Ra... Saya berani jadi saksinya," putusnya penuh keyakinan.             "Gak usah,” tolakku. “Aku udah anggap semuanya gak pernah terjadi apa-apa. Kalau masalahku tentang kejadian tadi banyak diketahui orang, aku yang malu. Aku gak mau dituduh macam-macam. Aku gak mau punya masalah kak. Aku takut," jelasku tanpa jeda.             Kak Ziko menarik napasnya, ia terlihat pasrah dan tidak memaksaku lagi untuk melaporkan kebejatan lelaki yang ku tahu namanya dari kak Ziko, dia adalah Beno. Kami pun mengakhiri percakapan tentang masalah tadi. Aku hanya menikmati semilir angin yang menyejukkan tubuhku tapi tidak dengan suasana hatiku yang benar-benar kacau. Aku merasa kotor. Merasa seperti perempuan jalang. Perlahan air mata membasahi pipiku tanpa kusadari. Kenapa aku jadi merasa benci dengan diriku sendiri, aku seolah tidak punya kuasa pada tubuhku sendiri. Aku didominasi dengan rasa takut. Aku benar-benar perempuan yang sangat lemah. Bodoh kamu Zahira.             Aku telah sampai di depan kos. Aku telat satu jam lamanya. Biasanya aku pulang jam sepuluh karena aturan batas jam kosan itu biasanya jam sepuluh tapi kalau habis pulang mengerjakan tugas atau seperti aku yang kerja part time biasanya masih bisa dikasih kelonggaran.             "Kak tolong yoo jangan ada yang tau masalah tadi. Cukup kita berdua aja yang tau,” mohonku padanya.             "Oke... Kalo itu mau kamu. Yaudah kamu masuk, udah malem. Istirahat dan jangan mikirin hal tadi. Dan kalo ada apa-apa hubungin saya."             "Iyoo, terima kasih untuk semua bantuan kak Ziko, Zahira berhutang budi sama kakak."             "Kamu udah kayak adikku Ra, jangan pernah sungkan ke saya, ya."             Selepas kepergian kak Ziko, aku rasanya ingin segera mandi dan membersihkan tubuh ini yang aromanya saja entah sebusuk apa, keringat dicampur bau alkohol. Dengan membersihkan diri ini aku harap aku bisa menghilangkan bekas-bekas tangan lelaki b******k itu yang telah mengotori tubuhku.             Aku merogoh kunci kostan cadangan di dalam tas. Biasanya pemilik kos jam segini sudah mengunci pintu. Tapi, ada sesuatu yang mengganjal. Pintu kostan tidak terkunci. Ini siapa yang buka ya? Atau ada yang lupa mengunci pintu? Aku menerka-nerka sendiri, ku lihat di luar sekelilingku tidak ada siapa-siapa. Sepi. Aku jadi parno, aku takut ada seseorang yang masuk ke dalam kostan. Oke, aku coba tenang. Ku buang pikiran negatifku. Lalu memutuskan masuk ke dalam dengan pelan dan hati-hati. Tapi yang buat aku terkejut, lampu ruang depan hidup.             "Ndak usah takuik. Kami bukan maliang." Aku terkejut karena ayah ada di sofa dan ibu tetiba muncul dari arah dapur dengan semangkuk mie instan yang masih panas yang diberikan kepada ayah.             "Baru pulang kau? Dari mana sajo kau b***k padusi (anak perempuan) jam segini masiah (masih) kaluyuran. Apo begini karjaan mahasiswa?" Ayah mengatakannya dengan nada menyindir tak lupa dengan tatapan sinisnya beberapa detik. Dan ia tetap seraya makan tanpa menatapku.             "Zahira habih (habis)mengerjakan tugeh (tugas) samo teman." Aku menjawab dengan mencoba tenang. Berusaha mungkin aku menutupi rasa takut, cemas dan trauma tadi. Aku tidak mau menambah masalah lagi.             "Teman yang mano? Laki-laki tadi maksud kau? Memangnyo ado apo yang mengerjakan tugeh samapai tengah malam?" cecarnya masih curiga kepadaku. Aku jelas tidak akan bicara jujur.             "Ayah... Zahira baru pulang. Jangan tarlalu banyak bartanyo." Untungnya ada bundo yang bisa memahami aku. "Alah (sudah), kau mandi sano, istirahat yoo."             "Iyoo bundo, Zahira masuk dulu." Harusnya ayah bundo datang ke sini itu lusa tapi kenapa mereka tidak mengabariku kalau datang lebih cepat. Kami tidak banyak bicara karena memang suasana yang tidaklah enak untuk berbincang bertiga. Seusai aktivitas kita masing-masing, sudah waktunya kita tidur.            Aku membalikkan posisi tidurku yang miring untuk memastikan bundo sudah tidur atau belum, ia yang tidur miring menghadapku ternyata sudah terlelap. Ayah tidur di atas lantai karena tidak mungkin ranjang sekecil ini bisa menampung tiga tubuh orang dewasa.            "Kalau se bukan permintaan bundo kau, ayah ndak sudi menginjakkan kaki ayah ka siko." Tiba-tiba ayah bicara seperti itu. Aku sangat dibuat terkejut olehnya. Hatiku terasa sakit mendengar ucapan ayah. Ayah kenapa menyakiti hatiku segitunya? Ayah menutup mata dengan lengan di atas dahinya. Aku tau ayah bum tidur dan begitu sebaliknya.            Masih dengan posisi miring mengarah ke ayah. Aku membalas ucapannya lirih nan pelan. "Zahira minta maaf..." Namun, ayah membalikkan tubuhnya membelakangi ku. Sikap ayah masih dingin kepadaku. Ia seperti menciptakan peperangan denganku namun tidak. Aku tidak boleh membencinya semarah apapun ayah padaku. Mungkin, aku dikatakan anak durhaka yang tidak menuruti perintah orang tuanya namun aku sebagai anak punya pilihan dalam hidupku, apa yang harus aku lakukan adalah atas keinginanku bukan keinginan orang tuaku karena masa depan aku yang menjalaninya. Aku tau mana yang baik untukku. Karena memang, apa yang baik menurut orang tua belum tentu baik untuk masa depanku dan bisa saja terjadi sebaliknya tapi aku punya Allah yang senantiasa memberiku petunjuk.            Hari ini apa yang kujalani adalah untuk memberikan masa depan yang pasti demi diriku dan keluargaku. Aku ingin punya pendidikan tinggi untuk memperbaiki ekonomi keluargaku bukan aku yang menikah agar orang lain yang menanggung kesusahan ku. Tidak. Aku tidak mau bergantung dengan orang lain.            "Bundo, Zahira pai dulu ka kampus. Doakan Zahira yoo."            "Bundo akan selalu mendoakanmu, nak. Yang semangat yo balajanyo." Seusai aku menyalimi bundo, aku pun menghampiri ayah yang sedang makan gorengan. "Yah," aku mengulurkan tanganku dengan badan membungkuk. Ia bukannya menyambut tapi malah berdiri dan mengibaskan tangannya ke udara bermaksud memintaku menyingkir. Dengan segelas kopi yang ia bawa, ia mengacuhkanku.            "Alah kau pai se, (sudah kau pergi saja) jangan kau pikirkan ayah kau."            "Iya... Zahira pamit dulu. Assalamualaikum."            "Waalaikumsalam."           * * * * Di kampus aku merasa tidak bersemangat entah kenapa. Atau mungkin ini karena aku kelelahan. Hari ini aku sudah meminta cuti pada atasanku untungnya manager tersebut memberiku izin. "Ra... Nanti waktu kita KKN, kita bakal di tempatin di daerah mana, ya?" Aku sadar kalau ini bukan tentang aku kelelahan saja makanya aku jadi tidak bersemangat tapi pikiranku sibuk memikirkan alasan apa yang harus aku katakan pada kedua orang tuaku nanti kalau aku pulang tiap malam untuk bekerja. Ayah tidak mungkin sepercaya itu padaku bilang mengatakan alasan yang lagi-lagi sama.             "Ra!"             "Eh... Iya?" Aku dikejutkan oleh dua temanku, Ninda dan Yunda.             "Kok ngelamun, sih?"             "Ah... Iya, kenapa?" ulangku bertanya.             Ninda mendengus, "waktu nanti kita KKN, kita bakal pilih daerah mana?" tanyanya sedikit menekan kalimat pertanyannya.             "Emangnya nanti kita bakal satu kelompok?" tanyaku.             "Iya berdoa aja, Ra. Mana tau, 'kan kita sekelompok,” kata Yunda.             "Iya... Kita, 'kan mahasiswi dari pertanian, nih... Yang jelas kita pilih desa yang jarak ke kotanya gak terlalu jauh, rutenya bisa dilewati sama motor, dan yang pasti kita pilih desa yang pertaniannya masih belum maju dan butuh bantuan,” terangku.             "BETULLLLLL!!!!!!" Dua temanku yang cowok tiba-tiba datang mengagetkan kami.             "Akbar! Ilham!" seru Ninda berteriak.             Untung saja kita lagi di dalam kelas, bukan di perpus, udah pasti kita langsung diusir gara-gara mereka gaduh. "Eh, pokoknya kita mesti satu kelompok, yaaaa. Gue gak mau tau,” ujar Akbar sedikit ngotot.             "Gue gak mau ah satu kelompok sama orang yang bisanya nyusahin doang." Ninda membalas.             "Idih! Emang Lo pinter?"             "Pinterlah."             "Preettt! Satu kelas juga tau nilai Lo c nya buanyakkkk."             "Ih! Berisik Lo, ya!" Ninda hampir saja mau lempar hp kesayangannya tapi untungnya Ilham menahan tangannya.             "Jangan dilempar, mending buat gue. Nih, gue ganti sama botol minumnya Yunda."             "Ehhh! Jangan donggg! Mahal ini, bukan Tupperware kw."             "Aduh! Kalian ini berisik banget, kepala aku lagi pusing, tau ndak?!"             "Muka kamu pucat, Ra. Kamu izin, aja, yaa. Pulang aja. Nanti kita izinin."             Kayaknya ada benarnya juga mereka. Aku rasa, hari ini aku tidak bisa mengikuti mata kuliah. "Yaudah tolong ya ijinin. Aku pulang dulu."             "Mau dianter ga Ra?" tawar Akbar. Aku menggeleng.             Aku tidak langsung pulang melainkan aku mau ke ATM dulu. Aku dapat kabar kalau uang gajian sudah ditransfer. Aku sebenarnya mau kubelikan hp android seperti teman-temanku, tapi sayangnya terlalu mahal. Berat rasanya kalau beli barang-barang yang lain, aku cuma punya hp jadul yang cuma dipakai buat SMS dan telponan saja. Uang itu untuk biaya hidupku di sini, juga terkadang dipakai untuk bayaran-bayaran aku mengerjakan tugas seperti fotocopy, atau juga untuk aku pergi ke warnet karena tidak ada laptop.             "Zahira!" Aku menghentikan langkahku lantas menoleh ke belakang.             "Hai, kak."             "Gak masuk kelas?"             "Aku ijin dulu hari ini, gak enak badan."             "Oh, begitu ya, mau saya antar pulang?"             "Ah... Aku mau ke ATM dulu. Hari ini kita, 'kan gajian,” cengirku. Kak Ziko menepuk jidatnya, baru ingat.             "Yaudah pas banget, saya juga udah gak ada kelas lagi. Kita ke ATM bareng aja, ya."             "Boleh, deh."             Sesampai di ATM, kita berdua kaget waktu seseorang keluar dari ATM BCA. Aku refleks memegang tas kak Ziko erat. Jantungku berdebar cepat bukan karena orang yang sedang jatuh cinta tapi takut seakan sedang melihat makhluk yang menyeramkan.             "Kak...,” cicitku.             "Kamu jangan takut, ada saya,” bisik ia. Beno. Lelaki itu menyeringai ketika melihat ke arahku. Tapi, dia tidak melakukan apa-apa bahkan untuk berkata pun tidak. Kami hanya dilewati saja dan ku lihat dia masuk ke mobil, kalau tidak salah kulihat ada seorang perempuan di sana.             "Ra, kita langsung aja ya biar cepet pergi lagi."             "Iya kak." Seusai kami mengambil uang, kak Ziko mengajakku ke konter. Aku disuruh ikut saja sama dia karena takut kalau aku ditinggal sendirian nanti kenapa-napa.             "Engkoh yang pesanan saya yang kemaren mana?" Aku menunggu saja yang sedang kak Ziko lakukan. Tidak banyak bertanya.             "Ra,” panggilnya. Aku sedang berdiri di depan konter, tidak terlalu mengamati. "Ini buat kamu."             "Eh?" kaget aku. Dia memberikanku hp android? "Ini maksudnya apa kak?"             "Iya.. hp, waktu itu, 'kan  cerita kepengen punya hp kayak temen-temen kamu yang lain."             "Tapi... aku beneran gak ngode, lho, kak sumpah."             Kak Ziko tertawa. Mengabaikan ucapanku yang tadi. Aku jadi malu. "Udah terima aja. Kamu kalo pake hp ini, 'kan lumayan kalo mau browsing apa-apa mudah gitu, jadi kamu gak terlalu kesulitan. Tapi, maaf ya aku cuma bisa beliin yang second gitu."             "Ya ampun kak... Kakak pake uang gaji kakak ya?"             "Udah jangan dipikirin. Ambil, jangan kamu tolak."             "Aku beneran gak enak lho Kak."             "Hargai pemberian seseorang, oke?"             "Okey. Kalo Kakak memaksa." Kak Ziko dan aku akhirnya pergi pulang. Di tengah perjalanan kami berhenti saat lampu merah. Aku sangat bahagia sekali bisa dipertemukan dengan orang sebaik kak Ziko. Dia memang berperan seperti seorang kakak. Ah, aku jadi merindukan Uda yang terkadang ia pun selalu bersikap seperti seorang kakak kepada adik perempuannya.             Uda tidak pernah hilang dari pikiranku. Sama halnya ketika mataku tak sengaja menangkap sesuatu yang kebetulan sekali, ia memang hadir di pikiranku. Dan sekarang ia hadir di depan mataku. Tepat saat aku menoleh ke kanan, di sebelah motor yang ada di sampingku, aku melihat seorang lelaki yang sangat kukenali, di dalam mobil dengan kaca terbuka. Jelas aku melihatnya. Namun, lelaki itu tidak sendiri. Ada perempuan lain di sebelahnya... Mereka berbincang layaknya sepasang kekasih.             "Uda...." Hati ini seperti ditikam benda tajam. Menyakitkan bila dirasakan. Rasa sakitnya datangnya tiba-tiba tanpa kuduga.             Pada saat kusebut namanya pelan, entah apa, ia menoleh ke luar jendela saat seorang penjual tisu menjajakan tisunya. Tak lama, matanya menangkap diriku.             Kita saling memandang, sampai perlahan pandangan kami terputus dan menghilang. * * * * Aku gak mungkin salah lihat, aku yakin itu Uda Adit tapi siapa perempuan yang bersamanya di dalam mobil itu. Sejak pulang tadi, aku hanya duduk di atas ranjang sambil termenung memikirkan kejadian yang membuatku bingung harus bilang apa. Aku tidak punya nomor hp nya, kalau saja ada bisa aku hubungi ia saat ini juga. Selama ini aku mau memintanya dari bundo tiap kami sedang telphonan, tapi aku gak berani. Mengingat kejadian aku kabur dari pernikahan, aku takut bundo marah kepadaku dan menganggapku sebagai perempuan tidak tau malu terlebih aku memang ditentang keras untuk bisa bersama dengan Uda. Iya, ini hanya pikiranku saja, aku tidak tau bundo mendukungku atau tidak, melihat ayah yang bersikap seperti itu membuatku berpikiran bundo sama halnya akan berpihak pada ayah. Aku tidak pernah terbuka soal perasaanku terhadap Uda Adit kepada siapapun termasuk Bundo.             Mataku mengerjap cepat, aku langsung duduk tegap. Di balik bantalku, aku merasa ada benda yang bergetar. Waktu aku lihat itu ponsel bundo, ku lihat namanya, panggilan masuk dari Uda. Jelas aku sangat kaget. Uda menghubungi bundo, ada apa? Ponsel bundo mati. Tanpa berpikir panjang, aku menyimpan nomor Uda di hpku, pintu tetiba terbuka, ku sembunyikan di bawah bantal ponsel milik bundo.             "Ini bundo bawakan teh hangek buek Zahira, minumlah."             "Terima kasih bundo." Aku mengalihkan pikiranku dengan meminum pemberian bundo.             "Bundo tau kau berbohong kemarin malam," gerakan ku terhenti, kaku, mendadak aku merasa mulutku membisu. Pikiranku buntu. Aku tidak tau apa yang harus ku jawab setelah pernyataan itu. "Kau sebenarnyo habih dari mano? Ndak mungkin kau pulang selarut malam itu hanya karena mengerjakan tugeh."             "Awak indak bohong Bundo," aku tidak terbiasa berbohong tapi aku mau tetap menutupinya dan aku berusaha untuk itu.             "Jawab yang jujur!" Bundo membentakku untuk kali pertamanya. Ia berjalan menuju jendela, melihat ke arah lain yang lebih baik begitu daripada melihat anaknya yang sedang berbohong. "Bundo tau kau tak pandai berbohong. Katakan sajo yang sebenar-benarnyo."             "Kalau awak ceritakan pada Bundo, awak tau Bundo akan marah pada Zahira. Bundo ndak akan biso memahami Zahira. Jadi, untuang apo awak haruis cerito pada Bundo?" Bundo langsung membalikkan badan namun sebelum ia bicara, aku kembali menyelesaikan apa yang harus kukatakan. Ku tatap serius matanya yang mengeluarkan api amarah. "Zahira butuh dukungan bukan penghakiman atas apo yang Zahira lakukan." Ku tegaskan ucapanku pada bundo.             Api amarah bundo mulai pudar, ia duduk di hadapanku perlahan-lahan. Ku tundukkan wajahku, rasa berdosa telah membuatku takut bila apa yang kukatakan ini menyakiti bundoku.             "Maafkan Bundo... Bundo selama ini ndak pernah mendukung kau, Bundo hanyo biso mengikuti apo kata ayah kau sajo. Bundo ndak punyo kuaso karena apo yang bundo katakan ndak pernah ayah kau dengar. Kau tau itu, 'kan ayah kau orang yang paliang kareh (keras). Tapi, kau salah bilo berpikiran bundo indak pernah mendukung kau, bundo percayo apapun yang kau lakukan itu pastilah demi diri kau. Kau di siko bertahan hidup panuah perjuangan. Bundo tau apo yang sudah kau lakukan sejauh ini."             Aku merasa ada pesan tersirat dari apa yang bundo katakan, seperti bundo telah mengetahui kegiatanku di kota ini.             "Apo maksud bundo? Bundo sudah tau?" tanyaku. Badan ku tegap berubah posisi dari sebelumnya. Ku tak sabar dengan jawaban yang ingin ku dengar.             Tapi bundo terlihat ragu untuk menceritakannya, aku tetap memaksanya sampai bundo mau jujur kepadaku. * * * * Kebahagiaanku adalah ketika aku bisa membahagiakan kedua orang tuaku. Tidak mewah tapi kalau sederhana punya makna lebih besar dari itu, aku lebih memilih pilihan keduanya. Kepentinganku bisa kusampingkan. Mereka sudah jauh-jauh datang ke sini tapi hanya berdiam di kostan pasti akan membuat mereka jenuh. Untungnya saja bundo bisa membujuk ayah untuk pergi bersama aku dan bundo jalan-jalan untuk menikmati suasana di kota kembang ini.              Ayah masih bersikap dingin kepadaku. Tiap aku ingin membelikan sesuatu pada ayah, ia selalu menolak. Aku tidak pernah berhenti berusaha untuk mengambil hatinya kembali. Aku tidak mau jauh dari ayah, mau itu secara fisik ataupun batin.              Aku mau menciptakan suasana yang tenang, momen hanya untuk kami bertiga yang gak akan aku sia-siakan. Aku mengajak bundo dan ayah setelah makan, pergi ke puncak bukit bintang. Di sini, di atas puncak bintang ini, aku bisa melihat panorama keindahan kota Bandung yang membuatku merasa berada di atas awan, melihat banyak lampu yang bergemelap benderang layaknya bintang yang berkelap-kelip. Sangat cantik dan menarik. Sungguh menakjubkan di tambah angin malam yang membuat tubuh kami terasa dingin dan merasa sejuk.              Bundo sedang membeli minuman hangat untuk kami bertiga, jadi sekarang aku hanya berdua dengan ayah. Bundo memang sengaja untuk memberi waktu buat kami berdua, bundo ingin aku punya ruang supaya bisa bicara dengan ayah. Di depan ayah, bundo memang tidak bisa melakukan apa-apa karena tiap perkataannya, pendapatnya, tidak pernah didengarkan oleh ayah. Bundo dipaksa untuk selalu menurut perintah ayah karena ayahlah kepala keluarga dan yang berhak menentukan keputusan. Ayah tidak butuh pendapat siapapun. Kebungkaman bundo itu lebih baik, ayah selalu bilang pada bundo, bundo itu tidak tahu apa-apa, hanya perempuan yang lebih baik diam saja karena pendapatnya tidak harus didengar dan tidak perlu diberi kesempatan untuk bicara.              Ayah merasa karena dia lelaki, ya dia yang berhak untuk berkuasa. Sekali saja bila bundo menentang, ayah akan langsung bersikap kasar. Ayah orang yang paling keras, memiliki emosi yang tempramental dan berhati dingin. Dia merasa, dia lelaki yang apapun dilakukannya ya selalu benar.              Ayah tidak banyak bicara. Hanya diam saja. Aku tau dia tidak mau bicara padaku, iya aku sudah sangat mengecewakannya. Perlahan aku menggeser posisi dudukku. Kita berdua sama-sama hanya membisu dan memandang kota Bandung dari atas sini.              "Harusnya Zahira pulang, waktu dengar kaba ayah sempat sakik. (Sakit)" Ayah masih diam. "Tapi awak takuik ayah indak akan menerima kedatangan Zahira.               "Ayah, awak tau Ayah indak suko kalau Zahira kuliah, tapi apo yang awak lakukan nanti pun kan ayah raso. Indak pernah kah ayah memikirkan masa depan kito akan lebih baik lagi kalau Zahira bisa lulus jadi sarjana? Menjadi padusi yang dapek membanggakan ayah dan bundo ka kampuang."         "Kau pikir kalau kau sarjana biso melunasi hutang-hutang kito saat ini? Kau pikir sekarang kau bisa menanggung beban kehidupan kito? Ayah indak sama skali peduli dengan apo yang kau lakukan Zahira. Ayah capek hidup miskin kau tau itu ndak? Skalipun Adit masih berbaik hati dengan keluarga kito tapi ayah pantang hidup karena utang budi orang. Kau cukup menikah dengan orang kayo rayo maka kau bisa mengurangi beban kito."              Aku gak habis pikir dengan cara berpikirnya ayah, kenapa dia selalu menyuruh aku menikah terus. "Ayah pikir dengan awak menikah masalah kito, 'kan selesai?"              "Tentu sajo! Pemuda kemarin b a na-b a na serius dengan kau tapi kau dengan kurang ajar malah pergi tanpa ijin. Malu! Ayah malu! Wajah ayah mo ditaro ka mana karna ulah kau!" Dipukulnya d**a ayah berkali-kali dengan telapak tangan terkepal, menatap bengis wajahku dengan mata memerah dan berkaca-kaca.              "Tapi... Awak indak biso menikah dengan laki yang indak awak cinto." Aku cuma bisa tertunduk malu bila aku dengan beraninya menyebut nama lelaki yang aku cintai.              "Bermimpi sajo kalau kau mau menikah dengan Adit. Ayah indak akan pernah izinkan kau bersama Adit. Ingat siapa kau, derajat kau tidak lebih dari anak seorang b***k yang bekerja dengan majikannyo." Kemudian ayah pergi begitu saja setelah mengatakan kalimat menyakitkan yang benar-benar mematahkan mimpiku, cita-citaku dan cinta yang selama ini aku simpan dengan harapan Tuhan akan mengabulkan permohonanku. []
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN