Mariana
Tuhan saya sangat bersyukur hari ini saya masih diberi kesempatan untuk melanjutkan perjalanan. Tidak sekalipun ada niatan untuk berhenti di tengah jalan. Kegagalan ketika saya memilih menyerah dan semua berakhir sia-sia. Saya tidak ingin pergi jauh tanpa mendapatkan apa-apa. Barang sedikit ilmu yang saya dapatkan, saya berjanji akan memberikan pada mereka. Pada orang-orang yang ada di tanah kelahiran saya atau pada mereka yang ada di sekitar saya.
Tidak mudah melanjutkan pendidikan tinggi. Perjuangannya sangat berat untuk sampai ke titik ini. Mereka yang lebih beruntung dari saya bahkan dari segi finansialnya sangat disayangkan bila menyia-nyiakan apa yang sudah Tuhan beri.
Termasuk fisik yang sudah Tuhan ciptakan. Saya memang tidak secantik teman-teman baru saya, tapi saya selalu merawat diri saya untuk terlihat bersih dan rapi. Label Papua yang dibilang terbelakang, saya rasa sekarang sudah tidak lagi. Kami dan mereka tidak ada bedanya, saya pun sudah kenal dengan alat-alat make-up dan tubuh saya pun saya rasa aromanya sudah wangi. Kalau masih ada saja yang mengejek tubuh kami atau bilang aroma tubuh kami masih bau, mungkin mereka yang meledek itu punya mulut bau sekali tapi sayangnya mereka tidak menyadari.
Memang ada konsep di mana yang sudah tertanam pada pola pikir seseorang, menganggap orang dari timur itu jelek, bau, kotor dan bodoh. Tentu hal ini menjadi stigma yang melekat pada kami yang berasal dari timur dan timbulah perlakuan diskriminasi pada kami yang minoritas di Indonesia bagian barat.
Ada satu penulis dari Prancis, saya sangat mengagumi tiap tulisan yang berbuah dari pemikirannya yang mengedepankan hak-hak manusia, hak untuk berbicara, hak untuk mendapatkan kebebasan beragama dan keadilan yang harus diperjuangkan. Filsuf Voltaire, pernah mengatakan, "pada dasarnya semua manusia itu sama yang membedakan itu bukan keturunan tetapi kebenaran dan kebaikan." Saya pernah membaca kutipan di atas disebuah artikel dan dari situ saya mencari tulisan-tulisan dari penulis yang terkenal tajam dalam filsafat dan bagaimana ia mendukung kebebasan manusia.
"Mariana ada temen ko itu, sih, Zahira datang ka sini. Ko mo berangkat sama de kah?" Fika muncul dari balik pintu langsung rebahan di tempat tidur.
"Iya Fika," jawab saya setelah selesai berdandan di depan cermin. "Eh, ko jang lupa obat diminum. Sa su siapkan ka atas kulkas mace."
"Ko tara pi sama Bevan dan Dani kah?" tanyanya.
"Sa pergi sama Bevan dan Dani juga sudah." Saya sudah selesai merapikan rambut saya sekarang saya mau pamitan sama Fika. "Sa pi dulu eh." (Saya pergi dulu yah).
"Ya ko hati-hati toh. Jang ko berdekatan sama Syera. Itu manusia ular cuma bikin tambah masalah saja," nasihatnya.
Syera, iya dia memang manusia ular. Mahasiswi paling suka cari masalah dari dulu. Saya sangat menyayangkan sikapnya yang suka rasis pada ras kami. Padahal dia terlihat perempuan yang sangat cantik dan pintar tapi saya rasa dia belum bisa jadi perempuan yang berkualitas. Nilai atitude dan kemanusiaannya sangat kurang. Tidak ada rasa menghargai satu sama lain. Walaupun kami minoritas di sini tapi kami tetap manusia yang ingin diperlakukan seperti manusia juga.
"Zahira, Befan, Dani." Saya memanggil mereka karena ingin memberikan bekal makanan untuk ketiganya. "Sa pagi tadi baru buat sarapan untuk korang too." Saya membawakan tiga Tupperware kecil untuk mereka bertiga dengan warna yang berbeda-beda.
"Apa itu Mariana? Macam sedap eh." Sahut Dani. Padahal dia belum melihat apa isinya.
"Ko jang ambil yang ini. Ini Zahira punya. Ko punya warna pink." Saya memukul tangan Dani yang mau ambil warna hijau.
"Hei! Ko ini bagaimana kah, sa punya masa warna pink, sa malu nanti kalau teman-teman nan liat toh. Aishh!"
"Sa tara peduli!" dengusku singut. Dani ini sudah dibuatkan banyak sekali protesnya.
"Apo ini Mar?" tanya Zahira.
"Aunu Senebre."
"Au... Apa?"
"Aunu Senebre," jawab saya mengulang.
"Makanan apo itu? Makanan khas orang papua yo?"
"Iyyyooo Zahira," jawab Befan mengikuti logat orang Padang. "Ini makanan kam punya di sana. Biasanya kitorang makan itu pagi buat sarapan," kata Befan memberitahu salah satu makanan yang biasa dimakan oleh orang Papua tiap sarapan tapi masih ada makanan khas lainnya selain yang saya buat.
"Aunu Senebre ini dibuat dari nasi putih dicampur pake ikan teri dan daun talas. Habis itu dikukus." Jelas saya.
"Sampe?"
"Sampe aroma sedapnya tercium sudah. Ko mo makan silakan tapi jang sekarang, nan kita telat ke kampusnya too."
"Dani di mana kah?" Waktu Befan bertanya kita baru sadar setelah keluar dari asrama beberapa langkah, Dani tidak ada bersama kita. Saya bergegas ke asrama lagi dan dibuat heran sama kelakuan Dani yang ternyata makan di teras asrama. Befan dan Zahira melihat saya berdiri di depan pagar lantas menghampiri.
"Itu ko punya teman Befan," seruku memukul pundak Befan.
"Tara sudah (tidaklah) Dani bukan teman saya," balas Befan datar.
"Dani... Dani..," timpal Zahira sambil geleng-geleng kepala.
Saya, Befan dan Zahira cuma memandang Dani yang asyik makan kemudian Befan yang berdiri di tengah saya dan Zahira menoleh ke kanan kiri dan kami bertiga saling sepakat lewat isyarat mata, sebelum akhirnya kita bertiga teriakin namanya. "DANIIIIIIIIIIIII!!!" Dan ia tersedak ikan teri.
* * * *
Saya dan tiga teman saya pergi ke kampus naik angkot. Ada empat mahasiswa di dalamnya, dua perempuan dan dua lelaki. Ada juga warga Bandung asli, ibu-ibu yang membawa banyak belanjaan dan satu bapak.
"Sa mo makan ka sini saja sudah."
"Ko bisa makan nanti to, jang buat malu kitorang," omel saya pada Dani yang malah mau makan lagi di angkutan.
Dua ibu-ibu itu turun tidak lama dari kami masuk. Sisa tinggal seorang pria kurus. Saya sempat menangkap gestur empat mahasiswa itu menutup hidungnya. Dani yang mulai merasa tidak suka, sempat mencium bajunya bahkan secara terang-terangan dia mencium ketiaknya. "Eh kamorang kenapa liat kitong begitu toh. Tong sudah pada mandi, jadi badan kita punya sudah tra bau lagi." Sebenarnya sikap mereka yang seperti ini bukan sekali dua kali tapi sudah sering sekali sebab kita juga sudah lama menempuh pendidikan di sini, kami anggap sikap seperti itu biasa saja tapi memang ada rasa sakit bila melihat sikap mereka yang masih sama aja. Padahal kami sudah berusaha untuk lebih baik lagi dalam menjaga penampilan walaupun tetap darah Papua dari diri kita tidak akan hilang. Tapi setidaknya ada perubahan dari penampilan kami untuk lebih rapi lagi biar enak dipandang namun seharusnya mereka bisa saling menghargai. Kita berusaha untuk tidak dihina tapi tetaplah manusia ada saja yang selalu mencari celah orang lain untuk dihina.
"Kalian semua ini satu kampus, ya?" Bapak itu bertanya pada kami semua.
"Tong tara kenal dorang pace."
"Dani... Bahasa Indonesia,"
komentar saya dengan nada pelan tapi tajam.
Bapak itu tertawa. "Tidak apa-apa, saya mengerti maksud anak muda ini."
Bapak itu membenarkan posisi duduknya. "Tadi ibu-ibu yang bawa belanjaan, kalian pada liat, 'kan ada ayam, ada ikan. Pasti bau, 'kan? Amis. Bener, 'kan saya? Mereka dari pasar, kalian cium tidak baunya? Kalau saya jelas nyium, nahan daritadi. Ya risiko namanya juga naek angkutan umum ya. Bau bensin aja masih kecium."
Mereka tidak ada yang menjawab. Salah satu lelaki dengan ransel hitamnya cuma menundukkan kepala. Dan tiga lainnya mulai merasa seperti diintrogasi.
"Tapi kenapa waktu ada adek-adek ini pada tutup idung? Aya naon?"
"Mereka itu rata-rata bau Pak," jawab perempuan yang pakai cardigan megah muda.
"Lho, tapi saya gak mencium bau mereka." Mata bapak itu seketika membulat. Kaget sekaligus heran. "Hidung kamu ngadi-ngadi?" tanyanya selanjutnya. "Itu, sih, neng yang duduk deket mereka kayaknya gak kebauan, ya."
"Ndak pak."
"Nteu atuh," sahut bapak itu dengan berlogat Sunda. "Udah, jangan kayak gitu lagi. Gak sopan, masa ada orang di sini pada tutup hidung gitu. Mestina kita ini jaga sikap, jaga bahasa tubuh, saling menghargai. Kalo kayak tadi mah atuh bikin jelma pada tersinggung. Saya juga tersinggung kalian pada tutup hidung gitu. Jadi mikirna badan saya bau nteu? Aish aya-aya waeee."
Saya cuma bisa tahan tawa saja karena ucapan bapak itu. Ya Tuhan untung saja ada yang memihak kami. Padahal kami sudah sering bertanya terus terang. Kita tidak suka dengan sikap mereka yang seperti itu tapi tetap saja masih ada yang melakukannya.
"Bang kiri bang! Kiriiii!" teriak sih bapak sambil memukul langit-langit mobil. "Yang akur, yaaaa." Pesan bapak itu terakhir. Lantas ia pun pergi memasuki gang-gang kecil.
"Kita minta maaf ya... Karena sikap kita tadi jadi buat kalian gak nyaman." Cowok yang tadi tertunduk malu itu buka suara, sekaligus membuat kami terkejut.
"Tidak apa-apa. Yang penting kita cuma mau minta ke kalian, hargai kami saja. Kita semua sama toh? Sama-sama manusia, hanya berbeda rasnya saja."
"Betul! Awak setuju itu. Kita itu satu. Kita tidak boleh saling membedakan satu sama lain. Awak juga anak perantau. Awak juga minoritas di sini, kita saling menghargai sajolah."
"Yongkruuuuu!!!" seru Befan dan Dani.
"Yombex!" timpal Zahira meniru gaya bicara orang Papua. Kita semua sama-sama mentertawakan perbedaan diantara kami. Damai rasanya bisa saling berdampingan seperti ini.
* * * *
"Maria, Zahira, kam pi dulu eh. Sa sudah lapar skali too." Dani tiba-tiba menarik Befan untuk pergi bersamanya ke kantin. Oh, ya, saya lupa bilang kalau mereka berdua itu satu fakultas dengan saya sedangkan Fika itu mengambil bisnis manajemen, ya, karena papanya punya banyak minyak jadi dia mau jadi pengusaha dan belajar untuk mengolah hasil bumi.
"Dani kalau urusan poro itu tra bisa di tahan sdikit."
"Apo itu Poro Mar?"
"Perut," jawab saya datar. Mendengkus melihat Dani dari kejauhan yang menarik-narik Befan. Saya lantas bersama Zahira berjalan beriringan, hanya berdua saja pergi menuju fakultas masing-masing. Saya bersyukur sekali bisa berteman dengan Zahira. Dia orang yang punya pikiran luas dan tidak sempit. Dapat menerima perbedaan diantara sekelilingnya. Kita sering kali bertukar pikiran dan dari hal itu kita bisa menambah wawasan tentang banyak hal yang tidak kita tahu dari budaya dan adat istiadat yang berbeda. Andai saja banyak orang seperti Zahira, mungkin saja tidak ada lagi manusia lainnya yang bersikap rasial pada kami yang dari Papua atau bahkan dari yang berbagai ras dan asalnya yang bermacam-macam. Saya sudah berusaha terbuka dan bergaul dengan yang lainnya tapi hanya sedikit yang menerima dan banyak diantara yang lainnya masih sulit menerima keberadaan kami karena stigma negatif yang sudah tercap di diri kami yang berasal dari Papua.
Di saat kami sedang mengobrol seru membahas budaya satu sama lain. Kami berpapasan dengan dosen Leonna.
"Ibu Leonna," sapa kami berdua.
"Hei, Maria, Zahira. Tumben kalian dateng berdua?"
"Kita ada jam pagi juga, bu," jawab saya.
"Tapi ndak berdua juga, sih, Bu tadi ada Dani dan Befan juga. Cuma pada pergi ke kantin," tambah Zahira.
"Oh gitu, eh, hari ini kebetulan nanti siang saya mau jemput anaknya temen saya tapi saya males kalo sendirian. Kalian mau temenin saya gak?"
"Ah, ibu maaf sebelumnyo, kalau awak ndak bisa temenin sepertinyo. Soalnyo ada Bundo dan ayah mau datang ke kosan, jadi saya mau beres-beres kosan dulu," balas Zahira tak enak hati.
"Oh, gitu yaa."
"Tapi saya bisa temenin ibu jemput anak temen ibu," jawab saya. Hari ini jadwal saya tidak terlalu padat. Jadi, bisa-bisa saja saya menemani ibu dosen.
"Oh, oke kalo gitu. Nanti saya hubungi kamu, ya. Ya sudah kita ke kelas aja sekarang."
"Iyoo, awak duluan Yo, Mar, ibu." Pamit Zahira lebih dulu karena ia berbeda tujuan dengan kami.
Lalu, saya berpisah dengan ibu Leonna karena ia mengajar di kelas lain. Saya sempat berpapasan juga di depan kelas dengan Syera, Erik pacarnya dan Windi sahabatnya. Mereka mengambil mata kuliah di kelas yang sama dengan saya sedangkan Befan dan Dani di kelas lain. Mereka melempar pandangan sinis terhadap saya tapi tidak saya pedulikan. Saya tidak mau terkena masalah. Lebih baik diam dan sabar daripada terpancing emosi akhirnya menguras tenaga.
Dosen yang menghadiri kelas kami bernama Pak Surya. Ia pengganti dosen mata kuliah hukum pidana karena dosen saya hari ini berhalangan jadi beliaulah yang mengajar. Hari ini ada tugas presentasi individu. Saya sudah siap bila nama saya dipanggil nanti. Tapi, di saat dosen ini memperkenalkan dirinya, kenapa saya merasa aura yang tidak enak dari tatapannya sejak tadi. Matanya terasa seperti sedang mengintimidasi saya. Ya, saya tahu saya yang paling mencolok diantara yang lainnya dengan kulit tubuh saya dan rambut keriting saya.
"Mariana..." Dia memanggil nama saya sebab setelah berbincang tadi ia mengabsen nama kami.
"Saya Pak."
"Asal mana kamu?"
"Papua Pak."
"Dari Papua?" Nadanya terdengar terkejut tapi mimik wajahnya tidak terlihat seperti terkejut. Hanya menampilkan setengah senyum yang saya tidak paham dengan arti senyumannya tapi saya juga tidak bisa berspekulasi apa-apa. Rasa tidak nyaman jelas ada. Terlebih saya sendiri di sini, paling terasa minoritasnya.
"Jauh yaa, kamu tinggalnya di sana di pedalaman ya? Di dalem hutan gitu?" Beberapa yang saya terdengar tertawa samar-samar mendengar pertanyaan dari dosen di depan saya. "Lho? Kenapa? Di sana, 'kan tinggalnya di hutan, 'kan? Benar, 'kan saya?"
"Tidak bapak. Di Papua kita punya kota yang sangat besar. Tidak semua tinggal di pedalaman saja."
"Iyaaa... Tapi jelas lebih enak tinggal di sini, 'kan? Di sana internet pasti jarang banget ditemukan."
"Tidak bapak. Internet di sana jelas sudah ada. Apalagi di kota-kota besar."
"Oh, gitu." Tapi tetap Pak Surya masih ingin bertanya pada saya tentang Papua hanya saja pertanyaan yang ia berikan itu konyol semua.
"Kalo di sana sudah ada kota besar, udah ada insfratruktur pembangunan berarti udah ada Mall dong di sana, udah ada jalan besar juga, berarti sudah mulai modern yaa. Tapi, saya rasa kamu itu bukan dari kota tapi dari desa, ya, hutan gitu. Hidupnya pasti masih primitif, benar gak saya?" selorohnya yang ujungnya dia tengah menyindir saya.
"Pak!" Syera angkat tangan. "Coba bapak tanyain ke Maria, makannya masih makan binatang di hutan gak, kayak makan ulat hidup gitu iyuuhhh atau masih doyan makan sagu. Terus sekalian pak tanyain ada beras gak di sana? Udah pernah jajal makan nasi belum?" Berborong Syera mempertanyakan pertanyaan yang membuat saya terpojok. Dan dia semakin senang dan gencar mempermalukan saya sampai-sampai saya menjadi bahan tertawaan mereka.
"Nah, pertanyaan dari saya, kalian kalo makan itu, dimasak dulu atau gak? Atau langsung di makan mentah-mentah gitu?" tanyanya dengan mimik wajah seolah tengah jijik pada sesuatu.
"Pertanyaan konyol." Ibu Leonna menyambar pertanyaan pak Surya dengan jawaban yang tak disangka-sangka bisa keluar dari mulut ia. Ia berdiri di ambang pintu dengan kedua tangan terlipat di depan d**a. Berdiri miring dengan bersender di sisi pintu. Semua orang yang ada di dalam kelas ini jelas dibuat kaget oleh kehadiran Ibu Leonna di tengah-tengah kami. Ia pun kembali melanjutkan ucapannya. "Makanya main-main ke Papua, jangan di sini-sini aja. Indonesia itu luas. Kalian ini orang kota tapi pertanyaannya udah kayak orang dusun. Sumber internet banyak yang menceritakan tentang kemajuan Papua, jadi generasi yang muda jangan malas membaca dan bapak harusnya malu, masa wawasan bapak kurang tentang bagian Indonesia. Malu-maluin aja kalian semua ini."
Saya bergembira dalam hati atas penuturannya yang telah membela saya. Tidak ada yang berani menjawab perkataan ibu Leonna, selain tegas ia juga sangat disegani di kampus ini karena pemikirannya yang kritis dan tajam. Selepas pamit pergi, pelajaran pun dimulai. Satu per satu nama dipanggil untuk menyelesaikan tugas presentasi ke depan. Menjelaskan materi yang sudah didapat masing-masing.
"Bapak nama saya kelewat. Harusnya saya dulu." Namun, pak Surya tidak mendengar protesan saya melainkan ia tetap meminta mahasiswi di depan sana yang namanya di bawah saya itu untuk segera menjelaskan materinya. Tapi sampai absen terakhir, nama saya tidak juga disebutkan.
"Bapak nama saya belum dipanggil?" Saya sudah bertanya dengan suara lantang tapi tidak dihiraukan.
"Oke, pelajaran hari ini saya anggap selesai." Pak Surya segera pergi. Ketika saya mau menyusul Syera sudah menahan saya.
"Udah terima aja kali kalo Lo gak bisa presentasi hari ini. Lagian siapa juga yang mau dengerin penjelasan Lo di depan. Gak. ada!" ujarnya sinis dengan penekanan intonasi di ujung kalimat. Kemudian ia pergi bersama pacar dan sahabatnya.
Kepala saya sudah panas ingin meledak. Mau sampai kapan saya harus bersabar seperti ini. Tapi apa yang harus saya lakukan juga, saya tidak mau punya masalah atau berujung saya yang dibilang mencari masalah hanya untuk mendapatkan hak berpendapat. Ini mereka punya rumah. Saya jadi merasa rendah diri lagi. Saya merasa tidak punya hak apa-apa untuk berbicara. Saya merasa malu dan takut untuk kembali bersuara. Tidak ada yang mendengar saya. Tidak adakah keadilan bagi saya.
* * * *
Anak yang dijemput oleh saya dan ibu Leonna ini masih SD. Ia sudah berumur tujuh tahun. Anak tersebut bernama Kartika. Ia masih kelas satu SD. Banyak ibu-ibu yang menunggu anaknya pulang sekolah. Tapi, banyak juga dari mereka yang memerhatikan ibu Leonna.
"Ibunya mendadak harus hadiri rapat, gantiin atasannya yang berhalangan. Kartika ini juga punya kakak, namanya Lestari. Kamu tau dia ini anaknya gigih banget, cita-citanya itu mau jadi atletik. Tapi sayangnya dia punya kekurangan."
"Kekurangan?"
"Kakinya yang satu diamputasi. Jadi, dia cuma punya kaki kanan aja. Itu semua karena dia sempat kecelakaan."
"Ya Tuhan, kasian skali eh, padahal dia masih muda ibu Leonna. Sa yakin de besar nan pasti bisa menginsipirasi banyak orang, benar toh?"
"Yongkru," jawab Ibu Leonna jadi terbiasa bicara dengan logat Papua. Dia dosen paling dekat dengan saya. Selalu melindungi saya dari tindakan diskrimasi dari teman-teman non Papua atau dosen yang saya menyayangkan sikapnya sangat tidak mencerminkan orang yang berpendidikan. Seperti halnya yang pak Surya lakukan pada saya. Ini bukan satu cerita dari saya saja tapi banyak yang saya yakini merasakan hal yang sama seperti saya dari tindakan-tindakan dikriminasi.
"Teh maaf... Ini blazer teteh kotor di belakangnya, biar saya bersihkan ya." Ibu yang rambut panjangnya diurai itu menginterupsi obrolan kami tiba-tiba.
"Oh, yaa, makasih bu, biar saya aja." Ibu Leonna pun melepaskan blazer yang ia kenakan. Sekitar tiga orang, ibu-ibu yang duduk dekat kami tidak pernah melepas pandangannya dari tato yang tersemat di tubuh ibu Leonna. Ibu Leonna sangat sadar bila ia sedang diperhatikan.
"Astagfirullah!" kaget sih ibu ketika memandangi tubuh ibu Leonna yang terpampang jelas di mana tato-tato itu berada.
"Ih, sih, teteh ini kok tatoan badannya, sih. Banyak lagi. Kira saya perempuan baik-baik gitu dari penampilannya, ya," celetuk ibu berlipstick merah nyala.
"Pasti bukan perempuan bener," bisik ibu satunya lagi yang duduk di sebelahnya.
"Perempuan mah atuh mbak jangan tatoan, gak bagus diliatnya juga. Keliatan bukan perempuan bener."
Ibu Leonna tidak terlihat tersinggung tapi saya rasa ada di hatinya namun tidak ia tunjukkan. Tersenyum simpul adalah caranya ia menghadapi ucapan-ucapan negatif dari ibu-ibu itu.
"Saya boleh bertanya pada ibu-ibu?" Mendapati ibu Leonna buka suara, mereka melempar tatapan ketidaksukaannya bahkan kesinisan diberikan secara terang-terangan.
"Kenapa kita sering kali menilai seseorang hanya dari penampilannya saja? Bagaimana ibu-ibu bisa menilai moral seseorang hanya dari pandangan semata saja bahkan ibu sekalian belum tau siapa saya, bagaimana kehidupan saya, apa saja prestasi yang sudah saya dapatkan? Saya seorang dosen, lho, tapi saya bertato. Bisa menilai saya dari apa yang udah saya dapatkan? Prestasi misalnya yang saya bilang sebelumnya?"
"Tapi tetap aja mbak, perempuan itu gak ada bagus-bagusnya bertato. Keliatan kayak perempuan liar, mending enak dipandang lah ini nggak."
"Ini pilihan hidup seseorang, saya bertato itu udah pilihan hidup saya. Saya tidak menjalani hidup saya dengan apa yang dikatakan orang lain atau mengikuti ekspetasi orang lain." Dengan secara tegas dan lugas ibu Leonna menyampaikan keresahan, penjelasan namun tidak semua bisa dipahami oleh mereka karena saya paham, setereotip yang negatif sudah tertanam di pola pikir seseorang dan sulit diubah bila orang tersebut tidak ingin membuka pikirannya lebih luas lagi.
"Tante Anna!!!" Kartika yang dimaksud telah datang berlari ke kami. Sempat kaget melihat saya tapi saya hanya tersenyum. Wajah ibu Leonna yang sempat kaku tadi jadi menampakkan senyuman ketika Kartika datang.
"Dari tadi ya nungguin Tika?"
"Nggak kok sayang." Ibu Leonna memakai blazzernya lagi lantas kita berdua bangun. "Saya permisi dulu, iya, ibu-ibu." Tidak banyak bicara kami pun pamit untuk pulang ke rumah. Hari ini ada banyak kejadian yang pada akhirnya memberikan pelajaran yang bisa saya ambil untuk masa depan. Sebagai kaum yang minoritas tidak pantas rasanya dipinggirkan dan merasa lebih baik dari pada kelompok atau ras yang lainnya. Perbedaan itu pasti ada, apa salahnya menghargai satu sama lainnya. Dan bagaimana bersikap, bagaimana menilai seseorang. Tolak ukur moral saya tidak tau dilihat dari segi apa selain tindakan dan prilaku seseorang namun secara di lapangan, jelas orang asing akan melihat dan menilainya dari apa yang ia lihat, dari penampilan sebagai tolak ukurnya padahal semua itu tidak bisa menunjukkan yang sebenarnya.
[]