Leonna
Stigma negatif, diskriminasi, dan langsung dilabeli dengan kata “perempuan nakal” itu udah sering banget gue rasain. Gue sebenarnya tidak tertarik dengan model satu itu apalagi kalau mengingat insiden malam itu. Usaha gue berantakan padahal kalau gue dapat hasil dari usaha gue itu, gue bisa menabung untuk kebutuhan anak-anak jalanan ini.
“Waktunya makan malam!!!” Gue biasanya suka datang ke suatu kampung, daerah pinggiran kota yang terletak beberapa belasan kilometer dari gemerlapnya kota Bandung. Kampungnya dekat kali yang sudah tercemar banyak sampah.
“Satu... Dua... Tiga... Empat... Lima... Enam. Oke pas! Jangan berebutan, yaa. Udah gue bagi, nih. Jangan berebutan awas Lo!”
“Yeyyyyy makannnn!” serbu mereka. Tapi langsung gue tahan.
“Berdoa dulu, hey!”
“Oh, iya lupa," cengir Aceng, sih anak berambut pirang.
“Yaudah baca doa dulu.” Perintah gue. Selesai baca doa baru, deh, tuh makanan diserbu abis sama dia orang.
“Emh... Enakkkkk. Masakan kakak emang gak ada juaranya.” Gempal. Dia bocah yang gue pertama kalinya ketemu ia ngamen di bus tiap gue pulang kerja.
Gempal, Aceng, Madun, Jaka, Rere dan Cici. Keenam anak ini penghuni dari kampung ini. Yang paling besar dan rata-rata mereka seumuran anak SMP tapi sayangnya ada yang putus sekolah dan ada juga yang tidak pernah duduk di bangku sekolah. Karena Gempal lah gue bisa ketemu sama teman-temannya. Dan hati nurani gue seakan ingin ada untuk mereka. Gue emang bukan siapa-siapa. Gue bukan orang yang punya banyak harta karena dulu juga gue orang susah. Gak punya apa-apa. Tapi, gue kepengen aja kalau gue udah punya uang dari hasil kerja gue sendiri, gue mau melakukan suatu hal, sederhana aja untuk orang-orang yang pernah ada di posisi gue. Bahkan lebih dari posisi gue.
“Oke, sekarang gue mau kalian belajar, yaaaa. Nih, gue udah bawain buku-buku buat kalian.”
“Ah, maleslah kak. Buat apa belajar? Kita, kan gak sekolah," ringis Gempal melas.
“Iya, kak Aceng juga males," sahut Aceng.
“Rere juga kak. Udah gak ada niat," timpal Rere kemudian.
Sambil bertolak pinggang. Gue melempar tatapan galak ke mereka. “Eh, kok jadi pada gak ada yang mau belajar, sih!?” Gue udah mulai naik pitam, nih.
“Yah, buat apa juga belajar kak toh nasib kita juga gini-gini aja. Gak ada yang berubah. Masih tetep jadi anak gelandangan. Yang masa depannya aja udah jelas gak ada," jelas Aceng.
“Gak cerahhhhhh!!!” Gempal mendramatisir ucapannya.
“Tapi Cici mau belajar. Soalnya Cici belom pernah ngerasain bangku sekolah,” celetuk Cici tiba-tiba. Mengatakan kalimat yang sebaliknya dari mereka bertiga.
“Iya, Madun juga. Tapi Madun gak bisa baca buku kak. Ngeliatin hurufnya doang juga sama aja boong," melas Madun.
“Madun, Cici, buat apa belajar?” tanya Jaka sinis. “Kalian belajar juga apa bakal bisa masuk sekolah? Kagak! Belajar sampe mampus, percuma kalian gak bakalan bisa bersaing sama anak-anak orang kaya," ucapnya semakin buat Cici dan Madun jadi pesimis.
“Jaka, Rere, Gempal, Aceng. Denger, ya. Nasib kalian emang gak sebagus anak-anak yang lain tapi kalo kalian ada niatan usaha pasti nasib kalian bakal berubah kok. Percaya sama kakak. Karena kakak udah pernah rasain semua itu," yakinku berusaha memotivasi mereka.
“Kita jangan samain sama kakak!” Jaka mulai marah. Dia berdiri dari duduknya. “Nasib kita dari kecil emang udah susah. Orang tua kita aja gak ada yang mampu nyekolahin kita." Jaka menunjuk dirinya. "Jaka? Jaka dari kecil gak tau orang tuanya siapa. Tau-tau besar udah hidup di jalanan. Jadi mau mengubah nasib, ya liat-liat dulu orangnya berasal dari mana. Kalian, kalian yang emang udah susah dari kecil, susah ya susah aja. Jangan bermimpi jadi orang besar.” Setelah itu Jaka berlari meninggalkan kami.
“JAKA!!! JAKAAAAA!!!”
Bahkan panggilan gue pun tidak dipedulikan. Gempal, Rere, Aceng pun pergi tanpa pamit pada gue. “Pal, Re, Aceng... Jangan pergi.” Gue sudah menahan mereka tapi tetap gue diabaikan.
Pandangan gue pun teralih pada Cici yang perlahan menaruh buku cerita yang gue belikan itu ke atas tikar. “Yang Jaka bilang benar, darah kita itu udah susah. Susah ya susah aja.” Madun pun pergi tanpa kucegah. Sekarang tinggal Cici. “Cici juga mau pergi ninggalin kakak?” tanya gue pelan. Cici mendongak takut. Ia mengangguk. “Iya, sudah, Cici boleh pulang.” Sekarang tinggal gue seorang diri. Duduk lagi sambil memeluk buku cerita yang Cici pegang tadi.
Gue prihatin dengan pola pikir mereka. Gue gak mau mereka terkungkung pada pola pikiran yang pada akhirnya membuat kehidupan mereka terasa tidak ada gunanya. Gue sadar, ini tantangan yang harus gue hadapi kalau gue mau dapetin tujuan gue.
Gue Cuma mau mereka sekolah. Bisa sekolah. Udah itu aja.
* * * *
Pikiran gue kadang kalau suka kalang kabut seneng aja gitu jalan-jalan menikmati udara malam di kota Bandung. Buku-buku yang gue belikan untuk keenam anak itu sudah ada di dalam tas gue. Iya, gue udah kayak traveler aja penampilannya. Dengan celana model tentara favorit gue dan kaos oblong warna putih yang gue emang suka mengenakan pakaian dengan warna-warna yang kontras dengan kulit gue.
Rasanya itu tenang. Berjalan di sepanjang jalan yang pinggirannya banyak jajaran kaki lima. Melihat kebersamaan keluarga, kerabat, teman-teman yang saling berkumpul. Bahkan yang lagi pacaran pun ada. Suasana ramai memang kadang membuat gue merasa kesepian, ya jelas orang gue sendirian. Tapi, hal itulah yang menenangkan. Walau gue juga merasa iri, sih. Kapan ya gue bisa merasakan kebahagiaan bersama orang-orang yang benar-benar ada dan sayang buat diri gue. Dulu, memang Eryna yang selalu menemani gue tapi ketika dia sudah menikah, waktu kami jelas berkurang karena kesibukan masing-masing meskipun tetap kita akan berusaha untuk menyediakan waktu buat bertemu. Sedih, sih, waktu sahabat sendiri udah mulai menjalani fase kehidupan selanjutnya tapi gue tetap bahagia pada saat itu.
Jujur, gue kok agak kangen ya sama seseorang. Kapan gue butuh seseorang walaupun gue gak pernah minta tolong ke dia tetap dia dengan inisiatifnya menawarkan dirinya untuk melakukan sesuatu hal yang gue butuhin.
Tian. Tempo hari gue sempat marah ke dia karena membahas komitmen dan pernikahan. Dia emang ada niat serius sama gue tapi gue belum bisa terima dia. Ada ketakutan tersendiri bagi gue dan gue sendiri belum bisa menerima orang jauh lebih masuk lagi ke dalam kehidupan gue.
“Sendirian aja?”
“Eh?”
“Mau naik Vespanya neng?”
“Tian?!”
Tanpa izin, tanpa aba-aba dia menarik tangan gue. Entah dorongan dari mana gue malah naik ke motornya dan membiarkannya membawa gue mengelilingi kota Bandung di malam hari.
“Udah makan belum?” tanyanya, memundurkan sedikit punggungnya.
“Apaaa???” tanya gue sedikit kencang karena angin dan suara kendaraan lainnya menggangu pendengaran gue.
Dia mencondongkan lehernya ke belakang dan memutar kepalanya ke samping tapi matanya melirik gue, “kamu udah makan belum?!”
“Oh, udahhh!”
“Oke!”
Gue sebenarnya bingung, sih, maksud dia ini. Dan kenapa juga dia bisa menemukan gue? Kenapa dia bisa hadir disaat gue memang membutuhkannya walau gue nggak pernah mengatakannya langsung dan kenapa dia masih berbaik hati pada gue setelah penolakan gue secara terang-terangan tempo hari?
“Oke, kita udah sampai.”
“Ini, ‘kan taman Asia Afrika.”
Kata gue ketika turun dari motornya. Masih bingung kenapa dia mengajak gue ke sini.
“Kiara Artha Park membangun konsep Asia-Afrika. Kamu bisa liat di sini lima monumen patung d**a pencetus KAA, konferensi Asia-Afrika dan yah tujuanku ke sini kita bisa liat air mancur Kiaracondong. Waktu itu kamu pernah mau ke sini tapi belum pernah ada waktunya karena sangking sibuknya kamu ngurusin mahasiswa-mahasiswa kamu, ‘kan?” Dia ternyata masih ingat keinginan gue. Padahal itu udah lama banget. Gue aja udah lupa. “Dan sekarang...” Dia lagi-lagi menggandeng tangan gue tanpa melepas pandangannya... Ke mata gue.
“Aku wujud-in ya malam ini.”
Gue lagi gak mimpi, ‘kan ini?
* * * *
Siapa, sih, yang gak tau air mancur Kiaracondong. Proyek dari Kiara Artha Park, di Taman Asia Afrika yang ada di Bandung dan danau mini yang terletak di taman tersebut terdapat beberapa titik air mancur yang menari-nari dengan memberikan cahaya yang berwarna, begitu menarik perhatian pasang mata dan siapa coba yang gak terpukau melihat keindahannya?
Banyak banget wisatawan yang datang menikmati keindahan yang ada di depan mata mereka. Ada yang sibuk berfoto dengan air mancur sebagai backgroundnya. Ada yang benar-benar menikmati aktraksi air mancur yang menari-nari itu sesuai dengan irama musik---tanpa melakukan apa-apa. Hanya dinikmati saja seperti yang gue lakuin saat ini.
“Setressnya udah hilang belum?” Gue menoleh. Ternyata Tian sedang memerhatikan gue? Astaga. Gak. Gak. Kok dah mulai kegeeran gini, sih, gue? Jangan gila Lo Len.
“Ya...” Gue buang muka. “Udah kok.” Senyum gue Cuma gue tunjukkin ke apa yang gue liat bukan ke Tian walau gue tau Tian bisa melihat sendiri ekspresi wajah gue. Tapi, kayak kepala gue baru aja kena gebuk, gue baru sadar sama ucapan gue. Maksud gue...
“Eh, nggak... Bukan...” Gue memejamkan mata. Menyusun kalimat yang sebenarnya udah berantakan di otak gue.
“Siapa bilang kalo gue lagi stress?” tanya gue telak. Dan gue udah berani buat natap matanya langsung.
“Keliatan kok dari mukanya.”
“Muka gue emang gini. Gak usah ngeledek, deh.” Gue tinggalin aja dia. Dia manggilin gue dari belakang juga bodoamat. Emang gue pikirin. Tapi gue tau kok dia gak ngejar Cuma menyusul dengan berjalan santai.
Cuman kok gue jadi aneh gini, sih, malam ini? Kenapa gue harus ngerasa salah tingkah di dekat dia, sih? Gue gak marah barusan, cuman gue mau menutupi rasa malu gue... Dan debaran jantung gue yang buat gue gak tahan.
Mata gue terbelalak ketika tangan kekar dari seorang lelaki merangkul gue dari samping yang kini berjalan beriringan di samping gue.
“Maaf ya untuk waktu itu.” Gue fokus menatap dia sampai matanya pun membalas tatapan gue. “Seharusnya aku gak memaksa seseorang untuk menerima perasaan dari lelaki yang memang benar-benar mencintai dia.” Gue gak menjawab apa-apa. Gue biarkan semuanya berjalan dengan semestinya malam ini. Gue Cuma bisa melihat orang-orang yang gue lewati di sana dengan aktivitasnya masing-masing dalam perasaan yang gue sendiri gak bisa memahaminya. Dengan di samping gue, lelaki yang masih setia merangkul gue tanpa gue beri dia penolakan untuk kesekian kalinya.
* * * *
Kiara Artha Park ini selain air mancurnya yang fantastis, juga ada fasilitas trem yakni bus untuk mengelilingi Kampung Korea yang ada di Kiara Artha Park. Suasana di malam harinya terasa seperti di Korea ya karena konsepnya ala-ala negeri ginseng bisa gue liat dimulai dari bangunannya khasnya dilengkapi furniture Korea, belum lagi dari souvernir yang gue liat bersama Tian bahkan dia mau membelikan gue pernak-pernik Korea yang lucu namun gue menolak. Sempat juga dia mengajak gue buat foto-foto yaa bagus banget, sih, sebenarnya spotnya tapi gue sempat kaku gitu kalau diajak foto.
“Bagus, nih," komentarnya melihat hasilnya. “Bagus gak?” tanya dia menyodorkan fotonya ke gue. Cuma melihat sekilas, gue langsung bilang. “Gak! Muka gue jelek di situ.” Terus gue langsung pergi cari makan. Tian berjalan di belakang gue sibuk dengan hasil jepretan tadi. Gak lengkap kalau udah menikmati suasana Korea tapi gak nyicipin makanan khasnya kayak tteokboki, bibimbap, jjangmyeon, dan lainnya. Tapi, gue menemukan juga makanan Nusantara apalagi ada makanan kesukaan gue mie tek-tek.
Di sini tempatnya rame banget, hampir gue gak menemukan tempat kosong untuk duduk. Tapi Tian dengan cekatan sudah menemukannya lebih dulu. Akhirnya kita menemukan meja yang berselebehan dengan komunitas K-Pop yang sedang berkumpul yang gue gak sengaja dengar lagi membahas tentang berbau Korea.
Beberapa menit kemudian, kami sudah menikmati sajian yang dihidangkan.
“Suka banget sama tato, ya?”
Gue mendongak dengan mulut masih menyeruput mie. Kedua alis gue terangkat, maksudnya kek memberi isyarat, “apa?”
Dia menunjuk pundak gue. Gue pun Cuma sekilas melirik pundak gue. Abis itu pasang muka cuek lagi. “Sampe nambah gitu, berarti kamu suka banget sama tato.” Aneh, dia yang nanya dia yang jawab.
“Emang apa, sih, makna dari semua tato-tato kamu itu?” tanya dia lagi. Gue pun menaruh sumpit ke atas mangkuk. Memangku dagu dengan kedua tangan. Meniru gestur tubuhnya.
“Kenapa baru sekarang nanyanya? Kenapa gak dari awal kita kenal?”
“Karena aku belum berani. Aku rasa itu privasi. Dan aku kita belum sedekat seperti sekarang.”
“Kalau lo udah tau itu privasi, berarti gue gak ada keharusan buat jawab pertanyaan Lo, ‘kan?”
“Yah... Ternyata sulit buat yakinin kamu itu yaa, bahkan hanya untuk pertanyaan sederhana aja.”
Sejauh ini Tian memang selalu meyakini niatnya kalau dia emang serius sama gue tapi ada sisi hati gue yang lain selalu menolak kehadiran seseorang. Ketakutan itu pasti selalu muncul disaat gue berusaha untuk yakin dalam pilihan tapi goyah disaat waktu yang seharusnya gue bisa melangkah lagi.
Sebenarnya gue udah sejauh mana, sih berlari? Kenapa Tuhan menghadirkan Tian disaat gue sedang tersesat? Kenapa harus Tian? Dia baik. Dia sempurna. Dari segi fisik, finansial, wawasan, dan latar belakangnya ia berasal. Bila disandingkan dengan gue, ya gue merasa gak pantas untuknya. Mungkin gue berpikir gue gak akan bisa membagi dunia gue ke dia tapi gue rasa gue bisa terbuka sedikit untuk dia tau siapa gue. Siapa tau dengan dia tau siapa gue sebenarnya, dia bakal menjauh.
“Tato itu pelampiasan gue.” Tadinya Tian Cuma mau menyibukkan dirinya yang kecewa dengan mengaduk minumannya tapi ketika gue bersuara, dia mulai menatap gue. Mulai tertarik dengan apa yang akan gue katakan selanjutnya. “Kalo gue ceritain, itu berarti gue membuka luka lama.” Dia tetiba menggenggam satu tangan gue.
“Aku ada buat kamu Len.”
“Mungkin.”
“Mungkin?”
“Sekarang Lo memang bisa ada untuk gue tapi gak tau deh nanti kalo Lo tau gue siapa.” Jawab gue yang tujuannya untuk ngetes dia. Anggap saja gue sedang menantang dia sampai sejauh mana dia bertahan.
“Ceritain aja, kalau aku tau siapa kamu baru aku akan menentukan harus lanjut atau berhenti sampai di sini.”
Jantung ini seperti dipaksa berhenti bekerja. Hati terasa diremas kuat bersamaan ragu itu ada. Bisikan mengatakan takut dia akan pergi setelah tau yang sebenarnya namun ini pilihannya. Yang harus gue jalani untuk kedua kalinya. Lagi, dan apakah akan berakhir sama seperti sebelum-sebelumnya?
* * * *
Di tengah jalan motor Tian mogok. Terpaksa kita berdua berjalan kaki sambil mencari tukang bengkel. Tapi gue gak yakin kalau bengkel bakal buka jam segini.
“Udah jam sepuluh. Emang masih ada yang buka?”
“Coba aja. Gapapa, ‘kan jalan kaki?”
“Ya gapapalah. Bukan masalah besar bagi gue. Tapi gak tau kalo Lo, secara Lo anak dari keluarga berada. Pasti gak terbiasa.”
“Kata siapa?”
“Ya kata guelah.”
“Itu, ‘kan menurut kamu.” Gue tersenyum miring. “Jadi gimana kelanjutannya?” tanya dia.
“Tentang apa?”
“Tato.”
“Hah,” gue mau ketawa aja jadinya. “Tato lagi.” Di depan ada ruko kosong menjadi tempat tukang kopi bersepeda sedang berjualan. Juga ada beberapa orang di sana sedang menikmati kopi hangat.
“Kita beli kopi dulu ya di sana.”
Sesampai sana Tian yang memesan dua kopi hangat untuk kita berdua. Gue Cuma duduk di atas motornya memandangi kendaraan berlalu lalang. Tian datang dengan dua kopi. Dia duduk di samping gue. Kedua kaki gue mengayun sambil meniup kopi yang panas.
“Bokap gue dulu itu tukang mabok, suka ngerampok, terus suka narkoba. Ibu gue Cuma buruh cuci. Yah, gue anak susah lah dulu itu. Keluarga gue bener-bener berantakan banget karna kepala keluarga gue juga orang gak bener. Nyokap juga bukan ibu yang lembut. Dia keras. Dia suka mukulin gue kalo gue males belajar atau berani nekat berhenti sekolah. Dia mendidik gue jadi orang yang bisa berguna dengan caranya. Gue terima karna maksud dia baik buat gue tapi bokap.... Dia itu kayak monster.” Kilas balik satu per satu berdatangan silih berganti. Rekam jejak yang tak bisa diganti. Kejadian masa lalu membawa luka yang kini membentuk gue bisa sekuat ini.
“Dia suka banget nyiksa gue dan nyokap. Tiap gue merasa sakit di hati gue, gue bakal menambah luka di fisik gue sebagai tanda pelampiasan. Di sini,” gue menunjukkan tangan kosong gue. “Pernah ada luka pisau. Gue lukai sampe keluar banyak darah dan akhirnya lukanya ngebekas seiring waktu.” Tian masih setia mendengar cerita gue.
“Kamu mengalami self harm.” Dia mengatakannya dengan tatapan kosong ke arah tangan gue. Gue lagi-lagi Cuma bisa pasang senyum tipis. “Dari kecil.” Tertawa getir itu yang gue lakukan kalau ingat sosok lelaki yang paling gue benci dalam hidup gue. “Bokap gue itu b******k. Selalu nyakitin nyokap bahkan dia gak pernah bisa pegang komitmen, gilanya dia selingkuh terang-terangan di depan nyokap bahkan di depan gue. Kehidupan nyokap gue benar-benar rusak.” Kepala gue tertunduk. Akhirnya gue menangis. Sudah berapa lama air mata ini gak keluar?
Lagi gue mendongak. Gue menoleh ke Tian. Gue bilang, “mereka pernah pacaran dulunya dan nyokap sangat sayang sama bokap gue. Nyokap tetap milih bokap walaupun dia ga direstuin sama orangtuanya. Dia itu sok hebat bak pahlawan. Sok-sokan mau mengubah seseorang yang udah b******k. Dia berpikir setelah menikah bokap bakal berubah jadi orang yang baik, orang yang lurus, orang yang sholeh tapi apa akibatnya? Dia yang terjebak pada niat bodohnya sendiri. Dia pikir dia siapa? Tuhan? Bisa mengubah orang b******k jadi alim. Yang dia lakuin semua itu karena cinta. Cinta bodoh yang buat kehidupannya sengsara.”
Waktu itu hujan. Tengah malam. Gue dan ibu habis pulang dari gereja. Kita sempat menunggu hujan reda di sana. Namun, untungnya ada Ci Vivi sama anak lelakinya yang kecil memberi tumpangan. Ci Vivi ini tetangga gue. Orang kaya gak sombong paling baek lagi. Pada saat itu gue masih berumur enam belas tahun.
“Suami kabarnya gimana mba?” tanya Ci Vivi. Ci Vivi tetangga paling dekat sama kami. Ci Vivi itu udah kayak keluarga sendiri. Dia punya peran penting di hidup kami.
“Saya bingung ci.” Ibu udah keliatan lelah. Gue tengok dia yang duduk di samping gue. Sorot matanya menandakan dia ingin meledakkan emosinya. “Saya kepengen cerai tapi dia gak mau. Semakin saya ingin melakukannya semakin ia semena-mena pada kami.”
“Mba, laporin. Saya udah saranin itu ke mba. Mba jangan takut, ada saya, ada pengacara saya. Dia udah lakuin KDRT ke mba, kasian Leonna. Dia pasti tertekan dalam masalah ini.” Gue bisa liat betapa khawatirnya ia pada kami. Bahkan disaat mengemudikan mobil saja Ci Vivi terasa tidak konsen.
“Gak bisa. Ci Vivi gak perlu ikut campur, saya gak mau ada orang lain terlibat dalam masalah ini. Saya bisa hadapi semuanya. Ini kesalahan yang harus saya selesaikan sendiri. Semuanya saya yang mulai. Seandainya dulu saya tidak secinta itu pada dia, seandainya saya tidak semudah itu kemakan omongannya, seandainya pikiran saya waktu itu tidak bodoh...” Ibu tidak bisa berkata-kata lagi. Menangis kemudian menjadi luapan emosi. Tidak ada yang bisa gue lakui. Diam adalah cara gue untuk memaknai.
Bahwa sebelum pernikahan, ada banyak hal yang harus dipertimbangkan. Tentangnya, bukan soal cinta saja yang ditanamkan. Tapi, secara material, watak, komitmen, dan pertanggung jawaban. Lelaki b******k apa pantas dipertahankan? Mau mengubah watak seseorang apa bisa dilakukan? Perempuan bukan pahlawan. Ibu juga bukan Tuhan. Waktu pacaran saja pernah melakukan kekerasan, apa jadinya setelah pernikahan?
Cinta yang tadinya dikira akan membawa bahagia malah berujung malapetaka. Ujungnya kata cerai menjadi akhir cerita. Hanya perpisahan yang diinginkan sejak lama.
Tangan gue terkepal. Rasanya ingin menghajar lelaki b******k itu. Dia udah menjadi momok paling menakutkan dalam hidup gue. Namun gue Cuma bisa menahan semua kekejamannya tanpa melakukan apa-apa. Gue merasa gak berguna.
Ci Vivi memberhentikan mobilnya di depan rumah kami yang hanya disemen tidak dicat. Tapi, kita semua terkejut karena ada bapak lagi duduk di kursi rotan depan jendela. Ketika melihat mobil ini, ia berdiri dengan kedua tangan bertolak pinggang.
“Mba... Mba, yakin?”
“Saya yakin ci, makasih ya tumpangannya. Len, ayo, kita masuk.” Titah ibu. Gue pun mengiyakan. Gue memutari mobil dari belakang lalu Ibu menarik tangan gue.
“Dari mana?”
“Bukan urusan kamu.”
“Saya tanya dari mana kalian!? Udah berani kamu lawan saya---“ bapak nyaris mau mukul ibu tapi aku langsung cegah.
“Pak! Jangan! Leonna mohon jangan pukul ibu lagi!” Bapak terdiam. Dia pandangi diri gue dari atas sampai bawah. Tatapannya mulai buat gue gak nyaman. Gue merasa fokusnya pada jenjang kaki gue yang terbuka sebab gue memakai rok hitam di atas lutut.
“Leonna, ayo masuk!” Ibu menarik gue masuk ke rumah. “Kunci kamar kamu, jangan lupa belajar, ibu gak mau nilai kamu turun. Inget ya ibu nyekolahin kamu susah-susah supaya nasib kamu gak kayak sekarang ini.” Ibu menangkup dua sisi kepala gue, tidak terlalu kuat tapi ketegasan dari sentuhannya benar-benar terasa. “Jangan jadi perempuan bodoh seperti ibu, paham kamu!”
Ibu pergi dan gue membuka buku di tengah-tengah penerangan yang minim. Sebelum belajar gue berdoa pada Tuhan. Gue bicara dalam hati. Tanpa harus gue katakan, Tuhan sudah tau apa yang gue rasai.
Ibu bukan orang bodoh dalam versi gue tapi dia menganggap dirinya bodoh dalam versinya. Gue sebenarnya anak dari luar nikah. Mereka pacaran dan kecelakaan. Ibu mengecewakan kedua orang tuanya. Anak pertama yang diharapkan akan mengangkat derajat keluarganya namun menghancurkan nama baik keluarga yang telah dijaga. Ibu tetap dilarang menikah memang terutama pada ibunya, karena naluri seorang ibu tidak pernah salah, lelaki itu gak pantes untuk ibu. Namun, ayah ibu yang tidak mau anaknya melahirkan tanpa suami, memaksa bapak untuk menikahi ibu. Atas dasar cinta ibu, mereka menikah. Ibu Cuma lulusan SMA kala itu dan menikah dengan lelaki yang terpaut lima tahun dari dia dengan pekerjaan yang tidak pasti. Di sini, gue melihat hanya ibu yang berharap pada lelaki bodoh. Gue tau bapak sebenarnya tidak benar-benar mencintainya. Gue tau alasan dia bersikap kasar pada ibu mungkin sebagai pelampiasannya dari keterpaksaan ia menikahi ibu. Lelaki itu tidak serius. Tapi ibu karena cinta tetap mempertahankan. Ibu tidak sayang pada dirinya sendiri.
Hal pahit yang harus gue terima selanjutnya adalah disaat gue baru pulang sekolah. Gue sempat mampir ke toko kue Ci Vivi buat mengantar uang hasil penjualan gue di sekolah. “Ini uangnya Ci.” Ci Vivi menerimanya dengan senyum lebar.
"Laku keras ya Len dagangannya hari ini.”
“Gimana gak laku jelas kue Ci enak gitu.”
“Besok nanti Ci bawain yang banyak, ya.”
“Siapppp Ciiii.”
“Nih, bagian buat kamu.”
“Asikkkk! Makasih Ci, eh, tapi ini apa gak kebanyakan?” Tanya gue tak enak hati.
“Udah buat kamu jajan atau kalo gak bisa kamu tabung, ‘kan?”
“Iya Ci. Yaudah Len pulang dulu, ya.”
Ci Vivi benar, dari uang lebihnya ini bisa gue tabung buat sekolah kuliner yang terkenal di Surabaya dengan kualitasnya yang gak diragukan lagi. Gue kepengen banget bisa jadi chef. Sesampainya di rumah, gue gak menemukan siapa-siapa. Sore begini harusnya ibu udah pulang bekerja tapi gue rasa ibu pasti lagi banyak kerjaan. Gue pun berinisiatif memasak untuk makan malam ibu dan sebelum itu gue ganti baju dulu.
“Ketika itu gue...” Tubuh gue bergetar hebat, bibir gue bahkan tak mampu untuk bercerita lagi.
“Len... Jangan diterusin kalo kamu gak sanggup.” Gue menggelengkan kepala, kebencian itu semakin terasa membungkit dalam diri gue.
Dia datang dari belakang ketika gue sedang membuka seragam. Dia menerkam gue. Dia nyaris memperkosa gue. Gue terkungkung di bawah tubuhnya. Mulut gue dikunci rapat oleh telapak tangannya yang kasar. Lidahnya membasahi sekitar leher. Sesuatu yang besar menekan di bawah sana. Sulit bergerak bahkan untuk melawan tiada daya. Kaki gue ditekan kuat dengan kedua kakinya yang mengapit. Situasi itu membuat gue nyaris ingin mati saja dari pada disetubuhi oleh bapak gue sendiri. Menangis dan menangis Cuma itu yang bisa gue lakuin. Kedua tangan gue digenggam kuat di atas kepala. Gue jijik. Gue mual. Gue gak sanggup. Gue memohon pertolongan tapi gue sulit untuk bersuara.
“Jangan berteriak atau ibu kamu mati di tangan saya.”
“Lelaki b******k!” Suara bedebum dari besi yang dilayangkan oleh ibu ke punggungnya berkali-kali membuat ia benar-benar terjatuh di atas tubuh gue. Ibu melempar besi itu ke sembarang tempat. Ia menarik kerah baju bapak dari belakang dengan kedua tangannya dan menjatuhkannya ke lantai.
“Berani-beraninya kamu melecehkan anak saya. LELAKI BIADABBBB!!” Teriak ibu kencang sambil menangis. Ibu berteriak lagi. Ia kembali memukul bapak dengan besi tadi.
“Ibu... Ibu cukup....” Bapak sudah terkulai penuh dengan darah yang berceceran dari kepalanya. Ibu menangis terjatuh dalam pelukan gue dan besi itu perlahan terlepas. “Mati kamu... Mati kamu lelaki b******k! Mati kamuuuuu!!!” Ya Tuhan... Ya Tuhan... Tubuh gue dan ibu sama – sama bergetar hebat. Ibu sudah membunuh bapak... Bapak sudah mati... Apa yang akan terjadi setelah ini. Ibu tetiba menyentuh wajah gue, dia melihat diri gue yang sudah acak-acakan. Ibu gak mengatakan apa-apa. Bahkan ia tidak perlu bertanya keadaan gue sekarang. Ibu tidak pernah menunjukkan perasaannya lewat kata-kata. Tapi gue tau apa yang ibu rasakan, gue tau seberapa ia peduli dan sayang sama gue walau tidak pernah ia ungkapkan. Gue sangat tau itu. Ibu menggeser tubuhnya untuk mengambil seragam gue tadi. “Pakai baju kamu sekarang.”
“Bu...” Pelupuk mata gue penuh dengan air mata. Tangan gue gak sanggup untuk meraihnya.
“Pake baju kamu sekarang. Habis ini ibu mau keluar.”
“Ibu,” gue tahan tangan ibu. “Ibu mau ke mana? Ibu jangan tinggalin Leonna.”
“Ibu bakal titipin kamu sama Ci Vivi.”
“Tapi ibu mau ke mana?” tanya gue mendesak.
“Ibu bakal serahin diri ibu ke polisi, kamu jaga diri kamu, kamu harus inget... Belajar benar-benar, jangan kecewain ibu.” Tatapan ibu sungguh-sungguh. Apa yang dia katakan tidak pernah main-main.
“Ibu bilang dulu, kalo pembunuhan itu udah ibu rencanakan cuman ibu gak nyangka, sama kayak gue ternyata bokap mau perkosa gue hari itu.”
Akhirnya gue dirawat sama Ci Vivi selama ibu gak ada. Di pengadilan, gue Cuma bisa liat ibu di tempat gue duduk bersama Ci Vivi yang terus menguatkan gue karena psikis gue yang terguncang. Gue Cuma bisa menahan tangis ketika ibu dijatuhi hukuman selama dua puluh tahun atas kasus pembunuhan berencana dan kasus KDRT karena kejadiannya itu pun terjadi di dalam rumah. Dan gue berharap ibu bisa mendapatkan keringanan hukuman karena tetap saja apa yang ia lakukan telah menyelamatkan masa depan gue dari sih monster itu.
“Dari setengah bagian dalam kehidupan gue, jelas masa lalu itu telah banyak membawa perubahan di diri gue.”
Penampilan gue setelah lulus SMA lebih seperti cowok. Rambut panjang gue potong dan memangkasnya sampai pendek. Dan gue juga memasang tato di tubuh gue. Awalnya gue suka melukai diri gue tapi apa yang gue lakuin itu sebenarnya tindakan gue yang membenci diri gue sendiri bahkan tidak menerima apa yang ada di hidup gue.
Dan bentuk gue mencintai diri gue sendiri adalah mencari apa yang membuat gue merasa nyaman. Tato. Gue gak tau kenapa gue bisa secinta itu. Mungkin awalnya mencari sesuatu sebagai pelampiasan selain melukai tubuh gue. Ketika memasang tato memang rasanya sakit tapi ada hasil. Sebuah mahakarya tercetak di tubuh ini dari pada darah yang keluar lalu meninggalkan bekas yang menandakan betapa menyedihkannya diri gue.
“Dan sekarang Lo tau, ‘kan alasan gue kenapa gue gak bisa menerima Lo sama sekali. Bahkan memikirkan komitmen pada seseorang, gue rasa gue belum bisa lakuin itu semua. Apalagi umur Lo jelas di bawah gue. Gue udah tiga puluh tahun dan Lo dua tahun lebih muda dari gue. Penampilan gue gak kayak cewek di luar sana. Dan Lo... Lo berasal dari keluarga yang sempurna sedangkan gue?” Gue tatap dia dengan senyum masam. “Lo tau sendiri jawabannya," lanjut gue mengalihkan mata darinya. “Gue gak mau buat Lo malu di depan keluarga besar Lo sendiri. Jadi, gue harap Lo bisa ngertiin gue, yah. Lo pantas dapetin cewek yang lebih baik daripada gue.”
“Boleh aku ngomong sekarang?” Kali ini gue gak akan memutuskan kontak mata dengannya. “Silakan.”
“Malam itu kamu menolak aku lagi untuk kesekian kalinya. Dan kamu minta aku untuk jauhin kamu. Aku gak tau alasannya kenapa kamu sampai bersikeras ingin aku jauhin kamu tapi tetap, aku tetap ada di belakang kamu Len dan aku harap kamu bisa liat aku yang jadi bayang-bayang kamu saat ini.”
“Tapi Lo udah tau alasannya, ‘kan Tian. Lo yang keras kepala yang buat gue---“
“Sssttt!” Ia menaruh telunjuk di bibir gue. Kini berpindah menangkup sisi wajah gue dengan tangannya tadi. “Dan sekarang aku udah tau jawabannya. Jawabannya tetap, aku tetap mencintai kamu dan aku gak peduli bagaimana masa lalu kamu karena yang ku pastikan saat ini, masa depan kamu adalah aku. Tolong aku minta kamu harus pahami kalimat aku tadi, Len.” Tian menarik diri gue ke dalam pelukannya. Tanpa bisa gue cegah, tanpa tahu apakah nanti akan ada yang berubah, gue serahkan semua ini pada Tuhan yang lebih tau ke mana hati ini harus berarah.
[]