Nadya
"Inget yaa Nad, walaupun Lo udah jadi model yang terkenal, udah jadi bintang film juga Lo mesti tetap humble. Lo bukan cuma jadi model tapi aktris. Di dunia nyata, di dunia maya nama Lo itu udah gak asing lagi. Lo udah jadi public figure, apalagi Lo udah sering mundar-mandir di tv jadi presenter juga, Lo punya banyak followers yang mereka jadiin Lo itu panutan, idolanya mereka. Lo udah punya nama. Jadi plis, jangan Lo rusak nama Lo ya. Lo mesti jaga nama Lo. Gue gak bakal bosen ngingetin Lo karena gue sebagai manager Lo gak mau karir Lo hancur," jelas dia beruntun sambil mengecek hp dan layar laptopnya. Mengecek jadwal kegiatanku, lalu mengecek kontrak dengan pihak-pihak yang akan bekerja sama dengan aku.
Boleh aku bilang, sudah ribuan kali selama menjajaki karir, aku harus dinasihati seperti itu terus. Terkadang, kalau boleh jujur aku merasa tidak bebas. Terkadang aku merasa terkekang. Terkadang aku tidak bisa melakukan apa yang kuinginkan sesuai hatiku. Aku melirik Dwita sekilas yang duduk di sampingku dengan jarak tengah yang kosong, ia masih fokus pada layar laptop di atas pangkuannya. Kemudian ku buang pandanganku di luar jendela mobil. Kenapa aku tidak punya wewenang pada diriku sendiri semenjak aku sudah menjadi terkenal? Aku tau bila aku melakukan satu saja kesalahan, karirku akan berantakan dan banyak manusia yang akan membully atau bahkan menjudgeku sangat buruk. Namun, mengapa manusia hanya mengingat satu kesalahan daripada banyaknya kebaikan yang sudah dilakukan?
Mobil berhenti di pekarangan kampus Dipati Ukur. Aula menjadi tempatku tampil sebagai pembicara. Dengan background keluargaku dengan papah sebagai pengusaha properti yang sukses dan mamah tiriku sebagai pejabat politik kurasa tidak heran saja bila aku bisa disanjung bahkan dihormati seperti ini. Banyak orang menjadi segan padaku. Sebagian orang memang masih meremehkanku karena berpikir ada orang kuat di belakangku tapi aku ingin menunjukkan kalau aku bisa sampai puncak karirku karena kemampuanku sendiri. Seandainya saja media tidak menyoroti latar belakang keluargaku, mungkin akan lebih mudah lagi buatku untuk melakukan tujuanku tadi.
Hal yang tidak asing diserang oleh banyak orang untuk diajak berfoto ketika keluar dari mobil. Mereka memang sudah menungguku dan pada saat mobil datang tentu mereka berlarian ke arahku, dan Dwita yang menatapku penuh isyarat untuk mengingatkanku bersikap humble dan ramah walau sebenarnya itu bukan karakterku tapi aku harus belajar terbiasa. Memang sejak awal berkarir aku tidak bisa bersikap seperti itu namun aku akan berusaha terus. Namun, jujur untuk saat ini batinku sedang tidak enak. Pikiranku sejak di perjalanan masih saja berfokus pada kak Dinda. Rasanya benar-benar ingin ku dorong saja mahasiswa dan mahasiswi ini untuk mengakhiri sesi foto dan tanda tangan.
"Kak... Kak boleh poto bareng gak kak?" Seorang cowok tiba-tiba saja memecah belah kerumunan dan mendorong perempuan berambut pendek tadi yang ikut foto bersamaku. Aku mengiyakan saja permintaan cowok yang datangnya bergerombolan ini. Ada dua orang yang menyusul teman satunya ini. Dua di samping kiriku dan satunya di sebelah kananku. Tapi tiba-tiba saja aku merasa ada tangan yang meremas pantatku dengan refleks aku mendorong cowok di sebelah kananku ini dengan kasar. Cowok berambut ikal ini nampak kaget dengan sikapku dan banyak pasang mata yang melihat ke arah kami.
"Maksud kamu ngelakuin hal kurang ajar itu tadi apa? Lancang sekali kamu pada saya." Aku tentu sangat marah atas sikap kurang ajarnya padaku. Dia sudah melecehkanku. Berani sekali dia mengambil kesempatan dalam kesempitan.
"Nadya!" Dwita menegurku. Ia pun memasang senyum tipis dan senyum untuk menutupi rasa gak enaknya atas sikapku tadi pada mahasiswa dan mahasiswi yang mematung melihat sikapku yang mengejutkan mereka. "Kita mesti bicara sebentar," bisiknya sambil menarik tanganku pergi dari kerumunan.
Kami berjalan terburu-buru mencari kamar mandi di gedung ini. Sampai aku bahkan tidak menyadari barusan telah menabrak seorang perempuan yang jeda sebentar berhenti untuk melihat siapa yang kutabrak, dari stylenya kurasa dia adalah dosen di kampus ini namun dari rambut pendeknya dan wajahnya serasa tidak asing bagiku. Seperti pernah melihatnya tapi entah di mana Kami hanya bersitatap sebentar karena Dwita kembali menarik tanganku menuju kamar mandi yang sejak tadi kami cari.
Sesampainya di kamar mandi, aku dan Dwita masuk ke dalam ruang yang kosong. "Udah gila lo ini! Baru juga belum ada sejam gue ingetin Lo Nad, Lo udah berulah lagi aja. Lo harusnya bersikap---"
"Humble? Ramah? Itu mau Lo?" Sela aku emosi. "Hei, gue barusan dilecehkan. Dan Lo mau gue diem aja?" cecarku tak tahan dengan sikapnya yang bahkan gak ada rasa empati dan simpati sedikitpun sama aku. Justru yang dia pikirin, aku harus bersikap seperti yang kusebutkan tadi dan berusaha baik-baik saja demi menjaga eksistensi ku sebagai seorang yang terkenal dan dikagumi oleh banyak orang. Ya jelas gak bisa gitu. Aku mana bisa diam ketika orang dengan beraninya melecehkan aku. Menyentuh tubuhku tanpa seizinku,. Bersikap kurang ajar dan merendahkan harga diriku. Aku tidak semurahan itu meskipun aku seorang model, selebritis, pemain film, selebgram, seorang yang sangat terkenal, jelas aku punya hak! Sekali lagi aku katakan dengan tegas, aku punya hak untuk berbicara atas tubuhku sendiri, aku punya hak untuk protes tentang sesuatu yang tidak aku sukai kalau sudah berhubungan dengan aku. Dan aku punya hak melawan lelaki yang berniat jahat dengan aku. Aku bukan perempuan lemah. Aku jelas tidak akan diam saja.
"Yaa... Iya tapi bukan berarti Lo bisa bersikap kasar kayak gitu dong. Lo harus inget Lo itu punya nama. Dan Lo harus jaga nama Lo. Soal kejadian tadi itu, 'kan sepele, Lo gak perlulah bersikap berlebihan kayak tadi. Lo cewek paling cantik, punya tubuh sexy ya jelas aja cowok nyolek Lo. Jadi ya mending Lo diemin aja selagi gak ngelakuin hal di luar batas ke Lo. Okey?" Aku gak habis pikir, ini isi kepalanya ada apa sih? Otaknya dibuat pake apa sih? Hatinya dia ada apa nggak sih?
"Gue sengaja diem dari tadi gue pikir Lo bisa simpatik sedikit sama gue. Lo perempuan Wi---"
"Udah, plis. Stop kita bahas masalah ini sekarang ada yang lebih penting, kita mesti ke aula sekarang. Jangan ungkit-ungkit masalah ini lagi gue gak mau denger. Oke." Setelah dia mengatakannya dengan nada cepat dan bersikap tengah melupakan apa yang barusan kita bicarakan, ia pergi duluan.
Aku memang punya nama, aku memang harus menjaga namaku, tapi aku tetap perempuan yang harusnya dihormati. Aku punya hak untuk bicara juga, apa karena aku perempuan dan memiliki paras yang cantik, pantas diperlakukan seperti tadi? Dan semestinya sesama perempuan harusnya simpatik dan mensupport bukan menyuruhku diam.
Aku jadi bingung, sebenarnya Dwita ini perempuan atau bukan, sih?
* * * *
Aku pun berusaha untuk melupakan kejadian tadi walau memang nyatanya aku masih dongkol karena perlakuan kurang ajarnya mahasiswa tadi. Namun, hari ini aku tidak boleh merusak suasana dengan pikiranku. Aku harus fokus. Sudah banyak orang yang menanti kehadiranku. Sudah banyak orang yang ingin melihatku bicara di depan mereka.
"Saya melewatkan waktu di usia muda saya dengan bekerja keras. Dan bagaimana saya bisa produktif dan memanajemen waktu saya itu, dengan saya membagi waktu saya untuk prioritas yang harus saya utamakan dan mana yang saya kerjakan nanti. Kuncinya satu, kalian harus tau tujuan dari hidup kalian. Kalau hanya memikirkan tentang cerita cinta saja saya rasa, kalian itu orang-orang yang merugi. Karena ada banyak hal yang bisa kalian raih dan lebih besar dari sekedar cinta di usia muda. Pendidikan, impian, pekerjaan, kalian harus menentukan diusia sekarang ini, lima tahun ke depan atau sepuluh tahun ke depan kalian mau jadi apa dan yang terpenting, orang-orang yang bisa menginspiratif kalian, kalian harus temukan orang yang kalian anggap telah memotivasi kalian," terangku penuh keyakinan, penuh antusias, penuh semangat, penuh ambisi, penuh motivasi dan penuh dengan tujuan.
Seperti aku kini entah mengapa ingin menyelam, di masa lalu yang kelam, yang terjadi pada beberapa waktu silam.
"Nadya, kamu kalau udah besar mau jadi apa?" tanya kak Dinda pada saat itu. Ketika itu kami sedang berlibur di Bandung, tempat favorit kami adalah rumah pohon yang ada di belakang rumah kakek dan nenek, dibuat khusus untuk aku dan kak Dinda. Disaat aku sedang membaca buku, disitulah kak Dinda bertanya.
"Aku belum punya impian, mungkin jadi pengusaha seperti Papa." Itu pun jawabanku masih ambang-ambang di pikiran. Aku belum tahu mauku apa, aku hanya menjalani apa yang ada sekarang. Mungkin nanti akan aku pikirkan apa yang kumau untuk masa depanku.
"Kamu mesti punya impian, lho, dek. Kamu mesti punya ambisi yang kuat untuk mendapatkan apa yang kamu mau," katanya.
"Seperti kakak yang akhirnya bisa jadi atletik renang dan bisa kuliah di UI?" sahutku. Aku akui dia memang sangat hebat. Terlihat dia itu orang yang lembut, yah, keibuan bawaannya tapi dibalik semua itu, dia orang yang kuat. Dia sanggup renang sejauh dan sedalam apapun itu. Dia jago banget deh menurut aku.
"Iya, aku, 'kan udah pernah bilang itu ke kamu. Karena kegigihan kakaklah, kakak bisa raih semua itu. Emang sih gak mudah, ada kerja keras di dalamnya. Tapi percayalah hasilnya itu manis banget. Yang kamu lakukan, tau tujuan apa yang kamu inginkan, berpikir dengan matang, modal nekat dan langsung action. Jangan kebanyakan mikir yang buat kamu jadi menunda apa yang harus kamu lakukan."
Aku membalasnya dengan senyuman. Kak Dinda mengacak kepalaku yang berbaring di atas pangkuannya. Aku jadi paham kenapa mamah sama papah begitu sayang pada kak Dinda sampai setelah pengumuman kak Dinda masuk UI, papah langsung menuruti permintaan kak Dinda yang ingin berlibur ke Bandung. Kakak Dinda memang pantas menjadi anak kebanggaan.
Mungkin, kasih sayang mamah dan papah itu lebih besar terletak pada kak Dinda dari pada aku, tapi aku tidak membawa ke hati asalkan keduanya masih tetap ada untukku. Justru, aku sangat bangga punya kakak perempuan seperti dirinya. Dia adalah yang pertama yang selalu menginspirasi dan ada untukku ketika aku mulai berjuang dalam hidupku sejak aku sudah memasuki usia remaja. Dia banyak memotivasi diriku. Aku tidak sama sekali menjadikannya saingan dalam hidupku dan akhirnya menimbulkan perasaan iri kepadanya. Tapi pencapaiannya membuatku jadi begitu berambisi ingin sama halnya berada diposisinya.
* * * *
Selesai acara seminar aku makan bersama rektor kampus dan para dosen juga dekan-dekan fakultas. Aku bersama managerku juga rektor makan di meja yang melingkar. Ada satu ruangan yang besar yang dikhususkan untuk menggelar acara makan bersama ini.
Di saat perbincangan kami sedang berlangsung, hpku berdering. Ada panggilan dari Tami, cowok yang menyusahkan ku pada malam hari itu karena mabok. Dia juga masih menjadi fotografer untukku shooting di beberapa tempat di Bandung.
"Permisi," kataku. Aku pun mengangkat panggilan darinya setelah beberapa jarak dari tempat makan tadi. "Ada apa?"
"Pak Jordan mau ketemu sama kamu, Nad," ujar Tami di seberang sana.
"Hari ini, ya? Emh... Nanti deh aku hubungi lagi kalo sekarang aku ada acara.... Oke, iyaa... Iya terserah kamu aja tapi asal jangan buat janji sekarang. Oke, see you."
"Ternyata dunia ini sempit banget, ya." Mendadak aku mendengar ucapan seseorang dari belakang tubuhku dan ketika aku berbalik seorang perempuan berambut pendek yang gayanya seperti lelaki berjalan ke arahku dengan kedua tangan yang terlipat dan ia memakai kacamata.
"Kamu?" kaget aku.
"Iya, saya. Masih ingat dengan wajah ini?" Dia memasang seulas senyum. Telunjuknya menunjuk wajahnya dengan gerakan melingkar di depan mukanya.
"Oh, iyaa... Saya tau kamu." Aku mengingatnya. "Kamu yang waktu itu kedainya gak sengaja saya tabrak... Tapi pakaian kamu malam itu pakai apron dan baju chef, 'kan? Kok bisa kamu di sini? Kamu dosen?" tanyaku agak kaget. Waktu itu aku ketemu dia, dia itu seorang chef sekarang aku ketemu dia di kampus, ala iya dia dosen. Baru kali ini aku dibuat heran oleh orang yang tidak kukenal sehingga aku bisa banyak tanya.
Perempuan itu hanya menampakkan senyumnya dan menjulurkan tangannya seperti ingin mengajak berkenalan dengan aku, mungkin saja.
"Ifa Leonna Wangsa." Benar, dia mengajakku berkenalan. Dan secara tegas ia menyebutkan namanya.
Aku dengan senang hati membalasnya. "Nadya. Nadya Aura Amelia. Senang bisa berkenalan dengan kamu."
Hari ini tanpa kuduga aku kembali dipertemukan oleh orang yang dulunya pernah emosi berhadapan denganku namun kenapa sikapnya bisa seramah ini?
* * * *
Leonna mengajakku pergi ke taman Pasupati yang berada di bawah jembatan Pasupati. Kata kakek tempat ini dulunya tempat kumuh dan jarang tersentuh tapi sekarang semua sudah berubah bahkan tempat duduknya berbentuk persegi panjang dan kotak diberi warna yang bermacam-macam.
"Kalo di tempat ini, 'kan gak banyak orang yang datang ke sini." Sejak tadi ku mendengarkan bagaimana Leonna menceritakan tempat-tempat yang indah di Bandung yang seru bila dikunjungi.
"Orang asli sini?" tanyaku. Leonna pun mengambil tempat untuk duduk. Kami duduk berhadapan.
"Bukan, saya asli Surabaya, waktu kuliah saya ambil pendidikan di Jakarta dan kebetulan aja setelah pendidikan selesai saya memutuskan pindah ke Bandung. Untuk mengajar dan yah dosen udah menjadi profesi saya saat ini." Dia menoleh ke aku, "tapi saya ngajar di Unpad Jatinangor, bukan di sini," tambahnya.
Aku pun bertanya lagi kepadanya. "Lalu yang waktu malam itu?"
"Saya pernah sekolah kuliner di Surabaya, saya suka memasak. Bahkan sangat mencintai dunia kuliner. Saya pernah menjadi chef di restaurant sebelum saya menjadi dosen. Dan waktu malam itu rencananya saya memang sedang membuka usaha kecil-kecilan."
"Bentar, kamu pernah jadi chef dan dosen...?" kalimatku menggantung di ujung lidah karena aku gak tahu dia dosen jurusan apa.
"Hukum," jawabnya lugas. "Saya dosen dari fakultas hukum. Selain memasak, saya juga cinta bila berurusan dengan dunia hukum. Selama ini saya menjalani profesi yang berbeda-beda karena saya senang bisa mencoba hal-hal yang berbeda di hidup saya." Katanya penuh antusias.
"Kenapa begitu?" tanyaku
"Karena perbedaan yang kita terima membawa banyak hal yang gak pernah kita tau." Dia membuka blazer yang ia kenakan. Disitulah aku bisa melihat jelas banyak tato di tangannya. "Apalagi menjadi yang berbeda dari yang lain," lanjutnya.
Aku tersenyum miring melihat penampilan aslinya. Pikiranku mengatakan maksudnya 'hal berbeda' yang dia katakan tadi pasti hal-hal yang menjurus ke arah negatif yang cuma merugikan dirinya saja, bisa saja dia udah pernah narkoba, 'kan? Atau dia hobby ngerokok, terus suka berada di lingkungan yang kotor dan kumuh. Hebatnya ia bisa menutupi semuanya dengan profesinya. Sebuah kebodohan. Tadinya aku ingin berteman dengan dia tapi melihat penampilannya, dia hanya akan menjadi perusak dalam circle pertemananku. Maksudku, hanya akan membawaku ke dalam lubang setan. Iya, walaupun teman-temanku berasal dari dunia artis, modeling, dan beberapa lainnya dari dunia bisnis dalam lingkungan pertemanan mereka memang peminum juga dan suka datang ke club-club malam. Tapi aku selalu menimalisir siapa yang pantas menjadi temanku, siapa yang layak menjadi sahabatku, aku akan memilih mereka yang bisa membawaku ke jalan yang lurus dan bisa berdampak baik untukku. Walaupun dunia hiburan itu banyak sekali pergaulan yang macam-macam aku masih bisa untuk tidak terpengaruh pada nikmat sesaat. Kalau teman yang istilahnya hanya sekedar 'say hi' saja, kita saling mengenal tapi tidak dekat, ya... tidak masalah tapi aku tidak akan mengizinkan seseorang masuk ke dalam kehidupanku yang dari penampilan dan backgroundnya ia berasal tidak sesuai dengan standarku, aku rasa hanya dapat menimbulkan masalah dalam hidupku. Seperti cewek yang ada di hadapanku ini. Aku saja nyaris terkecoh dengan penampilannya, dia seperti cewek yang urakan, tampangnya ya seperti anak-anak pinggir jalan yang pergaulannya begitu buruk. Apalagi dengan tato dan kulitnya yang hitam.
"Saya tau apa yang kamu pikirkan." Salah satu alisku terangkat. Iya, sejujurnya rasa penasaranku sudah tidak ada lagi untuknya. "Kamu pasti berpikiran kalau aku udah ngelakuin drugs, iya, 'kan? Atau saya ini cuma perempuan nakal yang udah dipake sama lelaki hidung belang, atau saya ini cewek yang sukanya ngerokok dan cuma bisa buang-buang waktu dengan ngerugiin dirinya sendiri."
"Iya, saya memang tidak tau kamu itu siapa? backgroundmu bagaimana? Tapi jelas semua orang yang pertama kali bertemu sama kamu pasti menilai kamu sama seperti penilaian saya terhadap kamu." Apalagi yang kulihat dia ini bukan berasal dari keluarga kaya raya. Iya, dia hanya orang biasa saja. Tidak ada istimewanya.
"Kamu memang cantik, penampilan kamu bahkan bisa membuat orang berpikir kalau kamu lebih baik dari pada saya,"
"Tapi pada kenyataannya memang iya," selaku. Aku tersenyum bangga. Sangat bangga karena memang iya aku jauh di atasnya. Aku lebih baik daripada iya yang walaupun dia menjalani dua profesi. Tapi semua itu tidak akan bisa melampaui kesuksesanku.
"Iya, tapi kenyataan yang sebenarnya kamu lebih bodoh daripada saya." Senyumku hilang. Digantikan ekspresi marah dan tidak terima. Berani dia bilang aku bodoh?
"Kenapa saya bisa bilang kamu bodoh? Itu karena kamu cuma bisa menilai seseorang dari penampilannya saja. Dari covernya saja. Tapi aku tidak bisa menilai seseorang dari dalam dirinya. Bahkan kita belum kenal satu hari penuh tapi kamu sudah menjudge saya. Asal kamu tau, walaupun saya perempuan bertato, tapi stigma negatif yang kamu berikan atau semua orang berikan pada saya tidak berlaku untuk diri saya. Karena saya tidak pernah melakukan apa yang kalian pikirkan." Dia pun angkat badan dan benar-benar seperti ingin menunjukkan tato yang ada di anggota tubuhnya yang terbuka. "Senang bisa berbincang dengan kamu." Ia lantas berniat pergi sebelum mengatakan sesuatu lagi padaku yang aku bahkan tidak menyangka ada yang berani bisa bicara seperti itu padaku.
"Soal insiden malam itu, saya udah maafin kamu walaupun kamu belum bilang maaf pada saya." Setelah ia benar-benar pergi. Aku masih duduk. Masih diposisi yang sama tanpa berbalik menatap kepergiannya.
"Oh, waw." Aku benar-benar ditelanjangi oleh ucapan perempuan tadi. Kurang ajar.