BAB - 8

3915 Kata
Nadya Banyak yang bilang hidupku itu penuh dengan kesempurnaan. Apapun yang kuinginkan tanpa usaha pun sudah bisa kudapatkan. Kehidupanku dipenuhi cinta dan kasih sayang yang lengkap dari orang tuaku dan kak Dinda, mereka membagikan tiap cintanya padaku dengan bentuk perhatian.             Memiliki keluarga yang sangat-sangat sempurna adalah idaman tiap-tiap manusia. Teman-temanku ketika aku masih SMP banyak yang ingin berada di posisiku. Sudah cantik, tajir, orang tuanya lengkap, masa depan sudah dijamin, apa saja diturutin, itu benar-benar sesuatu yang membuatku itu memang sudah berpikir, kehidupanku ke depannya akan baik-baik saja. Mungkin kegagalan-kegagalan akan kurasakan tapi aku punya keluarga yang selalu mendukungku.             Dan pada suatu ketika seperti telapak tangan yang mudah dibalikkan. Tuhan pun memutar 180 derajat kehidupanku ke bawah, langsung hancur terjatuh pada jurang terdalam, semuanya runtuh dan yang tersisa, kupikir sebuah harapan yang entah sampai saat ini pun belum bisa kutemukan.             Pada saat itu semua berjalan normal-normal saja. Aku lulus dengan predikat yang baik karena kegigihanku dalam belajar pagi siang malam, pulang sekolah aku langsung menuju tempat les. Walau masa depanku dijamin oleh orang tuaku bukan berarti aku bermalasan. Aku memang punya pemikiran yang berbeda, aku tidak ingin selalu berkegantungan dengan siapapun itu. Aku ingin seperti papa punya karakter yang kuat dan keras. Beda dengan kak Dinda yang mewarisi tabiat mama yang lemah lembut namun punya pemikiran yang kritis, kak Dinda itu pintar bergaul, humble dan ceria berbeda denganku yang karakternya dingin dan serius juga perfectionist.             "Kita langsung pulang aja, yah, Pak."             "Non mukanya semringah bener." Pak Joko nyeletuk tiba-tiba.             "Aku dapet nilai UN bagus pak Joko dan aku dapet juara 1 juga di sekolah karena lomba olimpiade minggu kemarin," jawabku antusias dan bangga.             "Wah, kalo nyonya sama tuan tau, pasti bangga banget sama non. Selamat ya non. Emang non mah gak ada tandingannya." Menanggapinya dengan senyuman yang tercetak jelas saat ini kurasa sudah cukup untuk mengatakan pada dunia bila hari ini adalah hari yang membahagiakan sekaligus membanggakan dalam hidupku.             Akhirnya aku bisa mengikuti jejak kak Dinda pelan-pelan. Dia adalah kakak perempuan yang paling membuatku merasa beruntung. Bagaimana tidak, dari dia aku belajar, bagaimana memanfaatkan waktu sebaik-baiknya dengan belajar dan aktif pada organisasi. Memanage waktu untuk disiplin pada tiap kegiatan yang dijalani. Dan bagaimana diusia sekarang ketika menginjak remaja harus punya target yang jelas di masa depan bukan memikirkan cinta monyet yang datangnya sementara dan pada akhirnya cuma bikin sakit hati. Apalagi bila salah-salah jalan bisa saja merusak hidup tuk selamanya dengan hamil di luar nikah pada usia dini.             Dan aku mencontoh kak Dinda yang sangat aktif di kampus dan banyak mendapatkan prestasi dalam kejuaraan atletik renang yang selalu membuat mama dan papa bangga. Ah, rasanya aku jadi terobsesi pada kesempurnaan yang kumiliki dalam hidupku dan aku semakin ingin hidupku tidak dipenuhi masalah yang cuma bikin kacau semua rencana yang sudah kususun matang-matang.             Ku lempar pandanganku keluar kaca mobil. Mobil berhenti tepat sebelum zebra cross, keberhentian di lampu lalu lintas banyak memberikan gambaran pada realita kehidupan orang-orang yang tak sebagus nasib yang kupunya.             Masa depan mereka seakan dipaksa mati saja demi mengisi kekosongan perut pada tenaga yang dikerahkan untuk mencari recehan yang bahkan tak sebanding dengan rasa lelah yang telah dirasakan. Maksudku, bekerja untuk mencari makan dan merelakan pendidikan yang terpaksa harus berhenti di tengah jalan.             Dua orang anak lelaki yang kurasa masih di bawah umurku itu menyanyikan lagunya Tegar di depan kaca mobilku. Ku buka kaca mobil, dan mendengarkan mereka bernyanyi sambil memainkan kincringan sebagai musiknya. "Aku yang dulu bukanlah yang sekarang... Dulu ditendang sekarang ku disayang..." Kumerogoh tanganku ke dalam saku seragam dan kuberikan uang sakuku lima puluh ribu pada mereka. Mereka kaget.             "Wah! Ini beneran kak?" tanya anak lelaki berambut pirang itu tak percaya            Aku mengangguk dan menjawab. "Bagi-bagi ya," kataku. Mereka sangat senang. Aku sempat tak menyangka mereka bisa sebahagia itu padahal bagiku uang yang ku berikan itu sangatlah kecil nilainya.            "Sesuatu yang kita anggap kecil bisa jadi hal yang paling besar yang belum pernah mereka dapatkan non. Jadi, jangan heran, ya."            "Aku gak bisa bayangin kalo aku ada diposisi mereka." Membayangkan hidupku seperti mereka saja aku sudah ngeri sendiri bagaimana kalau aku ada di posisi mereka?            "Itulah namanya hidup non. Ada yang beruntung bisa merasakan hidup di atas seperti non tapi ada juga yang harus terima nasib hidup di bawah dalam keadaan susah."            Kata orang roda kehidupan itu bisa berputar, yang hidupnya di atas bisa saja kapan waktunya akan merasakan hidup di bawah dalam keadaan susah. Memang iya, Tuhan telah menentukan takdir seseorang tapi kalau nasib tentu bisa diubah oleh manusia bila ada kemauan dalam dirinya untuk membuat hidupnya lebih baik lagi. Dan aku tidak akan menyia-nyiakan waktuku barang sedikitpun karena aku tidak ingin hidupku berjalan sia-sia saja. Aku tidak mau hidup susah, aku mau hidupku selalu sempurna. Baik itu materi, ataupun pada kesuksesan mimpi-mimpiku.            * * * * Aku tidak mengerti bagaimana Tuhan menjadi sutradara dalam kehidupan yang dijalani manusia dalam skenario yang Dia buat. Kenapa Dia membuat skenario kehidupan keluargaku menjadi berantakan? Kupikir semuanya kan berjalan baik-baik saja tapi nyatanya tidak semestinya.            "Non, kita sudah sampai." Pak Joko, sang supir memberitahu Nadya yang sempat nyaris terlelap. Sempat melihat halaman rumahnya dengan mata setengah terbuka. Menyadari akan suatu hal ketika pandangannya turun pada raport yang ia peluk----Nadya yang masih remaja----memegang raport dan sebuah sertifikat juara satu olimpiadenya----membuka mobil dengan terburu-buru----salah satu gestur yang menunjukkan ia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan orang tuanya hanya untuk memberikan kabar yang membanggakan seperti kakaknya, Dinda yang berteriak di rumah besar, yang mengatakan, "aku menang! Aku menang juara satu! Aku berhasil menjadi atletik mah! Pah!" Itulah mimpi terbesar Dinda, sang kakak.            Ketika kaki gadis remaja itu sudah menginjak tanah, keluar dari mobil super mewahnya. Kilas balik itu pun terhenti seketika.           Semua hal itu sudah kulewati puluhan tahun yang lalu yang kini hanya menjadi bayang-bayang. Tidak akan bisa terulang. Dan harapanku pun mendadak hilang. Yang terus menghantui, yang selalu datang. Adalah masa lalu yang terbelakang. Menjadi momok yang menakutkan yang tidak bisa dihilangkan dari kehidupanku dan mungkin hanya menjadi sebuah penyakit tuk tidak perlu ku kenang.           Tiap langkah tlah membawaku pada realita yang harus kuterima, mau tidak mau, suka tidak suka. Bila pada saat itu kuturun dari mobil memandang rumah besarku dan membayangkan wajah gembiranya kedua orang tuaku juga kak Dinda, tapi kini aku harus berdiri di depan rumah yang sederhana yang terletak di pedesaan, asri dan tentram yang halaman depannya dipenuhi tanaman bunga anggrek. Lalu ku membayangkan apa yang harus kukatakan bila sudah bertemu dengan sang kakak.           Kalau aku tidak salah lihat, ada kakak dari almh. Mamahku, namanya mbak Laras. Dia keluar dari rumah sambil mengaduk makanan di atas mangkuk yang ia bawa, lalu aku juga melihat anak balita lelaki duduk di kursi makan yang biasa balita pakai lengkap dengan meja yang menyatu dengan kursinya----ada di depan halaman rumah. Tak sengaja mbak Laras melihatku dengan terheran-heran. Mungkin ia tidak mengenalinya atau ia lupa dengan keponakannya sebab sudah lama sekali kami tidak berjumpa. Kubuka kacamata hitamku, tepat dalam hitungan detik ia langsung mengenaliku dan berteriak.           "Nadya!? Masyaallah! Ibuuuu! Bapakkkk! Ibuuuuuuu! Pakkk!!!" teriak ia sekeras mungkin berulang kali.           "Astagfirullah, kenapa, sih, kamu ini teh ribut-ribut segala, aya naon?"           "Itu buuuuu!!!" Sambil menunjuk ke arahku. Kakek sudah sadar akan kedatanganku tapi gak dengan nenek.           "Assalamualaikum nek," salamku ketika membuka pagar yang catnya sudah memudar.           "Waalaikumsalam... Aih, ya Allah! Bapakkk! Ada, sih, neng geulis Pak," girangnya sambil memukul-mukul pelan bahu kakek.           "Iya Bu iyaa dari tadi juga bapak udah liat," cetusnya sebal.           "Nenek... Kakek, mbak. Gimana kabarnya?" tanyaku ramah.           "Alhamdulillah baik," jawab nenek.           "Baik kok Nad, eh, mbak seneng banget kamu bisa main ke sini. Yaampun tambah cantik ya kamu," sahut mbak Laras.           "Ibu, Laras. Kalian ini gimana, sih. Nadya udah jauh-jauh mau dateng ke rumah kita yah kok malah gak disuruh masuk," rajuk kakek.           "Oh, iya, yaudah kita ngobrol di dalam aja, yah," kata Mbak Laras bersemangat.           Aku pun mengekor saja dari belakang sambil mendengar cerita-cerita kakek soal Mbak Laras yang ternyata sudah lama tinggal di sini karena suaminya telah meninggal dunia di medan tempur. Iya, yang kutahu suaminya kakak mamahku ini adalah seorang tentara angkatan darat. Mamah pernah cerita kalau Mbak Laras harus terpaksa berpisah setelah berselang satu hari pernikahan mereka. Ujian jarak dan waktu menjadi warna dalam kehidupan pernikahan mereka tapi setidaknya nasib mbak Laras yang berpisah dengan suaminya karena kematian tidak semenyedihkan nasib mamah yang berpisah karena perceraian dengan konflik sadis yang telah papah lakukan terhadap mamah.           "Kak Dinda gak ikut makan sama kita?" tanyaku bingung sebab aku belum melihat kak Dinda sejak tadi.           "Kakakmu gak pernah mau keluar, dia selalu ngurung di kamar. Tapi sudah jangan kamu khawatirkan, dia baik-baik saja, Ijah lagi anter makan malamnya ke kamar kakakmu. Nanti setelah kamu makan, baru kamu bisa tengok dia di kamarnya. Sekarang makan dulu, kamu pasti laper ya, kan," kata nenek mulai mengaduk nasi. Dan aku pun mulai menyuap nasi tapi...           "Eh, Nad, Jadi model itu enak, ya. Bisa terkenal, duit ngalir terus, terus pasti kamu banyak yang naksir, kan, ya," celoteh Mbak Laras mewarnai suasana makan malamku. Aku pun cuma tersenyum singkat. Walau aku sedang makan, pikiranku masih tertuju pada seseorang.           "Eh, kamu kok makannya dikit banget, sih, Nad?" Tanganku seketika berhenti di udara. Baru ingin memasukkan nasi ke mulutku setelah sebelumnya tidak jadi, mbak Laras yang duduk di sampingku tiba-tiba saja menepuk bahuku. "Emangnya jadi model makannya harus segitu? Ini mah nyiksa badan namanya." Sambil menunjuk piring ku yang isinya dikit banget. Aku cuma masang senyum lebar terpaksa. Makan malam ku ternyata tidak sesuai ekspetasi ku. Ketenangan ku diganggu oleh tanteku yang cerewet. * * * * Ku mendengar suara sayup-sayup dari luar kamar ketika aku baru sampai di depan kamarnya. "Kalo non Dinda gak makan, nanti non Dinda teh bakal sakit. Makan sedikit aja ya, non. Hayuk atuh."            Kubuka pintu kamar kak Dinda. Hanya penerangan minim dari lampu yang menyala yang ada di atas nakas. "Biar saya aja." Pada saat aku bersuara, aku merasa kak Dinda menyadari dan mengenali suaraku ini karena dari gerakan kepala yang menyamping sedikit seakan ingin menoleh namun tidak ingin ditunjukkan.            "Ah, iya, non Nadya." Bi Ijah meletakkan piring tersebut di atas nampan yang ditaruh di atas nakas. "Saya permisi dulu, ya, non." Ia pun berlalu dan hanya tinggal aku dan kak Dinda. Ia terduduk diam di atas kursi roda menghadap jendela yang terbuka, menampakkan pemandangan rumah-rumah yang saling berhimpitan. Suara-suara jangkrik menemani kesunyian diantara kami. Semilir angin menjadi pendingin di malam hari.            Jantungku tiba-tiba saja berdebar begitu cepat pada setiap langkahku berjalan di belakangnya menuju nakas, tempat sajian makan malamnya yang ingin ku ambil. Kumainkan sendok di atas piring hingga suara dentingnya mengalun. Tiap dentingnya seakan-akan membawaku pada memori yang ada dimasa lalu.            Kenang-kenangan itu berputar begitu cepat.            "Makan! Makan! Makan!" seru kami seraya memainkan sendok dan garpu di atas piring.            "Mah mana? Aku udah laperrrrrr!"            "Nadya juga mahhhh!!!"            "Sudah matang! Papah ayo, pimpin doa."            Aku mendongakkan kepalaku agar air mata itu tak luruh namun percuma tidak akan bisa kucegah. Dulu aku punya dunia menjadi tempatku hidup dan kini sekarang dunia itu perlahan-lahan telah tiada, segalanya telah berubah.            Ku membalikkan badan, masih tetap di posisi yang sama, dia masih terduduk di atas kursi roda menghadap jendela tanpa kata, tanpa suara. Aku pun berusaha menguatkan diri untuk bersikap biasa saja di depannya. Aku mengambil kursi di depan meja riasnya. Mengadukkan nasi dengan sayurnya.            "Aku seneng bisa ketemu sama kamu lagi kak." Suaraku bergetar, kusadari ini tidak akan mudah untukku bersikap sabar. Aku bukan seperti dia yang memang sangat penyabar. "Maaf baru sekarang aku bisa datang, dua minggu kemarin aku banyak urusan tapi aku gak lupa buat jenguk kakak selagi aku ada di Bandung." Ku angkat sendok ke udara pun ku mulai mau menyuapinya. "Makan dulu, ya. Baru setelah makan kita ngobrol-ngobrol lagi. Aku kangen sama kamu kak. Yuk, buka mulut kakak." Tapi secara tetiba saja, aku dikejutkan dengan sikap kasarnya. Dia menepis tanganku, kencang hingga membuat benda yang kupegang terjatuh dan berserakannya nasi.            Dia mendorong kursi rodanya dan memutarnya. "Kak..." Ia berusaha turun untuk pindah ke ranjang, ku taruh piring yang ku pegang, ku segera membantunya untuk pindah ke ranjang tapi lagi-lagi ia mendorongku. Ia melakukannya sendiri tanpa bantuanku. Berbaring membelakangiku. Membiarkanku berdiri dalam perasaan bingung. Aku pun memutuskan untuk keluar saja. Dan pada saat kubuka pintu, ada nenek dan kakek. Ku menggelengkan kepala, mengerti maksud dari tatapan mereka, bertanya dalam isyarat matanya, "apakah kamu berhasil bicara dengan Dinda?" * * * * Seharusnya hari kelulusanku di masa putih biru itu adalah menjadi hari yang berkesan dalam hidupku karena nantinya aku akan beranjak di masa putih abu-abu. Tapi kenyataannya tidak seperti itu. Jalan hidupku mulai berkelok tak sesuai yang kumau.                      Duniaku mulai berguncang pada saat itu, di mana ketika aku masuk ke dalam rumah setelah membuka sepatu dan kaos kakiku. Ku mendengar suara barang-barang dilempar hingga pecahannya mengenai kakiku yang polos. Itu pun tidak kusadari. Kumeringis, darah mulai keluar dari kakiku. Tapi rasa penasaran itu mengalahkan rasa sakit di kakiku.            Semua barang berserakan, tidak pada tempatnya. Keributan terjadi di lantai atas, aku pun segera menuju ke sana. Teriakan mamah membuatku makin kencang berlari menuju kamar kak Dinda.            "Mas!!!! Stopppp! Jangan lukai Dinda lagi. Dia juga sama tertekannya, kamu pikir dengan kamu bersikap seperti ini akan menyelesaikan masalahnya?" cecar mama membabi buta.            "Perempuan itu, anakmu adalah aibnya keluarga kita dan dia sudah mencoreng nama baik keluarga kita."            "Apa yang sudah terjadi memang sudah menjadi aib keluarga kita tapi bukan Dinda aibnya! Dinda gak pantas kamu salahkan Mas. Orang yang memperkosa Dinda yang harusnya kamu salahkan. Sekarang, psikis Dinda lebih penting untuk kita pikirkan daripada memikirkan nama baik keluarga kita. Aku tau kamu takut, 'kan akan menjadi perbincangan orang lain, iya, 'kan?"            Aku cuma bisa menyaksikan perdebatan mereka di ambang pintu. Tanpa tau apa yang terjadi. Kak Dinda terduduk dengan kepala tertunduk di tengah-tengah mereka. Kulihat jelas tubuhnya bergetar, sekujur tubuhnya dibasahi keringat dingin, air matanya pun ikut membasahi wajahnya.            "Mah, Pah, kenapa kalian bertengkar?" tanyaku dengan suara bergetar.            Keduanya menoleh ke arahku begitu juga dengan Kak Dinda mendongak menatapku. Papa tiba-tiba saja berjalan ke arahku. Ia mensejajarkan tubuhnya denganku. "Kamu jangan dekat-dekat lagi dengan kakakmu." Ketika itulah aku menangis, jantungku terasa ditikam secara tragis.            "Mas!" Mama membentak.            "DIAM!" Papa suaranya lebih tinggi lagi. Tanganku pun ditarik namun aku memberontak sampai raport dan piagam yang kupegang terjatuh. Aku dikurung di dalam kamar. Suaraku yang memohon dengan menangis itu tidak didengar oleh papah. Aku kebingungan, aku takut, aku tidak tau apa yang terjadi. Ada apa sebenarnya? Sampai malam hari aku masih terkurung. Tidak ada suara keributan lagi. Sepi seperti tidak ada orang. Aku masih terduduk menangis di atas lantai, kepalaku bersandar di pintu, kedua tanganku memeluk lutut.            Aku tidak tau harus melakukan apa.            Tetiba aku mendengar suara kunci yang diputar. Aku langsung bangun. Pintu terbuka setelah aku berdiri. Ternyata itu kak Dinda. Rambutnya berantakan tapi banyak yang dipotong tidak rata seperti ada seseorang yang memang sengaja merusak rambut kak Dinda dan kak Dinda hanya mengenakan tank top berwarna merah muda dengan celana mini yang menampakkan pahanya yang banyak luka memar dan merah. Apakah papa yang melakukan semua itu? Apakah papa telah menyiksa kak Dinda? Apakah papa yang memukul kak Dinda? Mengingat keributan tadi sore.            "Kak Dinda... Sebenernya apa yang terjadi? Kak Dinda kenapa? Kenapa banyak luka di tubuh kak Dinda? Mama papa kenapa bertengkar?" Seiring ku bertanya, kakiku terus melangkah ke depan di mana ia berada di posisinya. "Kak Dinda..." Ia tiba-tiba memelukku sampai tubuhnya perlahan-lahan terjatuh. Aku sekuat tenaga menahan tubuhnya sampai akhirnya kami berdua sama-sama terduduk di atas lantai nan dingin.            Kak Dinda menangis tanpa henti dalam pelukanku. Kekhawatiranku semakin besar. "Kak jawab, jangan buat aku khawatir kayak gini. Kakak kenapa? Ayo cerita sama Nadya."            "Kakak..." Semakin ia mengeluarkan suaranya, semakin erat pula ia meremas seragamku. "Kakak hamil dek. Kakak hamil."            "A...apa? Hamil?" Aku jelas kaget dengan berita yang baru kudengar.            "Kakak bingung, kakak gak tau harus gimana? Papa marah banget sama kakak. Kakak udah bikin malu keluarga kita. Kakak bodoh Dek. Kakak benar-benar malu," paraunya menangis tersengguk-sengguk.            "Kak, jangan bilang begitu. Kakak gak bodoh. Kakak yang tenang, ya. Kita masih bisa cari solusi dari masalah ini bareng-bareng. Kakak harus kuat." Aku gak tau lagi harus bilang apa karena saat ini kak Dinda akan sangat sulit untuk ditenangkan.            "Kuat?" Ia mengendurkan pelukannya. Menatapku heran sekaligus tidak percaya dengan ucapanku tadi. Detik berikutnya kak Dinda berubah jadi emosional. Ia pun berdiri setengah membungkuk untuk bicara padaku yang masih terduduk. Shock dengan perubahan kak Dinda. "Aku harus kuat yang gimana dek? Cari solusi? Cari solusi yang seperti apa yang kamu maksud? Gak ada kata solusi. Gak ada jalan keluar dari masalah ini. Ada janin yang sedang aku kandung dan sekarang kamu bilang aku harus tenang?"            Kudirikan tubuhku ketika ia mengarah ke meja belajarku dan mengacak barang-barangku di atas meja sana. Entah apa yang ia cari, tapi gunting yang terletak di dalam gelas bersama dengan peralatan kerajinan tanganku menjadi benda yang kuyakini adalah benda yang kak Dinda cari. Benda tajam.            "Satu-satunya solusi yang kita punya..." Ia mengangkat gunting tersebut ke udara. "Adalah membunuh nyawa di dalam nyawa."            "KAK DINDAAAAA!!!" Aku berteriak kencang ketika ia ingin menusuk benda tajam itu ke perutnya namun mama ternyata datang tepat waktu. Di mana ia segera menahan tangan kak Dinda dari samping.            "Jangan lakukan itu nak, mamah mohon. Jangan."            "Lepasin aku mah!!! Lepasinnnn!!!"            "Enggak! Mamah gak akan lepasin kamu. Mamah gak mau kehilangan kamu, nak."            "Lebih baik aku mati daripada jadi aib buat keluarga ini! Sekarang lepasin aku mah. LEPASINNN! LEPASINNNNN!!!" Emosi itu menjadikan ia seperti monster hingga mencelakai mamah sampai terjatuh dan kepala terbentur di atas lantai. Dan aku tidak pernah bisa berhenti menyebut namanya.            "Kak Dinda! Hentikan! Kak Dinda aku mohon. Kak Dinda... Kak Dinda..." Dan kenangan itu ternyata sampai pada mimpiku. Di malam pertama aku tertidur di bawah atap yang sama dengan kakak kandungku. Keringat dingin membasahi penuh dahi dan leherku. Aku terbangun. Sinar matahari menembus gorden yang belum dibuka. Kubuka gorden itu juga jendela agar udara segar bisa masuk ke dalam kamarku. Mimpi itu benar-benar seperti menggerogoti tenagaku hingga habis. Aku tidak bisa berpikir jernih pagi ini.            "Ya Tuhan..." Aku mendesah pelan. Jantungku masih berdebar cepat bersamaan dengan tubuhku yang bergemetar. Ku menoleh ketika handphoneku di atas meja rias bergetar. "Iya?"            "Nadya Aura Amelia, gimana Lo udah pelajarin materi yang gue kasih ke lo, 'kan?"            "Materi? Materi apaan?" Aku berbaring kembali di atas ranjang. Kepalaku tiba-tiba saja berdenyut pusing.            "Yaampunnnnn!!! Lo, 'kan diundang acara seminar di UNPAD. Lo lupa?"            "Oh, itu, iyaudah gue siap-siap dulu."            "NADYA!" balasnya membentak.            "APALAGIII?" Aku tambah membentak karena aku paling benci dibentak.            "Yang gue tanyain itu Lo udah pelajarin belum apa yang bakal Lo omongin sama anak-anak mahasiswa itu."            "Aduhhh cerewet banget, sih, iyaa gue udah tau! Udah ya gue mau siap-siap, nih. Ntar gue telat Lo malah ngomel lagi."            Yang menelphone aku tadi adalah Dwita Sari, managerku yang paling cerewet dan galak. Tapi aku lebih suka dengan manager seperti dia yang tegas. Karakter kami hampir sama, nyaris banyak kesamaan. Apalagi visi dan misi kami. Hanya saja kekurangannya kita sama-sama keras dan jarang ada yang mau mengalah tapi kami masih bertahan untuk bekerja sama, sesama rekan kerja.           Selesai urusan dengan tubuhku telah selesai. Aku keluar kamar untuk makan bersama dengan kakek dan nenek juga mba Laras. Tapi, aku tidak melihat kak Dinda di sini.           "Kak Dinda mana?"           "Dinda lagi di atas, Nad."           "Kok kalian gak ajak dia makan bareng sama kita?" tanyaku bingung.           "Kamu lupa ya yang mba Laras bilang kemaren? Kakakmu itu udah dari awal maunya makan di kamar, dia gak mau makan kalo makan di luar kamarnya."           "Oke, aku ke kamarnya dulu."           Tiba di sana, kak Dinda sedang disuapi sama bi Ijah. "Pagi kak." Aku mencium pipinya dan untungnya ia tidak menolak. Aku berjongkok di hadapannya. "Hari ini aku mau ke UNPAD, aku jadi bintang tamu di sana dalam acara seminar. Aku berniat mau mengajak kakak. Kakak mau, 'kan ikut aku? Aku gak mau liat kakak selalu di kamar. Kakak butuh udara segar."           Tapi tidak ada jawaban. Aku sudah mulai jengkel. Lantas aku berdiri dan marah-marah di depannya. "Kak, aku ini bicara sama kakak dari kemaren. Aku bicara sama manusia bukan sama benda mati, bukan sama patung, bukan sama tembok. Kakak ini gak bisu, 'kan?" Masih saja tidak ada jawaban. "Hah! Terserah kakak aja." Akhirnya aku menyerah. Namun baru beberapa langkah saja, akhirnya aku mendengar jawaban kakak.           "Jangan berpura-pura baik di depan saya. Jangan buat saya jadi merasa tambah buruk di depan orang lain. Saya tidak mungkin merusak reputasi kamu sebagai model, walaupun saya kakak kamu tapi tetap saya hanya perempuan buta dan lumpuh. Saya gak akan mempermalukan diri kamu. Saya gak akan lagi merusak nama siapapun Cukup di masa lalu, tidak untuk di masa sekarang."           Aku membalikkan badan. Sudah cukup aku mendengar jawabannya yang tidak masuk akal. Aku memang tidak pernah tau bagaimana posisinya karena aku tidak pernah mengalaminya namun aku tau dia sudah hancur dan kini tujuanku hanya ingin membuatnya bangkit karena hanya itu yang bisa kulakukan.           Hendak aku mau menjawab ujarannya tadi tapi nenek datang. Memegang bahuku dan berbisik, "sudah, lebih baik kamu pergi." Aku cuma bisa diam. Melihatnya masih dengan aktivitasnya yang tadi bersama bi Ijah. []
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN