Chapter 12 : Something that unconsciously grow

1465 Kata
Pada jalanan kota London yang padat penduduk, orang-orang berlalu-lalang, dan beragam jenis kendaraan yang berlomba untuk sampai tujuan lebih cepat. Gerimis memberi jejak, membasahi jalanan kering dan menimbulkan aroma petrikor. Darren berada di antara para pejalan kaki yang menyeberang di zebra cross, beberapa orang sibuk dengan ponsel mereka, beberapa lainnya berbondong melajukan kedua langkah kaki secepat yang meraka bisa ketika mengetahui jam akan segera menunjukan tengah malam—namun Darren berjalan dengan lamunannya. Seorang anak laki-laki dengan jaket abu dan celana jeans se-lutut melambaikan tangannya ke arah Darren tepat di bawah lampu menuju sebuah gang kecil di hadapannya. Darren menyunggingkan senyuman, tanpa terasa ia sudah sangat dekat dengan tempat tujuannya. Sebuah lambayan menyambut anak laki-laki itu sebagai balasan, “Aku tepat waktu bukan?” anak itu sedikit mengencangkan suaranya. Darren tertawa kecil, “kecilkan suaramu, ini sudah tengah malam.” Anak laki-laki itu menutup mulutnya segera, namun dapat Darren lihat dari kedua mata yang menyipit bahwa anak itu sedang tertawa dibalik tangannya. “Maaf aku tidak membawa apapun, sudah tengah malam jadi aku tidak mendapatkan sesuatu yang enak untukmu.” “Ayolah, kau pulang saja sudah membuatku senang, kakak.” anak laki-laki itu memberi tinjuan kecil pada tangan Darren. Sekali lagi Darren bersyukur sebab memiliki saudara kandung untuk saling menjaga, bercerita, dan melepas penat kendati adiknya ini baru berusia dua belas tahun. “Bibi 24 jam masih membuka pintu bukan?” “Tentu saja, ayo kita kesana.” “Ya Tuhan, kau masih begitu menggemari ramen di sana?” tanya Darren, ia tahu adiknya ini begitu menyukai hal-hal dari asia apalagi untuk anime dan santapan korea. “Ya, ramen disana enak. Sekalian juga tolong bayarkan makananku selama tiga hari kemarin.” “Paul! Ya Tuhan, kau memakan ramen selama tiga hari berturut-turut?” Paul mengangguk, diiringi senyuman tanpa dosa dari wajahnya yang polos itu. “Dan ini untuk yang ke empat secara berturut-turut.” Darren memberikan tatapan mematikan pada sang adik, “kalau begitu kita pulang saja, lebih baik aku memasak di rumah.” “Aku tidak mau, bukankah ini hari yang berbeda? untuk pertama kalinya kembali selama tiga bulan aku bisa makan ramen berama kau lagi. Kesibukanmu bekerja di rumah sakit membuatku begitu merindukan momen kecil yang hanya sekadar makan ramen di kedai bibi Veronica.” Darren menyerah, ia luluh lagi oleh bocah ini. “Hanya satu mangkuk, okay?” “Deal,” sorak Paul. Tak butuh waktu lama dari gang tersebut sampai ke kedai ramen yang disukai Paul. Darren langsung memesankan dua porsi berikut minuman dan beberapa cuci mulut. “Apa pekerjaanmu lancar, kak? Uhukkk..” Paul tersedak, Darren segera memberikan air putih untuk sang adik. “Bisakah bicaranya jangan sambil makan?” Darren menatap tajam ke arah Paul, sedangkan Paul hanya memberikan cengiran yang membuat Darren sangat ingin menjitak kepalanya. “Aku hanya terlalu antusias untuk mendengarkan ceritamu,” “Kau ingin mati tersedak?” Paul kembali tertawa, anak itu terlihat bahagia bisa kembali bertemu dan menghabiskan waktu bersama dengan kakaknya. Selama ini bekerja di rumah sakit jiwa membuatnya mau tak mau harus menghabiskan hari-hari dan menginap di rumah sakit. Paul ia biarkan hidup sendiri di sebuah rumah sewa beruntungnya ibu pemilik sewa yang tidak memiliki anak itu begitu baik kepada Paul. Jika ia memiliki makanan maka ia tidak akan pernah melupakan Paul untuk mencicipinya barang sedikit saja, itu sebabnya Darren mampu dengan tenang meninggalkan Paul disana, ia hanya akan mengirim uang setiap dua minggu sekali dan mengajarinya untuk tidak boros. Darren menyimpan harapan besar terhadap Paul, ia ingin Paul menjadi anak yang sukses nantinya, masuk perguruan tinggi yang diminati dan tidak kesulitan mendapatkan pekerjaan seperti dirinya. Ia ingin menjamin hidup Paul, semenjak kedua orang tuanya meninggal Darren berjanji akan merawat Paul sebaik mungkin. “Pekerjaanku lancar,” singkat Darren. “Tidak ada pasien yang merepotkanmu? menurut guruku pekerjaanmu sangat mulia. Hanya orang-orang sabar yang mampu bekerja disana. Kak, kau hebat sekali.” Paul memberikan dua jempolnya kepada Darren. Darren membeku seketika, ucapan itu mengandung banyak bawang yang bisa membuat kedua matanya panas ingin mengeluarkan air. Entah sejak kapan Paul bisa membuat hati orang lain menjadi hangat seperti ini, siapapun yang mengajarinya Darren sungguh akan memarahinya. “Uhukk..” kini Darren yang tersedak, adegan beberapa menit lalu terulang dengan Paul yang kini membarikan secangkir air putih untuk melancarkan tenggorokan kakak yang tersumbat. “Sejak kapan kau bisa berucap manis seperti itu?” “Sejak aku mengenal seorang wanita di kelas, ia bilang setiap orang menyukai pujian. Jadi aku memberikan satu kalimat untukmu.” “Ck, itu hanya menghiburku rupanya.” Darren menggelengkan kepalanya sembari tertawa, ia menyeruput kembali kuah ramen pedas miliknya. “Tapi aku jujur ketika mengatakan bahwa guruku mengucapkan itu.” “Baiklah baiklah, sekarang ku tanya siapa wanita yang kau kenal di kelasmu itu? apa kau berpacaran ketika kakakmu sendiri belum memiliki pacar?” Paul hampir menyemburkan kuah ramen kepada kakaknya, “Ya Tuhan, kami hanya saling mengenal. Ku tanya apa yang disukai wanita agar aku bisa mengajari kakakku berkencan.” “Plakk..” Darren memukul kepala Paul dengan sendoknya. “Ya ampun kak, rambutku akan mengeluarkan bau.” “Itu balasan untuk adik yang kurang ajar.” “Tapi kurasa itu akan berguna untuk kakak. Jadi tolong kakak simak, wanita itu sangat menyukai kejutan. Bisa dibelikan barang, makanan, atau setangkai bunga. Berikan ia pujian, dan elusan di kepalanya.” “Uhukk..” untuk kesekian kali Darren tersedak. Adiknya ini sudah sangat memahami hal dewasa, itu membuatnya marah dan sedikit geli. Paul hanya boleh belajar di usianya yang sangat belia, tidak boleh ada perasaan cinta sebelum lulus sekolah menengah akhir. Namun ia akui informasi itu sedikit membantunya yang sangat kaku terhadap wanita. “Untuk apa kau mencari tahu hal-hal dewasa?? Kakak tidak memerlukannya, kakak lebih handal jauh dari apa yang selama ini kau kira. Jangan coba-coba memahami hal dewasa sebelum waktunya, bocah.” Darren menekankan kata bocah di akhir kalimatnya. “Kau lebih handal? Kapan terakhir kali kudengar kau menyukai wanita?” “Sialan Paul!!! besok pagi buatkan kakakmu sarapan sebelum pergi ke sekolah!” mendengar itu membuat Paul tertawa dengan puas, ia mengangguk menerima hukumannya besok pagi. “Tapi apa kakak punya seseorang yang kakak sukai saat ini?” Darren terdiam dengan pertanyaan Paul kali ini. “Hmmm..mungkin ada.” “Apa dia seorang perawat? Keliatannya itu akan sangat cocok.” “dia seorang pasien.” “Uhuk..” Paul kali ini, ia segera mengambil air putih sendiri dan meneguknya dengan rakus. “Mengapa kau terlihat seperti pria dewasa sih?” Darren terkekeh. “Apa aku tidak salah dengar? kau menyukai seorang pasien? Pasien disana kan—“ “Sudah hentikan, lagipula tidak mungkin kan? mengapa kau menganggapnya serius?” “Aku hanya takut kau menyukai wanita gila.” Paul bergidig sendiri. “Tidak, dia tidak gila. Suatu hari nanti akan kuceritakan tentang ini. ini cerita yang sedikit gila namun menyedihkan. Kau akan tertarik mendengarnya,” ucap Darren, ia menyeruput kuah ramen terakhir di mangkuknya. “Ayo kita pulang,” Darren mengelap mulutnya dengan tisu, menegak cola dan menjejalkan makanan penutup sebelum Paul menyetujui ajakannya untuk pulang. “Belikan aku es cream. Aku ingin menikmati udara malam sembari mendengarkan ceritamu sekarang. pokoknya tidak mau menunggu dewasa nanti untuk memahaminya.” “Ya Tuhan, kau benar-benar seperti seorang pria tua. Ini sudah sangat larut dan kau harus pergi tidur, Paul.” “Baiklah, kita akan pulang tapi ceritakan sesuatu tentangnya padaku sekarang juga.” “Kau bicara saja masih berbelit-belit, malah ingin tahu masalah orang dewasa.” Paul memincingkan matanya tidak setuju dengan penuturan Darren. Ia bergegas bangkit dari kursinya dan menuju keluar kedai. “Jangan lupa bayar ramen tiga hari kemarin.” Darren mencebik, adiknya itu sungguh sangat menyebalkan namun membuatnya rindu setiap hari. Andai Darren memiliki pekerjaan yang layak, tidak perlu meninggalkan adik satu-satunya itu di rumah sendirian. Mungkin akan banyak momen antara mereka berdua, mungkin tidak akan ada waktu percuma antara mereka berdua. “Bocah tua, tunggu aku.” Paul yang melihat sang kakak baru saja keluar dari kedai mulai menjulurkan lidahnya, ia berjalan lebih cepat dan Darren berlari mengejarnya. “Ada seorang wanita di tempat kerjaku, ia memiliki luka di dalam hati serta pikirannya sehingga ia harus mendekap di rumah sakit jiwa sebagai seorang pasien. Hanya saja dia tidak seperti pasien lain, ia mudah diajak bicara, ia pintar, ia merupakan wanita yang luar biasa cantik dengan kehidupan yang mewah. Kau tahu seberapa tidak mungkinnya kakak untuk bersamanya? sembilan puluh sembilan persen, bukan mengenai kesalahan psikisnya namun ada garis pembatas yang nyata antara kami. Aku hanya bisa menjaganya, dan merawatnya. Tak berani berandai untuk bisa memilikinya.” Matilda, bunga yang dianggap cacat namun tetap memiliki aestheticnya itu tidak pernah menyangka akan hadir di hati Darren. Datang melalui kesalahan, penipuan, lalu memenuhi isi kepala Darren, membuatnya iba, rasa ingin melindungi pun tiba dan berakhir menjadi sebuah cinta.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN