Malam itu gemuruh angin disertai petir membuat suasana rumah sakit begitu mencekam, hujan turun dengan sangat deras membasahi lantai depan gedung Hiraeth. Lagu lawas memenuhi seisi lobi yang sepi, beberapa kali diputarnya lingkar penala mencari lagu menarik lain usai lagu pertama habis untuk menemani jaga malam di rumah sakit. Sebuah mobil memasuki area depan gedung Hiraeth, para penjaga lobi bangkit dan menghampiri mobil tersebut.
Bajunya yang kuyup seolah menjadi pertanda bahwa ia tidak menaiki mobil sedari awal untuk menjaga tubuhnya dari guyuran hujan. Kaki-kakinya menuntun ke belakang, menarik pintu di kursi penumpang dan masuk untuk membawa seorang wanita bergaun putih di kursi belakang. Kedua tangan dan kaki si wanita diikat, mulutnya dijejalkan kain, dan ia dalam keadaan tak sadarkan diri ketika pria di kursi kemudi menggendongnya memasuki gedung Hiraeth.
“Aku ingin menemui manager rumah sakit ini.” Ucapan pria itu sedikit bergetar, ada sedikit kegetiran dari sorot kedua mata keabuannya.
“Kami tidak bisa memberi anda izin larut malam seperti ini, sebab manager akan pulang sekitar sepuluh menit lagi. Kami tidak bisa menahan waktu pulangnya untuk sebuah keluhan.” Penjaga lobi wanita itu berusaha sesopan mungkin untuk menolak si pria.
“Dan kau akan membiarkan seorang pasien dalam keadaan seperti ini?” pria itu meminta mereka untuk melihat wanita yang berada dalam gendongannya. Wanita itu terlihat sangat menyedihkan, selain ikatan-ikatan di kedua tangan dan kakinya, ia memiliki beberapa lebam di tubuhnya, gaunnya yang kumal dan rambut sudah sangat berantakan. Keadaan yang kuyup itu tidak disangka mungkin akan sangat menyakiti luka-luka pada tubuh si wanita.
“Aku akan menghubungi manager terlebih dahulu, bisakah anda bersabar?” ucap seorang dari mereka.
“Kau tidak bisa menghubunginya di jam-jam ini.” sergah seorang penjaga pria yang bertugas menjaga lobi pada malam hari ini.
“Apa kau akan tega membiarkannya seperti ini?” terlibat sedikit perdebatan disana. Si pria yang menggendong wanita itu hanya diam menunggu keputusan, sembari beberapa kali membenarkan posisi wanita yang berada dalam gendongannya agar tidak terjatuh.
Selagi menunggu keputusan tiba-tiba saja seorang pria dengan setelan jas dokter menghampiri mereka dari arah lift. “Ada apa?” dokter itu bertanya penuh penasaran, melihat keadaan wanita dalam gendongan pria itu membuat sang dokter merasa iba.
“Dr.Albert, ia ingin menemui Mr.Michael dalam keadaan selarut ini, sedangkan ini jam dimana Mr.Michael tidak bisa diganggu dan harus segera pulang.”
“Aku mohon biarkan aku menemui manager kalian,” pinta pria tersebut.
“Begini tuan, jika anda memerlukan perawatan disini anda bisa mendaftarkannya terlebih dahulu. Syarat dan ketentuannya tidak memerlukan waktu lama, anda tidak perlu bertemu dengan manager kami terlebih dahulu.” Dr.Albert yang bicara, ia tahu seperti apa Mr.Michael. dalam keadaan genting sekalipun pria itu tidak pernah mau diganggu.
“Aku bisa membayar lebih untuk menjumpainya.” Kedua pria dan wanita penjaga lobi depan tampak sedikit terkejut.
“Tidak tuan, kami tidak mengharapkan hal tersebut. Namun disini manager kami menerapkan sebuah peraturan untuk tidak mengganggunya, apalagi pada saat jam kerjanya selesai. Aku harap kau bisa mengerti ucapanku.”
“Tidakkah seharusnya kalian mengutamakan calon pasien kalian?”
Dr.Albert terdiam sejemang, si pria terlihat begitu memerlukan pertolongan. “Boleh kutahu apa yang terjadi terhadap wanita ini? ini rumah sakit untuk orang-orang yang memiliki permasalahan psikis.”
“Yaa aku tahu, aku tidak salah membaca gapura di depan. Jadi bisakah kalian membantuku sebelum wanita ini kembali menggila?”
“Baiklah, hubungi Mr.Michael sekarang juga.” Dr.Albert tidak ada pilihan, mungkin ia harus meminta izin orang yang bersangkutan terlebih dahulu.
Telepon disambungkan dan serta-merta si pria mendapatkan izin untuk bertemu ketika ia katakan akan membayar berapapun untuk itu. Dr.Albert mengekori mereka menuju ruangan Mr.Michael, ada sebuah sofa disana dan si wanita dibaringkan sementara disana. Duduklah ia berdampingan dengan Dr.Albert beserta Mr.Michael di hadapan mereka.
“Bisakah kekasihku dirawat disini?” tanya pria itu penuh harap, ia mengelap pipinya yang basah terkena air hujan di luar sana, tindakan itu membuat Mr.Michael memandangnya dengan remeh.
“Seharusnya kau tidak perlu menemuiku hanya untuk hal ini, kau bisa mendaftarkan kekasihmu dan membayar administrasinya,” tukas Mr.Michael
“Kupikir aku perlu untuk memintamu izin. Aku ingin ia diberi fasilitas yang cukup, makanan yang bergizi, dan seseorang yang bisa merawat penampilannya.”
“Hahaha…semua pasien di sini diperlakukan sama, tidak ada yang diistimewakan seperti itu,” ucapan Mr.Michael terdengar meremehkan, ia bahkan menyelipkan tawa pada ucapannya.
“Aku akan membiayai semuannya. Dengan sebuah catatan—“ ucapan si pria menggantung, membuat Mr.Michael maupun Dr.Albert penasaran akan kemauan pria ini.
“Ia tidak boleh sembuh sebelum aku datang kemari untuk membawanya kembali.”
Dr.Albert refleks menatap pria di sampingnya. Sepertinya yang gila bukan perempuan itu namun pria di sampingnya ini. Ada maksud lain dalam niatnya membawa sang gadis ke rumah sakit dan membiayai segala keperluannya seolah ia pria baik, hanya saja si wanita tidak boleh di sembuhkan? Its f*****g crazy.
“Jadi kau hanya ingin kami menyediakan penginapan vvip untuknya ?” tanya Mr.Michael.
“Kurang lebih. Aku ingin ia aman di sini dan tidak kekurangan apapun.”
“Kurasa kau salah membawanya kemari. Ini tempat untuk orang-orang yang memerlukan pengobatan,” tukas Dr.Albert, ia cukup geram untuk hanya diam mendengarkan niat jahat pria di sampingnya ini kepada seorang wanita yang sejak awal ia katakan merupakan kekasihnya sendiri.
“Ia memiliki cukup gangguan untuk kubawa kemari.” Sialan, Dr.Albert mengumpat dalam hati, semakin lama pria ini semakin terdengar kurang ajar.
“Ia sering mengamuk, melempar barang-barang, menakuti barang-barang tertentu, cemas, dan ketakutan yang berlebihan. Untuk jelasnya aku tidak akan memberikan informasi lebih dari itu. Aku hanya ingin meminta kalian menyembunyikan identitas dan informasi apapun mengenai kami berdua. Merawatnya tetap demikian dan kupastikan akan memberikan sejumlah uang untuk segala keperluannya selama disini,” ucapnya panjang lebar.
Dr.Albert mengepalkan tangan kanannya menahan emosi, hanya saja ia menunggu Mr.Michael mengambil keputusan yang cukup bijak untuk menolak pria b******n seperi ini. “Jika ingin memperlakukannya lebih dari pasien lain maka kami harus menyiapkan perawat ekstra, serta ruangan yang ekstra dan itu memerlukan biaya lebih.”
“Sudah kukatakan aku akan membayar semuanya. katakan saja berapa total semuanya dan aku akan kirimkan cek untukmu.”
Mr.Michael tertegun, sumpah serapah Dr.Albert layangkan dalam hati sebab dari gerak-geriknya Mr.Michael akan dengan senang hati menerima penawaran dari pria tersebut. Mr.Michael beberapa saat hanya terdiam mengambil keputusan hingga tangan kanannya kini bersua dengan gagang telepon di atas mejanya. “Siapkan ruangan di lantai satu nomor 28, sekarang juga.”
Dr.Albert mengusap wajahnya dengan gusar, tittle sebagai dokter psikolog membuatnya dengan mudah membaca pikiran seseorang hanya dengan gesture tubuhnya saja. “Tidakkah tindakanmu itu keterlaluan? setiap pasien yang dibawa kemari dengan tujuan untuk sembuh, dan apa yang kau lakukan?”
“Aku memiliki cukup alasan untuk melakukannya,” ujar pria tersebut, ia bahkan tidak memberikan tatapan mata saat berbicara dengan Dr.Albert.
“Persetan dengan alasan tersebut, ini sama saja membuatnya menderita. Dan Mr.Michael, aku tidak habis pikir kau akan menyetujui ide gila ini.” Mr.Michael terdiam, ia mijat pelipisnya perlahan.
“Aku hanya melayani sesuai kebutuhan para pasien, Albert.”
Dr.Albert mendesah, sekali lagi mengusap kasar wajahnya dengan kedua tangan, “ini gila, Michael,”
“Albert, tolong.” Dr.Albert kembali mendesah, ia bangkit dan pergi begitu saja meninggalkan ruangan Mr.Michael.
Tiga hari berlalu, Dr.Albert tidak mengetahui apapun mengenai perkembangan tentang pasien malam itu sebab ia tidak ada jadwal untuk tiga hari tersebut. Kali ini di pagi hari Dr.Albert sudah disambut Mr.Michael di ruangannya. Dr.Albert mengetahui akan kemana arah pembicaraannya mereka nantinya, tidak lain hanya agar Dr.Albert mau menyetujui hal tersebut.
“Albert, sudah lama kita tidak berbincang dengan santai sebagai seorang kawan.” Mr.Michael memulai pembicaraan.
“Kau adalah adik tingkatku di kampus dulu. Umur kita hanya terpaut lima tahun, tapi kau mampu berada di circle ku seolah kita adalah teman sebaya. Kau juga tanpa ragu memanggil namaku, kita sudah seperti saudara sejauh ini. Kau tahu bagaimana asal muasalku mendapatkan rumah sakit ini dari pamanku.”
Dr.Albert hanya diam menunggu Mr.Michael mengeluarkan semua yang ingin ia katakana kepadanya. “Kau tahu bagaimana aku susah payah mencoba menaikan rumah sakit ini kembali. Saat ini kita sedang berada dititik terendah, kita memerlukan biaya tambahan untuk tetap mendirikan rumah sakit ini.”
“Lantas?”
“Aku tidak ada pilihan selain menerima pasien kita malam itu. Aku memerlukan biaya untuk mempertahankan rumah sakit ini.”
“Tapi seharusnya tidak dengan cara seperti ini, kau tahu pria itu tidak terlihat seperti pria yang baik. ini tak lebih dari perencanaan penyekapan. Kau harus memberinya obat-obatan tanpa anjuran seharusnya. Ini kejahatan, Michael”
“Aku harus melakukan segala cara untuk mempertahankan rumah sakit ini. ini satu-satunya sumber pendapatanku. Ku harap kau mengerti Albert, aku harap kau mau berdiri di sampingku untuk sama-sama menyembunyikan hal ini demi Hiraeth.”
Dr.Albert mengusap wajahnya, “Aku tetap akan menjalankan tugasku, aku tidak ingin terlibat dengan khasus obat-obatanmu. Aku tetap akan mengurusnya sebagai seorang dokter.”
“Kumohon.”
“Sudah kubilang aku akan tetap menjalankan tugasku. Aku tidak akan berdiri di pihak seseorang yang sudah kutahu tindakannya adalah kesalahan. Tapi mungkin, aku akan membiarkannya tetap rapat tanpa ada yang tahu khasus ini.”
“Oke, itu cukup. Lakukan tugasmu, dan aku akan lakukan tugasku.”
“Kupikir aku perlu mengetahui siapa nama pasien baru kita.”
“Lantai satu kamar nomor 28, atas nama Matilda.”