Darren menaruh nampan dengan beragam lauk pauk lezat di atas sebuah nakas. Ia duduk di samping ranjang Matilda seraya menyunggingkan sebuah senyuman untuk sang pasien. Untuk kesekian kali Matilda terlihat cantik, ia sudah segar setelah mandi pukul tujuh pagi dibantu Jane dan kini Madam Bettie baru saja selesai meriasnya. “Kau terlihat begitu santai pagi ini, Darren.” Matilda menggoda Darren karena tidak terlihat kaku seperti pertama kali ia melihat Madam Bettie di ruangannya, pasalnya saat ini Madam Bettie masih berada di sampingnya.
“Tentu saja,” sahut Darren singkat, sedangkan Madam Bettie terlihat sedikit gugup saat ini. “Matilda, lupakan semua yang pernah kukatakan padamu tentangnya. Aku juga sudah melupakan semuanya.” Matilda tampak terkejut dengan penuturan madam Bettie barusan.
“Kau menyerah begitu saja?” Madam Bettie serta-merta mengangguk, tak berani mengalihkan pandangan sekali kepada presensi Darren yang berada diseberangnya saat ini.
“Yang kuinginkan saat ini adalah kesehatanmu,” tutur Madam Bettie, seraya menggenggam kuat kedua tangan Matilda diatas pangkuannya.
“Kenapa kau ini? aku sehat kok.” Matilda memberikan sebuah senyuman hangat kepada Madam Bettie.
“lebih baik sekarang kau makan, nona.” Darren kini yang bersuara, ia mengambil satu piring dengan nasi dan sebuah chicken wings dengan bumbu kecap serta rempah yang lezat. Menurut juru masak di dapur Hiraeth itu merupakan makanan kesukaan dari Matilda jadi mereka akan memberinya lebih sering sebagai menu santapan gadis itu.
“Bolehkah aku meminta suapan darimu?” tanya Matilda tiba-tiba, biasanya ia akan menggunakan kedua tangannya sendiri untuk makan. Baru kali ini ia meminta seorang pelayan di Hiraeth untuk menyuapinya.
Darren mengangguk, itu bukan sebuah masalah mengingat pekerjaannya memang untuk melayani Matilda di sini. Darren membuat potongan pada ayamnya, mencampurkannya dengan sedikit nasi dan mulai memberikan suapan pertamanya kepada Matilda. Matilda mengunyahnya dengan penuh penghayatan, entah disengaja atau terlampau nikmat sehingga tanpa sadar ia memberikan ekspresi yang cukup konyol untuk hanya memakan sedikit potongan chicken wings. Suapan kedua hingga ketiga lolos dengan tanpa adanya penolakan namun, suapan ke empat Matilda tampak sangat tidak fokus.
Darren memasukan sendok dengan nasi kedalam mulut Matilda yang terbuka, hanya saja Matilda tidak mengunyahnya saat ini, ia membiarkan mulutnya terbuka hingga makanan yang dijejalkan kedalamnya bertumpahan mengenai pakaian putih yang ia kenakan saat ini. “Kau kenapa?” Madam Bettie tiba-tiba panik. Disaat bersamaan Matilda kembali menggila lagi, ia mendorong piring di tangan Darren hingga jatuh berserakan ke lantai, sembari menggebrak-gebrakan tubuhnya diatas ranjang Matilda mulai mengacak-acak rambutnya dan menjerit tidak jelas.
Madam Bettie berusaha memeluknya, menahan kedua tangan Matilda untuk tidak mencakar atau mengacak-acak rambut dengan menggunakan kedua tangannya. Itu akan sangat membahayakan apabila Matilda menekannya terlalu keras atau mencakarnya dengan kuku. “Suntikan penenang, cepat!” perintah Madam Bettie ketika melihat Darren tampak bingung dengan situasi saat ini. Padahal biasanya Darren akan dengan sigap segera mengeluarkan penyuntik dan membuat Matilda terlelap.
“A—aku tidak bisa menggunakannya,” ucap Darren dengan terbata.
“Mengapa? lantas bagaimana dengannya?” Madam Bettie terlihat sedikit kaget dengan ucapan Darren barusan, dalam keadaan genting seperti ini Darren tidak memberi pergerakan cepat untuk mengatasinya.
“Dr.Albert melarangku menyuntik atau memberi obat untuknya.”
“s**t! Lantas bagaimana? kita biarkan ia melukai dirinya sendiri?”
“Tentu saja tidak,”
“Maka lakukanlah pergerakan! Jangan hanya diam!!!” ucapan Madam Bettie meninggi, tubuhnya mendapatkan pukulan dan ayunan kasar dari Matilda yang berada dalam pelukannya.
Darren segera mencari sesuatu yang sekiranya mampu menghentikan pergerakan Matilda saat ini. cukup lama mencari ia akhirnya menemukan sutas tali panjang di bawah ranjang Matilda. Darren mengguntingnya menjadi beberapa bagian, ia menarik kedua kaki Matilda ke ranjangnya, tangan kiri dan kanan juga ia bentangkan ke atas kepala dan mengikatnya pada ranjang.
“Ini gila, jika Mr.Michael melihatmu melakukan ini kepada Matilda maka bersiaplah untuk dimarahinya.” Madam Bettie mengatur napas sejenak, tiga tahun berada disana cukup membuatnya paham bahwa Mr.Michael akan membentak perawat manapun apabila ketahuan melakukan sesuatu sesuai keinginan mereka apalagi jika ia mengetahui ada dari pasiennya tidak lagi menggunakan obat-obatan yang disediakan Hiraeth.
“Bisakah aku meminta bantuanmu?” tanya Darren di sela-sela kesibukannya menenangkan kedua pergelangan tangan Matilda agar mudah untuk dia ikat ke ranjang. Madam Bettie mengangguk dengan cepat sebagai persetujuannya, “tolong kunci pintu, dan biarkan Matilda tetap seperti ini hingga keadaannya membaik.”
“Apakah itu mungkin? Ia terbiasa ditenangkan dengan penggunaan obat.”
“Aku tidak yakin akan berhasil, namun kita harus mulai membiasakannya tanpa mengkonsumsi obat-obatan.”
Madam Bettie sekali lagi mengangguk mengerti, mengingat itu merupakan anjuran Dr.Albert sepertinya kandungan obat-obatan yang diberikan kepada Matilda selama ini alih-alih memberikan kesembuhan namun membahayakan gadis itu. Madam Bettie bergegas menghampiri pintu dan mengunci, ia bahkan menahan pintu dengan punggung saking paniknya.
Dari kejauhan dapat Madam Bettie lihat Matilda yang masih berontak bahkan ketika kedua tangan dan kakinya diikat, berulang kali ia menghentakan pinggungnya ke bawah sehingga ranjangnya berdecit berkali-kali, rambutnya kembali tak tertata dan sangat berantakan mungkin Matilda akan memenangkan festival Helloween tahun ini jika ikut serta dengan penampilan tersebut. disampingnya Darren berusaha menahan kedua tangan Matilda, sebab sekalipun diikat kedua tangannya yang melayang akan kesakitan seiring dengan pergerakannya yang kuat.
Pada saat itu Madam Bettie mulai berpikir akan sesuatu yang mungkin bisa membuat Matilda tenang. Sekali lagi sembari berpikir ia melihat ke arah Darren yang terlihat kewalahan, keringat membanjiri pelipisnya, namun ada sorot ketangguhan dari kedua mata Darren. Ada sedikit keraguan, dan selebihnya keyakinan bahwa ia bisa menenangkan Matilda dengan caranya ini—Darren terlihat begitu baik dan sangat bertanggung jawab saat ini.
“Darren, mungkin sebuah pelukan akan menenangkannya.” Suara Madam Bettie terdengar agak sedikit bergetar, ia lihat Darren menoleh kepadanya dengan tatapan seolah meminta keyakinan bahwa cara itu akan berjalan.
“Kalau begitu.. kemarilah, tolong aku,” pinta Darren, ia kembali mengarahkan atensinya kepada Matilda yang masih bertindak sangat brutal.
Madam Bettie menggeleng kendati Darren tidak melihatnya, “kau yang harus memberikannya.”
Darren kembali mengalihkan pandangannya kepada Madam Bettie, tatapannya kali ini penuh pertanyaan dan sedikit keterkejutan seolah bertanya kenapa harus ia yang bukan siapa-siapa, lagi pula itu terlalu lancang sekalipun ia seorang perawat yang harus menjamin keperluan pasiennya. “Ya Tuhan, kau tinggal melakukannya saja. Tidak ada waktu, cepat tolong dia.” Madam Bettie mengesampingkan perasaannya saat ini, Matilda jauh lebih membutuhkan Darren ketimbang perasaan yang baru tumbuh di hatinya untuk pria yang menggenakan seragam perawat di samping Matilda itu.
Darren tampak ragu beberapa saat, akhirnya ia menggunakan cara tersebut untuk mencoba menenangkan Matilda. Beberapa detik berlalu Matilda masih sebrutal pertama kali kendati kini tubuh Darren sudah mendekapnya dengan erat. Dalam pelukannya Darren masih memikirkan cara untuk membuat Matilda tenang, satu tangan kanannya terulur mengelus kepala Matilda penuh dengan kelembutan, mulutnya memberikan desisan penenang dan entah reaksi apa yang Matilda rasakan kala mendapatkan perlakuan itu dari Darren. Hanya saja dengan seketika Matilda melemas, ia jatuh kedalam alam bawah sadarnya.
***
Matilda berada dalam sebuah ruangan yang sangat gelap, ia tidak mampu melihat setitik cahayapun disana namun kedua kaki menuntunnya untuk berjalan sekalipun harus dengan tangan terulur untuk mendapatkan jangkauan agar tidak terjatuh. Semakin lama semakin pengap, ia menyadari keringat menetes dari pelipisnya hingga berjatuhan mengenai pipi, Matilda mencoba untuk berjongkok sesaat sebab pikirnya mungkin pengap yang ia rasakan sebab terlalu lama berjalan.
Beberapa menit Matilda tak kunjung mendapatkan pasokan oksigen yang cukup, ia ingin segera keluar dari tempat gelap tersebut dan mendapatkan udara segar untuk ia hirup. Matilda kembali bangkit, dengan tertahih ia melanjutkan perjalanan. Semakin lama langkahnya semakin pelan, keringat membanjiri tubuhnya, ia juga membutuhkan oksigen lebih, ditambah tenggorokannya yang terasa mongering sungguh sangat menyiksanya. Dalam keadaan ini Matilda mulai bertanya-tanya dalam benaknya, “Aku berada dimana?”
“Matilda?”
Matilda menoleh kebelakang saat ia dengar ada sebuah suara yang memanggilnya. Namun ia tak mampu melihat siapapun di belakangnya, “Matilda..” suara itu kembali terdengar, suara bariton yang cukup khas. Ia mengingat pernah mendengar suara ini, dan itu saat ia menelepon seseorang untuk kabur dari rumahnya. Ingatan itu ia dapat ketika menjalankan terapi yang dilakukan Dr.Albert kemarin—namun ia tidak mengingat suara siapakah itu.
“Matilda, aku disini.” Suara itu terdengar kembali, Matilda menoleh ke arah kiri dan tidak menemukan siapapun disana selain kegelapan.
“Aku disini.” Matilda kini menoleh kembali ke sisi kanan.
“Matilda..” kali ini Matilda memutar tubuhnya, dan jelas tak mampu melihat ada seseorang disana.
“Kemarilah.” Matilda mengambil satu langkah pelan ke depan, satu tangannya terulur berusaha agar mampu menggapai apapun di hadapannya.
“Disini kemarilah.” Suara itu terdengar berpindah-pindah, sisi kanan, kiri, depan hingga belakang dari Matilda. Matilda dibuat gamang untuk melangkah.
“Disini, sayang.” Ucapan itu terdengar sangat aneh, ada rasa sakit ketika mendengarnya, dan sedikit amarah yang ingin keluar.
“Siapa kau?!” Matilda memberanikan diri untuk bertanya dengan suara yang cukup tinggi.
“Ini aku sayang,”
“Aku disini,”
“Kemarilah,”
“Matildaku sayang.”
Matilda menoleh ke kanan, kiri, hingga belakang dengan cepat seiring dengan suara tersebut yang semakin terdengar begitu banyak. Disana dan disini, terasa dekat lalu terasa jauh, menyuarakan namanya dan memerintah mendekat. Kepala matilda mulai pusing, ia semakin kesulitan mendapatkan oksigen disana.
“Matilda,”
“Matilda…”
“Sayangku, aku disini.”
Entah mengapa suara-suara itu semakin menimbulkan reaksi aneh pada Matilda. Perasaan sedih, senang, marah, khawatir, serta takut menjadi satu. Dan satupun tak dapat Matilda jabarkan alasannya untuk memiliki perasaan tersebut ketika mendengarnya. Suara itu dari menit ke menit semakin banyak, Matilda mulai tidak nyaman berada disana, ia seolah akan ditampak oleh suara itu, dan nalurinya memintanya untuk berlari.
Matilda berlari secepat mungkin, ia kerahkan seluruh tenaganya untuk berlari sekalipun tak ada arah dan tujuan ditengah kegelapan. Suara-suara itu seperti menghantuinya, sesak, pengap, keringat, serta air mata yang menyatu menemaninya berlari sekencang yang ia bisa.
“Bruskkkk..”
Matilda tiba-tiba saja merasakan kaki-kakinya menyentuh semak-semak, licin sekali disana dan ia kehilangan keseimbangan. Ia terjatuh kedalam sebuah lubang yang tidak ia ketahui sebenarnya lubang apakah itu. Jeritannya menggema, ia terperosok sangat jauh kedalam.
“Matilda…”
“Tunggu aku disini, aku pasti menjemputmu.”
“Sudah kubilang kan—aku mencintaimu.”