"Belum sempat memiliki, namun sudah harus mengakhiri." - Gatta
...
"Assalamualaikum, Ay..Kamu kemana...."
"Wa'alaikumsalam Xel. Jangan tanya apa-apa dulu. Dengerin aku baik-baik. Oke?"
"Huftt...ya oke. Apa?"
"Sebentar lagi akan ada mobil pick up ke tempat makan kamu yang The Edge and Promise. Tolong terima hadiah dariku."
"Lo ngasih gue pick up? Buat apaan gue mobil pick up Ay?"
"Bukan mobil pick up Axel. Tapi ratusan bunga mawar merah yang dianter pake mobil pick up. Tolong bagi-bagiin ke pengunjung tempat makan kamu ya. Kamu juga boleh ambil buat Arinka"
"What?? Lo bilang apa barusan?"
"Dih kamu gak mendadak budeg kan Xel. Pokoknya nanti ada supir nganterin satu pick up bunga mawar merah. Kamu bagi-bagiin aja ke pengunjung atau ke orang-orang yang lewat depan The Edge and Promise."
"Wait, dalam rangka apa lo giveaway bunga mawar? Lagian bukannya favorite lho bunga Baby breath, kenapa malah kirim mawar?"
"Itu tanda cinta. Udah pokoknya tolong diterima. Aku buru-buru ada kerjaan. Nanti sore atau besok kalau gak sibuk aku mampir dan kamu bebas ajuin pertanyaan apapun."
"Tapi Ay..."
"Aku tutup dulu Xel, sorry urgent nih. Bye. Assalamualaikum...." Tuttt tuutt tuttt.
"Wa'alaikumsalam..." Axel menjawab dengan lirih karena sambungan ponselnya dengan Dia telah terputus. "Hadeeh kemarin dicariin ilang-ilangan mulu. Giliran ada eh waktunya yang gak ada...oh takdir."
...
"Di, lo yakin gak papa?" Mas Fa kembali menanyakan kondisi Dia yang terlihat semakin pucat. Sementara saat ini mereka sedang menghadiri kegiatan launching aplikasi pariwisata milik Kemenparkraf.
Dia tersenyum dan berujar, "It's okay mas..Bentar lagi acaranya juga udah selesai."
"Lo duduk aja deh. Ini tinggal tunggu tamu-tamunya pulang kok."
"Sans mas Fa, aku beresin laptopku dulu ya." Dia beranjak dari tempatnya berdiri dan mendekat ke meja depan mendekat ke arah Mas Adi yang juga sibuk membereskan laptop miliknya.
"Kalian kerjanya luar biasa. Mereka puas dengan aplikasi buatan kita." Gatta berujar penuh semangat kepada Mas Adi dan Dia yang membalasnya dengan senyuman. "Eh, tapi kalian sampai gak sempat makan siang ya? Padahal chattering dari hotel masih banyak banget lho. Makan dulu aja kalian semua. Udah mau waktu ashar juga."
"Gak papa Pak yang penting acaranya sukses dan puas sama kerja kita." Mas Fa yang sudah berdiri di samping Dia menyahuti perkataan Gatta yang tak lain dan tak bukan adalah bos mereka.
"Tapi iya sih gue laper tauk Mas Fa." Raka ikutan menyahut dan malah mendapatkan pelototan dari Mas Fadilah. "Udah sana pada makan. Aku gak ikutan. Biar barang-barang kalian aku aja yang beresin." ucap Dia menengahi.
"Loh, elo kok malah gak makan sih. Muka elo aja udah pucet gitu." Mas Adi yang sejak tadi diam akhirnya buka suara. Mendengar penuturan Mas Adi membuat Gatta menatap lekat ke arah gadis yang diam-diam menjadi pujaan hatinya.
"Dia, kamu gak papa? Hmm kamu kayaknya lagi gak sehat ya?" tanya Gatta dengan nada yang sangat lembut. Dari tatapan hingga cara bicaranya pasti semua bisa melihat jika bosnya itu memiliki perasaan khusus terhadap anak buahnya yang satu ini.
"Enggak papa pak. Saya baik-baik saja kok pak."
"Eheemmm cieeeeeeee" ujar yang lainnya serempak meski tanpa komando.
"Ada apa nih kok rame amat sih..." seru Dimas yang baru saja memasuki ruangan ballroom hotel yang disewa oleh Gatta. "Kok lo kek salting gitu sih Gat, hayooo kalian abis apain nih sobat gue ini?" Dimas menaik turunkan alisnya ke arah anak buah Gatta dan semakin membuat Gatta mengusap tengkuknya tanda dirinya sedang gugup.
"Eh Dim, kok lo bisa di sini sih?" Gatta mencoba mengalihkan pembicaraan. Ia tidak ingin semakin terlihat salah tingkah di depan pujaan hatinya.
"Sengaja pengen lihat acara elo. Dan asli gue salut sih sama lo. Keren bos." Dimas mengacungkan kedua jempolnya sambil tersenyum manis semanis es teh dua ribu lima ratus yang dijual pake plastik bonus sedotan warna merah.
"Ah biasa aja. Gak sebanding sama elo yang jadi manager dari salah satu perusahaan besar di Indonesia. Btw, lo sendiri ke sini?" sahut Gatta merendah.
"Enggak. Sama si bos gue. Tapi doi lagi ngecek laporan hotel. Eh ada gebetannya Gatta. Masih inget kan sama gue." Dimas merujuk ke arah Dia yang seperti tidak paham.
Plak. Gatta reflek memukul bahu Dimas dan berbisik pelan, "Apa-apaan sih lo Dim, kagak enak kan gue sama Dia." Gatta yang menatapnya tajam hanya dibalas cengiran jail oleh Dimas. "Hallo semuanya..ketemu lagi kita," ujar Dimas santai.
"Hmm kita baru aja mau makan Dim, yuk ikutan."
"Kebetulan nih, gue belum makan. Yukk ahh.." Dimas mengedarkan pandangananya ke arah anak buahnya Gatta dan dibalas anggukan oleh mereka.
"Ayuk Di, lo mesti makan, gak pake kata-kata enggak makan." tegas Mas Fadilah.
"Aku rasanya gak pengen makan deh Mas Fa. Mulutku pait."
"Tapi kamu udah pucet banget lho Di, kayaknya kamu beneran sakit deh. Aku anter ke dokter mau?" Gatta terlihat khawatir ketika menelisik kondisi Dia yang tidak terlihat baik.
"Duh abang Gatta sweet amat sih" Dimas mengerlingkan matanya jail ke arah Gatta yang membalasnya dengan tatapan maut. " Eh tapi bener deh, kamu sakit kayaknya." lanjut Dimas.
"S-saya gak papa kok Pak. Hanya sedikit pusi...." Ucapan Dia terhenti ketika pandangananya mulai kabur. Tubuhnya terasa begitu lemas dan kepalanya terasa berputar-putar hingga rasanya ia mulai akan terjatuh. Hap. Gatta yang berada di sebelahnya reflek menangkap tubuh Dia yang pingsan. Seketika raut wajah panik terlihat di wajah yang lain. "Diaa.." Mas Adi langsung menepuk pipi Dia. "Are you okay?"
Hening tidak ada jawaban dari Dia. Matanya masih terpejam. Saat Gatta berniat untuk mengangkat tubuh Dia, seketika mereka dikejutkan oleh suara yang terdengar menahan amarah. "Lepasin Dia."
Mereka spontan menengok ke arah sumber suara. Aryan menatap tajam ke arah Gatta namun ketika melihat kondisi istrinya yang tidak sadarkan diri, ia langsung berhambur mendekat. Menarik tubuh istrinya. Menjauhkannya dari Gatta dan merengkuhnya. "Sayang, buka mata kamu. Kamu kenapa?" Aryan membelai pipi istrinya yang masih tidak juga memberikan tanda-tanda bahwa istrinya akan menjawab ucapannya.
Semua orang terkejut menatap tidak percaya atas apa yang baru saja mereka saksikan. Tak terkecuali Dimas. Bagaimana bisa sahabatmya itu terkesan posesif sekaligus khawatir terhadap perempuan yang ia ketahui merupakan orang yang disukai oleh sahabatnya yang lain. "Ry, lo apa-apaan sih. Kenapa lo kek gini." Dimas menatap Aryan yang masih tidak memperdulikan sekitarnya.
Aryan tak merespon ucapan Dimas. Ia beranjak berdiri dan mengangkat tubuh istrinya. Langkahnya tertahan oleh Gatta. "Ar, mau lo bawa kemana Dia?"
"Bukan urusan lo." Aryan menatap tajam ke arah Gatta.
"Jelas ini urusan gue, lo lupa Dia karyawan gue. Dia tanggungjawab gue."
"Dia milik gue. Minggir, gue mau bawa Dia pergi." Aryan menatap Gatta dengan tajam dan dingin.
"Apa maksud lo Ar? Gue gak bisa biarin lo bawa Dia. Dia tanggungjawab gue." sergah Gatta tak kalah tajam.
"Dia tanggungjawab gue. Gue suaminya. Dia istri gue," tegas Aryan.
Degg. Seketika semua yang mendengar hanya diam mematung. Kaget dan tidak percaya. Bagaimana bisa Dia yang mereka ketahui masih single ternyata telah menikah dan merupakan istri dari seorang Direktur dari satu satu perusahaan besar di Indonesia.
"Dim, panggil dokter. Gue tunggu di kamar yang biasa gue pakai di sini. Cepetan." Aryan berujar setengah berteriak karena Dimas masih bengong mendengarkan penuturan sahabatnya. "Kalian bisa tolong beresin barang-barang Dia." Aryan mengedarkan pandangannya ke arah teman-teman Dia sebelum akhirnya beranjak pergi meninggalkan Ballroom hotel.
Satu jam hampir saja berlalu tapi semua masih saja berdiri di depan salah satu kamar hotel. Tidak ada satu orang pun yang mengeluarkan suara. Rasanya sulit untuk mencerna apa yang baru saja mereka lihat. Hingga seorang dokter perempuan keluar dari dalam kamar bersama Aryan yang sedikit menampakkan ekspresi lega. "Saya pamit dulu Pak Aryan. Jangan lupa pesan saya tadi."
"Baik Dokter Anita. Terima kasih" ucap Aryan singkat.
"Dia gak papa kan Ry?" Dimas bertanya dengan hati-hati. Sementara yang lain ikut berpandangan menanti jawaban Aryan. "Gak papa. Dia hanya kelelahan dan butuh istirahat. Kalian sebaiknya pulang." Aryan menghembuskan nafas mencoba mengurai ketegangan tubuhnya yang sejak tadi merasakan khawatir karena istrinya.
Dimas mengerti. Rasanya tidak pas jika ia ataupun yang lain bertanya terkait hubungan Aryan dengan Dia. "Gat, ayo balik. Kalian juga ayok. Biarin Dia nya istirahat." Dimas melirik Gatta yang sejak tadi membisu. Ekspresi wajahnya sungguh tidak terbaca. Perasaannya benar-benar tidak bisa ia jabarkan. "Gue tau elo shock atau apalah itu. Tapi biarin keadaan tenang dulu," bisik Dimas seraya menarik Gatta menjauh dari sana.
"Hmm, kita pamit juga. Ini tasnya Dia. Barang-barangnya sudah saya masukan ke dalam tas itu." Mas Fadilah menyerahkan tas ransel milik Dia ke Aryan.
"Kok balik sih Mas, terus Mba Dia gimana? Kita tinggal gitu aja? Gak bisa gitu dong..Apalagi Mba Dia sakittt...Aduuhh" Raka terus saja menggeluarkan kata-kata protesnya, dan mendapatkan satu jitakan dari Mas Fadilah. Mas Adi lalu bergegas membungkam mulut Raka dengan telapak tangannya. "Hehehe abaikan ucapan anak kecil ini ya Pak. Kami pamit dulu." Ucapan Mas Adi diangguki oleh Aryan sebelum akhirnya hanya bisa mengatakan terima kasih.
Mas Fadilah dan Mas Adi secara kompak menyeret Raka untuk pergi meski itu tak menyurutkan kata-kata protes yang terus keluar dari mulutnya di sepanjang jalan menuju pintu keluar hotel. Aryan sedikit tersenyum melihat kelakuan dari teman-teman kantor istrinya itu dan kemudian beranjak masuk ke dalam kamar.
Hening. Hanya satu kata itu yang dapat menggambarkan suasana di dalam kamar. Aryan mendudukan dirinya di sisi ranjang. Berada sangat dekat dengan istrinya. Dia masih saja memejamkan mata. Sesaat tadi Dia sempat siuman dari pingsan dan kini kembali tertidur setelah mendapatkan perawatan dan meminum obat dari dokter.
Aryan masih betah memandangi wajah yang menurutnya sangat cantik itu. Rambut panjangnya tergerai indah diatas bantal. Aryan tadi sengaja melepas hijab segiempat yang dikenakan oleh Dia, agar istrinya bisa lebih nyaman beristirahat. Sesekali ia rapikan rambut istrinya yang menutupi pipinya. Aryan sedikit mengernyitkan dahi ketika melihat tidur istrinya terlihat tidak nyaman dan mulai mengigau.
"Bunda, dingin....Dia pengen dipeluk bunda..." racau Dia masih dalam keadaan tertidur.
"Sayang, kamu kenapa?" Aryan membelai pipi mulus itu. Ditempelkannya telapak tangannya ke dahi sang istri. Terasa panas. Kemudian ia genggam tangan mungil itu. "Bundaaa...perut Dia sakit. Sakit bundaaa..." Dia kembali berbicara dalam keadaan tertidur. Bibirnya terlihat bergetar dan ekspresi wajahnya menunjukkan kesakitan.
Melihat istrinya terus-terusan mengigau memanggil Bundanya dengan wajah kesakitan membuat seorang Aryan merasa tidak tega. Ia harus memutar otak mencari tahu apa yang bisa dirinya lakukan untuk mengurangi rasa sakit itu. Bergegas ia membuka tas ransel milik Dia dan mencari keberadaan ponselnya. Ia harus menghubungi ibu mertuanya.
Tuttt tuutt tuttt tuutt.... "Assalamualaikum Dia sayang. Tumben telpon bunda. Biasanya juga ilang-ilangan kalau bunda telpon. Ada apa sayang?" terdengar suara hangat diujung sana membuat Aryan sedikit gugup. Ini pertama kalinya ia harus berbicara dengan ibu mertuanya.
"Ehmm... W-wa'alaikumsalam Ibu. Ini Aryan bukan Dia." ujar Aryan setengah gugup dikali dua yang artinya gugup sangat.
"Eh Aryan? Menantu bunda ternyata. Hehehhe maaf ya tadi bunda kira Dia, soalnya ini nomor Dia. Ada apa ya nak? Apa Dia membuat kamu susah?"
"Ehmm bu-bukan Bu...hmmm Tadi Dia pingsan dan sudah saya panggilkan dokter...."
"Apa pingsan? Dia kenapa Nak Aryan?"
"Kata Dokter Dia demam karena kelelahan. Saya pikir setelah minum obat, Dia akan baik-baik saja. Tapi ternyata Dia malah dari tadi manggil-manggil Ibu dan bilang perutnya sakit. Aryan bingung mesti gimana ya?"
Terdengar helaan nafas pelan di seberang sana. "Syukurlah, Bunda pikir Dia kenapa-kenapa. Dia bilangnya sambil tidur ya?"
"Iya Bu."
"Ini tanggal berapa sekarang?"
"11 November. Hmm apa hubungannya tanggal sama sakitnya Dia Bu?" Aryan mengeryit bingung.
"Dia gak kenapa-kenapa Nak Aryan. Dia hanya sedang datang bulan karena biasanya di tanggal-tanggal ini memang sudah waktunya. Dan Dia akan kesakitan pas hari pertama."
"Jadi, apa yang mesti saya lakukan supaya rasa sakitnya berkurang Ibu?"
"Yang pertama yang mesti kamu lakukan adalah berhenti panggil Ibu. Panggilnya Bunda. Oke?"
"Hegg, O-oke Bun-daa."
"Good boy. Hehehe tenang aja gak usah panik soal Dia. Kamu cukup usap-usap perutnya sambil dipeluk. Inget harus sambil dipeluk ya. DIPELUK." Terdengar nada jahil dari suara di ujung sana
"Ehm ba-baik. Cuma itu saja Ib..eh Bunda?" Aryan merasa sedikit terusik mendengar kata 'peluk'. Hanya memikirkannya saja dirinya sudah mampu berfantasi kemana-mana dan membangkitkan naluri laki-lakinya. "Jangankan cuma peluk. Lebih dari itu sih mau banget," batinnya.
"Sama kamu puterin playlist lagu korea anehnya yang ada di ponsel Dia. Dijamin deh bakal jinak anak Bunda itu."
"Baik Bunda. Hmm terima kasih untuk sarannya. Dan Aryan minta maaf belum bertemu dengan Bunda dan A-ayah selama kami menikah."
"Santuy Nak Aryan. Bunda titip anak bunda ya...Tolong jaga Dia. Dari luar mungkin Dia kelihatan anak yang mandiri dan kuat. Tapi, Bunda tahu Dia seringkali memendam perasaan dan keinginannya sendirian. Duh jadi kangen pengen pulang."
"Baik Bunda. Aryan janji. Aryan tutup dulu telponnya. Hmm salam untuk Ayah. Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam...."
Aryan menghembuskan nafas lega. Kegugupannya karena harus berbicara dengan ibu mertuanya menguap begitu saja ketika ternyata Bunda, sebutan untuk ibu mertuanya itu adalah sosok yang hangat dan humble. Setidaknya itulah yang ditangkap Aryan dari suaranya. Bunda bahkan tidak mempermasalahkan sikap Aryan yang tidak pernah mengunjungi mereka.
Aryan kembali memainkan jemarinya di ponsel Dia, mencari-cari playlist musik Korea anehnya Dia. Belum sempat dirinya menemukan playlist yang dimaksud, jarinya terhenti pada menu gallery. Aryan melirik sejenak ke arah Dia, sebelum akhirnya memutuskan untuk mengintip isi gallery foto.
Klik. Terbuka sudah deretan foto-foto yang tidak sedikit dan terbagi menjadi beberapa folder dengan nama-nama yang cenderung absurd. Dia dan kata absurd, rasa-rasanya sama sekali tidak cocok. Aryan terpaku pada folder "Planet C-53". Apa ini?.
Saat folder dibuka. Deretan foto-foto itu terbuka. Ada banyak foto-foto pemandangan dan sudut-sudut bangunan yang sangat terlihat artsy. Aryan tersenyum tipis mengetahui istrinya itu ternyata jago fotografi. Masih di folder yang sama, Aryan juga melihat foto-foto Dia bersama beberapa laki-laki. "Siapa mereka semua. Kenapa banyak banget foto-foto mereka. Mantannya Dia? Kok banyak? Eh Ini kan yang waktu itu." Aryan berhenti mengoceh ketika melihat salah satu foto Dia yang tersenyum membawa sebuket bunga bersama laki-laki yang berwajah yang bisa dikatakan sempurna dengan kesan badboy yang begitu kentara. Dan sialnya mereka terlihat sangat serasi.
Aryan menghela nafas kasar. Ternyata benar kata orang-orang, stalking itu cuma nyari penyakit ke diri sendiri. Jujur saja ia cemburu melihat istrinya bersama laki-laki lain. Walaupun itu hanya sebuah foto. Ia tutup folder tadi. Dirinya tidak boleh cemburu seperti kemarin-kemarin.
Huftt. Aryan kembali membuang nafas. Niatnya ingin segera menutup gallery dari ponsel Dia dan beranjak ke aplikasi musik. Namun dasar Aryan yang sepertinya punya tingkat kepo yang tidak bisa dibendung akhirnya dia kembali menjelajah ke berbagai folder foto. Matanya terusik oleh satu folder yang berjudul "Milikku".
Saat folder terbuka, ini sama sekali berbeda dengan foto-foto sebelumnya. Isinya cenderung foto-foto yang tidak jelas dan cenderung candid walaupun foto-foto itu tetap bagus sudut pengambilannya. Foto pertama, ada sebuah ruangan rawat di salah satu rumah sakit sepertinya. Foto kedua, sebuah jari dengan cincin. Foto ketiga, menunjukkan sebuah balkon dari salah satu hotel. Sementara foto keempat, sebuah siluet laki-laki dengan latar sebuah pantai. Entah kenapa ada perasaan aneh ketika melihat foto itu. Seperti perasaan yang tidak sampai. Aryan tertegun sejenak sampai akhirnya jarinya kembali menggeser untuk melihat foto yang lain. Tetap saja dirinya tidak mengerti dengan foto-foto itu. Ada foto cafe, foto tangan laki-laki, foto kopi dan beberapa foto di tempat-tempat umum yang tidak asing menurutnya.
Aryan terdiam memandang foto-foto itu. Kenapa dikasih nama "Milikku". Ini benar-benar mengganggu hati dan pikirannya. Pikirannya sedikit teralih karena kembali mendengar rintihan Dia. Hampir saja ia lupa soal istrinya yang sedang kesakitan. Buru-buru ia mendekat ke arah Dia yang masih tertidur. Ia buka aplikasi musik dan mengernyit bingung. Tidak satu pun deretan playlist ini yang ia pahami. Karena tidak paham ya sudah asal putar saja dan terdengar suara musik yang terdengar sedih. Sebuah lagu dari Hwang Chi yeol - a walk to goodbye.
Aryan meletakkan ponsel Dia di meja dan melepaskan sepatunya sebelum berbaring di sisi ranjang yang kosong. Ia buka baju atasan istrinya untuk mengusap-usap perutnya. Seperti kata bunda, diusapnya sambil dipeluk. Sentuhan tangannya di kulit halus Dia benar-benar membuat jantungnya dag dig dug ditambah alunan musih yang sendu. Sukses sudah fantasi liar mengisi penuh pikirannya. Jangan salahkan dirinya jika ternyata berada dekat dengan istrinya selalu membuatnya ingin berbuat lebih.
Aryan semakin merapatkan pelukan tubuhnya ke tubuh istrinya sambil tak lupa terus mengusap-usap perutnya. Dan ternyata benar kata Bunda, cara ini sukses membuat tidur Dia kembali nyaman dan terdengar nafas teratur darinya. Aryan menatap wajah damai yang berhasil mengusik seluruh fantasi terdalam dari dirinya. Setelah beberapa saat, tanpa sadar Aryanpun ikut larut dan mulai memejamkan mata.
...
Klik. Terdengar suara pintu mobil tertutup. Dua orang yang duduk di kursi depan saling membisu. Sementara seorang laki-laki yang duduk di kursi baris kedua mulai menghembuskan nafas ketika melihat tidak akan ada suara yang keluar dari kedua orang di depannya ini.
"Halo, ini kalian gak ada yang mau kasih penjelasan gitu?" Raka mulai membuka suara setelah dirinya dipaksa masuk mobil oleh dua rekannya.
"Diem deh lu Rak." balas Mas Adi yang sepertinya tidak ingin mengatakan apapun kepada Raka. Jangankan mengatakan. Dirinya sendiri pun tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. "Menurut mas Fa, yang barusan itu mungkin gak si? Secara diantara kita semua, Mas Fa kan lebih dahulu kenal kan sama Dia." lanjut mas Adi sambil melirik mas Fadilah yang duduk di belakang kemudi.
"Gue gak bisa bilang apa-apa sih. Lagian kalau yang jadi suami Dia itu pemilik Dirgantara Corp. ya wajar sih. Gak heran juga kok." balas Mas Fadilah bijak.
"Lah kok wajar si mas? Kok bisa gitu. Ya tau sih mba Dia emang cantik banget tapi ini tu kayak cerita-cerita novel gitu sih. Bos sama karyawan biasa. Terlalu aneh." celetuk Raka dengan gaya seperti seorang detektif.
Mas Fa cuma tersenyum. Sementara mas Adi yang giliran urun suara. "Pantes aja Dia dikode segitunya sama Pak Bos gak mempam banget ya. Udah ada yang punya ternyata. Btw ngomongin Bos kasihan si gue."
"Iya yak. Belum jadian udah patah hati duluan deh Bos kita. Udah cinta bertepuk sebelah tangan eh cewek yang disuka malah istri temennya sendiri. Double kill ini namanya. Gak bayangin deh gimana perasaan si Bos sekarang." sahut Raka sambil bergidik ngeri membayangkan sakitnya patah hati.
"Udah kita balik aja. Gak usah ikut campur urusan mereka. Kek hidup kita udah bener aja." balas mas Fadilah yang diangguki mas Adi tanda setuju dengan ucapan rekannya tersebut.
"Eh bentar, mba Icha mana sih, katanya tadi mau kesini kok gak nyampe-nyampe si."
"Lah Icha ngapain kesini Rak?" Mas Adi membalikkan badan menghadap kursi belakang dimana Raka duduk.
"Ituuu tadi gue keceplosan bilang ke mba Icha kalau mba Dia pingsan. Terus mba Icha ngotot pengen kesini deh." jelas Raka.
"Lu ngomong apalagi Rak?" mas Adi semakin kepo.
"Cuma soal mba Dia pingsan doang kok. Sueer deh gak ada lagi. Soal mba Dia udah punya suami gue diem kok gak bilang apa-apa." Raka sedikit gugup menjawab pertanyaan mas Adi sambil ditatap tajam oleh dua rekannya.
"Hadeh Rakaaa. Gak sekalian aja lo umumin tu digrub Intern klo Dia sakit. Biar satu perusahaan tau. Terus meraka rame-rame kesini dan duarrr heboh semua."
"Haa? Iya yak kenapa gak gue umumin aja yak. Bentar deh gue ketik dulu."
"RAKA RAHARDIAN. Maksud gue itu sarkas. Eh ditanggapi beneran. Hadeehhh sabarrrr."
"Lah, gue salah lagi ya mas Adi?"
"Kagak Rak elu gak salah. Yang salah gue kenapa punya temen modelan kek elu."
Raka mencembikan mulutnya mendengar ucapan mas Adi. Sementara mas Fadilah yang sejak tadi hanya menyimak obrolan mereka berdua hanya geleng-geleng kepala. "Lo telpon Icha Rak. Bilang gak usah kesini. Daripada nanti malah heboh." ucap mas Fadilah.
"Oke mas. Bentar."
Setelah beberapa kali mencoba menelpon. Raka menggelengkan kepala tanda bahwa panggilan ponselnya tidak mendapat jawaban.