16 Chit Chat

2683 Kata
"Kuungkapkan maksud dan tujuan perasaanku seperti idhzar, jelas dan terang" - Aryan ... Dia mengerjapkan matanya beberapa kali. Menatap tidak percaya atas apa yang ada di hadapannya kini. Ada satu buah pick up terparkir di halaman rumah Aryan. Bukan soal pick up nya yang jadi pusat perhatian Dia, melainkan isi bawaan dari pick up tersebut. Ada ratusan bunga mawar merah memenuhi bak dari pick up itu. "Ngliatnya gak usah segitunya. Tau kok kamu terpesona, tapi mau sampai kapan berdiri di sini?" Aryan mencubit pipi Dia dan membuat si empunya kembali mengaduh dan menatap sebal ke arah suaminya. "Sakit ya.....?" Aryan mengusap-usap pipi mulus nan tembem itu. Jadi pengen gigit, eh. "Ini apa sih Mas?" "Bunga." "Ya saya tahu. Maksudnya buat apa se-pick up ini tuh. Ini gak sama mobilnya juga kan?" "Kamu mau sepaket sama mobilnya jugak. Besok deh aku bilang ke toko bunganya, mau dijual berapa." "Enggak Mas. Maksud saya kenapa sebanyak ini? Terus ini sopir pick upnya kemana? Kenapa ditinggal di sini sih mobilnya, jadinya kan saya tanya ini sepaket atau gimana gitu?" "Oh." "Kok cuma oh sih? Tauk ah punya suami kenapa mode defaultnya kaku plus dingin gini sih." Dia mengerucutkan bibirnya sebal. "Kamu aslinya berisik gini ya?" "Iya, kenapa? Nyesel?" "Enggak." "Bilang aja gak papa kalo nyesel. Gak usah jutek gitu jawabnya." "ENGGAK DIA. AKU GAK NYESEL. AKU SAYANG KAMU WALAUPUN KAMU BERISIK DAN RESE'. UDAH PUAS?" "Hiii...Mas serem kalo gitu." "Apa kamu bilang? Siniin wajahnya. Ulangin. Bilang apa tadi." Aryan menangkup pipi Dia agar mendekat ke wajahnya dan menatapnya dengan tatapan intimidasi. Luarnya aja Aryan sok-sokan garang, aslinya mah udah pengen ketawa karena istrinya yang terus-terusan berbicara itu menggemaskan sekali. Jadi pengen dibungkus deh. "Makasih untuk bunganya. Saya suka tapi itu terlalu banyak, eh bukan terlalu lagi. Tapi emang banyak banget dan itu kan mubaz....." Chup. Ucapan Dia terputus oleh kecupan singkat Aryan. "Makasih.....udah ayok masuk atau mau aku cium lagi." Blushh. Seketika pipi Dia kembali merona. Ada semburat merah dan rasa panas yang menjalari sekitar pipinya. "Kok muka kamu merah ya? Demam kah?" Aryan menempelkan telapak tangannya di dahi Dia. "Enggak demam ih. Kenapa bisa merah ya? Apa kamu alergi, hmm?" Aryan semakin menatap wajah Dia yang semakin merah. "Enggak. Saya gak kenapa-kenapa." Dia memalingkan wajahnya. Dirinya sangat malu. "Please tolong umpetin aku ke kolong langit aja Tuhan" batinnya. "Ini kelamaan di luar pasti. Ayok masuk. Aku udah berjam-jam berdiri tadi di kost temen kamu sekarang kamu mau ngajakin berdiri di depan rumah sendiri." Aryan menarik tangan Dia memasuki rumah namun ditahan oleh Dia. "T-ta-tapi Mas, bunganya gimana?" "Bunganya gak akan kedinginan, laper plus asem cuma karena kamu tinggal di luar sini." "Enggak gitu tapi kan sayang. Terus mau diapain coba sebanyak itu." "Kamu protes lagi aku cium." "Ishh cium-cium mulu. Ini bibir udah gak perawan deh dicium mulu dari tadi." Chupp. Satu kecupan lagi diberikan Aryan untuk istrinya. "Ayok protes lagi. Terus aku cium lagi." "Ishh...mesummm" ujar Dia sambil berlari memasuki rumah meninggalkan Aryan yang tersenyum menggoda. Dia sangat malu. "Eh kok aku ditinggal. Dia, suamimu ini belum makan lho. Jangan ngumpet." "Mie instan rebus mau gak?" teriak Dia dari arah dapur. "Oke." ... "Ini apaan sih Di?" Mas Adi mengernyitkan dahi ketika Dia meletakkan setangkai mawar merah di mejanya. "Mas Adi minus ya? Itu bunga tau," sahut Raka bersemangat menatap mawar di tangannya yang juga pemberian Dia. "Hadeeeh, anak tk juga tau Rak ini bunga." Mas Adi memutar bola matanya malas. "Udah tau bunga kenapa masih tanya Massss....aduhh." Raka mengusap kepalanya yang baru saja mendapatkan jitakan mulus dari Mas Fadilah. "Kok aku dijitak sih Mas Fa." Raka memberengut ke arah Mas Fa yang hanya mengedikkan bahu. "Diaaaa...kamu hutang penjelasan ya." Icha bersungut-sungut memasuki ruang kerja Dia yang berisi Mas Adi, Mas Fadilah dan Raka. "Hadeeh Raka satu aja udah berisik, ini ditambah Icha. Sepertinya hari ini akan jadi hari yang melelahkan," gumam Mas Fa yang sukses mendapat pelototan dari Raka dan Icha. "Apasih Cha," sahut Dia sambil memasang wajah polos. "Gak usah pura-pura gak tau. Satu kost heboh tau, ada yang shooting ftv di jam 2 pagi." Icha mengatakan dengan pipi memerah karena menurut penuturan teman-teman kostnya, Dia dan laki-laki aneh tapi tampan yang teriak-teriak di depan kost mereka seperti pasangan di drama-drama korea. Romantis. Dia menempelkan jarinya di depan mulut setelah tersenyum sumringah ke arah Icha. "Sstt sst calm Cha." "Gimana bisa calm Dia. Tapi makasih untuk bunganya. Walaupun aku gak tau bunganya mau diapain. Lagian kenapa kamu bagi-bagi bunga sih. Ini bukan Valentine's Day kan ya. Eh kita gak ngrayain itu juga ding." "Hu'um nih, apasih ini Di?" Mas Adi ikut menimpali ucapan Dia. "Bukan apa-apa. Anggap aja itu tanda cinta dariku untuk kalian semua. Kebetulan aku punya banyak. Daripada mubazir." "Kok gue curiga ya? Hmm lo kayaknya bahagia banget deh. Ada apa nih?" selidik Mas Fa. "Ah jadi inget gue. Kemarin cewek-cewek sekantor pada heboh ngomongin soal laki-laki yang di parkiran. Katanya itu nungguin mba Di ya... Hayooo siapa itu mba?" "Apa sih kalean-kalean ini. Ya kan harusnya ikutan seneng kek kalo temennya lagi seneng tuh." Dia menjawab dengan santai sambil sesekali tersenyum ke arah teman-teman kantornya. "Kayaknya bakalan ada yang patah hati nih." Raka kembali berseru. "Sok tau kamu dek," sahut Dia. "Woh sepertinya gue ketinggalan berita nih." Kini giliran Mas Adi yang berujar penasaran. "Iya aku juga nunggu nih penjelasan kamu Di." timpal Icha. "Mau tau aja atau mau tau banget. Ha?" Dia mengerlingkan matanya dengan jahil. "Kita mau tau semuanya." ucap Raka bersemangat. "Rahasia. Udah pada balik kerja sana. Siap-siap satu jam lagi kita mesti ke Secret Garden." ... "Ry, kamu serius baca surat penawaran itu gak sih?" Dimas mulai kesal melihat Aryan yang tidak henti-hentinya tersenyum padahal saat ini mereka tengah membahas dokumen penawaran kerjasama pembangunan hotel di Bali dengan perusahaan Wijaya. Tentu saja suasana hati Aryan benar-benar sedang baik hari ini. Tidak heran jika hari ini dirinya berubah menjadi super ramah kepada karyawannya. Apalagi kalo bukan karena hubungannya dengan Dia. Istrinya itu benar-benar memberi efek jungkir balik untuk seorang Aryan Arkana Dirgantara yang kaku dan sok tau akut itu. Walaupun mereka berdua telah sepakat untuk memulai kembali pernikahan ini, namun Dia belum bersedia tidur satu kamar dengan Aryan. Dia masih merasa aneh jika harus sekamar. Jadinya semalam Aryan masih tidur sendirian. "Berisik. Jangan protes mulu. Kapan selesainya gue baca kalo lo protes mulu dari tadi." Aryan memutar bola matanya malas dan meletakkan dokumen di tangannya ke meja kerjanya. "Ya, elo senyum-senyum sendiri padahal itu dokumen kan gak ada yang lucu deh. Elo kesambet apa gimana sih yak." "Sembarangan. Gue lagi seneng nih. Ntar siang gue traktir makan deh lo." "Tumben lo seneng gini. Aneh tau. Seumur-umur jadi temen lo kagak penah deh lo senyum-senyum kayak orang gila gini." "Ngatain. Kagak jadi traktir ah." "Dih, ngambekan. Traktir dong Pak Bos. Elo mau traktir gue apa sih?" "Mie instan rebus sepuas lo. Kalo mau satu warung mie nya juga boleh." "Haa mie rebus? Ogah gue. Kalo itu mah di rumah juga banyak. Lagian aneh bener lo tumben makan mie instan. Selama ini kalo gue ajakin makan mie kagak mau. Jangan-jangan lo beneran kesambet ya Ry?" "Sialan lo. Ya gue baru tau ternyata mie instan rebus enak banget deh Dim." "Emang enak. Hmmm lo kayaknya lagi bahagia ya? Apa ini ada hubungannya sama istri lo. " "Hu'um." "Doi udah maafin lo?" "Hu'um." "Terus-terus Ry? Kok bisa? "Kepo. Udah back to topic ke dokumen ini." Aryan menunjuk dokumen di atas mejanya dan sukses​ membuat seorang Dimas mendengus sebal. "Hadeh oke, jadi gimana menurut kamu Ry, tentang penawaran itu? Feeling gue kok kayak ada yang janggal ya Ry?" "Iya. Mereka terkesan terlalu agresif memaksakan agar kita menerima penawaran ini. Aneh aja soalnya dulu mereka menolak proyek kerjasama yang di Bandung. Tau sendiri kan mereka harusnya tidak terlalu perlu proyek Bali ini karena yang gue tau proyek Bali mereka dengan MH Grub sedang berjalan. Sepertinya kita mesti mencari tahu lebih banyak soal Wijaya." ucap Aryan yang sudah kembali ke mode default yaitu Aryan yang kaku dan dingin. "Ya, gue setuju. Gue bakal selidiki ini. And you know what? Pas kita meeting di Bali waktu itu dengan Wijaya, entah itu kebetulan atau tidak yang gue tau Wijaya juga tengah mengadakan pertemuan dengan MH Grub. Apa ada sesuatu ya dengan mereka?" "Kita perlu curiga dengan Wijaya.Terlebih proyek Bali ini gue lebih berharap kalau MH Grub yang menerima penawaran kita. Hmm apa sudah ada respon atau kabar dari MH Grub?" "Terkait penawaran kita dengan MH Grub belum ada respon sama sekali. Tau sendiri gimana susahnya untuk menembus mereka. Jangankan untuk ketemu presdirnya atau wakil direkturnya gitu. Kemarin kita bisa bertemu dengan salah satu Manajer MH Grub aja udah syukur banget." "Bagaimanapun caranya kita harus bisa mendapatkan kontrak kerjasama dengan MH Grub. Tau sendirikan gimana hebatnya mereka dalam urusan bisnis. MH Grub merupakan sebuah holding company dengan beberapa unit usaha yang mencangkup perhotelan, rumah sakit, mall hingga toko bebas pajak atau duty free shopping (DFS). Dan setau gue bahkan perusahaan farmasi yang belum lama ini mereka bangun sudah menjadi salah satu perusahaan farmasi elit yang ada di Indonesia. Dirgantara Corp. benar-benar tidak ada apa-apanya dibanding mereka." "Oke berarti fokus kita ke MH Grub. Eh kemarin ada yang nyariin lo. Gue lupa mau bilang kemarin. Abis lo nya udah keburu curhat duluan." "Siapa?" "Elang Samudera. Kok bisa lo kenal dia?" "Elang Samudera? Siapa dia? Kok gue gak asing ya. Pernah lihat atau denger dimana gitu deh namanya." "Lah lo gak kenal Elang Samudera? Terus kenapa dia ngotot pengen ketemu elo ya?" "Enggak tau." "Elo beneran gak tau siapa Elang Samudera?" "Dih gak usah nafsu gitu tanyanya. Siapa sih tu orang? Presiden? Seleb? Menteri atau apa?" "Asal lo tau ya Elang Samudera ini salah satu pengusaha muda sukses sekaligus pengacara paling bersinar saat ini. Lo tau Bayu Samudera kan? CEO Samudera Corporation. Nah itu anaknya Bayu Samudera." "Kalo Bayu Samudera pernah ketemu sekali waktu itu disuatu acara gitu. Tapi ya cuma sekali itu doang. Sementara soal Elang ini sama sekali gak tau gue." "Muda, tampan, kaya, berbakat. Gak cuma model papan atas yang ngantri buat deketin dia, tapi sekelas miss Indonesia juga ngantri. Doi adalah most wanted guy incaran para bapak-bapak pengusaha kelas atas. Calon menantu idaman gosipnya." "Dih kok lo tau-tauan soal ginian yak. Ckckk pantesan lo jomblo deh Dim. Bukannya cari pacar malah ngurusin pergosipan." "Sialan lo Ry. Terus dia ngapain ya nyariin elo? Atau jangan-jangan ada hubungan sama penawaran kerjasama kita ke MH Grub?" "Enggak tahu. Lagian apa hubungannya dengan MH Grub. Rasa-rasanya bukan menurut gue." "Ya ada dong. MH Grub dan Samudera Corporation itu memiliki hubungan yang erat. Presdir mereka kabarnya temen dekat sejak dulu. Nih kartu nama Elang. Sapa tau elu perlu. " Dimas menyerahkan kartu nama Elang yang kemarin ia dapatkan. "Dan gosipnya, Elang ini ada hubungan khusus dengan salah satu pewaris MH Grub. Keren gak tuh kalau dua perusahaan besar ini bisa jadi satu." "Wow berfaedah sekali infonya bapak Dimas." Aryan mencibir Dimas dan sukses membuat Dimas melotot kesal ke arahnya. "Jangan suka gosip. Baik Samudera Corporation maupun MH Grub itu tertutup untuk urusan publikasi. Kita aja yang udah lama kerja di bidang ini kenal dengan Presdir mereka aja kagak kan. Ini malah lo sok-sokan jadi detektif cinta pewarisnya. Kayak lo pernah liat aja tu muka pewarisnya MH Grub itu. Hadeeeh gue saranin lo banyakin dzikir sana biar cepet dapet jodoh Dim." "Asem lo Ry. Udah ah gue mau siap-siap ke Secret Garden." Dimas hendak bangkit berdiri dan berjalan menuju pintu keluar dari ruangan bosnya. "Ngapain lo ke sana. Hei, kerjaan lo di sini banyak?" "Gue mau ngecek kegiatan Gatta yang diadain di Secret Garden. Memastikan event besar di salah satu hotel kita kan bagian dari pekerjaan." "Tunggu. Gue ikut." Aryan segera berdiri dan berjalan mendahului Dimas yang menatapnya tidak percaya. ... Flashback Dua orang yang ditungu-tunggu akhirnya hadir dan memasuki sebuah ruangan meeting. Tentu saja kehadiran seorang laki-laki dan sekretarisnya ini sudah ditunggu oleh dua orang yang sedang duduk di deretan kursi meeting dan seorang perempuan yang tengah berdiri menyambut kehadiran tamunya ini. "Selamat datang Pak Hadi. Saya tidak menyangka jika yang diutus untuk pertemuan hari ini adalah Anda." ucap salah satu perempuan yang tengah duduk di kursi paling tengah. Menandakan jika perempuan inilah pemimpin dalam pertemuan ini. "Hahaha, Apakah kehadiran saya terlalu berlebihan untuk pertemuan ini?" balas laki-laki yang jika diperkirakan dari wajahnya sudah berumur setengah abad. "Anda memang selalu percaya diri." "Oh tentu saja. Tapi undangan ini bukan sekedar untuk mendengar pujian tentang saya dari Anda kan?" Perempuan itu tak lagi ingin menjawab lawan bicaranya. Ia hanya tersenyum tipis dan laki-laki di sebelahnya yang kemudian berbicara. "Tentu bukan Pak Hadi. Sebelum kita lanjutkan pembicaraan ada baiknya ada melihat dokumen yang sudah kami persiapkan." "Dokumen?" Perempuan yang tadinya tak ingin berbicara kembali terseyum dan menaikan alisnya. "Nadia, tolong dokumennya berikan kepada Pak Hadi." Ia menoleh dan berbicara kepada perempuan lain yang sedari berdiri di sebelahnya. "Baik Ibu." Perempuan bernama Nadia itu mengangguk lalu menyerahkan sebuah dokumen kepada perempuan yang merupakan sekretaris dari laki-laki yang dipanggil Pak Hadi tersebut. Setelah dokumen tersebut diterima oleh sekertarisnya, tanpa menunggu lama ia kemudian menyerahkan kepada atasannya tersebut. Pak Hadi pun segera membuka dan mulai membaca isi dokumen tersebut. Menit-menit saat pak Hadi mulai mengerti isi dokumen itu membuat wajahnya terlihat tidak senang. Duduknya tak lagi nyaman. Keringatnya mulai bermunculan. Raut wajahnya semakin menampakkan rasa gelisah dan bercampur amarah. Brakkk. Pak Hadi menggebrak meja diikuti wajahnya yang semakin memperlihatkan amarah. "Apa-apaan ini? Apa maksud kalian dengan memperlihatkan dokumen ini?" Perempuan yang merupakan sasaran utama kemarahan Pak Hadi justru malah tersenyum menanggapi reaksi lawan bicaranya. Sementara laki-laki di sebelahnya lah yang justru menjawab pertanyaan seorang Hadi Winata. "Harusnya pihak kami yang bertanya Bapak Hadi yang terhormat. Apa yang akan Anda jelaskan akan menjadi jawaban terhadap kelangsungan kerjasama kita." "Jaga bicaramu. Ini sama saja penghinaan dan fitnah kejam untuk kami. Saya tidak terima kalian berani-beraninya melakukan ini. " "Anda yang harusnya jaga bicara Anda Bapak Hadi. Anda tau kan sedang berbicara dengan siapa sekarang." "Pak Atmaja..." suara perempuan disebelahnya mulai menginterupsi. "Sudah pak Atmaja. Biar saya yang bereskan ini." "Saya tidak ingin menjelaskan apapun sama kalian terutama dengan Anda anak muda. Saya ingin bertemu dengan pimpinan Anda. Biar pimpinan kalian tahu tentang fitnah ini." "Oh silahkan Pak. Tentu saya juga sangat berharap jika saya bisa bertemu langsung dengan pimpinan Anda juga.Bukan dengan Anda. Dan asal Anda tahu saja pihak kami dan tentu saja saya yang bertanggungjawab terhadap kerjasama ini sudah mengirimkan dokumen resmi untuk pemberhentian kerjasama kita saat ini. Kami tidak akan melanjutkan jika dokumen yang kami serahkan tadi tidak dapat perusahaan kalian luruskan." Perempuan itu kembali tersenyum tipis. "Keterlaluan kalian. Kalian tidak bisa semena-mena. Ini melanggar kontrak. Anda bisa kami tuntut." Emosi Pak Hadi semakin berkobar. Dia berbicara dengan berapi-api dan menunjukkan rasa tidak sukanya yang teramat terhadap perempuan di depannya. "Baiklah. Kami tunggu dengan senang hati Pak." Laki-laki bernama Hadi Winata itu mendengus dan berdiri sambil terus menunjukkan raut tidak suka. Ia mengisyaratkan kepada sekertarisnya untuk segera meninggalkan ruangan ini. Selepas kepergian dua tamunya tersebut, perempuan itu akhirnya bernafas lega. "Nadia, setelah ini kamu bisa kembali bersama Pak Atmaja." "Loh, Ibu tidak pulang bersama kami?" Perempuan itu menggelengkan kepala dan kembali tersenyum. "Saya masih ada hal yang harus saya kerjakan di sini. Kalian bisa kembali lebih dahulu. Dan untuk Pak Atmaja, terima kasih sekali atas kehadiran bapak di sini. Apa yang terjadi hari ini tidak akan bisa tanpa bantuan dari Bapak." Laki-laki di sebelahnya yang sejak tadi dipanggil Atmaja ini menganggukkan kepala. "Sudah menjadi tugas saya Ibu. Lagipula ini semua karena Anda sendiri yang telah berupaya lebih untuk mengungkapkan ini. Jadi apakah setelah ini Anda akan kembali ke tempat semula?" "Saya masih belum bisa kembali Pak. Ada beberapa yang masih harus saya selidiki. Baiklah karena ini sudah selesai saya pamit dulu mau jalan-jalan." Perempuan itu kemudian berdiri dan menarik ranselnya lalu mulai berjalan keluar. ...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN