15 Mendekat Ke Arahmu

3771 Kata
"Diam saja di situ, dan biarkan aku yang mendekat ke arahmu." - Aryan ... "Dii..kamu baik-baik aja kan?" "Apasih Icha sayaaang?" "Itu kamu beli bukunya banyak banget lho. Yakin kebaca semua." Icha menunjuk ke arah tumpukan buku yang sedang dibongkar Dia dari tas belanjanya. Tadi setelah pulang kerja Dia sengaja mengajak Icha ke toko buku. Dia ingin menyibukkam diri dengan buku-buku itu. Dia tak ingin pikirannya tersita oleh persoalan rumah tangganya. "Hmm Dii..aku boleh tanya sesuatu ndak?" lanjut Icha sedikit berhati-hati. Icha yang sejak tadi hanya diam, sebenarnya tahu betul jika sahabatnya itu sedang menyimpan sesuatu. Sekalipun Dia berusaha terlihat baik-baik saja dan sesekali tersenyum kepadanya, tetap saja dirinya tahu bahwa Dia seperti ada yang tengah ditutupi olehnya. Jika dugaannya benar, maka pasti ada hubungannya dengan laki-laki yang ada di parkiran kantor mereka tadi sore. "Apa Cha?" "It-ituu....." ucapan Icha terpotong oleh dering ponsel miliknya. Icha melirik nama yang terpampang di ponselnya. "Di, ini kan nomer kamu. Bukankah ponselmu ilang ya?" Icha menunjukkan ponselnya ke arah Dia. "Angkat Cha, siapa tau itu yang nemu ponsel ku." Icha hanya mengangguk dan mulai menerima panggilan tersebut. "Hallo?" ucap Icha membuka percakapan. "Hallo, ini Icha kan? Gue mau ngomong penting. Dengerin baik-baik." Terdengar suara laki-laki dari ponsel sahabatnya itu. "I-iy-iya." "Gue tau saat ini di deket lo ada Dia kan? Bilang sama Dia, gue tunggu dia di depan kost kalian. Bujukin Dia buat ketemu gue sekarang." "Kamu siapa?" Dia yang melihat Icha sedikit panik langsung mengkode "siapa". Icha yang paham hanya menggelengkan kepala. "Suaminya." "Haa apa?" Icha yang setengah berteriak semakin membuat Dia penasaran akhirnya merebut ponsel Icha. Icha hanya mematung sekaligus penasaran dengan ucapan laki-laki itu barusan. "Hallo? Ini yang nemuin ponsel aku, siapa ya?" ucap Dia semangat. "Dia. Ini aku. Aku di depan kost Icha. Aku tau kamu di dalam. Aku mau bicara sama ka...." Tuttt tuutt tuttt. Dia langsung menekan tombol end saat ia tahu pemilik suara itu. Suara milik Aryan, suaminya. Tapi bagaimana bisa ponselnya berada di tangan suaminya itu. Buru-buru Dia menyibak tirai jendela kamar Icha dan benar saja, Aryan tengah berdiri di depan kost Icha. "Diaa..gue tau lo di dalam. Gue akan tungguin sampe lo keluar dan nemuin gue...." teriak Aryan lantang. Dia hanya bisa menggigit bibir bawahnya gugup bercampur tidak percaya bahwa Aryan bisa tahu keberadaannya dan sampai sengotot ini untuk menemuinya. "Dia, itu cowok siapa sih? Itu yang tadi sore di parkiran kantor kan? Orangnya teriak-teriak gitu loh sekarang..Duh nanti pasti bapak kost ngomel deh." Icha bergidik membayangkan ekspresi marah sang bapak kost. "Cuekin aja Cha. Bentar lagi juga pergi. Gak mungkin kan dia bakalan betah lama-lama di situ." "Diaaa dengerin penjelasan gue. Dosa tau seorang istri nyuekin suami." Aryan kembali berteriak. Mendengar Aryan yang terus saja berteriak sejak satu jam yang lalu, membuat Dia sedikit gelisah. Salah satu teman kost Icha sempat menegur karena merasa terganggu oleh teriakan Aryan. "Hmm, Cha pinjem ponsel kamu." Icha mengangguk dan menyerahkan ponselnya. Dia menghela nafas sebelum mendial nomernya sendiri. Tuttt tuutt tuttt.... "Assalamualaikum Mas Aryan." "Wa'alaikumsalam Di. Please kasih gue kesempatan jelasin semuanya. Keluar. Kita mesti bicara." "Mas pulang aja. Saya sedang tidak ingin diganggu. Sudah cukup semuanya." "Enggak. Aku tungguin di sini sampe kamu mau bicara sama aku." "Terserah Mas mau ngapain aja. Tapi yang jelas Mas udah ganggu penghuni kost lain. Mas gak bisa egois gini." "Kamu juga gak boleh egois gini sama aku. Aku gak peduli sama yang lain. Pokoknya aku tetep tungguin kamu." Tuttt tuutt tuttt. Dia mematikan ponsel Icha. "Kayaknya dia pengen banget ketemu kamu. Tadi aku sempet denger kalau dia bilang dia itu suami kamu Di. Apa itu bener?" tanya Icha hati-hati. "Panjang critanya Cha. Aku capek, tidur yuk udah jam 10 nih." "Kamu yakin gak mau nemuin cowok itu Di? Udah satu jam lebih lho, tapi orangnya masih berdiri di situ." "Enggak. Ayuk tidur." Icha hanya menurut dan merebahkan tubuhnya di atas kasur karena sesungguhnya dirinya sudah sangat mengantuk sejak tadi. Dia yang ikut tidur di sebelah Icha berusaha untuk memejamkan mata. Tapi hati kecilnya tidak bisa memungkiri bahwa ia khawatir dengan suaminya yang berdiri di luar. Ditambah hawa malam ini terasa sangat dingin karena sejak sore tadi turun hujan hingga isya'. Dia menggelengkan kepalanya menepis semua bisikan hati dan pikirannya. Ia memaksa tubuhnya untuk tertidur. Dia kembali melirik jam dinding di kamar Icha. Sudah hampir pukul 1 malam tapi sejak tadi dirinya tak juga bisa memejamkan matanya. Diam-diam ia memikirkan apakah suaminya masih di luar? Dia kembali menggigit bibirnya dan beranjak mendekat ke arah jendela. Ia sibakkan sedikit tirai jendela, mencoba mencari tahu keberadaan suaminya. Dan benar saja Aryan masih saja berdiri di luar sana. Bersandar pada salah satu pintu mobilnya sambil bersedekap. Dia tahu suaminya tengah kedinginan di sana. Dia mengusap wajahnya. Jujur saja hatinya terasa sakit melihat suaminya berdiri kedinginan di luar. Ingin rasanya ia berlari keluar dan menemui suaminya. Tapi apakah ia siap untuk terluka lagi mengingat sikap Aryan selama ini. "Diaaaa kamu sudah tidurkah?" Aryan kembali berteriak dan membuat Dia semakin gugup. "Aku mesti gimana? Apa aku temuin aja," gumam Dia lirih. "Enggak. Ayo Dia abaikan saja... Tapi aku gak tega," lanjut Dia. "Diaaa please kasih gue kesempatan. Gue tahu kamu denger aku ngomong kan..." teriak Aryan sedikit frustasi. Bagaimana tidak. Dirinya sudah berdiri berjam-jam tapi tetap saja istrinya itu belum juga mau keluar. Ia melirik jam tangannya. Sudah hampir pukul 02:00 pagi. Hatinya semakin tak yakin bahwa ini akan berhasil. "Diaaa..." "Jangan teriak-teriak Mas." ucap Dia yang sudah berdiri di belakang Aryan. Mendengar suara perempuan yang sejak tadi ditunggunya membuat Aryan membalikkan badan dan menghadap istrinya. Aryan sejenak menatap Dia. Gadis mungil berpiyama strawberry itu tampak sangat cantik di mata Aryan. Dirinya kembali teringat saat dirinya mencium bibir manis itu dan seketika ingin sekali ia mengulanginya lagi. "Gue kenapa jadi m***m gini." makinya dalam hati. "Apa mau Mas? Bukankah itu yang Mas mau? Kenapa sekarang Mas ngotot kayak gini? Saya benar-benar lelah...." Dia menghela nafas lirih dan menatap wajah suaminya. Ditelisiknya penampilan Aryan. Rambut acak-acakan, kemeja yang sama dengan yang tadi siang yang sudah tidak rapi sama sekali, namun ajaibnya membuat tampilan Aryan semakin terlihat tampan. Hukum orang ganteng mah mau gimana aja tetap ganteng sepertinya. Aryan tersenyum dan mendekat ke arah Dia. "Stop, jangan kesini Mas. Bicara aja di situ. Jangan deket-deket. Saya denger kok," ucap Dia sambil berusaha menghentikan langkah Aryan. "Please dengerin gue ngomong Di.." Aryan melanjutkan langkahnya namun Dia kembali menggelengkan kepala. "Stop. Tetap di situ atau kita tidak bicara sama sekali." "Tapi jarak ini kejauhan." "Enggak. Tetap kayak gitu atau saya masuk lagi." "Ta-tapi.." "Oke saya masuk lagi." "Fine...oke kita bicara kayak gini." "Ya udah cepet ngomong. Di sini dingin." Aryan mencembikkan bibirnya. "Udah tau dingin tapi tega biarin suami kedinginan berjam-jam." "Jadi Mas cuma mau ngomong itu doang? Kalo cuma mau ngeluh saya masuk lagi aja deh." "Iissh gak gituuu Dia. Kamu kenapa sadis gini sih sama suami." Dia memutar bola matanya jengah menginsyaratkan dirinya bosan berdiri tengah malam begini dan masih harus mendengar omelan suaminya. Melihat ekspresi istrinya, Aryan buru-buru mengubah ekspresi wajahnya pada mode default, yaitu mode serius bin kaku. "Ehemmm, please dengerin aku baik-baik dan jangan dipotong dulu. Oke?" Aryan menaikkan salah satu alisnya dan hanya dibalas anggukan oleh istrinya. "Hmm tapi gimana ya ngomongnya...hmm pertama, aku minta maaf untuk semua kelakuan buruk aku ke kamu. Aku benar-benar salah. b******k dan buruk banget. Jadi gak heran kalo sekarang kamu marah atau benci sama aku." "Terus? Ada lagi?" Huffh. Aryan menghela nafas sebelum melanjutkan ucapannya. "Kedua soal surat cerai. Aku gak akan cerain kamu. Itu mutlak. Titik gak pake dibantah." "Tapi itu kemauan Mas kan?" "Iya memang aku niat bikin kamu gak betah supaya kamu minta cerai. Dan ya aku nyiapin itu pas aku di Bali setelah akad. Tapi sekarang enggak lagi. Aku gak mau. Jangan tanya alasannya." "Kenapa gak boleh tanya? Kenapa Mas bisa seegois ini?" "Aku memang egois. Tapi yang perlu kamu tahu, aku gak suka kamu sama orang lain. Aku gak suka ngliat kamu senyum karena orang lain. Aku gak suka itu." "Tapi kenapa? Mas kan gak suka sama saya? Kenapa itu jadi masalah buat Mas?" "Ya pokoknya aku gak suka." "Saya gak paham maksud Mas. Aneh. Sepertinya pembicaraan ini sia-sia saja. Saya gak akan ngrubah keputusan saya. Sebaiknya Mas pulang sebelum diusir sama anak-anak kost di sini." Dia beranjak melangkahkan kakinya. Melihat hal itu tentu membuat Aryan tidak bisa tinggal diam. Ia segera menghampiri Dia dan menarik tangannya, menghentikan langkah istrinya. "Mas lepasin." "Enggak Dia. Aku gak bisa nglepasin kamu." "Kenapa? Mas gak suka sama saya tapi gak mau nglepasin saya. Mau Mas apa?" ucap Dia lantang. "Aku mau kamu." "Tapi kenapa? Apa Mas? Saya lelah. Pernikahan itu dua orang Mas. Tapi selama ini saya berjuang sendirian." "Ya pokoknya aku mau kita tetap mempertahankan pernikahan kita." "Saya gak mau." "Harus mau." "Enggak." "Iya. Titik." "Kenapa? Kasih saya alasan kenapa saya harus ikutin kata Mas?" "Istri harus ikuti kata suami. Dosa hukumnya ngebantah suami." "Mas juga dosa suka​ nuduh yang gak-gak ke saya." "Ya kan aku udah minta maaf." "Oke saya maafin. Udah kan? Gak ada lagi?" "Terus kita gimana?" "Dari awal apa saya dan Mas pernah menjadi kita? Kenapa Mas ngotot banget sih. Mas benci sama saya kan?" Aryan mengusap wajahnya. "Aku sayang sama kamu..." "Apa Mas? Mas gak lagi bercanda kan?" "Enggak. Aku gak bercanda. Aku sayang sama kamu. Aku suka sama kamu sejak pertama kita bertemu. Itu kenapa aku gak suka ngliat kamu sama orang lain. Aku cemburu Dia." Aryan mengenggam tangan istrinya dan menatapnya penuh harap. Dia tertegun mendengar penuturan suaminya. Bagaimana pun ini adalah moment yang ia tunggu selama ini. Apa ini mimpi? Dia menatap wajah Aryan dan mencoba mencari tahu apakah suaminya itu berbohong dengan ucapannya. Dia tidak menemukan kebohongan sedikitpun. Terlebih melihat usaha Aryan untuk meminta maaf. Ditatap sebegitu insten oleh Aryan, membuat Dia gugup. Jujur saja hatinya berbunga-bunga saat ini. Sepertinya ada ribuan kupu-kupu sedang berterbangan di perutnya. "Dia kok diem? Aku beneran sayang sama kamu. Please kasih kesempatan untuk aku memperbaiki pernikahan ini. Kita mulai lagi dari awal. Mau kan?" Aryan mengenggam tangan Dia lebih erat. Blushh. Seketika pipi Dia merona seperti tomat masak. Ada rasa panas yang menjalari pipinya. Rasanya ingin pingsan tapi jika pingsan rugi dong gak bisa ngliat wajah Aryan yang sepertinya naik kadar ketampanannya 1,7 persen dari mode default. Saking gugupnya Dia malah mematung dan mengigiti bibir bawahnya. Aryan yang melihat itu lantas melepaskan genggaman tangannya dan menangkupkan pipi Dia. Chupp. Satu kecupan singkat mendarat di bibir Dia. Sangat manis rasanya. Dia yang tersadar baru saja mendapat ciuman dari suaminya langsung memukul lengan Aryan. "Ish kok cium-cium sih. m***m" Dia mengerucutkan bibirnya dan sukses membuat Aryan dag dig dug karena istrinya terlihat sangat menggemaskan. "Kamu kdrt ya?" goda Aryan yang tersenyum jahil sambil mengusap lengannya yang habis dipukul istrinya. Dia semakin merona hanya dengan melihat Aryan yang tersenyum. Tau kan orang ganteng kalo diem aja udah ganteng ditambah lagi senyum jadinya kayak gimana. "Biarin. Siapa suruh cium-cium." "Abis kamu mancing minta dicium gitu sih. Lagian kan kita udah sah. Bebas dong ngapain aja." Aryan kembali tergelak sambil menaik turunkan alisnya. "Saya mancing apa? Saya diem dari tadi?" "Itu tadi gigit-gigit bibir. Siapa coba yang tahan kalo liat godaan di depan mata." "Ish mesuummmm." "Tapi suka kan?" "Enggak soalnya Mas nyebelin." "Kok nyebelin. Orang ganteng, kaya dan cerdas gini kok." "Tau ah." Dia bersedekap sambil mengerucutkan bibirnya. "Bibirnya gak usah dimonyong-monyongin gitu. Minta dicium lagi ya?" Aryan semakin gencar menggoda Dia yang berusaha mati-matian menahan perasaannya yang seolah membuncah keluar. "Issh mesuummmm." Dia kembali memukul lengan suaminya dan membuat Aryan mengaduh. Aryan menangkap tangan Dia dan merengkuh tubuh istrinya ke dalam pelukannya. "Udah jangan pukul aku lagi. Ehemm jadi kita gimana?" "Apanya yang gimana?" Dia merasakan suaranya bergetar karena berada sedekat dan seintim ini dengan laki-laki yang sudah ditunggu-tunggunya selama sembilan tahun. "Ya kita. Aku sayang sama kamu. Mau kan terima aku lagi?" "Terima apa?" "Pernikahan kita. Ya kita mulai dari awal lagi. Aku janji akan menebus semua kelakuan burukku yang kemarin-kemarin." "Kita siapa?" "Aku sama kamuu Diaaa." "Kita apa?" "Ya kita ber....Kamu ngerjain aku ya?" Aryan mengurai pelukannya dan mencubit pipi mulus Dia sehingga membuat siempunya mengaduh. "Aww sakit." Dia mengusap-usap pipinya. "Siapa suruh jahilin suami?" Aryan menjawil hidung bangir istrinya. "Ahahaha abis kan jarang-jarang bisa ngerjain Mas. Selama ini Mas itu kalo ketemu saya kalo gak marah-marah pasti dingin kek es batu....hii serem." Dia bergidik ngeri tapi sayang mengingat sikap Aryan selama ini. "Maafin deh. Mau kan maafin aku." Dia hanya mengangguk. "Mau kan kasih aku kesempatan lagi? Kita mulai lagi pernikahan kita?" Dia kembali menganggukan kepala. "Oke sip. Ayo pulang. Aku laper, kedinginan dan ngantuk. Udah jam 2an nih." Aryan hendak menarik tangan Dia menuju mobil Aryan, namun Dia menghentikan niat Aryan. "Tapi Mas surat cerainya gimana?" "Udah aku bakar. Gak usah bahas-bahas itu lagi. Ayo pulang." "Hmmmm, saya pamitan dulu deh sama Icha." "Gak usah, nanti kamu masuk gak balik ke sini lagi. Gak bisa." "Ish balik lagi kan mode juteknya Mas Aryan." "Kamu bilang apa?" bisik Aryan sembari mengusap pipi istrinya lembut. "Eh, aku punya sesuatu buat kamu di mobil. Ayok" Aryan menuntun Dia mendekat ke mobilnya. Kemudian Aryan mengambil sesuatu dari dalam jok mobil dan menyerahkannya ke Dia. "Bunga?" Dia mengernyitkan dahi melihat sebuket bunga merah mawar yang diberikan oleh Aryan. "Iyalah bunga. Masa' gorengan." "Serius ih Mas." "Maaf deh. Abis ternyata godain kamu itu bikin nagih. Ini cuma baru godain ya. Gimana yang lainnya ya." Aryan tersenyum m***m ke arah Dia. Mendapati tatapan seperti itu membuat Dia reflek mencubit perut suaminya sebelum mengambil sebuket bunga mawar merah yang indah. "Aww sakit sayang.." goda Aryan sambil mengaduh dan tentu saja membuat Dia semakin salah tingkah dipanggil sayang. "Kamu suka bunganya?" Aryan mengusap puncak kepala Dia yang tertutup hijab. "Iya Mas. Ternyata Mas tau-tauan ngasih ginian sih. Romantis." "Abis kata Dimas cewek itu suka sama hal-hal kayak gini." "Dimas?" "Kamu inget cowok yang sama aku pas kita gak sengaja ketemu di cafe? Itu lho cowok yang mukanya biasa aja tapi dia cukup berguna kalo ditanya-tanya hal aneh-aneh." "Mas Aryan gak boleh ngomong gitu. Menurut saya temen Mas itu ganteng kok." "Gak boleh bilang ganteng sama cowok laen. Gak boleh. Lagian dia itu playboy." "Mas gak mungkin cemburu kan ya...." "Aku cemburu..udah ah ayuk pulang. Aku laper dan belum mandi. Barang-barang kamu urus besok aja." "Ish pantesan tadi asem pas meluk." "Asem-asem gini kamu juga suka kok." "Ge-er. Hmm oke kita pulang. Btw, makasih untuk bunganya Mas." Dia tersenyum sangat manis hingga membuat Aryan hampir menerkamnya. "Jangan bilang makasih dulu. Itu belum apa-apa. Di rumah masih ada." "Maksudnya?" "Lihat aja nanti." ... Flashback on : (Masih) Hari Kedua Setelah Akad Nikah Dia masih saja berada di teras belakang pasca mendapatkan telepon dari ayahnya dan mulai kembali mengotak atik ponselnya untuk merencanakan perintah sang Ayah. Saking seriusnya dirinya dengan si ponsel membuatnya tidak menyadari kehadiran sesorang yang sudah duduk di kursi sebelahnya. "Eheemmmm." Suara deheman di sebelahnya membuyarkan keseriusan Dia dengan ponsel dan reflek menoleh ke sebelah. "Eh maaf mba. Saya gak tau mba ada di sini." ucap Dia sambil tersenyum manis. "Loh kok minta maaf. Santai aja. Gue yang kudunya minta maaf deh udah gangguin lo. Hehehe." Dewi menunjukkan raut wajah bersalah telah mengusik gadis di sebelahnya yang justru terlihat semakin cantik ketika dilihat lebih dekat. Tentu saja kehadiran Dewi mendekati Dia adalah untuk mengobati jiwa penasarannya akan istri dari sepupunya itu. "Mba gak ganggu saya kok. Eh, kita belum kenalan ya Mba. Saya Ayudia. Mba bisa panggil saya Dia. Hmmm saya itu......." ucapan Dia terputus walau tangannya tengah mengulurkan tanda salam untuk perkenalan. Dia tidak tahu harus melanjutkan perkenalan dirinya atau tidak. Lebih tepatnya dia tidak tau apakah harus memberitahu statusnya sebagai istri dari putra sewata wayang keluarga Dirgatara atau tidak. "Lo istrinya Aryan kan?" sahut Dewi sambil uluran tangan Dia. "Iya mba. Mba sendiri saudara mas Aryan ya?" "Gue Dewi. Sepupu Aryan sekaligus sekertarisnya." "Oh berarti Mba Dewi tau banyak dong soal mas Aryan." Dia semakin tersenyum sumringah. Menurut perkiraannya yang biasanya tidak salah, dari sosok Dewi inilah dirinya akan mendapatkan banyak informasi terkait suaminya yang seperti menghilang ditelan bumi. "Iya dong. Hmm tapi jujur nih kok gue penasaran yak sama lo... Hehehe." "Penasaran kenapa mba?" "Pertama, kok bisa ya Aryan nikah sama lo tapi kok gue sama sekali gak tau ya. Ya kek gak pernah gitu lihat lo dibawa Aryan ke acara keluarga. Itu yang pertama, nah yang kedua gue ngrasa wajah lo ini ni kok kayak pernah lihat gitu ya. Tapi gak tau dimana? Jangan-jangan lo ini artis ya? Seleb gitukah? Kayaknya lo umurnya jauh ya dibawah Arya. Iya dong orang lo imut gini kok. Iya kan? Terus..... Eh kok gue ngomongnya banyak amat yak kayak wartawan gosip gini." Dia tersenyum mendengar penuturan sepupu suaminya ini. Sungguh sepertinya dirinya akan sangat menyukai kehadiran sosok Dewi. "Heheheh saya jadi bingung mesti jawab yang mana dulu.... Hmmm saya sama mas Aryan itu dijodohkan mba. Jadi jujur saja saya juga baru ketemu mas Aryan pas akad nikah. Dan kita nikahnya juga karena kondisi urgent. Pas Papa Zain sedang sakit di rumah sakit kemarin." "Haa apa??? Kok lo mau-mauan baru ketemu langsung nikah sama si Aryan... Eh maksud gue... kok bisa gitu?" "Ya bisa mba, buktinya kita berdua udah nikah sah secara agama dan negara." Dewi menyipitkan matanya tanda tidak percaya. Wah konspirasi macam apa ini. Sungguh jiwa penasarannya makin meronta-ronta menunggu penjelasan pernikahan aneh ini. "Yaaa.. ya gimana ya kok bisa aja gitu. Aneh banget. Padahal lo aja cantik banget gini kok mau-mauan sama si Aryan yang sok ta..u itu.... hehehehe ups sepupu gue aslinya baik kok. Cuma kalo ngomong suka kayak singa ngamuk, eh kok gue jelekin Aryan mulu yak. Duh mulut gue...." "Hehehe mba Dewi ini lucu ya. Ya Allah mba terimakasih lho sudah bilang saya cantik. Alhamdulillah." "Lah memang cantik banget. Lo artis yak? Kok mukanya bisa bening gini sih." "Saya bukan artis mba. Cuma orang biasa." "Heee beneran?? Bukan artis? Model gitu kali atau selebgram gitu ya?" "Bukan mba beneran. Cuma orang biasa aja." "Masa' sih abis gue kek familiar gitu sama wajah lo. Kayak pernah lihat tapi gak tau dimana." "Mungkin wajah saya pasaran kali ya mba. Banyak copyannya makanya kayak pernah lihat." "Kalo wajah lo dibilang pasaran semua juga mau jadi copyan lo dong. Gila si Aryan pernah nglakuin kebaikan apa si kok bisa dapet istri secantik ini." Dewi masih saja tidak percaya dengan konspirasi aneh ini. Harus diselidiki ini. Halahhhh. "Hmm ngomongin soal mas Aryan. Saya boleh minta tolong sama mba Dewi ndak?" "Minta tolong apa?" "Hmm hmmm mba Dewi tau keberadaan mas Aryan sekarang?" "Loh dia gak bilang ke lo juga kemana dia sekarang?" Belum sempat Dia menjawab Dewi merogoh ponselnya dan menyalakannya namun ponselnya dalam keadaan gelap alias mati. "Yah ponsel gue mati lagi. Gue boleh pinjem ponsel lo bentar gak?" "Boleh mba, ini." ucap Dia sambil memberikan ponselnya ke Dewi. "Eh ini passwordnya apa?" Dewi terlihat kesulitan memakai ponsel Dia yang sedang terkunci. "Eh iya lupa kekunci tadi. Passwordnya 1 sampai 5 mba." "Oke. Gue pinjem bentar ya. Eh ada kan nomor Aryan disini." Belum sempat Dia menjawab Dewi lebih dulu menemukan nomer yang dicari. Niat hati Dewi ingin melakukan panggilan video kepada sepupunya itu. Tujuannya tidak lain dan tidak bukan untuk pamer karena mengetahui rahasia besar sang sepupu. Jomblo seumur hidup menurut versi Dewi itu akhirnya menikah. Sungguh berita besar dan rasanya akan sangat menyenangkan untuk menggoda seorang Aryan. Namun anehnya sudah dua kali ini mencoba memanggil selalu saja ada tanda nomor yang anda tuju tidak tersedia. Lah kok bisa? Melihat Dewi yang tidak bisa menghubungi Aryan membuat Dia angkat bicara. "Hmm mba gak bisa telpon mas Aryan kan?" "Iya ih, apa nomornya gak aktif kali. Atau lagi gak ada sinyal disana deh. Yah gagal nih mau ngejutin Aryan." balas Dewi dengan lesu. "Hmm sebenarnya bukan karna gak aktif si mba. Tapi kayaknya nomor saya diblok deh sama mas Aryan. Soalnya pas pertama saya chat kemarin terkirim, tapi abis itu udah gak bisa kekirim lagi gitu." "Haa?? Apa? Kok bisa-bisanya tu bocah seenaknya gitu." Awalnya Dewi ingin mengejutkan sepupunya. Eh justru dirinya sekarang yang terkejut oleh sikap sang sepupu sekaligus bosnya itu. "Hehehehe ya gitu mba. Kita kan nikahnya dadakan mba. Wajar kan kalau mas Aryan gak nyaman dengan kehadiran saya yang tiba-tiba" Dia mencoba tetap mempertahankan senyuman tipisnya di bibirnya. Tapi tentu saja gelagat dan wajahnya tetap saja menyiratkan kegelisahannya akan nasib pernikahannya kedepan. Melihat ekspresi mata sendu Dia yang semakin terlihat sedih membuat Dewi seakan merasa bersalah. Namun dirinya tidak tahu juga kenapa jadi ia yang merasa salah padahal sepupunya yang sudah pasti salah. Lah gimana sih ini. Tau ah. Dewi kesel pokoknya dengan Aryan. "Ya tapikan gimanapun juga kalian ini suami istri. Gak boleh gitu dong." "Gapapa mba." "Lo kok sabar banget si. Lo kenapa gak ngadu aja ke Om sama Tante. Biar tau rasa itu Aryan." "Eh jangan bilang apa-apa ke Papa Mamanya mas Aryan mba. Jangan please. Apalagi Papa kan baru aja sembuh. Saya gak papa kok mba. Atau mending mba bantuin saya aja deh. Mau ndak?" Dia mengedipkan mata bulatnya yang semakin membuat Dewi terpesona. Ya Allah kenapa dia sebagai perempuan merasa terpesona ketika melihat gadis dihadapannya ini ya. Eh maap ia bukan lesbi lho. Hanya memang hatinya tidak kuat kalau lihat yang imut-imut. Inget bukan lesbi. "Bantuin apa?" "Mba tau keberadaan mas Aryan kan? Saya cuma ingin tau informasi soal mas Aryan sekarang dimana? Gimana kondisinya? Sehat-sehat aja kan? Saya khawatir karena mas Aryan gak pulang sejak kemarin." "Ya Allah seandainya Aryan tau kalau lo baik gini apa gak nyesel tu anak udah jahat sama lo.." Dewi menghembuskan nafas sejenak sebelum melanjutkan kalimatnya. "Lo tenang aja, Aryan di Bali sekarang." "Bali?" "Iya. Ada kerjaan si disana. Aryan gak pergi sendiri kok. Ada manajer perusahaan juga sama dia dan manajer itu cowok." "Boleh tau ndak mas Aryan di Bali nginapnya dimana? Berapa hari?" "Mereka nginapnya di The Grand MH Bali. Kalau soal berapa harinya duh gue gak tau si soalnya gue sendiri belum dapat perintah untuk mengurus penerbangan kepulangan mereka kesini." "Oh oke mba Dewi. Terima kasih ya untuk informasinya. Ini sangat berarti buat saya." "Duh jangan formal-formal gitu dong sama gue. Hmmm lo kenapa kok nanya soal hotelnya? Lo mau nyusul kesana?" "Mungkin....." Dia tersenyum sangat manis. Flashback off.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN