"Kadang sebuah kebahagian itu harus dibayar dengan rasa sabar yang setara." - Dia
...
Flashback on : Hari Kedua Setelah Akad Nikah
"Wi, ayo jujur sama Om. Dimana Aryan sekarang?" tanya Om Zain dengan berapi-api. Bagaimana tidak? Pasalnya hari ini adalah kepulangannya dari rumah sakit, namun sang putra semata wayangnya justru menghilang dan tidak bisa dihubungi. Tentu saja bukan hal ini saja yang menjadi alasan utama seorang Zain Dirgantara merasa kesal terhadap Aryan. Apalagi kalau bukan sikap tidak bertanggungjawabnya Aryan yang menghilang pasca akad nikah.
"Aryan sedang berada di Bali Om. Masa' om sama tante gak tau. Kemarin malam penerbangannya." jawab Dewi yang duduk di kursi ruang tamu keluarga Dirgantara.
"Apa? Bali?" sahut tante Mariam yang tak lain dan tak bukan adalah istri dari Zain Dirgantara yang artinya adalah ibunda dari Aryan.
"Dasar bocah tidak bertanggungjawab." gerutu Zain Dirgantara yang membuat kedua pipinya memerah karena menahan amarah.
"Hmmm tumben Om sama Tante kayak gak suka gitu Aryan ke Bali. Padahal kan ini urusan kerjaan. Apa ada sesuatu?" tanya Dewi menjadi penasaran.
"Bukan kami gak suka Wi. Tapi ini kondisi khusus." ucap ibunda Aryan sambil mengedikkan bahu.
"Haa?? Situasi khusus?"
Belum sempat Tante Mariam menjawab pertanyaan Dewi, dirinya malah sedikit terkejut dengan kehadiran Dia yang berjalan ke arah mereka bertiga dengan membawa nampan berisi minuman dan camilan yang sepertinya brownies yang sudah dipotong potong dan ditata di atas piring.
"Silahkan diminum dulu tehnya Ma, Pa dan mba." Dia berujar sembari meletakkan teh dan camilan di atas meja ruang keluarga.
"Lho, kok malah kamu sayang yang bawa tehnya. Bibi kemana?"
"Hmmm bibi lagi tanggung nyuci piring Ma, lagian klo cuma bikin teh sama bawain brownies Dia bisa kok Ma."
"Terima kasih ya sayang." ucap Tante Mariam penuh kelembutan.
Perubahan ekspresi wajah dari Tante Mariam dan Om Zain yang berubah dari marah menjadi ekspresi penuh kebahagiaan tak luput dari perhatian Dewi. Tentu saja ini mengusik rasa penasarannya. Siapakah perempuan cantik ini? Kenapa ia memanggil om dan tantenya sebagai papa mama? Rasa-rasanya aneh sekali karena sejak dirinya lahir ia tidak tahu jika om dan tantenya punya anak perempuan secantik ini. Sungguh ia tidak mengerti akan situasi ini.
"Sini sayang duduk sini sebelah Mama. Sekalian kenalan sama Dewi." Dia tersenyum dan hendak beranjak menuju sofa kosong di sebelah mamanya. Namun belum sempat ia melangkahkan kakinya, ponselnya tiba-tiba berdering dan membuatnya mengerutkan kening.
"Maaf Pa Ma. Dia ijin angkat telpon dulu dari Ayah." ujar Dia sambil beranjak meninggalkan ruangan keluarga setelah mendapat anggukan dari Papa Mamanya.
Melihat adegan keluarga harmonis barusan semakin memicu penasaran seorang Dewi. Rasanya sangat tidak masuk akal. Daripada mengira-ira mending langsung tanya. Seperti pepatah lama, jika malu bertanya maka akan ketinggalan fakta yang tertunda. Eh bener kan yak gitu pepatahnya.
"Hmm kok Dewi bingung ya Tan, Om" celutuk Dewi sambil memamerkan deretan gigi putihnya.
"Bingung kenapa Wi?" jawab Om Zain sembari mulai menyeruput teh buatan menantunya itu.
"Itu lho... Hmmmm perempuan cantik tadi itu siapa ya? Kok panggilnya Papa Mama. Apa selama ini Om sama Tante punya anak yang pas kecil hilang dan ketemu lagi pas gede? Tapi gak mungkin dong ya. Wajahnya aja imut gitu pasti umurnya jauh di bawah Aryan. Sementara Dewi sama Aryan seumuran yak. Kalau tante sama om punya anak lagi setelah Aryan kan kudunya Dewi tau dong ya. Eh gimana sih. Dewi malah bingung sendiri." cerocos Dewi.
Mendengar penuturan Dewi, Om Zain malah tersenyum dan beranjak berdiri. "Om tinggal dulu ya. Mau telpon Aryan."
"Lah Om. Jadi dia tadi siapa?"
"Kenapa Wi? Penasaran? Cantik ya yang tadi." Tante Mariam menjawab sambil mengulas senyum.
"Cantik banget Tante. Suerrr deh kayak artis-artis gitu wajahnya." ujar Dewi sambil mengambil potongan brownies dan memasukan di mulut. "Eh ini kok enak banget Tante. Beli dimana?"
"Bikinan menantu Tante dong Wi"
"Uhukk me-menantu??? Jadi Aryan...Eh jadi yang tadi itu... hmmm itu istrinya Aryan?? Aryan udah nikah Tante?? Tante serius kan? Kok bisa?"
"Iya dong Wi."
Astaga sungguh ucapan tante Mariam membuat Dewi mengerjap setengah tidak percaya sambil menelan brownies yang terasa nyangkut di tenggorokannya. Aryan sudah menikah. MENIKAH. WOW. Sepupu sok taunya itu ternyata telah menikah dan dia gak tau. Atau lebih tepatnya Aryan menikah diam-diam. Hmmm sungguh membuat hati dan jiwanya penasaran.
Sementara yang lain masih asik berbincang, Dia memilih duduk di teras belakang rumah keluarga mertuanya itu untuk menerima telepon sang ayah.
"Assalamu'alaikum yah."
"Wa'alaikunsalam salam sayang. Gimana kabar kamu? "
"Ayah gak telpon Dia cuma buat nanya kabar kan?" Dia menjawab dengan pertanyaan sambil tertawa.
"Kamu ini ya, paling tidak bisa diajakin basa-basi sama ayah sendiri."
"Hehehe Ayah sama basa-basi itu gak cocok tau. Hmmm jadi ada apa Ayah telpon Dia?"
"Ayah sudah memeriksa dokumen laporan dari kamu. Semua tepat seperti yang kamu laporkan. Dan kemarin ayah juga sudah membicarakan ini dengan pihak mereka. Tapi mereka menginginkan pertemuan dengan kita."
"Jadi?"
"Ayah mengirim kamu untuk ketemu mereka besok siang di Bali. Ini project kamu. Kamu yang bertanggung jawab dari awal terkait ini. Bisa?"
"Bali? Oke yah."
"Kamu yakin langsung setuju gitu? Kamu kan baru saja menikah."
"It's okay Yah. Itung-itung liburan gtu."
"Oke. Hmm tapi Ayah serius soal pertanyaan yang soal kabar kamu. Kamu baik-baik saja kan?"
"Dia baik-baik saja Yah. Sueerrr deh."
"Oke. Ayah cuma make sure kalau keputusan Ayah soal kamu itu tidak salah. Ya sudah ayah tutup dulu. Bunda mu dari tadi ngomel karena kemarin ayah bawa pisah sama kamu. Jangn lupa telpon bunda biar dia tenang."
"Dia bahagia kok Yah. Lagian ayah kok jinak banget kalau menyangkut bunda. Bikin iri deh. Salam untuk bunda yah. Nanti Dia telpon bunda."
Flashback off
...
"Saya ingin bertemu dengan yang bernama Aryan Arkana Dirgantara. Kamu sekertarisnya?" ucap sesosok laki-laki tampan berpostur tegap.
"Iya. Maaf bapak siapa ya?" ucap Dewi yang melihat laki-laki asing berdiri di hadapannya dengan wajah angkuh.
"Maaf mba Dewi. Saya tadi sudah mengatakan jika Pak Aryan tidak berada di tempat, tapi Bapak ini tidak percaya mba." ucap Rena gugup.
"Enggak papa Ren. Kamu balik aja ke tempat kerja kamu. Biar saya yang urus ini." Dewi tersenyum ke arah Rena yang menganggukan kepala dan berlalu dari ruangan Aryan yang berada di lantai 11.
"Ehemm, jadi mana yang namanya Aryan?"
"Maaf bapak. Salah satu staff kami tadi sudah menjelaskan bukan, bahwa Pak Aryan memang sedang tidak ada di tempat. Mungkin bapak bisa atur janji temu dulu."
"Enggak perlu. Saya cuma mau memastikan sendiri. Bisa saja kan kalian ini bohong."
Dewi menghembuskan nafas. Sabaarrrr. "Untuk apa kami berbohong Pak." Dewi sedikit kesal dengan laki-laki tampan yang masih saja berdiri angkuh di hadapannya ini.
Mendengar pernyataan Dewi, laki-laki itu hanya mengedikkan bahu. "Siapa yang tahu," ucapnya sembari menaikkan salah satu alisnya.
"Maaf ya Bapak Yang Terhomat yang bahkan saya tidak tahu nama Bapak. Buat apa saya berbohong. Tidak ada untungnya. Jadi karena yang bapak cari tidak ada. Silahkan kembali lain waktu." Dewi mulai kesal. Laki-laki ini benar-benar menyebalkan menurutnya. Mentang-mentang wajahnya ganteng seperti aktor korea bukan berarti boleh bertindak sesuka hati. Eh ganteng?
"Oh kamu ngusir saya?"
"Bukan Bapak." Dewi memaksa untuk tersenyum. Rasanya jika saat ini dirinya bukan sedang bekerja sudah ia tendang laki-laki di hadapannya. Sungguh menguji hati tapi menggoda iman. "Ya Allah cobaan macam apa ini," batinnya.
"Terus tadi itu apa?"
Belum sempat Dewi menjawab, muncul Dimas tiba-tiba dan mulai mencari tahu apa yang terjadi. "Ada apa sih Wi? Suara lo kedengeran tau sampe seisi kantor."
"Apasih Dim, lebay." Dewi mengerucutkan bibirnya. "Itu ada yang nyari Aryan, udah dibilang gak ada, masih ngotot. Sebel tauk," lanjutnya.
Dimas memandang sejenak laki-laki di hadapan Dewi dan tersenyum ramah sambil mengulurkan tangan. "Anda bukankah Bapak Elang Samudera kan? Perkenalkan saya Dimas. Manajer di sini. Kalau boleh tau ada urusan apa ya Bapak ke sini?"
Elang tersenyum menerima uluran tangan Dimas. "Bagaimana anda bisa tahu saya?"
"What?? Ini cowok tersenyum barusan. Gue gak lagi halusinasi atau mimpi kan ya? Ganteng banget tapi masyaallah ngeselinnya," batin Dewi.
"Siapa sih yang tidak tahu soal Bapak. Pengusaha muda sukses sekaligus pengacara handal dan terkenal."
"Itu berlebihan. Panggil nama aja. Kita kayaknya seumuran. Anyway, apa saya bisa bertemu dengan Bapak Aryan Arkana Dirgantara?"
"Sepertinya anda sedang tidak beruntung. Pak Aryan nya sedang tidak di tempat. Hmm atau mungkin nanti bisa saya hubungi lagi saat Pak Aryan kembali."
"Oh oke. Saya kasih kartu nama saya saja. Tolong hubungi saya." Elang menyodorkan sebuah kartu nama yang diterima dengan senang hati oleh Dimas. Sementara Dewi yang menyaksikan seperti tidak percaya. Laki-laki yang belum sampe 5 menit yang lalu super ngeselin bisa berbanding terbalik saat berbicara sama Dimas. Dunia benar-benar sudah tidak bisa dirinya mengerti sepertinya.
...
Aryan melangkah lesu ke ruangan Dimas sesampainya di kantor. Ia rebahkan tubuhnya di sofa ruangan itu. Pertemuan dengan istrinya barusan justru membuatnya tidak tenang, gelisah galau merana.
Dimas yang sejak tadi memperhatikan bosnya yang tidak kunjung berbicara, membuatnya penasaran, akhirnya mendekat ke sebelah sofa kosong dan menanyakan apa yang sedang mengganggu pikiran bosnya itu. "Lo kenapa sih Ry? Perasaan tadi pas pergi seneng banget pas si Ayu ayu itu mau ketemu. Eh balik-balik muka kusut amat kayak baju yang sebulan kagak disetrika."
"Emang lo tau bentukan baju yang gak disetrika sebulan?" sahut Aryan datar.
"Ishh, bukan itu fokusnya. Tapi soal kenapa lo jadi kek orang galau gini sih? Yang namanya ayu-ayu tadi itu siapa sih? Orangnya gak cantik apa gimana? Kok kayak kecewa gitu."
"Dim, lo tau cara minta maaf gak?"
"Hadeeeh dari tadi gue ngomong apa, jawabnya apa."
"Gak usah protes. Cepetan jawab."
"Ya Allah Ry, minta maaf mah tinggal bilang maafin aku. Gitu doang pake nanya."
"Serius dong Dim. Minta maaf yang beneran. Yang sesuai standard."
"Dih, lo kata minta maaf itu produk buatan negeri ada standardnya. Minta maaf itu yang penting tulus dan beneran berniat memperbaiki bukan cuma sekedar omongan doang."
"Emang gitu?"
"Ya iyalah. Makanya dari kecil itu biasain ngomong maaf, terima kasih dan tolong. Sueer deh muka ganteng tapi kalau lo gak bisa pake 3 kata ajaib tadi, doesn't make her stay. Nih baca biar gak ngeyel mulu." Dimas menyerahkan laptopnya yang berisi tutorial meminta maaf.
"Ini website kesehatan kok bahas permintaan maaf sih? Valid gak nih?"
"Baca aja dulu, gak usah protes. Lagian meminta maaf itu bagian dari kesehatan. Kesehatan mental."
Aryan memutar bola matanya malas, menanggapi ucapan Dimas yang kelihatannya asal tapi masuk akal menurutnya. Dirinya mulai membaca-baca artikel dan tersenyum cerah. "Kalau cuma gini, gue juga bisa."
"Belum tentu. Gak semua permintaan maaf itu bisa diterima lho. Praktek aja dulu, baru komen bos."
"Lo doain gue gak berhasil, hah?"
"Masyaallah sensi bats sih Pak. Orang itu kadang kalau udah terlanjur sakit hati susah buat buka hati lagi tau gak? Lo dengan enteng bilang maaf tapi apa lo gak mikir, apa iya hanya dengan ucapan maaf lo bisa langsung ngehapus sakit hatinya. Gak semudah itu Bambang."
"Kok tumben omongan lo berfaedah Dim. Gue bangga sama lo."
"Baru nyadar. Kemana aja lo bertahun-tahun. Btw, emang lo mau minta maaf sama siapa sih kok sampe seniat ini? Si Ayu-ayu itu gebetan lo ya?"
"Enak aja gebetan. Istri gue."
"Istri? Lo itu beneran udah nikah?"
"Iya."
"Kapan? Kok bisa?"
"Ya bisalah. Nikah mah tinggal nikah aja."
"Bukan gitu Ry. Lo sebenernya nganggep gue temen gak sih?"
"Nganggep."
"Terus kok lo nikah gak bilang-bilang?"
"Barusan gue bilang."
"Bukan begituuuu. Kesel gue ngomong sama elo. Maksud gue itu kok lo bahkan gak ngundang gue ke nikahan lo sih. Segitu gak pentingnya gue ya, sampe lo nikah gue gak dikasih tau. Jangan-jangan sekantor tau kecuali gue."
"Lah emang siapa yang diundang ke nikahan gue."
"Ya gak tau, orang lo yang nikah."
"Gue emang nikah tapi gak ada acara gimana-mana. Cuma akad doang. Itupun juga keadaannya terpaksa."
"Kok bisa? Lo dijodohin ya? Terus ternyata yang lo nikahin biasa aja dan lo kecewa. Jadi lo nutupin pernikahan lo kan. Ngaku...hahahahhaa."
"Dia itu cantik. Cantik banget malah."
"Kalo cantik kenapa lo gak go public sama doi?"
"Panjang critanya. Males gue kalo mesti critain satu-satu. Intinya sekarang dia marah dan mungkin udah benci sama gue."
"Lo bikin salah yang fatal ya?"
"Berlapis."
"Hadeeeh jangan bilang kisah lo ini klise deh. Dari benci jadi cinta."
"Iya. Terus?"
"Lo niatnya buat doi gak betah sama sikap-sikap lo. Tapi saat doi beneran gak betah. Lo gak suka. Nyatanya sekarang lo sendiri malah punya perasaan sama doi?"
"Iya. Terus?"
"Apanya yang terus? Lo kira gue lagi parkir lo bilang terus-terus mulu."
"Serius Dim. Soal minta maaf ini."
"Gue gak tau salah lo ke dia separah apa. Tapi ya udah sih. Datengi dia baik-baik. Bilang semua yang lo rasain gimana. Minta maaf kalo lo punya salah dan rubah sikap lo. Gak usah gengsi sama jaim-jaiman. Ditinggal beneran tau rasa lo."
"Udah gitu aja?"
"Ya kagak gitu doang. Bawa bunga gitu kek, atau apa gitu. Cewek itu suka sama hal-hal kecil kayak gitu."
"Oh. Mantan playboy emang beda ya."
"Gak usah ngatain. Udah tobat gue. Terus lo nunggu apalagi. Kenapa masih di sini?"
"Oke gue pergi."
"Gue doain doi mau maafin lo."
"Gue amin-i deh. Walaupun gue gak yakin doa lo ampuh apa gak." ucap Aryan sembari melangkah keluar diiringi tatapan kesal dari Dimas.
...
Sudah lebih dari dua jam Aryan duduk di dalam mobilnya yang terparkir di halaman parkir tempat Dia bekerja. Dirinya sengaja menjemput sekaligus berniat memperbaiki hubungan dengan sang istri. Sesekali ia terus melihat jam tangannya. Sudah hampir pukul 17:00 WIB, tetapi yang ditunggu kemunculannya tak juga menampakkan diri.
Karena merasa bosan terlalu lama duduk di dalam mobil, Aryan memutuskan menunggu di luar mobil. Penampilannya yang mencolok jelas membuatnya menjadi pusat perhatian. Tak jarang beberapa perempuan yang keluar masuk perusahaan milik sahabatnya itu berbisik terkagum-kagum melihat penampilan Aryan yang seperti aktor Korea.
"Gilaaaaa, tau gak di parkiran lagi pada heboh. Ada cogan sisturr. Kayaknya lagi nungguin salah satu anak CN deh" seru Mba Veria yang merupakan salah satu rekan Dia.
"Apasih mba, palingan juga tukang gorengan depan indoapril kan?" balas Dia yang tengah bersiap-siap untuk pulang.
"Issh dibilangin gak percaya. Awas aja ntar kalo sampe pingsan lihat mas gantengnya."
"Kagak bakal. Ichaaa ayuk pulang, aku nebeng plus nginep yak di kost kamu. Dadah mba Ve.." kekeh Dia sambil berlalu menuju pintu keluar.
"Tunguin Di. Baru ngiket sepatu. Ini kuncinya tangkap. Tolong panasin motor aku."
"Aku mesti panasin pake isu politik apa mesti pake kisah asmara kamu sama mas-mas bubur ayam Chaaa.." Dia mengerling mata ke arah Icha yang memberengut sebal.
Dia berlalu menuju parkiran meninggalkan Icha yang masih saja mengomel sendiri. Saat dirinya keluar gedung dari tempatnya bekerja, matanya menangkap sosok yang sedang menjadi pusat perhatian rekan-rekan perempuannya. "Mas Aryan...." ucap Dia lirih. Benar kata mba Ve, rasanya ia ingin pingsan saja saat ini.
Aryan yang menyadari jika, alasan dirinya di sini tengah menatapnya langsung beranjak menuju tempat Dia berdiri. Sementara Dia yang menyadari jika suaminya itu mendekat ke arahnya, ia langsung buru-buru melangkah ke arah pintu masuk. Ia harus menghindar. Namun sialnya sebelum sampai pintu masuk, Aryan terlebih dahulu memegang lengannya.
"Diaaa. Aku kesini. Kenapa malah ngehindar."
"Mas Aryan ngapain di sini?"
"Jemput istri."
"Gak usah bercanda. Gak lucu."
"Jadi kamu aslinya gini ya. Jutek amat, gak kayak biasanya." Aryan tersenyum menggoda.
"Suka-suka saya." ujar Dia ketus sambil berjalan menuju motor Icha dan bersiap menaikinya.
"Kamu mau kemana?" Aryan berjalan mengikuti Dia yang sudah menstarter motor milik sahabatnya.
"Pulang."
"Ya ayo ngapain pake motor aneh ini sih. Cepetan ayo ke mobil. Pegel kaki aku. Kita mesti bicara. Ada hal yang harus aku sampein."
"Saya sudah bilang saya gak akan pulang ke rumah Mas. Saya rasa gak ada yang mesti kita bicarain lagi."
"Tapi gue ada." Aryan kembali pada mode gue-elo karena emosi nya sedikit tersulut. Dirinya lelah menunggu istrinya tapi istrinya justru membuatnya emosi.
"Buat saya ini sudah selesa..." Ucapan Dia terputus karena Aryan mencengkeram tangannya. "Mas please lepasin. Malu diliatin banyak orang."
"Gak bakal gue lepasin kecuali lo ikut gue pulang sekarang."
"Enggak Mas. Saya udah capek kayak gini terus."
"Gue tau lo marah sama gue. Tapi please kasih gue kesempatan buat jelasin semuanya."
"Gak perlu dijelasin lagi. Semua udah jelas."
"Lo salah paham."
"Salah paham apa mas?" Belum sempat Aryan menjawab muncul Icha yang terlihat bingung dengan pembicaraan sahabatnya dengan laki-laki yang tidak ia kenal. "Chaa ayo cepetan." Icha hanya mengangguk dan duduk di belakang Dia. "Maaf mas, saya harus segera pergi."
Dia memacu motor milik Icha yang membonceng di belakangnya. Meninggalkan Aryan yang masih berdiri mematung di sana. Dia sendiri tak bermaksud untuk kurang ajar terhadap suaminya. Namun untuk saat ini dirinya hanya ingin sendiri. Menenangkan dirinya. Hatinya sedang tidak baik-baik saja sejak ia menemukan surat itu di kamar suaminya. Surat Pengajuan Gugatan Perceraian. Apa sebegitu buruknya pernikahan ini? Meski mereka menikah karena perjodohan, lantas tidak bisakah dirinya dicintai seperti halnya ia mencintai suaminya.