"Aku pernah menjadi naif dengan menahanmu berkali-kali. Meyakini jika cinta akan hadir diantara kita. Dan kini saatnya aku harus melepaskanmu. Membiarkan kesempatan memilikimu hilang untukku." - Dia
...
Flashback on : Satu jam setelah akad nikah.
"Aryan, mau kemana kamu? Mama belum selesai bicara."
Aryan menghentikan langkah kakinya dan memutar badannya menghadap mamanya. "Apalagi si Ma. Aryan udah nglakuin yang kalian minta kan? Jadi stop ikut campur lagi urusan Aryan."
"Jaga bicara kamu Aryan. Mama gak pernah ngajarin kamu untuk gak sopan sama orang tua. Mama cuma minta bersikap baiklah sama istri kamu. Kamu gak bisa dong seenaknya main pergi gini aja. Kasihan Dia."
"Dia? Gak peduli Aryan. Kalian minta aku nikahin dia. Udah aku lakuin, tapi jangan berharap Aryan bakal nganggep dia istri. Terserah deh mama mau ngapain itu cewek. Bodo amat."
"Aryan...... " ucapan Mamanya terhenti karena melihat seorang suster yang mendekat ke arahnya. "Selamat siang ibu. Ini dengan keluarga dari pasien yang bernama Zain Dirgantara bukan?" tanya sang suster dengan ramah.
"Iya sus benar. Saya istrinya. Ada apa ya Sus? Apa terjadi sesuatu dengan suami saya?"
"Kondisi pasien stabil Bu. Namun dokter ingin bertemu dengan keluarga pasien. Ada hal yang harus disampaikan dokter terhadap ibu terkait pasien Bu. Apakah saat ini ibu ada waktu untuk bertemu dokter?"
"Tentu sus. Saya akan menemui dokter sekarang."
"Baik Ibu. Mari saya tunjukan ruangan dokternya."
Sang mama pun akhirnya beranjak mengikuti suster berjalan. Namun sebelum pergi beliau sempat melirik ke arah Aryan yang sepertinya ingin segera buru-buru meninggalkan tempat ini. "Mama belum selesai bicara Aryan. Lihat aja nanti apa yang akan mama lakukan." seru sang Mama yang tengah berjalan meninggalkan Aryan yang kini berdiri sendirian.
Aryan memutar bola matanya jengah. "Terserah." seru Aryan seraya membalikkan badannya dan hendak melangkah pergi. Belum sempat melangkah dirinya dikagetkan kemunculan seorang gadis cantik yang tersenyum ke arahnya. Bukannya malah balik senyum, Aryan justru mendengus melihat gadis yang berdiri dihadapannya kini.
"Ngapain lo? Nguping?"
Gadis itu hanya tersenyum tipis dan menggelengkan kepala tanda bahwa ia tidak setuju dengan tuduhan yang dilontarkan Aryan. Dan tanpa diduga ia malah mencondongkan tubuhnya mendekat ke arah Aryan yang dengan reflek langsung memundurkan tubuhnya, menghalau tindakan gadis itu yang tiba-tiba mendekat ke arahnya. "Mau apa lo?" tanya Aryan semakin ketus. Padahal dalam hatinya jantungnya sedang dag dig dug karena gadis cantik itu semakin terlihat sangat cantik jika dilihat dari dekat. "Dasar penyihir kecil. Gak bisa nih deket-deket gini. Lama-lama gue bisa luluh dong."
"Itu mau benerin dasinya Mas. Agak miring."
"Gak usah sok akrab lo," jawab Aryan sambil membetulkan dasinya yang ternyata sesuai dengan yang dikatakan lawan bicaranya barusan. Sedikit miring
"Hmm iya sih. Tapi kan kita sekarang sudah menikah. Masa' mau kayak orang asing. Apa kita perlu kenalan lebih dahulu."
"Gak perlu. Gue gak mau tau tentang lo."
Tak menghiraukan ucapan Aryan gadis itu malah menjulurkan tangannya tanda memperkenalkan diri. "Perkenalkan saya Ayudia. Mas bisa panggil saya Dia. Mohon kerjasamanya untuk kehidupan pernikahan kita ke depan." ucap Dia sambil masih tersenyum manis.
Plak. Aryan menepis uluran tangan Dia. "Gue gak tertarik sama elo ataupun sama kehidupan pernikahan dengan lo. Minggir gue mau lewat."
Dia menghembuskan nafas sejenak dan mengusap punggung tangannya yang ditepis oleh Aryan, sebelum akhirnya melangkah ke samping. Memberi jalan untuk Aryan lewat.
Melihat langkahnya tak lagi ada halangan tentu saja itu kesempatan yang tidak akan disia-siakan oleh Aryan. Tanpa berbasa-basi ia langsung melangkah pergi. Pergi begitu saja tanpa menoleh sedikitpun ke arah seseorang yang tengah menatap punggungnya sampai menghilang dari hadapannya.
"Sepertinya ini tidak akan mudah." ucap Dia lirih sambil terus menatap kepergian Aryan.
Tanpa terasa haripun berganti malam. Dia masih menatap ponselnya. Pesan yang ia kirim beberapa menit lalu tak kunjung mendapatkan balasan sementara malam sudah semakin larut. Ia semakin yakin bahwa ia akan melewati malam pertamanya seorang diri.
"Assalamu'alaikum Mas Aryan. Ini Dia. Mas dimana ya? Kok jam segini belum pulang." 23:01
Sudah satu jam berlalu tapi pesan itu tak juga dibalas padahal jelas-jelas pesannya telah berganti menjadi centang dua biru. Tanda bahwa pesannya sudah terbaca.
Dia kembali membuka ponselnya dan jari-jarinya kembali menuliskan kalimat pesan untuk ia kirim ke suaminya yang belum juga ada kabar.
"Oh ya, saya juga lupa bilang kalau saya baru aja selesai pindahan ke rumah Mas. Mas kira-kira bakal pulang jam berapa ya?" 23:56
Pesanpun terkirim sudah. Namun ada yang berbeda kali ini. Tidak seperti pesan yang sebelumnya. Pesan ini berakhir dengan centang satu. Bahkan profil suaminya di kontaknya pun tak lagi terlihat. Sadar akan perubahan tersebut lantas membuatnya langsung mendial nomor Aryan.
"Nomor yang sedang anda tuju tidak tersedia... Tuttt tuttt...... "
Dia termangu sejenak. Ia menghembuskan nafas panjangnya sebelum akhirnya ia memasukkan ponselnya ke saku celana pendeknya. Ia mengerti apa yang telah terjadi. Suaminya juga tak akan pulang. Ia yakin akan itu.
Tanpa menunggu lama, Dia melangkahkan kakinya ke kamar tidur dan mulai mengunci pintu. Klik. Jemarinya sesaat masih bertahan di pegangan pintu. Ada emosi aneh dalam hatinya yang membuat tubuhnya seakan terguncang. Tubuhnya pun merosot, turun sampai lantai tempat ia kemudian menekuk tubuh dan mulai menangis.
Flashback off
...
"Gimana, ada jawaban?" Elang menatap dua laki-laki yang duduk di hadapannya.
"Enggak Mas, gak dijawab." balas laki-laki berlesung pipi bernama Badai. "Xel, coba gih gantian elo yang nelpon. Sapa tau diangkat." Badai menaikkan alisnya ke arah laki-laki yang duduk di sebelahnya.
"Percuma. Gue udah Wa ataupun telpon sejak semalem. Sama sekali gak ada respon. Mas Elang juga udah ke rumah Dia. Tapi gak ada. Hmm, apa om Pandu udah tau mas Elang?"
"Udah Xel, tau sendiri video itu menyebar begitu cepat. Om Pandu yang nyuruh gue buat ngeblock semua video yang beredar."
"Terus?" tanya Badai penasaran.
"Udah beres. Video itu udah gak ada lagi. Dia gak boleh mencuri perhatian. Bisa bahaya. Karena kalo dugaan gue benar, kecelakaan kemarin itu disengaja. Bisa aja kan pelaku akan ngulangin lagi."
"Tapi mereka berdua belum tau ini kan Mas?"
"Jangan sampai deh Xel. Kayaknya sih kabar ini belum sampai ke mereka. Buktinya ponsel kalian masih adem-adem aja kan."
"Tapi yang gue denger kepulangan mereka dipercepat Mas. Apa ini ada hubungannya dengan insiden penembakan yang waktu itu kah?" Axel mengernyitkan alisnya.
"Aku belum tau pastinya."
"Hadeeh ini Dia kenapa sulit dihubungi sih. Ini salah lo deh Xel. Coba kalo lo kemarin gak biarin Dia pergi dibawa cowok misterius itu. Gak bakal kayak gini kan."
"Halo Badai Putra Angkasa bisa diem gak. Emangnya gue tega nglarang Dia pergi sementara muka dia udah melas banget mau pergi sama tu cowok."
"Issh dasar muka aja badboy tapi hati softboy. Terus gimana coba? Cuma elo doang soalnya yang ngliat muka itu cowok." Badai mengerucutkan bibirnya mencibir Axel yang mendelik ke arahnya.
"Gue tau siapa orang itu. Gue udah nyuruh orang buat nyari info. Noh, udah gue kirim ke ponsel kalian, informasi soal orang itu."
"Wuihh sadis. Lo sebenarnya agen mata-mata yang nyamar jadi pemilik tempat makan ya?." Badai tersenyum sangat manis karena lesung pipinya semakin ketara. "Eh, Aryan Arkana Dirgantara? Pewaris Dirgantara Corp.? Gue tahu perusahaan ini tapi belum pernah ketemu sama yang namanya Aryan ini. Ada hubungan apa Dia sama orang ini. Hmmm mencurigakan. Apa dia yang selama ini kita..." ucapan Badai terhenti karena tatapan Axel yang membunuh ke arahnya.
"Kenapa Dai kok gak selesai kalimat lo. Kalian tau sesuatu soal laki-laki ini?" selidik Elang.
"Enggak Mas. Kayak Mas Elang gak tau aja Badai ini kayak gimana. Tuhan kan Maha Adil. Badai dikasih kelebihan dengan terlahir terlalu ganteng. Tapi kekurangannya suka gak bisa mikir."
"Oh kirain apaan. Okelah kalo gitu gue balik dulu ke kantor. Gue mesti ngurus soal kecelakaan kemarin juga. Kalian kalo ada info apa-apa kabarin."
"Siap bos." ucap mereka serempak.
Sesaat setelah Elang pergi meninggalkan The Edge and Promise, Badai memandang Axel dengan sebal. "Enak bener ya kalo ngomong."
"Lo bego, hampir aja lo keceplosan ngomong yang enggak-enggak. Lagian kita gak boleh menyimpulkan sesuatu tanpa tau kebenarannya. Kita tunggu Dia aja. Dia pasti punya alasan kenapa saat ini kita gak bisa menghubunginya."
...
Dia memandang laki-laki di hadapannya yang sedang sibuk memandang makanan yang baru saja diantarkan oleh pelayan. Awalnya Dia hanya berniat untuk berbicara sebentar namun Aryan malah mengajaknya untuk sekalian makan siang. Dan di sinilah mereka. Makan siang pertama dan mungkin saja makan siang terakhir juga untuk mereka berdua.
"Kamu yakin gak mau makan?" Aryan sengaja mengganti kata gue elo menjadi aku-kamu dengan istrinya.
Dia hanya menggelengkan kepala dan tersenyum. Senyum yang sedikit berbeda. "Mas, makan aja dulu. Saya tungguin nanti setelah selesai kita baru bicara."
"Gak papa ngomong aja, aku sambil dengerin sambil makan. Soalnya aku laper, tadi pagi gak sempet makan."
"Maaf," ucap Dia lirih.
"Enggak, bukan salah kamu. Tadi pagi aku beli sarapan buat kamu sama aku tapi pas balik kamu udah berangkat duluan. Gak jadi makan deh."
"Kenapa?"
"Gak enak makan sendirian."
Dia tidak membalas ucapan Aryan, dan memilih menghindari tatapan Aryan yang sejak tadi menatapnya. Aryan menyadari ada sesuatu yang berbeda dengan istrinya. Wajahnya begitu sendu meskipun sesekali Dia tersenyum ke arahnya. Mata perempuan itu terlihat lebih sembab ketimbang semalam. Apakah istrinya baru saja menangis lagi?
"Kayaknya ada hal penting yang mau kamu sampein deh. Aku tunda dulu makannya." Aryan mengeser piringnya yang baru beberapa suap ia makan dan meneguk jus melonnya. "Kamu bahkan gak minum. Why?" Aryan menunjuk ke arah jus melon yang ia pesan untuk istrinya.
"Saya gak bisa minum itu. Saya gak suka melon."
"Uhukkk..eh gue, hmm aku gak tahu kamu gak suka melon. Aku pesenin yang lain deh. Mau apa?"
Dia kembali tersenyum, "Rasanya kayak mimpi hari ini mendengar mas Aryan begini. Lucu"
Aryan tertegun mendengar ucapan Dia barusan. "Apa gue udah sejahat itu ya?"batinnya. "Jadi? Apa yang mau kamu omongin? Kamu masih marah soal semalam ya?"
Dia menghela nafas panjang. Ia menatap Aryan dengan wajah semakin sendu. "Hmmm, aku menemukan ini Mas." Dia menggigit bibir bawahnya dan menyodorkan sebuah amplop berwarna coklat ke arah Aryan.
Aryan tertegun. Wajahnya berubah. Amplop itu miliknya. Bagaimana bisa itu bisa berada di tangan Dia. "Kamu udah baca isinya?" Dia hanya menganggukan kepala menjawab pertanyaan sang suami. "Hmm, gu-gue bisa jelasin. Ini gak kayak...."
"Saya paham kok mas. Gak usah dijelasin. Saya sudah tau dan saya gak boleh egois."
"Ta-tapi gak gitu Di."
"Itu cuma soal waktu kan Mas. Dari awal saya yang terlalu berharap. Sembilan tahun Mas ngasih kode untuk berhenti. Tahun-tahun dimana saya nunggu mas. Mas gak pernah datang. Harusnya itu udah cukup jadi jawaban untuk saya. Tapi saya ngotot terima perjodohan kita, dan pada akhirnya kita menikah."
"Kayaknya kamu salah paham."
"Sejak awal ini memang salah saya. Saya yang dari awal gak mau menyerah. Tapi sekarang saya gak akan egois lagi kok." Dia memaksa tersenyum di depan Aryan yang membisu. "Saya akan kabulin permintaan Mas."
"Apa maksud kamu?"
"Dulu saya pikir saya gak kenapa-kenapa kalau Mas gak bisa terima saya dan pernikahan ini. Saya pikir saya bisa bertahan meski hanya dengan cinta sepihak. Tapi setelah saya jalanin pernikahan ini, saya sadar bahwa Mas gak bahagia, begitupun dengan saya." Dia menghela nafas sejenak. Berusaha mengurangi sesak di dadanya. Dirinya sudah memutuskan dan sudah tidak bisa mundur lagi. "Saya tahu Mas terima pernikahan ini karena papa gak akan ngasih perusahaan kalau mas gak nikah sama saya kan. Tapi jika saya yang menyerah maka mas gak akan disalahkan. Saya yang akan melepaskan Mas Aryan." lanjut Dia dengan suara bergetar karena menahan tangisnya. Dirinya sudah berjanji tidak akan menangisi pernikahan ini.
"Ya..hmmm bukan. Bukaan begitu. Susah jelasinnya."
"Gak perlu dijelasin. Mas udah nyiapin surat itu artinya dari awal Mas memang tidak menginginkan ini. Buat apa saya memaksa mas lagi. Toh, publik gak tau kita menikah. Nama baik mas gak akan tercemar."
"Apa ini benar-benar mau kamu?"
"Ya, tapi ijinkan saya mengajukan satu syarat sebelum saya nantinya akan tanda tangan di kertas itu."
"Apa?"
"Tolong ajuin surat itu setidaknya bulan depan. Berikan saya waktu untuk mengatakan ini kepada orang tua saya. Setelah ini saya akan pulang ke rumah orang tua saya. Kita jalani hidup kita sendiri-sendiri."
"Apa ini karena laki-laki kemarin. Kamu mau kita pisah supaya bisa bersamanya. Hah? Jawab" Brakkk Aryan tanpa sadar menggebrak meja dan membuat pengunjung yang sedang berada di situ menoleh ke arahnya. Dirinya tidak peduli. Benar, ini memang yang diinginkannya sejak awal. Lantas kenapa ia tak bahagia sekarang.
"Saya hanya ingin menikah satu kali."
"Enggak gue gak percaya."
"Terserah mas mau percaya atau gak. Saya sudah selesai dengan apa yang harus saya katakan. Setelah ini saya akan mulai mengurus barang-barang saya yang ada di rumah Mas. Saya rasa saya harus pamit sekarang." Dia beranjak berdiri dan hendak melangkah pergi namun pergelangan tangannya ditahan oleh Aryan.
"Mas, tolong lepasin." Dia berusaha menarik tangannya dari genggaman Aryan. Sia-sia saja. Tenaganya tidak bisa dibandingkan tenaga suaminya.
"Gue gak akan cerain lo. SEUMUR HIDUP." tegas Aryan.