"Haruskah ku relakan hidupku, hanya demi cinta yang mungkin bisa membunuhku? (Ada Band - Haruskah Ku Mati)
...
Dia membawa secangkir teh panas dan memasuki kamar suaminya dengan pelan-pelan. Dia melangkah menuju meja di dekat tempat tidur Aryan. Diletak cangkir itu dengan hati-hati.
"Ngapain lo di sini?" tanya Aryan yang baru saja keluar dari kamar mandi. Dia terdiam melihat tatapan dingin dari suaminya yang tampak segar dan santai dengan kaos warna putih dan celana pendek selutut.
"Mana bik sumi? Kok lo sih yang bawa? Kan gue nyuruh bik sumi."
Dia mengerjapkan matanya dan berujar, "Ehm bik sumi gak ada mas. Pas saya pindah ke sini bik sumi ijin mau pulang ke kampung. Anaknya lahiran. Gak tau deh balik lagi kapan."
"Oh, jadi itu teh buatanmu?"
"Iya mas."
"Bawa keluar. Gue gak mau minum."
Tidak ada respon apapun dari Dia. Suaminya itu tidak tahu saja bagaimana perasaan Dia saat ini. Tau kah kalian rasanya pas keluar rumah langit cerah tapi baru beberapa langkah dari depan rumah langsung ujan deres. Nah kira-kira begitulah isi hati Dia. Ekspresinya anyep. Dalam hati ingin berkata kasar tapi takut dosa. Untung suaminya cakep walaupun pas marah-marah kadar cakepnya tidak turun satu persenpun.
"Kok malah diem sih. Lo gak ngarep bakal tidur di kamar ini kan," lanjut Aryan ketus.
"Enggak kok mas, selama saya tinggal di sini saya tidur di kamar tamu di lantai satu. Barang-barang saya juga semuanya di sana," balas Dia sambil memaksa tersenyum.
"Terus ngapain masih di sini. Keluar sana."
"Hemm mas gak mau makan? Saya sudah masakin capcay, telur dadar sama ayam goreng. Mau saya siapin sekarang?"
"Gak perlu, gue gak akan makan masakan lo. Cepet keluar. Tuh tehnya sekalian bawa keluar."
Dia tersenyum dengan sangat manis. "Oh oke mas," jawab Dia sambil mengambil cangkir teh dan buru-buru keluar dari kamar Aryan. Ditutupnya pintu itu dengan segera.
Dia memejamkan matanya sejenak di depan pintu kamar suaminya yang sudah tertutup. Air mata yang ditahannya dari tadi akhirnya jatuh juga. Hatinya terasa sangat sesak. Buru-buru Dia hapus airmatanya. "Gak papa Dia. Kamu kuat kok," ucapnya lirih menyemangati dirinya sendiri.
Ia kemudian mendudukan dirinya di kursi meja makan. Ditatapnya makanan yang tadi ia masak untuk suaminya. Hari ini Dia sengaja pulang awal dari tempat kerjanya karena ingin menyambut suaminya pulang dengan makanan yang ia buat. Perutnya mendadak tak lagi merasakan lapar. Padahal dirinya juga belum makan. Sengaja menunggu suaminya supaya bisa makan bersama.
Dia mengusap pelan wajahnya. Kemudian ia mengambil kotak makan di dapur dan dirinya mulai memasukkan makanan-makanan itu ke wadah. Setelah selesai Dia berjalan keluar rumah, membawa kotak makanan itu.
Selama hampir dua minggu Dia tinggal di komplek ini dirinya sudah hafal betul dengan tetangga-tetangganya tersebut. Diliriknya rumah bu rt yang persis berada di depan rumah suaminya itu. Pada saat dirinya mendekat ke rumah bu Rt, munculah seorang wanita paruh baya. Bu Astuti namanya. Beliau adalah Art ibu Rt. Hanya saja beliau tidak tinggal di tempat itu. Bu Astuti hanya datang saat pagi dan pulang saat malam karena tempat tinggalnya tidak jauh dari komplek ini.
"Bu Astuti, pas banget deh ibu belum pulang," ucap Dia ramah. Wanita paruh baya itu membalas dengan tersenyum ramah. "Mba Dia ada apa kok malem-malem nyamperin saya. Duh jadi deg-degan disamperin mba cantik."
"Bu astuti bikin saya tersipu deh. Makasih loh sudah dibilang cantik."
"Wong memang cantik kok mba. Hayo mba Dia ada apa? Ada yang bisa saya bantu?"
"Hemmm gini, saya ada makanan buat ibu dan keluarga. Hari ini suami saya pulang jadi saya masak banyak. Saya lupa kalo tinggal berdua eh jadinya kebanyakan deh. Tolong diterima ya bu."
"Waduh terima kasih banyak lho mba Dia. Saya jadi gak enak malah sampai dikasih segala."
"Enggak kok bu. Ini cuma masakan sederhana aja kok. Semoga suka sama rasanya." sahut Dia sambil memberikan kotak makanan tersebut.
"Tapi ini banyak banget lho mba. Beneran gak papa kah mba?" balas bu Astuti saat menerima tiga kotak makanan dari Dia.
"Enggak papa bu. Dia seneng banget bu Astuti sudah mau terima itu. Hmm ya udah bu, saya pamit ya."
"Iya mba Dia. Terima kasih sekali lho mba".
"Sama-sama bu."
...
Dia merebahkan dirinya di kasur. Dirinya sudah melepas jilbab dan mengganti piama panjangnya tadi dengan kaos dan celana pendek. Di lirik ponsel yang ada di meja. Ada beberapa pesan masuk. Salah satunya dari ibu mertuanya.
"Assalamualaikum Dia sayang. Besok ke rumah mama dong. Kangen sama brownies buatan kamu." 21:03
Dia tersenyum membaca pesan dari ibu mertuanya. Keluarga besar suaminya menerima dirinya dengan sangat baik. Tangannya mulai berselancar di keyboard ponselnya membalas pesan ibu mertuanya.
"Wa'alaikumsalam mama cantik. Besok pulang kerja langsung meluncur kesana ?" 21:45
Dia meletakkan ponsel itu kembali ke meja. Dirinya melirik foto pernikahannya yang terbingkai pigura 8R. Sederhana memang tapi dirinya bisa melihat senyum bahagia dari ayah bunda nya serta kedua mertuanya.
Sembilan tahun Dia menerima penolakan dari laki-laki yang kini berstatus sebagai suaminya. Dirinya sudah terbiasa merasakan kecewa ketika Aryan tak pernah datang ke pertemuan tahunan mereka. Jangan ditanya bagaimana perasaannya. Sakit rasanya. Alih-alih dirinya mengadu dan menangis ke ayah atau bundanya. Dia malah tersenyum manis dan mengatakan betapa dirinya bahagia bertemu dengan laki-laki seperti Aryan. Dia menyembunyikan perasaannya. Menanggung rasa kecewanya bertahun-tahun sendirian dan menutupi dengan senyuman.
Sampai akhirnya sikap Aryan malam ini semakin menegaskan penolakan terhadap dirinya. Rasanya lebih sakit ternyata. Sampai kapan dirinya akan mampu bertahan dengan pernikahan ini?