04 Assalamu'alaikum Ekspetasi

2832 Kata
"Aku di matamu itu seperti nun mati diantara idgham billagunnah, terlihat tapi dianggap tidak ada" - DIA ... Sudah seminggu berlalu sejak kepulangan Aryan ke rumah. Tidak ada yang berubah dengan sikapnya. Masih saja beku seperti es di kutub selatan. Begitupun dengan Dia. Dirinya masih saja sabar menghadapi sikap suaminya. Seperti pagi ini, ia menyiapkan sarapan untuk suaminya. Meskipun sejak mereka tinggal serumah suaminya itu tidak pernah mau menyentuh apalagi memakan masakannya. Bau kopi menguar begitu manis di hidung mancung seorang Aryan. Ia mengerjapkan matanya dan melirik ke meja dekat tempat tidurnya. Ada secangkir kopi hangat di sana beserta satu set pakaian kerja untuknya. Seperti yang sudah-sudah kopi itu tidak akan ia sentuh. Dan baju yang Dia siapkan tidak akan ia pakai. Tapi kadang dalam hatinya ingin rasanya ia mencicipi kopi hangat itu. Tapi gengsinya terlalu tinggi. Egonya tidak mengijinkan dirinya bersikap baik dengan istrinya. Jika istrinya tidak betah dengan perlakuan dirinya maka sudah pasti istrinya itu akan meminta cerai. Dan ya tentu saja Aryan tidak akan disalahkan oleh papa mamanya jika hal itu sampai terjadi. Toh bukan dirinya yang menggugat cerai. Aryan tersenyum sinis mengingat rencana untuk membuat istrinya menyerah. Aryan melangkah keluar kamar setelah menyelesaikan sesi siap-siapnya. Ia tampak begitu tampan dengan setelan jas kerjanya. Dia mendongakkan kepala ketika mendengar langkah kaki dari suaminya di tangga. "Itu bukan baju yang aku siapkan," batin Dia. Alih-alih dirinya menampakkan kekecewaan, Dia justru tersenyum menyambut sang suami. "Selamat pagi Mas. Mau sarapan nasi atau roti?" "Dia benar-benar cantik. Argh enggak. Gue gak boleh lemah cuma gara-gara wajahnya." batin Aryan. "Gue gak akan makan makanan buatan lo." ucap Aryan sambil berlalu dari hadapan Dia. "Jitak suami dosa gak sih," ucap Dia lirih hampir tidak terdengar. Dia segera mengejar langkah suaminya. "Mas, tangannya dong." "Mau ngapain hah?" "Mau ini," balas Dia sambil meraih tangan kanan suaminya lalu mencium punggung tangan Aryan. "Hati-hati, gak papa deh mas gak makan hari ini. Kan bisa dicoba lagi besok, besoknya lagi atau besok besoknya lagi." "Berisik. Gak usah ngarep. Gak akan." "Gak akan nolak kan maksudnya." Dia tersenyum manis. "Udah sana berangkat, nanti telat. Assalamualaikum mas Aryan." Aryan mendengus dan berlalu begitu saja. Di dalam mobil dia sejenak memandangi punggung tangan kanannya yang tadi dicium oleh istrinya. "Gadis keras kepala. Harusnya lo gak boleh baik sama gue." Sementara itu Dia masih saja berdiri dan tersenyum sampai akhirnya mobil suaminya meninggalkan perkarangan rumah mereka. Dihembuskannya nafas panjangnya. Dadanya terasa sesak. Tess..Satu tetes air mata yang sedari tadi ia tahan akhirnya lolos juga. Jauh di sudut hatinya ia ingin sekali menyerah. Apa memang harus berakhir seperti ini. Dia menggelengkan kepalanya dan menghapus air matanya. Dirinya kembali meyakinkan diri bahwa ia belum boleh menyerah. Mungkin bagi suaminya pernikahan dan kehadiran dirinya adalah kesalahan. Namun bagi Dia, suami dan pernikahan ini adalah dunianya. Meskipun kenyataan tak seperti yang ia harapkan. Pikirannya menyuruh untuk menyerah tapi hatinya tidak bisa menurutinya. Jangan ditanya bagaimana rasanya. Berkelahi dengan pikiran sendiri itu melelahkan. Semelelahkan menunggu doi untuk peka. Inikah yang disebut dengan kemustahilan yang sedang disemogakan. Percayalah ini sulit. Atau haruskah dirinya berdamai dengan ekspetasi, agar tidak terluka oleh kenyataan yang membuatnya sakit hati. ... Dia melirik ponselnya yang berbunyi dan memunculkan notif dari grub pergibahan dari temen-temen kantornya. Perlu diketahui jika dirinya bekerja di salah satu perusahaan IT. Perusahaan yang bergerak di bidang IT training dan consultant serta pembuatan web, software dan aplikasi. Grub Gelap* Raka Rahadian Ganteng : Gaes, udah pada tau belum kalo event kemenparkraf hotelnya ganti jadi Secret Garden 20:15 Adi aka Ardiansyah : Udah. Hotel pilihan bos. Besok gue disuruh ngurusin ke sana 20:17 Kevin Irawan : Kirain info apaan. Kalo mau bahas kerjaan noh ke grub intern. Ya kali kita gibahin kerjaan sih di sini 20:17 Fadilah Abizar : -Mas Adi kesana sendirian atau bawa pengawas? 20:18 -Bang Ke-vin ngegas mulu sih pak. Belum dapat jatah ya dari bini  20:18 Adi aka Ardiansyah : Bawa bos sm Dia juga. Secara ada yang mau pendekatan. 20:18 Raka Rahadian Ganteng : -Jatah dari bini itu apaan sih pak? *Pasangmukapolos 20:22 -PDKT? Sapa mas Adi? Dirimu dengan pak Bos? Jadi kalian begitu? ? Astajimm 20:22 Fadilah Abizar : -Anak kecil gak usah kepo 20:22 -Jadi ternyata pak bos dan mas Adi begitu? Gue kira....ah syudahlah 20:22 Adi aka Ardiansyah : -Bangke lo pada. 20:23 -Bukan gue lah. Sorry cui gue mah udah kebukti normal emang lo Rak jomblo ngenes. 20:23 -Pak bos sm Dia dong. 20:24 Kevin Irawan : -Sialan lo Fa 20:25 -Eh serius nih? Pak bos naksir Dia gitu? 20:25 Adi aka Ardiansyah : Pada buta ya kalean semua. Gak liat apa pak bos ke Dia gimana 20:26 Marissa Maharani Putri : -Gak boleh gosip. 20:26 -Gak baik. 20:26 Raka Rahadian Ganteng : -Gue bukan jomblo Bapak Adi. Tapi pecinta wanita. Lagian ishh bukan gosip mba Icha yang kelewat sholehah. Tapi fakta. 20:27 Bams BP : Seriusan bos? 20:28 Fadilah Abizar : -Seriusan apaan mas bams? 20:28 -Raka jomblo ngenes? Atau bang Ke-vin yang gak dapet jatah? Atau pak bos yang pdkt sm mas Adi. 20:28 -Jawab!!! 20:28 Kevin Irawan : -Njirr asem lo Fa. Gue kena mulu 20:29 -Dia mana nih? Woii Ayudia diem-diem bae sih? 20:30 Bams BP : -Mas Fa lama-lama kek Afghan. 20:32 -Sadis bos. 20:32 Adi aka Ardiansyah : -Bentukan kek kadal sok-sokan ngaku pecinta wanita lo Rak. 20:33 -Jadi gini gaes. Menurut pengamatan gue yang dibarengi dengan riset beberapa hari maka diputuskan bahwa dengan ini saya Ardiansyah Kurniawan menyatakan yakin kalo pak bos naksir Dia euiii.......makan-makan nih bentar lagi. 20:33 Kevin Irawan : -Raka itu bukan kadal mas Adi tapi buaya. 20:34 -Gue ngrasa sih pak bos kalo natap Dia tu dalem bener dueh. 20:35 -Terus nasibnya Indra gimana dong? Secara kan tu orang suka sama Dia. 20:35 Fadilah Abizar : -Fyi mas bams klo afghan sama gue masih cakep gue kemana-mana kali 20:35 -Dalem bener tu berapa meter bang Ke ? 20:35 -Indra anak BI? Yang bokapnya ketua DPRD Kaltara? 20:35 Dia Lara(s)ati : Apa sih kalean-kalean smua ngomongin akuuhh? Secinta itu ya sama aku...? 20:36 Raka Rahadian Ganteng : -Astagfirullah, Raka yang baik hati dan gak sombong kok punya temen kalo ngomong suka gak ada akhlaq sih. 20:37  -Mba Di cieee sama pak bos. Ihiirrr pajak jadian dong. 20:37 Bams BP : Ya kali omongan mesti dimasukin pesantren dulu biar berakhlaq. 20:40 Raka Rahadian Ganteng : Mas bams ikutan kek afghan. Sadis ? 20:41 Kevin Irawan : -nafsu amat si lu Fa sama gue 20:42 -Oii Dia pilih pak bos atau Indra nih? 20:42 Fadilah Abizar : -Iya nafsu pengen jorokin lu ke sumur ✌peace bos 20:43 Dia Lara(s)ati : Ssttt jangan pada gosip. Aku sama pak bos ataupun Indra itu kayak kertas hvs sama botol kecap. 20:43 Raka Rahadian Ganteng : Lahh apa hubungannya botol kecap sama kertas hvs coba. 20:43 Adi aka Ardiansyah : -Gak ada hubungan dedek Rak Sepatu. Sampai sini paham? 20:44 -Mabar FF kuy. 20:44 Bams BP : -Poor pak bos. 20:46 -Invite ndes. 20:46 Fadilah Abizar : -Poor Indra. 20:47 -Ayok invite. 20:47 Raka Rahadian Ganteng : Ini gak ada yang bisa jelasin gitu hubungan botol kecap tadi apaan? 20:47 Marissa Maharani Putri : Poor Raka 22:30 ... Dia tersenyum mengingat pesan dari teman-teman somplaknya. Waktu sudah menunjukkan pukul satu malam. Dirinya tadi sempat tertidur sebentar setelah mabar game dengan teman-temannya itu. Ia harus bangun karena harus segera mengerjakan pekerjaan kantornya yang besok harus ia presentasikan. Dan saat ini Dia malah tidak bisa tidur lagi setelah menyelesaikan pekerjaannya. Sementara itu di dapur sedang ada seseorang yang sedang mondar-mandir karena perutnya lapar. Salahnya sendiri karena tadi ketika Dia menawari untuk makan malam Aryan malah menolaknya. Dirinya sekarang benar-benar merutuki gengsinya yang menyebabkan ia tak bisa tidur karena lapar yang mengganggunya. Diliriknya jam di dinding. Sudah tengah malam, dirinya tidak ingin keluar tengah malam begini untuk membeli makanan. Sementara untuk memasak, kemampuannya itu nol besar minus 99,9 persen. Aryan sempat berpikir untuk meminta tolong pada istrinya. Lagi-lagi gengsinya itu menghalangi niatnya. Dengan kecerdasan dari lahir miliknya, ia putuskan untuk memasak. Aryan mulai mencari resep nasi goreng di ponselnya. Setelah yakin dirinya mulai mengambil bawang merah dan bawang putih. Saat sedang mengupas bawang merah pertama, jarinya tanpa sengaja tergores dan membuatnya mengumpat. "Auwww shit." "Kamu ngapain mas?" tanya Dia yang tiba-tiba muncul dan sudah berdiri di samping suaminya itu."Aku di matamu itu seperti nun mati diantara idgham billagunnah, terlihat tapi dianggap tidak ada" - DIA ... Sudah seminggu berlalu sejak kepulangan Aryan ke rumah. Tidak ada yang berubah dengan sikapnya. Masih saja beku seperti es di kutub selatan. Begitupun dengan Dia. Dirinya masih saja sabar menghadapi sikap suaminya. Seperti pagi ini, ia menyiapkan sarapan untuk suaminya. Meskipun sejak mereka tinggal serumah suaminya itu tidak pernah mau menyentuh apalagi memakan masakannya. Bau kopi menguar begitu manis di hidung mancung seorang Aryan. Ia mengerjapkan matanya dan melirik ke meja dekat tempat tidurnya. Ada secangkir kopi hangat di sana beserta satu set pakaian kerja untuknya. Seperti yang sudah-sudah kopi itu tidak akan ia sentuh. Dan baju yang Dia siapkan tidak akan ia pakai. Tapi kadang dalam hatinya ingin rasanya ia mencicipi kopi hangat itu. Tapi gengsinya terlalu tinggi. Egonya tidak mengijinkan dirinya bersikap baik dengan istrinya. Jika istrinya tidak betah dengan perlakuan dirinya maka sudah pasti istrinya itu akan meminta cerai. Dan ya tentu saja Aryan tidak akan disalahkan oleh papa mamanya jika hal itu sampai terjadi. Toh bukan dirinya yang menggugat cerai. Aryan tersenyum sinis mengingat rencana untuk membuat istrinya menyerah. Aryan melangkah keluar kamar setelah menyelesaikan sesi siap-siapnya. Ia tampak begitu tampan dengan setelan jas kerjanya. Dia mendongakkan kepala ketika mendengar langkah kaki dari suaminya di tangga. "Itu bukan baju yang aku siapkan," batin Dia. Alih-alih dirinya menampakkan kekecewaan, Dia justru tersenyum menyambut sang suami. "Selamat pagi Mas. Mau sarapan nasi atau roti?" "Dia benar-benar cantik. Argh enggak. Gue gak boleh lemah cuma gara-gara wajahnya." batin Aryan. "Gue gak akan makan makanan buatan lo." ucap Aryan sambil berlalu dari hadapan Dia. "Jitak suami dosa gak sih," ucap Dia lirih hampir tidak terdengar. Dia segera mengejar langkah suaminya. "Mas, tangannya dong." "Mau ngapain hah?" "Mau ini," balas Dia sambil meraih tangan kanan suaminya lalu mencium punggung tangan Aryan. "Hati-hati, gak papa deh mas gak makan hari ini. Kan bisa dicoba lagi besok, besoknya lagi atau besok besoknya lagi." "Berisik. Gak usah ngarep. Gak akan." "Gak akan nolak kan maksudnya." Dia tersenyum manis. "Udah sana berangkat, nanti telat. Assalamualaikum mas Aryan." Aryan mendengus dan berlalu begitu saja. Di dalam mobil dia sejenak memandangi punggung tangan kanannya yang tadi dicium oleh istrinya. "Gadis keras kepala. Harusnya lo gak boleh baik sama gue." Sementara itu Dia masih saja berdiri dan tersenyum sampai akhirnya mobil suaminya meninggalkan perkarangan rumah mereka. Dihembuskannya nafas panjangnya. Dadanya terasa sesak. Tess..Satu tetes air mata yang sedari tadi ia tahan akhirnya lolos juga. Jauh di sudut hatinya ia ingin sekali menyerah. Apa memang harus berakhir seperti ini. Dia menggelengkan kepalanya dan menghapus air matanya. Dirinya kembali meyakinkan diri bahwa ia belum boleh menyerah. Mungkin bagi suaminya pernikahan dan kehadiran dirinya adalah kesalahan. Namun bagi Dia, suami dan pernikahan ini adalah dunianya. Meskipun kenyataan tak seperti yang ia harapkan. Pikirannya menyuruh untuk menyerah tapi hatinya tidak bisa menurutinya. Jangan ditanya bagaimana rasanya. Berkelahi dengan pikiran sendiri itu melelahkan. Semelelahkan menunggu doi untuk peka. Inikah yang disebut dengan kemustahilan yang sedang disemogakan. Percayalah ini sulit. Atau haruskah dirinya berdamai dengan ekspetasi, agar tidak terluka oleh kenyataan yang membuatnya sakit hati. ... Dia melirik ponselnya yang berbunyi dan memunculkan notif dari grub pergibahan dari temen-temen kantornya. Perlu diketahui jika dirinya bekerja di salah satu perusahaan IT. Perusahaan yang bergerak di bidang IT training dan consultant serta pembuatan web, software dan aplikasi. Grub Gelap* Raka Rahadian Ganteng : Gaes, udah pada tau belum kalo event kemenparkraf hotelnya ganti jadi Secret Garden 20:15 Adi aka Ardiansyah : Udah. Hotel pilihan bos. Besok gue disuruh ngurusin ke sana 20:17 Kevin Irawan : Kirain info apaan. Kalo mau bahas kerjaan noh ke grub intern. Ya kali kita gibahin kerjaan sih di sini 20:17 Fadilah Abizar : -Mas Adi kesana sendirian atau bawa pengawas? 20:18 -Bang Ke-vin ngegas mulu sih pak. Belum dapat jatah ya dari bini  20:18 Adi aka Ardiansyah : Bawa bos sm Dia juga. Secara ada yang mau pendekatan. 20:18 Raka Rahadian Ganteng : -Jatah dari bini itu apaan sih pak? *Pasangmukapolos 20:22 -PDKT? Sapa mas Adi? Dirimu dengan pak Bos? Jadi kalian begitu? Astajimm 20:22 Fadilah Abizar : -Husst anak kecil gak usah kepo 20:22 -Jadi ternyata pak bos dan mas Adi begitu? Gue kira....ah syudahlah 20:22 Adi aka Ardiansyah : -Bangke lo pada. 20:23 -Bukan gue lah. Sorry cui gue mah udah kebukti normal emang lo Rak jomblo ngenes. 20:23 -Pak bos sm Dia dong. 20:24 Kevin Irawan : -Sialan lo Fa 20:25 -Eh serius nih? Pak bos naksir Dia gitu? 20:25 Adi aka Ardiansyah : Pada buta ya kalean semua. Gak liat apa pak bos ke Dia gimana 20:26 Marissa Maharani Putri : -Gak boleh gosip. 20:26 -Gak baik. 20:26 Raka Rahadian Ganteng : -Gue bukan jomblo Bapak Adi. Tapi pecinta wanita. 20:27 -Bukan gosip mba Icha yang kelewat sholehah. Tapi fakta. 20:27 Bams BP : Seriusan bos? 20:28 Fadilah Abizar : -Seriusan apaan mas bams? 20:28 -Raka jomblo ngenes? Atau bang Ke-vin yang gak dapet jatah? Atau pak bos yang pdkt sm mas Adi. 20:28 -Jawab!!! 20:28 Kevin Irawan : -Njirr asem lo Fa. Gue kena mulu 20:29 -Dia mana nih? Woii Ayudia diem-diem bae sih? 20:30 Bams BP : -Mas Fa lama-lama kek Afghan. 20:32 -Sadis bos. 20:32 Adi aka Ardiansyah : -Bentukan kek kadal sok-sokan ngaku pecinta wanita lo Rak. 20:33 - Menurut pengamatan gue yang dibarengi dengan riset beberapa hari maka diputuskan bahwa dengan ini saya Ardiansyah Kurniawan menyatakan yakin kalo pak bos naksir Dia euiii.......makan-makan nih bentar lagi. 20:33 Kevin Irawan : -Raka itu bukan kadal mas Adi tapi buaya. 20:34 -Gue ngrasa sih pak bos kalo natap Dia tu dalem bener dueh. 20:35 -Terus nasibnya Indra gimana dong? Secara kan tu orang suka sama Dia. 20:35 Fadilah Abizar : -Fyi mas bams klo afghan sama gue masih cakep gue kemana-mana kali 20:35 -Dalem bener tu berapa meter bang Ke 20:35 -Indra anak BI? Yang bokapnya ketua DPRD Kaltara? 20:35 Dia Lara(s)ati : Apa sih kalean-kalean smua ngomongin akuuhh? Secinta itu ya sama aku... 20:36 Raka Rahadian Ganteng : -Astagfirullah. Raka yang baik hati dan gak sombong ini kok punya temen kalo ngomong suka gak ada akhlaq sih. 20:37 -Mba Di cieee sama pak bos. Ihiirrr pajak jadian dong. 20:37 Bams BP : Ya kali omongan mesti dimasukin pesantren dulu biar berakhlaq. 20:40 Raka Rahadian Ganteng : Mas bams ikutan kek afghan. Sadis 20:41 Kevin Irawan : -Nafsu amat si lu Fa sama gue 20:42 -Oii Dia pilih pak bos atau Indra nih? 20:42 Fadilah Abizar : -Iya nafsu pengen jorokin lu ke sumur ✌peace bos 20:43 Dia Lara(s)ati : Ssttt jangan pada gosip. Aku sama pak bos ataupun Indra itu kayak kertas hvs sama botol kecap. 20:43 Raka Rahadian Ganteng : Lahh apa hubungannya botol kecap sama kertas hvs coba. 20:43 Adi aka Ardiansyah : -Gak ada hubungan dedek Rak Sepatu. Sampai sini paham? 20:44 -Mabar FF kuy. 20:44 Bams BP : -Poor pak bos. 20:46 -Invite ndes. 20:46 Fadilah Abizar : -Poor Indra. 20:47 -Ayok invite. 20:47 Raka Rahadian Ganteng : Ini gak ada yang bisa jelasin gitu hubungan botol kecap tadi apaan? 20:47 Marissa Maharani Putri : Poor Raka 22:30 ... Dia tersenyum mengingat pesan dari teman-teman somplaknya. Waktu sudah menunjukkan pukul satu malam. Dirinya tadi sempat tertidur sebentar setelah mabar game dengan teman-temannya itu. Ia harus bangun karena harus segera mengerjakan pekerjaan kantornya yang besok harus ia presentasikan. Dan saat ini Dia malah tidak bisa tidur lagi setelah menyelesaikan pekerjaannya. Sementara itu di dapur sedang ada seseorang yang sedang mondar-mandir karena perutnya lapar. Salahnya sendiri karena tadi ketika Dia menawari untuk makan malam Aryan malah menolaknya. Dirinya sekarang benar-benar merutuki gengsinya yang menyebabkan ia tak bisa tidur karena lapar yang mengganggunya. Diliriknya jam di dinding. Sudah tengah malam, dirinya tidak ingin keluar tengah malam begini untuk membeli makanan. Sementara untuk memasak, kemampuannya itu nol besar minus 99,9 persen. Aryan sempat berpikir untuk meminta tolong pada istrinya. Lagi-lagi gengsinya itu menghalangi niatnya. Dengan kecerdasan dari lahir miliknya, ia putuskan untuk memasak. Aryan mulai mencari resep nasi goreng di ponselnya. Setelah yakin dirinya mulai mengambil bawang merah dan bawang putih. Saat sedang mengupas bawang merah pertama, jarinya tanpa sengaja tergores dan membuatnya mengumpat. "Auwww shit." "Kamu ngapain mas?" tanya Dia yang tiba-tiba muncul dan sudah berdiri di samping suaminya itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN