Jakarta, Indonesia
Keesokan harinya, di kafe.
Suasana kafe sore itu padat, tapi tidak riuh. Langit di luar mulai menguning, pertanda hari akan segera berganti malam. Di balik meja bar, Adrishta berdiri mematung sambil menatap kosong ke lantai. Tangannya memegang lap kotor, tapi tidak benar-benar bergerak.
“Ris… Ris!” suara Nadya, salah satu rekan kerjanya, memanggil sambil mencolek lengannya.
Adrishta terperanjat. “Eh… iya?”
“Kamu kenapa sih? Dari tadi melamun terus. Tadi kamu bahkan salah catat pesanan meja empat.”
“Oh… maaf. Aku cuma… lagi kepikiran aja.”
Nadya meletakkan baki ke meja dan menatap Adrishta dalam-dalam. “Ini bukan cuma ‘lagi kepikiran’, Ris. Kamu udah kayak zombie dari tadi pagi.”
Adrishta mencoba tersenyum, tapi gagal. Wajahnya kusut, mata sayunya mengambang dengan kecemasan yang tak bisa disembunyikan.
“Aku… aku butuh uang banyak, Nad. Dalam waktu seminggu.” Suaranya pelan, nyaris seperti bisikan.
Nadya mengangkat alis. “Berapa banyak?”
Adrishta menunduk, seakan malu mengucapkannya. “Dua ratus juta.”
Nadya melongo. “Apa? Gila kamu, Ris. Dua ratus juta? Dalam seminggu? Kamu habis ngapain?”
“Itu… urusan keluarga. Aku cuma… harus cari cara.” Wajah Adrishta tertunduk, seakan berat sekali menahan semuanya sendiri.
Nadya menghela napas. “Ris, kamu nggak bisa terus kerja di sini kalau situasinya segawat itu. Kita dibayar harian, dan kamu tahu sendiri berapa. Bahkan kalau kamu kerja dua puluh empat jam pun nggak akan nyampe segitu.”
Adrishta diam.
“Kamu harus cari kerja lain. Yang lebih… masuk akal. Atau cepat, sekaligus gajinya gede.”
“Kerja macam apa, Nad?”
Nadya menatapnya serius. “Sekretaris, misalnya. Atau asisten pribadi. Kadang yang gituan bisa dapet banyak, asal bosnya bukan orang aneh. Serius, Ris. Jangan buang waktumu di tempat ini.”
⸻
Malam hari.
Kafe mulai sepi. Pelanggan terakhir baru saja keluar. Adrishta, dengan langkah lelah, membawa dua kantong sampah ke belakang—ke gang sempit yang selalu bau dan lembap. Udara malam menyapu rambutnya, dan ia menghela napas panjang saat membuang sampah ke tong besar.
Ketika ia hendak kembali masuk, sesuatu menarik perhatiannya.
Sebaris kertas kusut yang tertempel di tembok belakang, nyaris tertutup poster lama yang sudah sobek.
Ia mendekat. Mata lelahnya menyusuri tulisan di kertas itu.
DICARI: SEKRETARIS PRIBADI
Wanita usia 20–25 tahun, penampilan menarik, siap bekerja profesional dan penuh komitmen.
Gaji tinggi.
Tidak butuh pengalaman.
Hubungi: 08xxxxxxxxxx
Jantung Adrishta berdetak lebih cepat.
“…sekretaris,” gumamnya.
Tangannya bergerak reflek, mencabut kertas itu dan melipatnya ke dalam saku. Ia tidak tahu siapa yang menempelkan itu di dinding belakang kafe. Tapi saat ini, ia tidak punya waktu untuk peduli.
⸻
Sementara itu, di sebuah apartemen mewah di jantung kota Jakarta…
Cahaya remang dari lampu gantung menyinari ranjang besar dengan sprei satin hitam. Seorang wanita dengan gaun tidur tipis terbaring lemas, tubuhnya masih terengah. Di sisi tempat tidur, seorang pria berdiri sambil membetulkan lengan kemejanya.
Ponselnya bergetar di meja. Ia angkat.
“Boss, dia sudah memakan umpannya.”
Senyuman tipis muncul di wajah pria itu
Aditya Wirantara.
“Bagus,” jawabnya singkat.
Ia meraih jam tangan, menyampirkannya ke pergelangan, lalu berbalik hendak pergi.
Wanita di ranjang bangkit, menarik selimut menutupi tubuhnya. “Tidak bisakah kau tidur di sini malam ini?” suaranya menggoda, namun lelah.
Aditya menghentikan langkahnya, lalu menoleh.
Pandangan matanya dingin.
“Jangan melewati batasmu. Aku menyewamu, bukan untuk berkomentar atau mengeluh.”
Wanita itu terdiam, memeluk dirinya sendiri dalam selimut, malu dan marah bercampur menjadi satu.
Aditya membuka pintu dan pergi. Di balik wajah maskulin dan tubuh tegapnya, ada obsesi yang kini semakin dekat pada sasarannya.
Adrishta.