Jakarta, Indonesia.
POV Adrishta
Langit malam menyambutku dengan cahaya redup saat aku melangkah keluar dari kafe. Bau sampah dan sisa kopi tumpah mencemari udara, dan telapak kakiku berdenyut nyeri setelah seharian berdiri. Aku menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan detak jantungku yang masih belum stabil sejak insiden kemarin.
Pikiranku penuh dengan angka—200 juta. Jumlah yang mustahil kugapai bahkan jika aku bekerja siang malam seumur hidupku. Tip malam ini hanya dua lembar uang lusuh yang langsung kuselipkan ke dalam saku sebelum Nadya melihat.
Aku melangkah pelan menuju gang kecil di belakang. Biasanya aku tidak lewat sini, tapi malam ini aku terlalu letih untuk berpikir. Dan di sanalah aku melihatnya—selembar kertas kusut, menempel pada dinding lembap yang nyaris tertutup lumut.
“Dicari: Sekretaris pribadi. Usia 20–25 tahun. Tidak perlu pengalaman. Gaji tinggi. Hubungi nomor ini.”
Aku terpaku. Mataku menatap angka di bagian bawah. Nomor ponsel. Tidak ada nama perusahaan. Tidak ada logo. Seperti undangan dari dunia yang tak nyata.
"...sekretaris."
Tapi bukankah hidupku saat ini juga seperti mimpi buruk?
Aku merobek selebaran itu dan memasukkannya ke dalam tas. Tak ada yang melihat. Tak ada yang peduli.
⸻
Kamar kecilku di lantai dua rumah paman lebih mirip gudang. Dinding kayu sudah lapuk, dan satu-satunya kipas angin tak pernah berputar. Aku duduk di ujung ranjang sambil menatap kertas itu lagi. Tanganku gemetar.
Bagaimana kalau ini penipuan? Bagaimana kalau aku justru menyerahkan diriku ke mulut serigala?
Tapi… aku juga sudah di ujung tanduk. Paman dan bibiku tak akan ragu menyerahkanku kalau para rentenir itu kembali.
Aku menatap ponselku selama sepuluh menit. Jari-jariku mengetik nomor itu, lalu menghapusnya. Mengetik lagi, menghapus lagi.
Akhirnya, dengan sekali tarik napas, aku menekan tombol panggil.
Tuut… tuut…
“Ya?” Suara laki-laki. Datar. Serius.
“Saya… Adrishta Putri. Saya melihat selebaran tentang lowongan sekretaris.”
“Usia?”
“Dua puluh dua tahun.”
“Datang besok ke Menara Wiratara, lantai tiga puluh tiga. Jam satu siang. Bawa identitas. Jangan terlambat.”
Klik.
Aku menatap layar ponsel yang kini gelap. Itu saja? Tanpa tanya jawab? Tanpa proses seleksi?
Jantungku masih berdetak kencang saat aku menyandarkan diri di dinding kamar. Suara bibiku menggema dari lantai bawah, memaki karena aku belum mencuci piring. Tapi malam ini, aku terlalu tenggelam dalam pikiranku untuk peduli.
⸻
Esoknya, aku berdiri di depan Menara Wiratara lima menit lebih awal. Blus putih dan rok pensil yang kupinjam dari Nadya terasa kaku di tubuhku. Rambutku kupinjam ikatannya, riasan tipis pun dia yang meriasiku tadi pagi.
Gedung ini berdiri menjulang seperti benteng baja, menjauhkan orang sepertiku. Tapi aku melangkah juga, meski kakiku gemetar.
Di meja resepsionis, dua wanita muda berpakaian formal menatapku dari ujung kepala. Aku menelan ludah.
“Selamat siang. Saya Adrishta Putri. Saya diminta datang jam satu.”
Mereka saling melirik, lalu salah satu dari mereka tersenyum tipis.
“Silakan langsung ke lantai 33. Pak Nicko sedang menunggu.”
Aku mengangguk, nyaris tanpa suara. Hatiku seolah berpacu dengan lift yang melaju naik.
⸻
Lantai 33 sunyi dan elegan. Karpet abu-abu tebal, aroma wangi kayu menguar samar. Aku berjalan perlahan menuju pintu besar di ujung lorong.
Tok. Tok.
“Masuk.”
Suaranya jelas. Tegas. Aku membuka pintu.
Ruangannya luas, penuh cahaya alami dari jendela besar yang memperlihatkan separuh kota. Di balik meja kayu besar duduk seorang pria berjas, wajahnya ramah tapi matanya tajam. Ia berdiri dan menghampiriku.
“Adrishta, ya?” katanya, mengulurkan tangan. “Saya Nicko. Asisten pribadi Pak Aditya, juga tangan kanannya.”
Aku menjabat pelan. Telapak tanganku dingin.
“Silakan duduk. Aku akan langsung jelaskan.”
Aku duduk di sofa di seberang mejanya. Ia membuka map cokelat yang ada di atas meja, dan mulai berbicara.
“Kamu akan bekerja sebagai sekretaris pribadi Pak Aditya. Artinya, kamu akan ikut mengatur jadwal, mengurus administrasi, menemani dalam pertemuan bisnis—baik di dalam maupun luar negeri.”
Luar negeri? Aku menahan napas.
“Gaji pokokmu tiga puluh lima juta rupiah per bulan. Ditambah tunjangan makan, transportasi, dan bonus setiap proyek selesai. Kamu juga akan mendapatkan apartemen perusahaan yang bisa kamu tinggali secara gratis.”
Mataku melebar. Angka-angka itu seperti mustahil.
“Pakaian kerja akan disediakan. Ponsel dan laptop juga dari kantor. Tapi yang paling penting: kamu harus selalu siap. Jam kerja fleksibel, tapi kadang Pak Aditya bisa memanggil kapan saja.”
Aku mengangguk perlahan. “Saya mengerti.”
Nicko menatapku serius. “Kami tahu kamu tidak punya pengalaman. Tapi kami juga tahu kamu… membutuhkan kesempatan ini.”
Kata-katanya menusuk. Tapi tidak ada amarah dalam ucapannya. Justru seperti pengakuan yang tulus.
“Kalau kamu setuju,” katanya pelan, “datang besok jam delapan pagi. Kita mulai pelatihan dulu. Setelah itu, kamu akan mulai bekerja langsung di bawah Pak Aditya.”
Aku diam sejenak. Dalam hatiku, masih ada sedikit keraguan. Tapi jauh lebih besar adalah tekad untuk bertahan hidup.
“Saya setuju.”
Nicko tersenyum. “Bagus.”
Aku berdiri, ia mengantar sampai pintu. “Selamat datang di dunia yang berbeda, Adrishta,” katanya pelan.
Langkahku terasa ringan saat aku keluar dari ruangan itu. Untuk pertama kalinya dalam waktu lama, aku merasa seperti… seseorang.
Dan meski aku belum tahu pasti siapa Aditya Wiratara itu, aku tahu satu hal: hidupku sedang memasuki babak baru.
Aku keluar dari Menara Wiratara dengan langkah yang pelan, hampir tak terasa menyentuh tanah. Jantungku masih berdebar-debar. Angin siang menyentuh wajahku, tapi tubuhku tetap hangat, seperti ada sesuatu yang menyala dalam d**a.
Di halte bus, aku berdiri tanpa tahu harus ke mana. Tanganku meraba map berisi jadwal kerja dan beberapa berkas yang tadi diberikan Nicko. Semuanya begitu cepat. Begitu… tak nyata.
Aku naik angkot pulang. Duduk di pojok belakang, aku menyandarkan kepala di kaca jendela yang penuh debu. Jalanan Jakarta tetap sibuk seperti biasa, motor berseliweran, klakson bersahutan. Tapi di pikiranku, semuanya senyap.
Tiga puluh lima juta.
Angka itu bergema seperti mantra.
Tapi, sebuah suara kecil dalam diriku berbisik: kenapa mereka memilihmu? Tanpa pengalaman. Tanpa ijazah kuliah. Apa benar hanya karena butuh sekretaris?
Aku menolak membiarkan suara itu menguasai pikiranku.
⸻
Saat aku pulang, bibiku langsung menyuruhku membersihkan dapur. Aku diam saja, mengiyakan seperti biasa. Tapi di dalam hati, ada perasaan berbeda. Bukan pasrah. Tapi… seolah aku sudah tak akan lama di rumah ini.
Setelah mencuci piring, aku duduk di kamar kecilku, membuka kembali map dari Nicko. Ada satu lembar kertas yang tidak kulihat tadi: peraturan kerja.
Aku membacanya pelan-pelan. Di sana tertulis dengan jelas bahwa rahasia perusahaan adalah hal mutlak. Tidak boleh membocorkan informasi. Dilarang mengakses ruangan tertentu tanpa izin. Dan satu hal yang menarik perhatianku: “Hubungan personal dengan atasan tidak dianjurkan, namun tidak dilarang. Profesionalitas tetap prioritas.”
Aku mengernyit. Kenapa mereka perlu menulis itu?
Ah, mungkin hanya prosedur biasa. Aku terlalu banyak berpikir.
Mataku menatap ponsel. Besok aku harus datang jam delapan pagi. Dan aku belum tahu pakaian seperti apa yang harus kupakai. Rasa cemas mulai menggerogoti dadaku lagi. Tapi kali ini, bersatu dengan rasa penasaran.
Seperti apa Aditya Wiratara itu?
Namanya disebut Nicko tadi, tapi tak ada foto atau penjelasan lebih lanjut. Apakah dia orang tua? Apakah dia orang yang kasar? Atau… sesuatu yang lain?
Malam itu aku nyaris tak bisa tidur. Rasanya seperti malam sebelum ujian nasional, tapi taruhannya jauh lebih besar.
⸻
Pagi hari, aku bangun lebih awal dari biasanya. Diam-diam mengambil roti sisa semalam di dapur, lalu berganti pakaian.
Nadya meminjamkanku satu stel pakaian kerja miliknya—blus krem dengan rok span abu-abu. Aku tak sempat beli apapun. Uangku tinggal sedikit.
Di cermin kecil yang tergantung miring di kamarku, aku merapikan rambut. Menarik napas panjang. Lalu pergi tanpa pamit.
Perjalanan menuju Menara Wiratara pagi ini terasa berbeda dari kemarin. Ada sesuatu yang menggelitik di perutku—antara gugup dan semangat.
Sesampainya di sana, aku langsung menuju lantai 33. Nicko sudah menungguku, kali ini dengan setelan jas yang jauh lebih formal.
“Pagi, Adrishta. Tepat waktu,” katanya sambil tersenyum kecil.
“Pagi, Pak.”
“Panggil saja Nicko. Hari ini kita akan mulai dari dasar. Mengenal sistem perusahaan, rutinitas Pak Aditya, dan kebijakan kantor. Setelah itu, aku akan kenalkan kamu ke beberapa staf penting.”
Aku mengangguk.
Nicko mengajakku ke sebuah ruangan pelatihan kecil. Di dalamnya ada komputer, tumpukan dokumen, dan layar yang menampilkan struktur organisasi perusahaan. Ia menjelaskan satu per satu: tentang cabang perusahaan di luar negeri, anak perusahaan di bidang properti, dan tentu saja jadwal pribadi Aditya.
“Dia orang yang sangat terstruktur,” kata Nicko sambil membuka tablet. “Tapi kadang berubah pikiran tanpa pemberitahuan. Kamu harus bisa menyesuaikan cepat.”
Aku mencatat cepat-cepat di buku kecil yang kubawa.
“Dan satu hal penting,” lanjut Nicko, “Pak Aditya tidak suka diulang dua kali. Dengarkan baik-baik apa pun yang dia perintahkan. Jangan pernah minta dia mengulang.”
Keringat mulai membasahi telapak tanganku. Ini bukan pekerjaan biasa.
Jam makan siang, Nicko memberiku waktu istirahat di lounge karyawan. Tapi aku terlalu gugup untuk makan. Aku hanya duduk sambil menatap daftar tugas yang tadi diberikan.
Baru sehari, dan semuanya sudah terasa berat. Tapi aku tahu, ini baru permulaan.
Sore hari, setelah pelatihan selesai, Nicko mengantarku kembali ke depan lift.
“Kamu bisa pulang. Besok kamu sudah mulai kerja di meja luar ruangan Pak Aditya. Jangan terlambat.”
“Baik, Nicko.”
"Ada yang ingin ditanyakan?"
"Nicko, apa-apakah.. tidak." aku berniat bertanya apakah aku boleh meminjam uang perusahaan ketika aku sudah bekerja disini karena tetap saja waktu ku untuk mendapat 200 juta hanya tinggal 5 hari, tapi rasanya hal itu aneh jika dipertanyakan sekarang, apalagi aku baru akan masuk bekerja, mungkin aku akan bertanya pada tuan aditya nanti.
Dia menatapku sejenak, lalu berkata pelan, “Oke, dan satu hal lagi. Apa pun yang kamu temui nanti… tetap profesional.”
Aku mengangguk. Tak yakin apa maksudnya.
Lift tertutup. Dan jantungku mulai berdetak lebih cepat dari sebelumnya.
Besok… aku akan bertemu Aditya Wiratara.
Dan entah kenapa, perasaan tak nyaman kembali muncul dalam hatiku.