Part 4 - Pertemuan Pertama

885 Kata
Jakarta, Indonesia. POV Adrishta Lantai empat puluh satu terasa seperti dunia lain. Tidak ada papan petunjuk. Tidak ada suara. Tidak ada resepsionis. Hanya lorong sunyi berbalut panel kayu gelap dan cahaya lampu gantung yang menerangi langkahku. Sepatu hakku memantul di marmer abu-abu, menggema pelan. Di ujung lorong, pintu ganda tertutup rapat. Aku berhenti sejenak, menarik napas dalam, lalu mengetuk dua kali. “Masuk.” Suaranya berat. Dalam. Tenang. Aku mendorong pintu perlahan, masuk ke ruangan yang lebih luas daripada dugaan. Dinding kaca membingkai langit Jakarta. Interior minimalis, didominasi warna hitam, kayu, dan baja. Tak ada ornamen berlebihan. Semuanya terkesan steril dan… mengintimidasi. Dia berdiri membelakangiku, menatap keluar jendela. Siluet tubuhnya tegap, setelan hitam yang membingkai bahunya jatuh sempurna. Saat dia berbalik, mataku langsung tertumbuk pada wajah yang selama ini hanya kulihat lewat berita ekonomi dan artikel daring—Aditya Wiratara. “Tepat waktu,” katanya. “Sesuai arahan Bapak.” Suaraku terdengar lebih tenang dari perasaanku yang sesungguhnya. Ia melangkah mendekat. Gerakannya pelan tapi pasti, penuh kontrol. Ada sesuatu dalam caranya berjalan yang membuatku merasa seperti sedang diukur, dipelajari. Begitu dekat, aku bisa mencium aroma parfumnya. Aromanya bersih, maskulin, tapi tak mengganggu. Justru… terlalu mengesankan. “Silakan duduk.” Aku duduk di kursi berhadapan dengannya. Ia mengambil tempat di balik meja. Ruangan hening sejenak, hanya detik jam di dinding yang terdengar. Tatapannya menusuk, seperti hendak membedah isi pikiranku tanpa berkata sepatah kata pun. “Apa yang kamu harapkan dari posisi ini?” tanyanya akhirnya. “Pengalaman. Dan stabilitas, Pak.” “Stabilitas.” Sudut bibirnya terangkat sedikit. “Jawaban yang sangat aman.” “Saya… saya ingin bekerja keras, Pak. Dan mempelajari sistem perusahaan ini dari dekat.” “Hm.” Ia menyandarkan punggung, melipat tangan. Matanya tak pernah lepas dariku. “Nicko bilang kamu cepat menangkap arahan. Tidak banyak bicara. Itu bagus. Tapi bekerja dengan saya, kamu perlu lebih dari sekadar cepat.” Saya mengangguk. “Saya mengerti, Pak.” “Kamu harus siap setiap saat. Jam kerja bisa berubah. Keadaan bisa bergeser tanpa pemberitahuan. Saya tidak butuh alasan, hanya solusi.” “Baik, Pak.” Ia mengambil sebuah kartu akses dari laci dan meletakkannya di meja. “Mulai besok, kamu bekerja di sini. Langsung di bawah saya.” Tenggorokanku tercekat. “Pak?” “Kamu butuh adaptasi cepat. Dan saya butuh seseorang yang bisa saya kontrol langsung.” Ada jeda dalam kata-katanya yang membuatku merasa kalimat itu mengandung lebih dari sekadar instruksi kerja. Tapi wajahnya tetap tenang. “Saya akan berusaha semaksimal mungkin, Pak.” “Bukan berusaha. Lakukan.” Aku menunduk pelan. “Ya, Pak.” Ia berdiri, berjalan ke arah jendela lagi. Tangannya menyelip ke saku celana. Tubuhnya diam, tapi ketenangan itu justru menciptakan tekanan. “Kamu tinggal di mana?” “Ciledug, Pak.” “Jauh. Terlalu jauh. Saya akan perintahkan bagian HR untuk menempatkanmu di apartemen kantor. Kamu pindah malam ini.” Aku tersentak kecil. “Tuan, saya masih bisa menyesuaikan—” “Ini bukan permintaan.” Suaranya tidak naik, tapi tegas dan final. Seperti pintu yang tertutup pelan, tapi tak bisa dibuka lagi. “Baik, Pak.” Dia menoleh. Tatapannya dalam. Dingin. Tapi ada sesuatu di sana… sesuatu yang membuatku tak bisa mengalihkan pandangan. “Kamu terlihat tenang. Tapi matamu mengatakan hal lain.” Saya menggigit bibir bawah. “Saya hanya ingin melakukan pekerjaan saya dengan baik.” “Bagus.” Ia kembali duduk. Menyeruput kopinya. Diam sejenak. Lalu menatapku lagi. “Jangan buat saya kecewa.” Aku berdiri pelan. Membungkukkan sedikit badan. “Saya akan berusaha memenuhi ekspektasi Tuan.” Namun saat aku berbalik hendak keluar, suaranya terdengar lagi, berat dan perlahan. “Adrishta.” Aku menoleh. “Mulai sekarang, kamu hanya milik waktu saya.” Napas tercekat di tenggorokanku. Aku menunduk sekali lagi, lalu keluar dari ruangan itu secepat mungkin—tapi tetap dalam langkah yang tenang. Begitu pintu tertutup, lututku terasa lemas. Bekerja langsung di bawah Aditya Wiratara bukan seperti yang kubayangkan. Ini bukan pekerjaan. Ini seperti permainan kekuasaan—dan aku belum tahu apa taruhannya. ⸻ POV Aditya Dia menutup pintu. Langkahnya terdengar menjauh. Pelan. Rapi. Seperti dia menahan napas sepanjang waktu di ruangan ini. Aku memutar kursi, kembali memandangi kota dari balik jendela kaca. Lalu, perlahan-lahan aku menutup mata. Akhirnya. Adrishta Putri. Nama yang sejak dua bulan lalu menghantuiku dalam sunyi. Foto dari kamera pengawas kafe kecil di Tebet. Gerakan refleks saat dia memungut selebaran lowongan kerja yang sengaja kuarahkan seseorang untuk tempel di sana. Aku tahu dia akan melihatnya. Matanya terlalu ingin bebas, tapi dunia menahannya dari segala arah. Aku bisa mencium ketakutannya hari ini. Terkendali. Lurus. Tapi sarat ketegangan. Dan aku menyukainya. Aku menyukai caranya bicara—formal, patuh, tapi suaranya menyimpan sesuatu. Sesuatu yang belum ia sadari, tapi sudah kutandai sejak awal. Dia tidak tahu, bahkan sebelum ia mengetuk pintuku, hidupnya sudah ada dalam genggamanku. Ia pikir ini wawancara kerja. Padahal ini adalah seleksi pribadi. Untuk sesuatu yang jauh lebih… personal. Tanganku mengambil kembali kartu akses cadangan dari laci. Kartu yang lain, yang sudah diam-diam diaktifkan tanpa sepengetahuannya. Untuk pengawasan. Untuk akses. Waktu satu minggu cukup untuk membuatnya butuh padaku. Butuh pekerjaan. Butuh stabilitas. Butuh perlindungan. Dan pada saat itu—saat dia merasa semua hal bergantung padaku—barulah aku mulai mengambil. Perlahan. Tanpa suara. Tanpa paksaan. Karena obsesi terbaik bukan yang meledak-ledak, tapi yang tumbuh… dari ketundukan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN