Part 1 - Jaminan
Jakarta, Indonesia.
Adrishta melangkah pelan memasuki rumahnya yang sempit. Udara di dalam terasa pengap, bau lembap dan karpet tua menyambutnya. Pintu kayu itu menutup dengan suara berderit, menandakan bahwa ia telah kembali ke tempat yang selalu memberinya rasa sesak di d**a.
Pagi tadi, ia bangun terlalu cepat. Hanya beberapa jam setelah kembali dari kafe, ia sudah harus keluar lagi untuk memulai rutinitas. Kali ini, tubuhnya terasa lebih lelah dari biasanya. Mata yang sudah setengah tertutup, kaki yang nyaris tak bisa diajak berjalan. Tapi, tak ada pilihan. Hidupnya berjalan begitu, tanpa ampun, tanpa belas kasihan.
Di ruang tengah, Pak Joko, pamannya, berdiri dengan tangan terlipat. Wajahnya datar, tanpa ekspresi. Di sebelahnya, Bu Rani, bibinya, berdiri dengan sikap yang lebih tegas. Kedua sepupunya, Riko dan Rini, duduk di sofa sambil sesekali melirik ke arah Adrishta.
“Ris,” suara Pak Joko terdengar dalam, berat. “Mana uangnya?”
Adrishta menatap paman dan bibinya itu dengan pandangan kosong. Sejak orang tuanya meninggal, ia hanya menjadi alat untuk memenuhi kebutuhan mereka. Tak ada yang benar-benar peduli padanya. Ia merogoh kantong apron yang masih terpakai, kemudian mengeluarkan seratus dua puluh ribu rupiah, hasil tip yang diterimanya hari itu.
“Ini,” ucapnya pelan, tangan sedikit gemetar saat menyodorkan uang itu.
Pak Joko meraihnya dengan kasar, menghitungnya dengan ekspresi tidak puas. “Seratus dua puluh ribu? Seharian kamu kerja cuma bawa segini?” Suara pamannya semakin meninggi.
Adrishta menggigit bibirnya, menahan agar tak ada air mata yang jatuh. “Bukan gajian, Paman. Aku cuma dapat tip…”
Pak Joko berteriak, wajahnya merah padam. “Apa, kerjaan kamu itu cuma bisa dapat segitu? itu mana cukup, tahu nggak?!”
Sebelum Adrishta sempat menjawab, Bu Rani menyambung dengan suara seraknya. “Bener, kerja nggak becus. Udah, kamu cuci piring sana di dapur, hidup kok jadi bebas orang lain."
Adrishta menunduk. Tak ada yang perlu ia katakan lagi. Semua sudah jelas. Setiap kata yang keluar dari bibinya dan pamannya sudah terlalu sering menghujamnya.
Dengan perlahan, ia melangkah menuju dapur. Namun, sebelum ia sempat masuk, tamparan keras mendarat di pipinya.
PLAK!
Suaranya membuat udara di sekitarnya seolah membeku. Adrishta terhuyung, pipinya terasa terbakar. Ia mengusap pipinya, menahan sakit yang semakin membekas. Begitu seringnya ini terjadi, hingga rasa sakitnya sudah tak lagi terasa begitu tajam. Cuma perih, seperti terbakar pelan-pelan.
Riko dan Rini hanya tertawa pelan. Riko mengangkat gelas teh dinginnya, memandang ke arah Adrishta dengan tatapan yang penuh penghinaan.
“Pantes, muka-muka kayak gitu, cuma cocok jadi pembantu. Ngapain tinggal di sini?” Riko menyengir. “Mending pergi aja, biar nggak ganggu.”
Adrishta hanya bisa diam. Ia tak pernah melawan. Kalau melawan, tak hanya tamparan yang ia dapat, tapi juga makian dan lebih banyak kata-kata yang menghancurkan.
Ia masuk ke dapur tanpa berkata apa-apa, dan mulai mencuci piring yang menumpuk. Air matanya sudah mengalir, namun ia menahannya, tak ingin ada yang melihat. Itu adalah satu-satunya cara untuk bertahan. Menahan segalanya di dalam.
⸻
Malam sudah datang, dan Adrishta yang baru selesai mencuci piring duduk di kamar sempitnya. Kamar yang tak lebih dari gudang penyimpanan barang. Kasur tipis, hanya ada bantal dan selimut yang sudah usang. Ia menatap langit-langit yang retak, mencoba mencari ketenangan, tapi pikirannya kacau.
"Rishta, kesini" Adrishta merasakan detak jantungnya berdegup kencang ketika Pak Joko memanggilnya, kali ini dengan empat pria besar yang mengikuti di belakangnya. Mereka bukan orang asing bagi Adrishta. Pria-pria itu adalah kolektor utang yang sering mengunjungi rumah, memberi tekanan pada Pak Joko. Tetapi kali ini, ada sesuatu yang berbeda. Wajah Pak Joko tampak cemas, bahkan lebih pucat dari biasanya.
“Ris,” suara Pak Joko terdengar tegang. “Ada yang perlu dibicarakan.”
Adrishta berdiri di ambang pintu, merasakan ketegangan yang semakin menebal di udara. Matanya mulai menyipit, mencoba menilai situasi dengan cepat. “Apa, Paman?” suaranya terdengar sedikit gemetar, namun ia berusaha untuk tetap tenang.
Salah satu pria bertubuh besar yang berdiri di belakang Pak Joko maju selangkah, dengan ekspresi tak peduli. “Kamu tahu kan, utang yang di meja judi itu?” kata pria itu, suara berat dan serak, “Dua ratus juta.”
Adrishta merasakan seolah dunia di sekelilingnya berhenti berputar. “Apa? Dua ratus juta?” ia bertanya dengan suara tercekat. Tak percaya. “Saya nggak tahu apa-apa soal itu, Paman!”
Pak Joko menunduk, tak berani menatap wajahnya. “Kamu… kamu jaminannya, Ris. Kalau nggak, utang itu nggak bisa dilunasi.”
Satu lagi pria bertubuh kekar itu mendekat, menatapnya dengan tajam. “Dua ratus juta harus dibayar. Kalau nggak, kamu harus ikut kami. Itu sudah kesepakatan.”
Adrishta mundur beberapa langkah, berusaha menjaga jarak. “Apa maksudnya, Paman? Jangan bilang kalau…” Suaranya terhenti, mulutnya terasa kering.
Pak Joko akhirnya mengangkat wajahnya, menyatukan pandangan dengan Adrishta. “Ris… kalau kamu nggak ikut mereka, aku yang akan menanggung akibatnya. Kamu nggak mau lihat apa yang bisa terjadi sama aku, kan?” suaranya penuh ketakutan.
Adrishta merasa tubuhnya menjadi kaku. “Jadi, Paman… Paman menjualku ?” Tanyanya dengan suara hampir tak terdengar, mata mulai berkaca-kaca.
Pak Joko hanya bisa diam. Tidak ada jawaban. Hanya tatapan penuh penyesalan yang terlihat samar. Adrishta merasa seperti tertusuk.
“Aku nggak mau ikut,” Adrishta berteriak, mencoba melawan. Tangan pria besar yang mendekat mencoba meraih lengannya, tapi ia menyentakkan tubuhnya ke belakang.
“Aku nggak mau ikut!” Ia bersikeras, berusaha melepaskan diri dari cengkeraman pria itu. Ia tahu, jika mereka benar-benar membawanya pergi, tidak ada yang akan bisa menolongnya.
Para pria itu saling berpandangan, dan salah satu dari mereka, yang paling tua, berkata dengan nada lebih tegas, “Kamu lebih baik ikut dengan kami. Kalau nggak, semuanya akan jadi lebih buruk. Jangan coba-coba macam-macam, Adrishta.”
“Jangan kira aku takut,” kata Adrishta, meskipun rasa takut mulai menjalar dalam dirinya. “Aku nggak peduli, Paman."
Pak Joko menghela napas panjang, dan akhirnya mengangkat tangan, memberi isyarat kepada pria-pria itu. “Bawa saja dia. Kalau dia ikut, utang itu selesai. Anggap saja lunas.”
Adrishta merasa perutnya seperti dililit dengan rasa ngeri yang tak terucapkan. Mata Pak Joko yang tadinya dipenuhi rasa cemas kini berubah menjadi kosong, tak peduli lagi. Adrishta menatap paman dan bibinya yang hanya berdiri di sisi lain dengan wajah acuh tak acuh, seakan apa yang terjadi padanya bukan urusan mereka.
Adrishta, yang masih berusaha keras menahan air matanya, memandang pada pria-pria besar itu yang sudah siap menariknya keluar. “Tunggu!” Tiba-tiba suara Adrishta keras, penuh tekad. “Tunggu! a… aku minta waktu. Beri aku waktu untuk cari uang. Tolong, beri aku kesempatan.”
Pria-pria itu saling berpandangan, ada keraguan di mata mereka. Setelah beberapa saat, yang tertua di antara mereka akhirnya mengangguk, meskipun dengan ketidaksenangan yang jelas di wajahnya. “Baiklah. Satu minggu. Tapi kalau kamu nggak bisa bayar, kita kembali lagi. Jangan harap ada yang bisa menolongmu kali ini.”
Dengan itu, mereka mundur, memberi ruang bagi Adrishta untuk mengambil napas panjang. Namun, ketika mereka berbalik dan melangkah pergi, Adrishta merasakan beban di dadanya semakin berat. Waktu satu minggu itu… bagaimana dia bisa mendapatkan dua ratus juta dalam waktu sesingkat itu?
⸻
Beberapa saat setelah para pria itu pergi, Pak Joko dan Bu Rani kembali ke dalam rumah, dengan ekspresi marah yang langsung ditujukan pada Adrishta.
“Dasar bodoh! Cuma mau cari-cari alasan, kamu kira ada yang peduli sama kamu?” teriak Bu Rani, wajahnya merah padam.
“Kalau kamu nggak bisa bayar, bisa-bisa kita semua ikut tanggung jawab! Kamu pikir bisa cari dua ratus juta dalam seminggu? Dari mana?” Pak Joko juga tidak kalah marah. “Kamu cuma bisa bikin susah, Ris. Kalau nggak bisa bayar, kamu akan makin terjerat. Sekarang, kita semua dalam masalah!”
Adrishta hanya bisa menatap mereka, tanpa bisa menjawab. Meskipun kata-kata itu terasa seperti pisau yang menembus jantungnya, ia tetap diam. Ia sendiri tidak tahu dari mana dia bisa mendapatkan uang sebanyak itu.
Dengan suara bergetar, Adrishta berkata pelan, “aku akan coba cari jalan keluar. Aku janji…”
Pak Joko dan Bu Rani hanya mendengus, tidak percaya pada kata-katanya. Mereka pergi meninggalkan Adrishta dengan perasaan hampa, merasa putus asa. Dalam hatinya, Adrishta pun merasa tidak yakin. Tapi ia tahu satu hal: jika ia tidak berhasil, semuanya akan berakhir dengan cara yang sangat buruk.