Part 5 - Di Balik Dinding Diam

1062 Kata
Jakarta, Indonesia POV Adrishta Langit sore menjuntai kelabu di atas Jakarta. Kota ini seperti menahan napas, seolah tahu bahwa hidupku baru saja bergeser ke poros yang lain. Mobil hitam milik perusahaan meluncur pelan di antara gedung-gedung pencakar langit. Di kursi penumpang belakang, aku duduk diam, membiarkan tatapanku melayang pada kaca jendela yang memburamkan keramaian di luar. Nicko menyetir tanpa banyak bicara, seperti biasa. Tapi sesekali aku bisa merasakan sorot matanya dari kaca spion. Bukan tatapan tidak sopan—lebih seperti kewaspadaan seorang prajurit yang menjalankan perintah dari atasannya. Aku menggenggam tas di pangkuan. Jantungku masih belum benar-benar tenang sejak pertemuan tadi pagi dengan Tuan Aditya. Suaranya. Tatapannya. Keputusan sepihaknya. “Apartemennya di Mega Pacific Tower, lantai dua puluh tiga,” ucap Nicko, akhirnya membuka suara. “Lokasi strategis, pengamanan ketat. Hanya kamu yang punya akses ke unit itu.” Aku menoleh padanya. “Hanya saya?” Ia mengangguk tanpa menoleh balik. “Sesuai arahan Pak Aditya.” Aku menelan ludah. Perasaanku bercampur. Antara kagum, curiga, dan… sedikit takut. Kenapa aku diperlakukan berbeda? Bukankah sekretaris biasa tidak seharusnya mendapat fasilitas sekelas ini? Mobil berhenti di lobby apartemen yang menjulang megah, bangunan kaca berkilap yang tampak seperti potongan dimensi lain di tengah kota. Petugas keamanan langsung menyambut kami, membuka pintu mobil dengan sikap nyaris militer. Mereka mengenali lambang Wiratara di pelat nomor. “Unit sudah disiapkan sejak tadi pagi. Koper dan perlengkapanmu juga akan dikirim malam ini,” ujar Nicko ketika kami masuk ke lift pribadi. “Aku hanya mengantar sampai sini. Setelah ini, kamu bisa langsung ke rumah keluargamu. Tapi ingat, kamu mulai kerja penuh besok pagi. Langsung di lantai empat puluh satu.” Aku mengangguk pelan. “Terima kasih, Mas Nicko.” Lift berhenti di lantai dua puluh tiga. Pintu terbuka ke lorong berkarpet tebal, senyap seperti hotel bintang lima. Nicko menyerahkan kartu akses, lalu membukakan pintu unit 2307. Begitu masuk, aku terdiam. Apartemennya… lebih seperti suite hotel presiden daripada tempat tinggal biasa. Lantai marmer putih, sofa abu-abu lembut, dapur terbuka dengan perlengkapan premium, dan jendela lebar yang memamerkan langit kota di kejauhan. Bahkan wangi ruangan ini bersih dan sejuk, seperti tempat yang belum pernah disentuh manusia. “Wow…” napasku melolos tanpa sadar. Nicko tersenyum tipis. “Nikmati selama bisa dinikmati. Saya pamit dulu.” Ia menutup pintu dengan tenang. Dan aku pun berdiri sendiri di tengah ruangan asing ini. Satu langkah, dua langkah… kakiku menyentuh karpet, dan rasanya masih seperti mimpi. Namun mimpi ini harus ditinggalkan sejenak. Aku masih punya satu kewajiban yang tak bisa kuhindari: kembali ke rumah pamanku. ⸻ Rumah itu masih sama. Pekarangan sempit, dinding cat kusam, dan pagar yang selalu berdecit saat dibuka. Tapi hari ini, aku melangkah masuk dengan rasa asing. Seolah aku sudah bukan bagian dari dunia ini lagi. “Eh, Rishta! Akhirnya pulang juga,” suara Rini, sepupuku yang paling vokal, terdengar dari ruang tengah. Ia duduk sambil memainkan ponsel, kaki diangkat ke kursi dengan santai. Riko, kakaknya, menoleh sekilas dari meja makan. “Gimana kerjaan di perusahaan orang kaya itu? Sudah disuruh ngepel belum?” Aku mengabaikan nada sinis mereka dan berjalan langsung ke kamar. Tapi belum sempat menutup pintu, suara bibiku menggelegar dari dapur. “Rishta! Ke sini dulu. Kita perlu bicara.” Dengan napas yang tertahan, aku kembali ke ruang tengah. Mereka sudah duduk menunggu seperti sedang mengadakan rapat keluarga. “Ada apa, Bi?” Bibi melipat tangan di d**a. “Kamu mau pergi-pergi, harus izin dulu. Tadi pagi gak ada kabar, sekarang muncul bawa koper. Ini maksudnya apa?” Aku mengangkat daguku. “Saya sudah diberi tempat tinggal oleh kantor. Mulai malam ini saya pindah.” “Hah?” Rini langsung duduk tegak. “Kamu dapet apartemen?!” Aku mengangguk. “Ya. Fasilitas dari perusahaan.” “Yang bener aja,” desis Riko. “Sekretaris dapet apartemen? Emangnya kamu siapa?” “Nggak semua dapet,” sahutku tenang. “Tapi saya diminta langsung oleh atasan untuk tinggal lebih dekat karena waktu kerja saya fleksibel.” Bibi memicingkan mata. “Siapa atasannya? Direktur?” “CEO-nya,” jawabku. “Pak Aditya.” Mereka semua terdiam. Sejenak. Lalu gelak tawa meledak dari mulut Rini dan Riko. “Wah, hebat banget! Baru kerja udah jadi kesayangan bos!” ejek Rini. “Jangan-jangan kamu ngelakuin sesuatu yang spesial ya, Rishta?” Aku mengepal tangan. “Saya dapat ini karena saya bekerja dengan baik.” “Bekerja atau melayani?” Riko menyeringai. “Jangan-jangan kamu jadi simpanan…” “Cukup!” suaraku meninggi. Hening. Bibi berdiri. Tatapannya tajam. “Kamu jangan sombong, Rishta. Kami yang membesarkan kamu. Kalau kamu dapat kerja bagus, itu karena kami gak nyuruh kamu keluar rumah. Kami bisa aja tendang kamu waktu itu.” Mataku mulai panas. Tapi aku tidak menangis. Tidak sekarang. “Saya tidak akan pernah lupa jasa kalian. Tapi saya juga tahu batas harga diri saya. Mulai malam ini, saya tidak akan kembali lagi ke sini.” Aku berjalan ke kamar, mengambil tas kecilku yang sudah kusiapkan. Saat aku kembali ke ruang tengah, mereka semua masih terdiam. Aku berdiri tegak di hadapan mereka. “Saya akan melunasi utang Paman. Tiga hari lagi. Tapi setelah itu, saya tidak lagi jadi tanggungan kalian. Dan jangan pernah cari saya.” Aku keluar dari rumah itu tanpa menoleh lagi. Langkahku mungkin gemetar, tapi hatiku teguh. ⸻ POV Aditya Mansion Pribadi, Ruang Pemantau Khusus Cahaya biru redup menerangi layar-layar yang menempel di dinding ruangan tersembunyi di lantai bawah mansionku. Di tengah ruangan, satu layar utama menampilkan sosok Adrishta yang baru saja masuk kembali ke apartemennya. Wajahnya terlihat lelah. Tapi ada bara di matanya. Aku memutar kursi ke depan. Menyentuh panel kontrol dengan ujung jemari. Kamera tersembunyi yang dipasang secara strategis di unit apartemen itu memberiku pandangan dari segala sudut: ruang tamu, dapur, bahkan kamar. Hanya aku yang punya akses. Bahkan bagian IT tidak tahu sistem ini ada. Dia menaruh tasnya, lalu berdiri sejenak menatap jendela besar. Siluet tubuhnya mematung. Mungkin sedang berpikir, atau… sedang menahan tangis yang tidak ingin ia tunjukkan pada dunia. “Selamat datang di rumahmu, Adrishta…” gumamku pelan. Tidak ada yang tahu—bahwa aku memilih apartemen itu bukan karena kedekatannya ke kantor. Bukan pula karena fungsionalitas. Tapi karena dari titik ini, aku bisa mengawasinya tanpa hambatan. Tanpa gangguan. Tanpa dia sadari. Ia adalah bidak dalam permainan ini. Tapi bukan sembarang bidak. Ia adalah pusat papan. Dan aku adalah tangan yang menggerakkannya ke arah takdir yang sudah kutentukan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN