"tidak bapak ini salah saya ....ini semua murni salah saya "lirih ayah dion mengiba sambil terus bersujut di kaki kakek .
kakek hanya bisa menangis lirik ,tangan yg tadi membeku perlahan terangkat dan menyentuh kepala ayah .di belainya pelan seperti seorang ayah yg menenangkan anaknya yg sedang menghadapi masalah .
seperti seorang pengantin yang meminta restu kepada orang tuanya .
kami yang ada di ruangan itu hanya bisa menangis menyaksikan itu semua .
melihat raut wajah kakek yang layu seolah lebih tua dari hari biasanya ,nenek pun juga begitu gambaran lelah terlihat jelas di wajahnya .
wajah ibu yang biasanya cantik dan bersuara keras .kini seperti orang lain .wajahnya sayu penuh air mata dia sama sekali tak mengeluakan suaranya.
"Bangunlah nak ,tak baik seperti ini "kakek menuntun ayah untuk berdiri tapi ayah terus saja menolak .
"jangan bersujut di hadapanku karna aku juga manusia sepertimu yang banyak dosa ,kalau kau minta maaf minta maaflah kepada mawar karena dia korban yang sesungguhnya .dia yang kau rampas masa depanya ."
ach ....sungguh pemandangan yg sangat memilukan .
ruang makan ini sudah tak ubahnya rumah duka .
kami semua mengelilingi meja dan terus menagis .
mereka yang bicarapun hanya bisa lirih karna kami pun tak mau aib ini di ketahui warga.
**
pov Dion
pagi itu seperti biasa aku akan kekebun ,di jalan bertemu dengan teman -teman kampung yang dari kecil memang kami akrab .kami sekolah bareng ,ngaji bareng ,kesawah bareng mandi di sungai pun bareng-bareng .jadi sedikit banyak apa tentangku atau tentang mereka kita sama-sama tau .ya seakrab itu lah kami anak-anak desa ,yg bersosialnya hanya di lingkup itu -itu saja .
"heeii dion gimana kabarnya kok lama gak kelihatan "sapa mas iksan
"iya ,karna seminggu ini aku ikut ke proyek sama mas budi .ini pulang kangen sama anak sama ngasih uang dapur ,besuk juga balik lagi ."
"wah syukur dech ,sudah ada kemajuan sekarang ,jadi tambah rajin kerjanya "sambung mas iksan sambil merangkul pundaku
"iya lah ,anak sudah tambah besar biaya juga makin banyak"
"wah gak salah denger nih ,dion ngomongnya dah persis orang tua hhhhh"selorok mereka dan aku hanya bisa menanggapinya dengan ikut ketawa.
ya begitulah aku di mata mereka ....aku hanya bapak yang gak bertanggung jawab ,sudah jarang kerja suka mabuk pula .
sejak pernikahanku dengan ningsih aku memang jarang berkawan lagi dengan mereka ,kami kalau bertemu hanya kebetulan saja di jalan tapi ya hampir tiap hari ketemunya ,karna kehidupan kami ya muter di situ-situ saja .jalan yg kami lewati ya ya cuma jalan desa yg melajur di depan rumah kami .
"oh ya dion ,maaf ini ya ,jangan marah lho "ucap iksan ragu .
aku hanya memandangnya menunggu apa yang akan dia bicarakan .kalau lihat dari mimik wajahnya seperti ada hal yg serius .
"ada apa san ,jangan bikin penasaran lanjukan tak apa "ucapku karena tak sabar menunggu iksan melanjutkan bicaranya .
"mawar ..."
"kenapa mawar"aku semakin tidak sabar .
"mawar ....sudah d lamar sama orang ya .sebentar lagi kamu punya mantu dong di "plassss.....seperti ada yg lebas dari hatiku mendengar penuturan iksan .walaupun dia bicara dengan setengah berbisik tetapi sangat jelas d terima oleh runguku.
"di lamar ...aku tak tau ...kapan "
"tadi malam "
setelah sampai di sawahnya iksan pun belok menuju sawahnya ,begitu juga yg lain .aku yg sawahnya agak jauh masih melanjutkan perjalananku yg sedikit menanjak.
di sepanjang jalan aku terus berfikir apakah benar mawar d lamar oleh lelaki itu .
aku bingung akan apa yg kurasakan ,aku marah ,aku kecewa tapi apakah aku masih bisa marah .
setelah sampai sawah buru -buru ku ayunkan sabitku .ku babat rumput gajahan yg tumbuh subur d sekeliling sawah karna selain untuk pakan ternah dia juga berfungsi untuk pagar .
tak sampai banyak sudah ku bawa pulang hati ini sudah tak sabar ingin menanyakan pada mawar langsung dengan apa yg terjadi.
tapi sampai d tengah desa aku bertemu dengan lelaki yg dekat dengan mawar .
aku menanyakan apakah benar lamaran itu ,dia membenarkanya dan mawar menerimanya .tapi acara belum resmi karna masih tahap menanyakan persetujuan mawar saja .
seketika hatiku mendidih ,kutinggalkan rumput dan sabit begitu saja di pinggir jalan itu.
ku langkahkan kaki menuju teman-teman baruku yg sedang berkumpul di sana .aku ingin membuang bebanku ,aku ingin mendinginkan kepalaku yg berasab ini .aku butuh teman yg bisa menghiburku dan bisa melegakan apa yg menyesakan dadaku ini .