Anjani sekarang sudah berada di ruang makan untuk makan malam, setelah selesai menyuapi Bara tadi dia segera turun dan makan.
Perut Anjani sudah keroncongan rasanya.
Kalau Bara jangan di tanya dia masih betah berkutat dengan pekerjaan nya.
saat sedang asik makan Anjani seperti mendengar suara mobil.
"siapa yang mau keluar, apa mungkin Bara?" Batinya.
Dari pada penasaran lebih baik dia lihat saja. Dia memicing kan matanya melihat mobil yang sudah keluar pagar. Itu memang mobil Bara yang dipakai tadi pagi.
"Loh nyonya kenapa diluar?" tanya Mbok Jum yang kebetulan melihat Anjani.
"Nggak Mbok, tadi Jani lihat mobilnya Mas Bara keluar" jelas nya.
"Oh itu... udah biasa tuan memang biasanya keluar jam segini"
"Kemana Mbok...?" Tanya Anjani.
"Saya kurang tau, tapi biasanya sama teman-teman nya"
Anjani menganggukkan kepalanya. Bara kumpul sama teman-teman nya ternyata.
"Kalau pulang nya jam berapa mbok?" Tanya nya lagi.
" nggak pasti nyah kadang juga nggak pulang" jawab Mbok.
Karena Bara itu tidak bisa di tebak kapan pulang nya. Bahkan pernah berhari-hari nggak pulang.
"Apa, nggak pulang?" kaget anjani.
Mbok Jum menganggukan kepalanya.
"Ya Nyah...." Jawab Mbok.
Anjani diam saja, tidak menyahut lagi.
"kalau begitu saya permisi dulu Nyah...." pamit Mbok.
Anjani menganggukkan kepalanya.
***
Anjani merebah kan badanya di kasur mendingan dia langsung tidur saja.
Menunggu Bara juga percuma kalau pulang nya tak menentu. Iya kalau pulang kalau nggak! Bisa-bisa nggak tidur Anjani.
Baru beberapa jam terlelap. Anjani merasa mau buang air kecil, paling malas saat lagi ngantuk-ngantuk nya malah kebelet pipis.
Mau tidak mau Anjani berjalan ke kamar mandi. Dia berjalan malas bahkan matanya sedikit terpejam sangking ngantuk nya.
Setelah selesai dia kembali tidur lagi. Dan melirik jam yang ada di nakas, Ternyata sudah jam dua pagi. Dan Bara belum pulang juga.
"Apa mas bara nggak pulang ya?..." ucapnya dengan menguap.
Dia mendengar ada ribut-ribut di depan.
Ceklek
Pintu kamarnya terbuka Anjani melebarkan matanya terkejut. Rasa kantuknya jadi hilang.
Saat melihat Bara di bolong masuk ke dalam kamar.
Mereka yang membopong Bara juga kaget. Karena melihat ada wanita di dalam kamar Bara.
"Ya'allah Mas Bara..." dia pun bergegas berlari ke arah pintu.
"Mas Bara kenapa?.." tanya nya kewatir melihat Bara yang sedang dipapah.
"Siapa lo?" Tanya salah satu pria yang membawa Bara.
"Kenapa bisa dikamar nya Bara?" tanya nya lagi melihat Anjani tak kunjung menjawab pertanyaan nya. Sambil terus memapah Bara ke ranjang.
Semantara Anjani masih saja sibuk melepaskan sepatu Bara dan juga jaket nya.
"Makasih ya Mas, udah mau ngantar Mas Bara pulang." ucap nya kepada ketiga pria yang mengantar Bara tadi.
" ya... tapi lo siapa dulu?" Tanya mereka sekali lagi.
Karena dari tadi pertanyaan mereka belum di jawab.
"Oh iya Amas, saya Anjani" ucap Anjani memperkenalkan dirinya.
"Maksud nya, siapa nya Bara?" Tanya robi lagi lebih jelas.
Yang mereka maksud itu bukan nama perempuan ini. Tapi perempuan ini siapa nya Bara, sampai tidur di kamar Bara.
"Oh saya... istri nya" ujar Anjani.
"APA..." teriak mereka bertiga serempak. Bahkan Leo yang biasanya diam pun ikut teriak saking kaget nya. Pasal nya mereka nggak tau kalau Bara sudah menikah.
"Jangan teriak-teriak Mas ini udah malam" ucap Anjani memperingati.
"Lo serius kan?" tanya Dimas masih tak percaya.
Anjani menganggukan kepalanya.
"Kapan kalian nikah?" Dimas dan Robi mulai kepo.
Mereka antara percaya dan tidak kalau Bara sudah menikah.
"Dua hari yang lalu..." jawab Anjani.
"Sudahlah Anjani mau istirahat sebaik nya kita keluar" sela Leo saat melihat Robi dan Dimas ingin bertanya lagi.
"Nggak bisa di biarin nih kunyuk, dia nggak anggap kita sahabat nya, masa nikah nggak ngomong-ngomong" ujar Dimas tak terima.
"Hey Bara lo utang banyak penjelasan ke kita" ujar Robi dengan nepuk-nepuk pipi Bara, Berharap pria itu sadar.
"Ck" Leo berdecak dia segera menarik kerah baju Dimas dan Robi keluar kamar.
"Makasih ya Mas.." ucap Anjani sekali lagi sebelum menutup pintu.
Sementara Robi dan Dimas masih saja teriak-teriak. Anjani hanya tersensenyum dan menggelekan kepala melihat tingkah teman Bara.
"Isabel..." Anjani menoleh kearah Bara yang mengucapkan nama seseorang.
"Isabel?...." Anjani mengerut kan kening nya.
"Siapa Isabel?.... " batin nya.
"Isabel...." Bara terus mengucap kan nama itu.
Anjani tak mau ambil pusing lebih baik dia mengganti baju Bara saja.
Dia mulai membuka kaos Bara. Anjani hendak berdiri mengambil baju ganti untuk Bara.
"Aaa...." namun baru saja hendak berdiri tangan nya sudah ditarik lebih dulu oleh Bara.
Jantung nya terasa mau lepas sangking kaget nya. Apalagi posisi mereka sekarang dia berada pas diatas Bara.
Anjani mencoba melepaskan tangan Bara yang ada dipinggang nya. Namun bukan nya melepaskan pelukannya, Bara malah semakin mengerat kan pelukan nya.
"Mas... lepas dulu" ucapnya.
Bara hanya mengoceh tidak jelas. Anjani menghembus kan napas kesal.
"Percuma ngomong sama orang mabuk" grutunya.
Karena terlalu ngantuk lebih baik Anjani tidur saja. Tanpa merubah posisi nya.
***
Sinar matahari pagi masuk kecela-celah jendela mengusik dua insan yang sedang tertidur pulas.
Anjani yang merasa silau mulai mengucek matanya dan membuka matanya perlahan.
Hal pertama yang dia lihat adalah. d**a Bara yang telanjang, dan bara masih memeluknya erat. Walau posisi mereka sudah berubah karena sekarang dia berada di sebelah Bara bukan diatas nya lagi.
Anjani memandang wajah Bara yang sedang terlelap terlihat sangat damai dan manis. Tidak seperti saat bangun yang terlihat angkuh mata nya yang tajam selalu membuat orang merasa terintimidasi oleh nya.
Dia seperti membangun tembok di dirinya untuk menutupi sesuatu. dia terlihat lelah kantung matanya sangat terlihat.
Siapa Isabel apa mungkin dia yang buat Bara kayak gini. Siapa pun dia pasti sangat berati untuk Bara. Sampai bisa membuat Bara yang dulunya hangat menjadi sedingin ini.
Anjani mengangkat tanganya untuk mengelus rambut Bara. Hanya saat Bara tidur dia berani seperti ini.
Mata Bara perlahan mulai terbuka. Anjani membulatkan matanya kaget dia segera menurunkan tanganya.
Sementara Bara terus menatap nya tajam. Anjani menelan ludah nya susah payah takut Bara marah padanya.
"Pagi..." ucap Anjani dengan tersenyum kikuk.
Namun Bara hanya diam dan melepaskan pelukan nya lalu berlalu pergi masuk ke kamar mandi.
Anjani bernapas lega untung Bara tidak marah. Lebih baik dia segera bangun dan membereskan tempat tidur.
Lalu pergi kebawah untuk membuat serapan. Sekalian cuci muka di kamar mandi bawah saja.
tapi sebelumnya dia mau menyiap kan baju Bara terlebih dulu.
Menjalankan tugasnya sebagai seorang istri.