Anjani terduduk di ranjang nya air mata nya pun terus keluar, dia tak tau apa yang harus dia lakukan menerima atau menolak perjodohan ini.
Kalau dia menolak pasti kakek dan nenek akan sangat kecewa. Walaupun tadi mereka bilang semua keputusan ada di tangan nya. namun raut wajah mereka sangat berharap kalau dia mau menerima perjodohan ini.
Ini terlalu mendadak dan ini salah satu keputusan terbesar di hidup nya. Apalagi menikah dengan seorang pria seperti Bara Gumelar. Dia memang tampan, sangat tampan malah, bukti nya banyak wanita di luar sana yang mengejar-ngejar nya.
Anjani tau itu dari berita-berita atau majalah yang dia lihat, banyak berita tentang pria itu dari segi karier maupun kehidupan pribadi selalu menjadi sorotan media.
Dia sangat terkenal di dunia bisnis dengan berbagai macam prestasi. Tapi bukan cuman hal baik, banyak juga hal buruk yang menerpa nya.
Dia yang suka ke club malam, dan gonta-ganti perempuan, tak luput juga dari pemberitaan. Itu yang buat kakek dan papah nya kewalahan menghadapinya.
Anjani beberapa kali bertemu dengan Bara dulu, saat dia kemari untuk menjenguk kakek dan nenek.
Dia pria yang sangat dingin menurut Anjani. Sama sekali tidak pernah tersenyum bahkan ke kakek dan nenek.
Apakah dia bisa menghadapi Bara yang seperti itu nanti nya. Dia tidak mau menyesali nya nanti Saat sudah menikah.
Dia ingin menikah seumur hidup sekali, dan membangun keluarga kecil yang bahagia, dan dia takut kalau nanti dia tidak bisa mendapatkan itu dari Bara. Nikah karena perjodohan terasa sangat terpaksa.
Anjani menghapus air mata nya, dia lelah menangis Lebih baik dia istirahat saja untuk menenang kan pikirannya.
Mau di pikirkan bagaimanapun pilihannya hanya dua. Menerima atau menolak perjodohan ini.
Anjani pun mulai memejamkan matanya.
****
Anjani melihat pantulan nya di cermin. Dia sudah memutuskan nya. Dan dia akan menyampaikannya ke kakek dan nenek pagi ini.
"Ini keputusan yang terbaik" ucap nya meyakin kan diri sendiri.
Dia pun keluar dari kamar dan menuju ruang makan.
"Pagi...." sapanya kepada semua orang.
"Pagi nak... sini kita makan sama-sama" ajak nenek.
Saras merasa lega melihat Anjani baik-baik saja. Walaupun terlihat jelas kantung mata Anjani yang membengkak.
Anjani pun mengangguk dan segera duduk di kursi sebelah neneknya.
"Mau makan apa? Nasi goreng atau roti? " tanya nenek dengan berdiri untuk mengambil kan makanan Anjani.
"Biar Anjani ambil sendiri saja nek... nenek lanjut makan saja" tolak Anjani dia pun menngambil nasi goreng untuk dirinya sendiri.
Saraswati mengangguk dia pun kembali duduk.
Setelah itu hanya hening tidak ada yang bicara satu pun, semua orang sibuk dengan makanan masing-masing.
Tidak ada yang membahas soal perjodohan semalam. Karena tidak mau merusak sarapan pagi ini.
Begitupun Anjani, dia pura-pura terlihat biasa saja.
Bukan kah kemarin Fahri bilang Pak Bimo kemari bersama keluarganya, tapi dari kemarin Anjani tidak melihat mereka dan sekarang yang di meja makan hanya ada Pak Bimo, dia kakek dan nenek.
"Mungkin mereka masih dikamar...." batin Anjani.
Anjani pun melanjutkan makan hingga habis.
"Bagaimana keputusan mu Jani...?" Baru saja Anjani ingin bicara tapi kakek sudah bertanya terlebih dahulu.
"Mmmm begini..." Anjani menarik napas sebelum meneruskan ucapannya. Semua orang menatapnya serius sekarang.
"Sebelumnya Anjani mau minta maaf... tapi jujur Anjani tidak bisa menerimanya, Anjani tidak bisa menikah dengan Mas Bara Anjani minta maaf. " ia menunduk menyesal, kakek dan nenek pasti kecewa.
Semua orang menarik napas berat, mereka sangat berharap Anjani mau menerima perjodohan ini terutama Bimo.
Nenek mengelus rambut Anjani.
"Apa kau sudah benar-benar memikirkan nya nak..." walaupun dia dan suaminya bilang semua keputusan ada di tangan Anjani, tapi tetap saja dia berharap Anjani mau menerima perjodohan ini.
"Iya nek... maaf kan Anjani.." Anjani pun meraih tangan nenek nya untuk digenggam.
Saras hanya tersenyum menanggapi nya. Anjani tau pasti kakek dan nenek sangat kecewa padanya.
"Anjani saya minta tolong sama kamu menikahlah dengan Bara." ucap Bimo sekali lagi berharap Anjani berubah pikiran.
"Tapi pak.. say.."
"Saya yakin kamu bisa merubah Bara seperti dulu lagi, saya tau kamu menolak perjodohan ini karena kamu melihat kelakuan Bara selama ini, saya akui kelakuan nya memang sangat buruk, makin hari malah semakin buruk, tapi dulu dia tidak seperti itu dia anak yang baik, dia banyak bicara tidak sedingin sekarang, dia juga sangat sopan tidak kurang ajar seperti sekarang, makin lama saya semakin tidak mengenali anak saya sendiri dan semua itu pasti ada sebabnya dia berubah setelah lulus SMA. Saya juga bukan asal saja menjodoh kan kamu dengan Bara, sebelumnya saya sudah menyuruh Bara untuk memilih beberapa perempuan, mereka putri dari teman-teman saya namun Bara menolaknya. tapi ketika saya bilang mau menjodoh kan kamu dengan dia Bara langsung setuju" jelas pak Bimo panjang lebar.
Itu juga salah satu alasan Bimo menjodohkan Bara dan Anjani. Karena Bara setuju untuk menikahi Anjani.
Anjani mengerutkan keningnya, kenapa Bara setuju jika menikah dengan nya bukan perempuan lain.
"Bara memang sering membawa perempuan kerumah, tapi tidak ada satupun perempuan yang baik menurut saya, mereka hanya melihat Bara dari tampang dan uangnya saja, dan Bara menerima mereka hanya demi kepuasan satu malamnya saja, dan besoknya akan berganti perempuan lagi terus seperti itu. Makanya saya mau dia menikah saja, tapi dengan gadis yang baik pastinya ini memang terdengar egois. Tapi Jani saya mohon menikahlah dengan Bara." Kata Pak Bimo dengan muka memohon ke Anjani.
"Tapi pak saya.." Anjani menggantung kan kalimat nya.
"Saya mohon anjani ini pertama kali nya saya memohon pada seseorang" ucap Bimo semakin memohon ke Anjani.
"Sudah lah Bimo jika Anjani tidak mau jangan paksa dia, aku memang menyetujui perjodohan ini tapi semuanya tetap Anjani yang memutuskannya" Sela Santos.
"Sekali lagi saya mohon sama kamu Jani. Kamu tidak lihat wajah orang tua saya, mereka pasti juga berharap kamu mau menerimanya." Ucap Bimo memohon.
"Jangan paksa anjani Bimo" kata Saras, ikut menyahuti.
Saras memang ingin Anjani menikah dengan Bara, namun jika Anjani tidak mau dia tidak mau memaksa nya.
Anjani menoleh ke kakek dan nenek nya, mereka memang terlihat sangat berharap.
Pikiranya menerawang ke beberapa tahun belakangan ini. Dimana dia mulai tinggal dirumah ini nenek dan kakek merawatnya dengan baik, mereka menyayangi nya dengan tulus. Dan sekarang mungkin waktunya dia membalas budi kepada mereka berdua, walaupun dengan cara yang sebenarnya dia tidak mau.
"Ya sudah Anjani mau menerima perjodohan ini.." ucapnya dengan Terpaksa.
Semua orang tersenyum lega terutama Bimo.
Saras langsung memeluk cucu nya
"Semoga ini yang terbaik nak..." ucapa nya.
Anjani mengangguk dan tersenyum sekilas.
"ini demi kakek dan nenek" batin Anjani.