Anjani sudah siap dengan gaun pengantinya. Dia melihat pantulanya dari cermin, gaun putih yang simple namun elegan, sangat pas di tubuh nya dan juga riasan yang tak terlalu mencolok.
Dia menarik napas berat untuk sekian kali nya. Tak menyangka hari ini datang begitu cepat, dimana sebentar lagi dia sah menjadi seorang istri dan mempunyai tanggung jawab baru.
"Kak Jani...." sebuah suara menyadarkan nya dari lamunan.
Anjani menoleh dan melihat Biani yang berjalan ke arah nya dengan tersenyum.
"Wah..... kakak cantik banget" puji nya.
Anjani tersenyum menanggapi nya.
"Kak Bara tu beruntung tau bisa dapatin kakak, kakak tu baik banget malah dapet nya kak Bara yang beganjulan begitu"
"Gak boleh gitu sama kakak sendiri.." kata Anjani mengingat kan Biani.
"Iya deh yang belain calon suami" Biani mengoda Anjani, dengan tersenyum dan menaik-naik kan alis nya jail.
"Apa sih kamu ...." Anjani menggeleng kan kepalanya melihat tingkah Biani.
"Tapi aku seneng deh kakak yang jadi calon nya kak Bara, bukan cabe-cabean yang sering ngintilan kak Bara" ucap Biani sedikit kesal ketika mengingat perempuan-perempuan yang sering bersama kakaknya.
"Mereka itu gatel banget, udah kayak ulat bulu..." Ucap Biani lagi.
Anjani tertawa mendengar ucapan Biani.
"Jani... " suara Saras memanggil Anjani. Menyela obrolan Anjani dan Biani.
Anjani dan Biani pun menoleh melihat nenek mereka yang masuk kedalam kamar.
"Iya nek...." sahut Anjani. Dengan membalikan tubuh nya.
"Cucu nenek cantik banget .." ucap nya dengan memegang kedua lengan Anjani.
"ya udah, sekarang kita turun. Semua orang udah nungguin, karena sebentar lagi ijab kabul nya mau di mulai" ajak Oma dengan menggandeng tangan Anjani.
Anjani pun berjalan menuruni tangga, dengan Biani dan nenek di sebelah nya.
Semua orang yang ada dibawah menoleh ke atas mereka terpukau dengan kecantikan Anjani.
Anjani terus menunduk dia sangat gugup, tangan nya pun berkeringat.
Setelah mereka tiba dibawah Nenek pun menuntun Anjani duduk di sebelah Bara.
Anjani terus menunduk dia sama sekali tak berani melihat ke Bara.
Sementara Bara telihat sangat acuh dia sama sekali tak peduli. Dia hanya ingin segera menyelesaikan acara ini dan lekas pergi. Tubuh nya sangat lelah dia baru tiba subuh tadi, dan baru istirahat dua jam saja.
"Saya terima nikah dan kawinnya Ajani Putri Sabrina binti Danang Prasetyo dengan mas kawin tersebut di bayar tunai" Bara mengucapkan ijab kabul dengan sekali tarikan napas.
"Sah..." Ucap saksi dan penghulu.
Air mata Anjani pun jatuh setelah bara mengucap kan ijab kabul. Dia teringat kedua orang tua nya.
Sekarang dia sudah sah menjadi seorang istri.
"Semoga ini yang terbaik tuhan..." batinya.
Anjani pun menyalami tangan Bara yang sudah sah menjadi suaminya. Kemudian Bara mencium kening anjani dengan ogah-ogahan.
Mereka pun sudah berada di pelaminan. Pesta pernikahan diadakan di taman yang ada di belakang rumah kakek nya dengan tema garden party, semua orang mengguna kan baju berwarna putih Sangat manis.
Walau awalnya sulit rasanya menerima pernikahan ini tapi saat melihat wajah kakek dan nenek nya yang terus tersenyum dari tadi, Anjani merasa sangat bahagia.
Mereka terus menyalami tamu dari tadi. Yang hadir hari ini hanya kerabat dekat dan sahabat dekat mereka saja. Tidak ada wartawan dan bahkan rekan bisnis keluarga ini pun hanya sedikit yang hadir karena memang permintaan Bara. Meski kakek keberatan awal nya karena ini pernikahan cucu pertamanya. tapi dia memilih mengalah saja daripada Bara berubah pikiran dan membatal kan semua nya.
Setelah berdiri berjam-jam untuk menyalami para tamu, kini Anjani pun telah berada di kamar nya.
Kakiknya terasa sangat sakit karena terus berdiri. Setelah melepas sepatu nya dia bergegas kekamar mandi untuk ganti baju dan bersih-bersih.
Setelah beberapa menit dia keluar dengan lebih segar. Dia melihat sekitar ternyata Bara belum juga masuk ke kamar. Tadi pria itu memang sedang menemui beberapa tamu yang masih ada.
Terdengar helaan napas lagi dari mulutnya. Entah bagaimana pernikahan nya kedepan. Bahkan dari tadi tak ada percakapan antara dia dan Bara. Bara sama sekali tak mengajak nya bicara bahkan melihat kearahnya saja tidak.
Ceklek
Anjani pun menoleh ke arah pintu yang terbuka. Terlihat suaminya yang berjalan masuk, Dia pun tersenyum namun bara hanya melewatinya begitu saja.
Senyum nya pun perlahan memudar
"Kau harus lebih sabar Jani ..." batinnya.
"Cepat siap kan semua barang mu kita akan pulang ke jakarta malam ini" ucap Bara dan tanpa melihat Anjani.
"Tapi..."
"Jangan banyak bertanya" potong Bara dan langsung masuk ke kamar mandi meninggal kan Anjani.
Kenapa harus malam ini. Sejujurnya Anjani masih belum siap meniggalkan desa ini, terlalu banyak kenangan apalagi bersama orang tua nya. Dan juga badanya terasa sangat lelah.
Tetapi dia bisa apa selain menurut. Karena memang seharusnya begitu istri akan mengikuti suami kemana pun dia pergi.
Anjani bergegas untuk membereskan semua barang yang akan dia bawa. Tidak banyak dia akan bawa yang penting-penting saja.
Bara keluar dari kamar mandi dengan bertelanjang d**a dan hanya menggunakan handuk untuk melilit bagian bawahnya.
Anjani membelalakan matanya terkejut baru kali ini dia melihat pria tidak memakai baju. Dia berusaha terlihat biasa saja jangan sampai dia teriak karena akan memalukan jika orang-orang diluar mendengarkan.
"Ck"
Bara berdecak, semua perempuan sama saja batinya. Semua perempuan selalu terpaku ketika melihat tubuhnya.
Anjani berusaha menahan rasa gugupnya dan berjalan mendekati ke arah Bara untuk memberikan baju yang telah ia siap kan.
Tak peduli Bara akan suka atau tidak dia hanya menjalankan tugasnya saja.
Bara menoleh sebentar melihat Anjani yang bediri kaku dengan tumpukan baju di tangannya.
Dia mengambil baju itu dengan enggan dan memakainya tepat di depan anjani.
Anjani terus menunduk dia tak berani mengakat wajah nya.
Mata anjani melebar saat melihat ke bawah kaki Bara handuk yang tadi dipakai Bara sudah terjatuh ke bawah. Itu artinya..... Anjani menggelengkan kepalanya dan merapat kan matanya.
Kenapa juga harus berganti disini. Batinya.
"Ck sampai kapan mau seperti itu" ucap Bara mulai geram melihat Anjani yang terus menunduk.
Ucapan Bara menyadarkan Anjani, dia mengangkat wajah nya perlahan dan membuka sebelah matanya.
"Ah syukurlah..." dia bernapas lega ternyata Bara sudah berpakaian lengkap.
Setelah memakai jaket dan menyisir rambut nya asal-asalan dengan tangan nya Bara pun berjalan hendak keluar.
Anjani yang melihat itu langsung mengambil barang-barang nya dan mengikuti Bara dari belakang.