Anjani mengikuti Bara mereka berjalan menuruni tangga.
Dan terlihat dibawah ternyata keluarga mereka masih berkumpul disana.
"Loh kalian mau kemana?" Tanya nenek yang menyadari kehadiran Bara dan Anjani.
Semua orang pun menoleh melihat kearah mereka.
"Kita mau pulang malam ini, karena besok aku ada meeting pagi" ucap Bara.
Besok Bara ada meeting yang sangat penting. Dan itu tidak bisa di tinggalkan dia harus hadir.
"Tapi ini sudah malam, apa kalian tidak lelah, dan kau Bara bukan seharus nya kau libur dulu setelah menikah, masalah kerjaan bisa kau serah kan dulu kepada Robi" ucap Bimo tak habis pikir.
Sudah menikah seharusnya Bara cuti dulu, bukan malah langsung bekerja.
"Tidak bisa" ucap Bara acuh dan berlalu pergi meninggalkan semua orang.
Bara memang tidak pernah mendengarkan ucapan orang lain.
Bimo menatap anaknya dengan kesal. Bara memang susah di bilangin.
Selalu melakukan semuanya semaunya sendiri.
Anjani hanya menggeleng kan kepalanya melihat kelakuan Bara.
"Nenek, kakek Anjani pamit dulu" anjani menyalimi kakek dan nenek nya.
"Iya nak kau hati-hati ya.." nenek memeluk Anjani dengan menetes kan air mata, rumah ini pasti akan sepi tidak ada Anjani.
" iya nek... nenek jangan nangis dong Anjani pasti nanti kesini lagi" Anjani menahan tangis nya.
Anjani tidak mau menangis di depan kakek dan neneknya, nanti mereka juga ikut sedih.
Kemudian dia melepas pelukan nenek nya, dan beralih ke kakeknya.
"Bilang ke kakek kalau ada apa-apa" ucap Santos.
Anjani menganggukkan kepalanya.
"Iya jangan lupa kabari kita kalau sudah sampai" ujar Saras.
Anjani mengangguk dia pun menyalami orang tua Bara yang juga sudah menjadi orang tua nya.
"Hati-hati ya nak... yang sabar sama Bara" Bimo mengelus kepala menatu nya dengan sayang.
Sementara Rianti mamah Bara terlihat acuh saja.
Tin... tin...
Suara kelakson mobil terdengar nyaring.
"Huh anak itu" keluh kakek.
Pasti itu ulah Bara, yang tidak sabaran.
Anjani pun segera bergegas pergi. Takut Bara semakin marah nanti.
"Ck lama" ucap BBara dengan kesal setelah Anjani masuk ke dalam mobil.
Bara paling malas yang namanya menunggu.
"Maaf " ucap Anjani lirih.
Mobil pun melaju. Anjani terus melihat ke luar jendela dia pasti akan rindu dengan desa ini.
Entah kapan dia datang kesini lagi.
Kantuk pun mulai Anjani rasakan, diapun menyandarkan punggung nya dan mulai memejam kan mata.
Sementara Bara sibuk memainkan hp nya.
***
Anjani membuka matanya dia terjaga dari tidurnya. Dia melihat ke sekitar nya ternyata mobil yang dia tumpangi telah berhenti di suatu Rumah
Dia menoleh kesamping melihat Bara sudah tidak ada disamping nya.
"Nyonya sudah bangun, baru saja mau saya bangun kan. Mari turun nyonya kita sudah sampai" ucap supir yang mengantar mereka tadi.
"Bara dimana pak?" Tanya nya bingung melihat Bara yang sudah tidak ada.
"Tuan sudah masuk lebih dulu" ucap supir itu sopan.
Anjani pun mengangguk, jadi aku di tinggal kan. Batin Anjani.
Apa yang dia harap kan berharap Bara menggendong nya dan membawa nya masuk kedalam rumah seperti di novel-novel.
"Jangan kan menggendong membangunkan saja tidak" ucap Anjani.
Menyadarkan dirinya. Ingat pernikahan dia dan Bara tidak seharmonis itu.
"Ada apa nyonya" kata supir itu, saat mendengar Anjani bicara tapi tidak jelas.
"Ah tidak Pak , jangan panggil nyonya panggil Anjani saja.." pintanya dengan berjalan keluar dari mobil.
"Saya tidak enak nyonya, itu tidak sopan bagaimana pun nyonya kan istrinya Tuan Bara" ucap supir itu tidak enak.
"Ya... sudah terserah bapak saja" ujar Anjani.
"Mari saya antar kedalam"
Anjani pun berjalan mengikuti, dia melihat sekitar rumah ini sangat besar batinya.
"Mmmm pak siapa saja yang tinggal disini?" Tanya nya dengan melihat kesekitar , ternyata garasi mobil tadi langsung tembus ke ruang tamu tebak nya.
"Disini hanya tuan Bara dan nyonya sekarang" jawab Pak Toni.
"Apa, terus keluarganya Bara?" Rumah sebesar ini hanya ditinggali Bara sendiri.
Anjani kira keluarga Bara yang lain juga tinggal disini.
"Iya nyonya rumah ini memang milik tuan dan keluarganya tinggal dirumah mereka sendiri" jelas Pak Toni.
Anjani mengangguk sebagai tangapan, dia terus melihat sekeliling rumah ini sungguh mewah batinnya, tapi terasa sangat sepi. Apa Bara tidak kesepian tinggal di rumah sebesar ini sendirian. Batin Anjani.
"Silahkan masuk nyonya ini kamar nya, saya permisi dulu"
Karena terlalu asik mengamati rumah ini Anjani jadi tidak sadar, kalau sudah sampai dikamar nya.
"Terimakasih Pak....." ucap nya dengan tersenyum.
Pak Toni pun mengangguk dan berlalu pergi.
Anjani membuka pintu kamar barunya. Dia berdecak kagum melihat kamar ini.
Kasur king size di d******i dengan warna silver dan hitam. Ada sofa pajang di dekat jendela. Dia berjalan lebih masuk lagi , ada diding kaca yang menyekat antara kamar dan tempat nonton tv bahkan ada kulkas di dalam kamar ini.
Kamar ini bahkan lebih besar dari rumah nya yang dulu dia tempati bersama orang tua nya.
"Apa salah kamar ya..." batinya.
Apa mungkin kamar sebesar ini untuk Anjani. Apa semua kamar di rumah ini sebesar ini. Batin Anjani bingung.
Dia menggaruk kepalanya bingung dan terus menoleh ke kiri kanan. Matanya tertuju kepada satu benda. Itu tas nya yang ada di sebelah meja dekat kasur.
Jadi emang dia nggak salah kamar buktinya tas nya ada disini.
Anjani pun berjalan menuju tas nya. Dia duduk di pinggir ranjang dengan membuka isi nya Untuk mengambil baju ganti.
"Kamar mandinya dimana ya.....ASTAGA..." anjani sangat kaget ketika membalikan badan Bara sudah berdiri di belakang nya.
"Maaf " lirih nya dengan membalikan badan lagi memasukan bajunya ke tas lagi. Ternyata benar dia salah kamar.
Ini kamar Bara ternyata. Wajar kalau besar begini.
"Mau kemana?" suara tegas itu menghenti kan langkah Anjani yang hendak keluar kamar.
"Mau mencari kamar ku, sepertinya supir mu salah mengantar kan ku tadi" jawab Anjani dengan menunduk tanpa berani menatap Bara.
Bara mengerutkan kening nya.
"Mana ada suami istri tidur berpisah" ujar Bara degan naik keatas ranjang dan berbaring membelakangi Anjani.
"A... apa" Anjani pun mengangkat wajah nya tak percaya. Dia kira Bara tidak mau sekamar dengannya.
Tapi ya... memang seharusnya begitu. Anjani tak mau ambil pusing dia pun bergegas ke kamar mandi untuk ganti baju.
Setelah itu dia naik ke ranjang untuk tidur. Tapi matanya tidak juga terpejam sedari tadi dia hanya menatap langit-langit kamar. Dia tidak berani bergerak sedikit pun sudah seperti robot rasanya sangat gugup dia belum pernah tidur dengan seorang pria. Rasanya mau menoleh saja takut. Padahal Bara mungkin sudah tidur.