Part 1
Arumi tersenyum bahagia ketika menggunting pita pembukaan untuk cabang butiknya yang kedua, pencapaian yang selama ini selalu ia inginkan, hal yang awalnya hanya sebuah hobi kini menjadi sebuah pekerjaan impian setiap orang, menjadi designer tidaklah mudah baginya bahkan dengan pencapaiannya sekarang tak luput dari semangat dari sang ayah yang selalu mendukung impiannya itu.
“Terima kasih untuk hari ini, untuk semua rekan kerja yang turut hadir, untuk semua klien saya dari berbagai daerah yang menyempatkan diri untuk hadir dan saya mengucapkan syukur yang sangat mendalam dan rasa terima kasih saya untuk Papa, yang sudah mendukung saya hingga sampai saat ini, semua pencapaian ini tidaklah luput dari beliau, tepuk tangan untuk Andra Widjaya” ucap Arumi tersenyum bahagia melihat sang ayah.
“Dan juga semua pencapaian ini saya hadiahkan untuk almarhum ibu saya, yang sudah tenang si syurga, rasa terima kasih saya juga untuk kakak dan adik saya yang begitu saya sayangi dan juga menyayangi saya, terima kasih” ucap Arumi melihat kakak dan adiknya yang tersenyum bahagia melihatnya. Arumi sangat bersyukur hari itu kepada keluarganya, sahabat-sahabat terbaiknya, dan juga berterima kasih untuk dirinya sendiri yang selalu kuat menjalani semuanya.
Meski keadaan Arumi saat ini begitu sempurna, namun soal cinta ia tak pernah begitu peduli, rasa trauma akan masalalunya selalu menghantuinya untuk memulai kisah yang baru, 4 tahun yang lalu ia mengakhiri hubungannya dengan kekasihnya yang sudah ia jalani selama 6 tahun, hubungan itu pun berakhir dengan sebuah pengkhianatan dan juga kekerasan, hal yang selama itu tak pernah Arumi bayangkan akan menjadi sebuah kesakitan dan trauma yang mendalam untuk dirinya.
Arumi berjalan menuju apartmen Rizky untuk memberikan surprise untuk aniversary mereka yang ke 6 tahun, setelah kembali dari Singapura untuk acara fashion show brand miliknya selama 6 bulan, ia pun kembali tanpa memberitahukan Rizky demi memberinya kejutan. Dengan sebuah kado yang dibelinya langsung dari Singapura dan sebua cake mini yang ia beli saat dalam perjalanan menuju apartmen Rizky.
Arumi membuka pintu saat sampai didepan apartmen, kata sandi yang sudah ia ketahui pun membuatnya mudah untuk masuk, namun ruangan itu pun begitu gelap tanpa cahaya sedikitpun, Arumi mencoba menggapai saklar lampu dimana hal yang seharusnya tak ia lihat malah terlihat jelas olehnya, ia melihat baju yang berserakan di lantai menuju ke kamar, dengan rasa penasaran pun ia melihat dan jantungnya berdebar dengan begitu cepat saat melihat Rizky sedang tidur bersama seorang wanita.
Arumi terdiam beberapa saat, matanya begitu panas, ia masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, cake yang sedang ia pegang dan kado itu pun jatuh begitu saja di lantai. Rizky yang merasa kehadiran seseorang pun kaget dan berlari mengejar Arumi saat ia sadar sebuah kue dan kado terjatuh begitu saja di depan kamarnya.
“Arumiiii tungguuuuuuu” ucap Rizky mengejar Arumi yang berlari sekuat tenaganya. Arumi pun tak peduli dengan panggilan itu, ia terus berlari menjauh, hatinya begitu hancur melihat pria yang selama ini begitu ia cintai dan selalu ia banggakan dihadapan keluarganya, pria yang membuat dirinya semangat menggapai semua impiannya, kini telah menghancurkan semua mimpi itu.
“Arumi tunggu, aku mohon, plissss dengerin aku, Arumi” ucap Rizky yang mendapatkan tangan Arumi saat sampai di lobi, Arumi yang mencoba melepaskan genggaman tangan Rizky pun berteriak kesakitan, namun ia sadar berada di parkiran mobil yang tidak banyak orang lewat.
“Lepasiiiiinnnnnnn, sakittttttt Kyyyyyy” ucap Arumi.
“Iya aku lepasin , tapi tolong jangan pergi, aku mohon” ucap Rizky, Arumi pun menangis, pelan-pelan Rizky melepaskan tangannya yang sudah memerah akibat genggaman Rizky yang terlalu kuat.
“Aku minta maaf Mi, aku salah, aku bodoh, aku….aku minta maaf.. tolong jangan pergi” ucap Rizky memohon, kesempatan itu pun dimanfaatkan Arumi untuk masuk ke dalam mobilnya, namun baru ingin masuk Rizky langsung mencegahnya, tangan Arumi pun terjepit di pintu mobil tersebut.
“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaakkkkkkkkkkk sakittttttttttttttttttt” teriak Arumi.
“SUDAH GUE BILANG JANGAN PERGI, TOLONG JANGAN PERGIIIIIIII, NGERTIIII GAKKKKK!!!!!!!” bentar Rizky dengan kasar, Arumi pun terdiam dan kaget melihat Rizky seperti itu, hal yang tidak pernah dilakukan oleh Rizky, hal yang selama ini selalu ia takuti akan kekerasan, hal yang selalu ia percaya bahwa Rizky adalah pria yang lebut dan begitu baik padanya, saat ini menjadi pria asing yang begitu tidak ia kenali.
Air mata Arumi menetes begitu saja seperti darah yang mengalir dari tangannya yang terluka akibat jepitan yang begitu keras di pintu mobilnya.
“Tolong lepasin aku” ucap Arumi menangis.
“Sayang maafin aku, maaf aku khilaf, pliss maafin aku” ucap Rizky memegang tangan Arumi yang berdarah.
Bukkkkkkkkkkkkkk.
“Brengsekkkkkkkkkk, lo apain adek gue haaaaa, b******n loooo!!!!1” ucap Danu menghajar Rizky sampai babak belur, ia tidak terima pria itu menyakiti hatinya.
“Elu nyakitin adek gue sama aja elu nyakitin hati gueee” ucap Danu dengan nada emosi.
“Kak udah, cukup kak, plissssss, tolong bawa aku dari sini, aku mohon” ucap Arumi memeluk Danu kakak kandungnya dari belakang.
“Awasss lu ya, ga akan pernah gue lepasin” ucap Danu, Rizky hanya diam merasakan sakit diwajahnya yang berdarah.
Danu pun membuka kan pintu mobil untuk Arumi, ia pun menyuruh temannya untuk membawa mobil miliknya dan ia pergi menggunakan mobil milik Arumi, ia sudah wanti-wanti dengan kejadian ini sejak beberapa minggu lalu melihat Rizky bersama seorang wanita dan Arumi yang meminta antarkan mobil ke bandara pun membuatnya berfikir untuk mengikuti sang adik dengan temannya dan benar saja , hal yang ia takutkan terjadi.
“Turun” ucap Danu.
“Kita ngapain ke rumah sakit?” tanya Arumi, ia masih bingung dengan kejadian yang begitu saja terlewati.
“Kamu ga lihat tangan kamu seperti itu, kamu mau sekolah design kamu selama ini sia-sia begitu saja karena kamu ga bisa lagi menjahit dan bikin baju untuk orang-orang” ucap Danu masih dalam keadaan marah, ia sedih melihat adiknya disakiti begitu saja oleh seorang pria yang ia fikir begitu baik dan begitu menjaga adiknya.
Arumi pun menurut pada Danu, ia tak ingin melihat kemarahan sang kakak semakin menjadi, ia pun turun dan mobil sembari memegangi tangan kirinya yang terluka akibat jepitan dari pintu mobil dan tangan kanannya yang memar akibat genggaman Rizky yang begitu kuat.
Danu menemani Arumi saat diobati dengan dokter, ia melihat aadiknya begitu kesakitan akibat luka itu, ia pun berjanji akan membalaskan dendamnya pada Rizky. Hatinya begitu sakit melihat Arumi yang tak pernah mendapatkan kekerasan dari rumah tapi malah mendapatkan kekerasan dari orang yang begitu ia percaya.
“Lukanya tidak terlalu parah, tulangnya juga tidak ada yang patah, saya berikan resep dan rutin di minum yah agar lukanya cepat mengering dan memarnya juga segera membaik” ucap dokter tersebut.
“Terima kasih dok” ucap Arumi.
“Sini biar kakak aja yang nebus” ucap Danu mengambil resep itu dari tangan Arumi, ia merangkul bahu Arumi saat berjalan, mencoba menenangkan adiknya yang masih syok.
“Makasih kak” ucap Arumi.
“Kamu seharusnya dengerin omongan kakak” ucap Danu, ia sudah berkali-kali memperingatkan Arumi selama 6 bulan ia pergi, selama itu pula Danu selalu memantau Rizky, namun adiknya selalu bersikeras mengatakan bahwa Rizky pria yang baik.
“Maaf” ucap Arumi pelan.
“Jangan halangi kakak untuk proses semuanya, kamu tahukan papa akan melakukan hal yang bahkan lebih kejam dari yang kakak lakukan ke dia” ucap Danu, Arumi hanya diam.
“Kamu masih mau dengan pria seperti itu, yang sudah jelas hianatin kamu, bahkan tega berbuat kasar seperti itu ke kamu” ucap Danu, Arumi menunduk dan menggelengkan kepalanya, ia benar-benar syok dengan kejadian itu, rasa cinta yang selama ini selalu ada dihatinya kini memudar begitu saja.
“Sakit hati kakak lihat adek yang selama ini kakak jaga disakitin gitu aja sama pria b******k itu” ucap Danu.
“Sudah cukup kak, jangan lagi sebut nama itu, plissss” ucap Arumi, hatinya begitu hancur untuk saat itu.
“Maaf de” ucap Danu.
“Arumi tahu kakak sayang sama Arumi, tapi tolong untuk saat ini jangan sebut nama itu lagi, Arumi takut” ucap Arumi terisak. Danu mengusap lembut kepala Arumi, ia tahu apa yang dirasakan Arumi jauh lebih menyakitkan.
“Kamu langsung istirahat ya, naik ke kamar” ucap Danu, Arumi pun masuk ke dalam rumahnya, terihat adik dan ayahnya yang duduk diruang tv sedang menunggu dirinya.
“Kakkk Umiiiiii” ucap Ziva berlari kearah Arumi saat melihat kakaknya datang, namun Danu memberi isyarat kepada Ziva untuk diam dan tak menyentuh Arumi, Ziva pun akhirnya sadar saat melihat wajah Arumi memerah dan tangan yang diperban.
“Kak Umi kenapa?” tanya Ziva.
“De kamu ke kamar aja ya” ucap Danu, Arumi pun mengangguk dan langsung berjalan dengan cepat menuju kamarnya.
“Ada apa Dan?” tanya Andra saat melihat Arumi pergi begitu saja, Danu pun bingung ingin menjelaskan dari mana, ia tahu watak sang ayah jika sudah membenci seseorang seperti apa.
Danu pun menjelaskan semuanya dengan pelan, ia pun tak ingin membuat sang ayah begitu marah, karena ia tahu itu akan berdampak buruk untuk kesehatan Andra. Namun seperti yang ditakutkan Danu, sang ayah pun begitu marah dengan apa yang ia ketahui.
Arumi masuk ke dalam kamarnya dan mengunci pintu kamar itu dengan rapat, ia merebahkan tubuhnya diatas kasur miliknya, air matanya pun menetes kembali, rasa sakit yang coba ia hilangkan ternyata tidaklah mudah, ia mengingat kembali semua kenangan-kenangan manis bersama Rizky, perkanalan mereka yang begitu manis, bahkan hubungan selama 6 tahun yang mereka jalani begitu baik dan indah, namun berakhir dengan begitu menyakitkan.
“Arumiii” Arumi menoleh saat mendengar seseorang memanggilnya, terlihat Gea sedang berjalan kearahnya, sahabat baiknya sejak SMP yang kini sudah menikah dan memiliki 1 orang anak perempuan yang begitu cantik.
“Aaaaa Gea, dateng juga, katanya sibuk ngurusin Febi” ucap Arumi.
“Febinya mana?” tanya Arumi yang tidak melihat Febi anak Gea.
“Febi aku titipin sama suster, lagian malem-malem bawa anak kecil ke acara seperti ini ga enak juga, aku takut kecium asap rokok entar, maklumlah aku banyak belajar dari internet” ucap Gea.
“Dasar, suami kamu mana?” tanya Arumi.
“Tuhh lagi ngobrol sama kak Danu” ucap Gea.
“Selamat yahhh untuk butik kedua kamu, sukses terus yahhh, seneng banget aku lihat kamu sekarang” ucap Gea.
“Makasih banyak yahhhh, berkat doa-doa orang tersayang” ucap Arumi.
“Duduk yuk disana” ucap Arumi.
“Kak Danu gimana? Masih posesif aja sama kamu?” tanya Gea sembari menikmati makanannya, Arumi pun tertawa mendengar hal itu.
“Engga lah kaya anak kecil aja aku, udah biasa aja kok, bulan depan dia mau menikah” ucap Arumi.
“Serius? Sama siapa?” tanya Gea kaget, yang ia tahu bahwa selama ini Danu tidak pernah menunjukkan bahwa ia mempunyai seorang kekasih atau sekedar jalan dengan seorang wanita, bahkan ia sempat mengira bahwa Danu menyukai seorang pria.
“Dijodohkan sama papa” ucap Arumi.
“Terus dia mau?” tanya Gea.
“Yahh begitulah, mereka sudah bertemu beberapa kali, kak Danu bilang dia cocok dengan wanita itu, yasudah papa merestui dan mereka akan menikah” ucap Arumi.
“Semudah itu?” tanya Gea, Arumi pun mengangguk.
“Jarang-jarang ada orang mau menikah hasil perjodohan orangtua” ucap Gea.
“Yah kalo cocok kan ga salah Geee” ucap Arumi.
“Iya sih, terus kamu kalo nanti dijodohin sama papa kamu, mau ga?” tanya Gea.
“Entahlah, aku belum kepikiran soal itu” ucap Arumi, Gea pun sedih setiap kali mendengar hal itu dari Arumi.
“Miiii, mau sampe kapan sih kamu seperti ini?” ucap Gea.
“Sampe bener-bener ada yang bisa sembuhin trauma aku” ucap Arumi tersenyum, ia sadar bahwa hal itu tidak akan mungkin, karena kenangan pahit itu akan selalu teringat di ingatannya.
“Coba ke psikiater deh, mungkin aja bisa sembuh” ucap Gea.
“Udah aku coba Ge, dokter bilang setiap kenangan itu ada tempatnya masing-masing, sekarang tergantung kita mau maafin aku biarin” ucap Arumi.
“Kamu belum bisa maafin?” tanya Gea.
“Aku sudah memaafkan Ge, namun aku ga bisa melupakan itu begitu saja” ucap Arumi.
“Yah aku tau, sulit” ucap Gea.
“Sudahlah, tak perlu mencemaskan aku, aku bahagia menjadi diriku saat ini” ucap Arumi tersenyum.
“Janji ya jangan sedih terus karena hal itu, jangan jadikan itu patokan buat kamu ga mau kenal pria lagi” ucap Gea.
“Aku janji” ucap Arumi, Gea pun tersenyum, ia berdoa semoga apa yang dikatakan Arumi benar.
“Kak, dipanggil kak Danu tuh” ucap Ziva, Arumi pun menoleh kearah yang disebutkan Ziva.
“Okey, kamu temenin kak Gea yah, dia lagi mencari asupan” ucap Arumi.
“Dasarrrr” ucap Gea.
“Ada apa?” tanya Arumi menghampiri Danu.
“Nihhh, buat kamu” ucap danu memberikan sebuah kotak kecil pada Arumi, ia selalu berusaha untuk membahagiakan sang adik, jika tak ada pria yang mampu membahagiakannya maka ia yang akan membahagiakan adik-adiknya.
“Apa nihhhhh” ucap Arumi, ia pun membuka kotak kecil itu dan melihat sebuah kalung emas berbentuk hati dan terukir kecil namanya.
“Cantiknyaaaa, makasihhhh banyakkkk, aku suka” ucap Arumi, Danu pun tersenyum bahagia melihat senyuman itu yang selalu terukir di wajah Arumi.
“Kakak seneng kalo kamu suka” ucap Danu.
“Pakein dong” ucap Arumi, Danu pun tersenyum dan mengenakan kalung itu pada adiknya.
“Gimana bagus gak?” tanya Arumi.
“Bagus dong” ucap Danu, Arumi pun tersenyum senang.
“Gimana kabar kak Sasya?” tanya Arumi.
“Dia baik kok, kemarin udah aku undang buat dateng ke acara kamu, tapi dia belum bisa balik” ucap Danu.
“Yaudah deh ga apa-apa” ucap Arumi.
***
“Mana Rizky?” tanya Irfan pada satpam dirumahnya saat tiba di rumah Rizky.
“Ada di dalem pak, baru aja pulang” ucap satpam tersebut.
“Rizkyyyyyy!!!!!!” panggil Irfan keras, ia sudah muak dengan tingkah laku Rizky selama beberapa tahun ini. Irfan melihat Rizky tergeletak di lantai ia sudah menduga bahwa pria itu pun mabuk lagi.
“Dasar brengsekkk, kerjaan di kantor ga ada yang beres, rapat ga pernah hadir, kerjaan malah mabok-mabokan ga jelas, kalo aja bukan elu yang punya perusahaan dah gue pecat dari dulu” ucap Irfan, ia pusing dengan keadaan Rizky yang semakin hari semakin ga bener.
“Hehhhh, bangunnnn” ucap Irfan menendang pelan kaki Rizky.
“Arumiiiiiii” ucap Rizky pelan.
“Malah ngigau, makan tuh Arumi, cewek baik-baik disia-sia cuma gara-gara perempuan ga bener, sukur loh” ucap Irfan berjalan ke arah dapur, ia pun mengambil segelas air dan kembali kearah Rizky, belum sempat ia menyiramkan air itu, pria itu pun sudah bangun dari tidurnya.
“Fan, sejak kapan lo dateng?” tanya Rizky.
“Ga peduli kapan gue dateng, cepat bangun, mandi, kita ada rapat pagi ini, kalo lo ga dateng habis perusahaan lo bakalan bangkrut” ucap Irfan mengancam, selama ini selalu dia yang menghandle perusahaan itu, namun ia juga tidak bisa terus-terusan melihat Rizky seperti orang yang tidak punya tanggung jawab.
“Berisik amat lo, udah kaya emak-emak kompleks” ucap Rizky bangkit dari tempatnya, ia pun berjalan menuju kamarnya. Irfan hanya menghela nafas, jika saja bukan karena balas budi ia sudah lama meninggalkan Rizky dengan sikapnya yang tempramental.
“Pulang jam berapa lo tadi malem? Sampe tidur di lantai, teler lo?” tanya Irfan setelah mereka berada di mobil dalam perjalanan ke kantor.
“Berisik lo” ucap Rizky malas menanggapi perkataan Irfan.
“Lo masih belum move on?” tanya Irfan.
“Gausah ikut campur” ucap Rizky cuek.
“Lo masih ngigau manggil-manggil nama Arumi, udah 4 tahun lo masih aja kaya gini, liat noh mantan elu udah sukses banget karirnya, nah elu malah mabok-mabokan terus, ga salah sih kalo elu ditinggalin sama Arumi” ucap Irfan emosi, Rizky pun emosi kalau saja bukan karena Irfan yang bisa di handalkan di perusahaannya sudah dia pecat dari dulu.
Ia pun mengingat ucapan Irfan yang menyebutnya mengigau dan memanggil nama Arumi, ia menghela nafas pelan, seketika matanya tertuju ke arah baliho saat berhenti di lampu merah, melihat foto Arumi terpajang di baliho tersebut untuk sebuah designer atas brand nya sendiri. Irfan pun tersenyum kecut melihat Rizky yang menatap baliho tersebut, jelas saja Rizky masih belum bisa melupakan Arumi.
“Ga usah diliatin terus” ucap Irfan, Rizky pun kaget, ia langsung menatap ke arah lain.
“Siapa juga yang ngeliatin” ucap Rizky.
“Udah deh Ky, sampe kapan sih elu hidup dalam bayang-bayang Arumi, lu ngerasa bersalah sama dia makanya sampe sekarang lu kaya gini, iya kan?” ucap Irfan.
“Banyak hal yang ga bisa gue lupakan gitu aja” ucap Rizky.
“Ya kalo ga bisa elu lupakan gitu aja, elu berubah, jangan malah makin ngancurin hidup elu, inget karir lu dulu hampir hancur gara-gara papa Arumi yang marah banget sama elu yang udah nyakitin anaknya, inget lu kan berapa bulan dipenjara, kalo bukan karena gue sampe sekarang masih mojok lu dipenjara” ucap Irfan, Rizky pun hanya diam membenarkan ucapan Irfan.
“Gue udah coba keluar dari dunia gue yang seperti itu, sulit Fan, semua juga gara-gara perempuan jalang itu” ucap Rizky mengngingat kembali wanita yang sudah menjerumuskannya ke dunia yang begitu gelap. Irfan pun menghela nafas kasar.
“Iman lu aja yang lemah, ama perempuan begitu aja selera, gua mah ogah, yang seharusnya elu salahin itu diri lu sendiri, bukan perempuan itu, mau 1000 perempuan ngegoda elu kalo fikiran elu masih tetep ke Arumi ya ga bakalan luntur tuh iman” ucap Irfan.
“Yah emang ini semua salah gue” ucap Rizky.
“Coba lah elu berubah, mungkin aja kan setelah lu berubah jadi lebih baik Arumi masih mau ama elu” ucap Irfan, Rizky pun tertawa.
“Ga bakalan itu terjadi, papa dan kakaknya ga akan tinggal diem kalo gue coba deketin Arumi lagi, gue juga ga mau berusaha buat ambil hati Arumi lagi, gue udah cukup nyakitin dia, ngasarin dia, bahkan ngancurin hatinya yang selama 6 tahun dia jaga buat gue, gue takut yang ada malah akan nyakitin dia” ucap Rizky.
“Bagus deh kalo lu sadar ama perbuatan elu” ucap Irfan.
Rizky pun diam, ia sadar akan semua kesalahan yang sudah ia lakukan pada Arumi, apa yang dilakukannya sekarang adalah sebagai bentuk penyesalan atas apa yang sudah ia lakukan, jika ia tidak melakukan apa yang dibenci Irfan saat ini justru akan semakin sulit untuk dirinya sendiri, ia hanya akan selalu mengingat Arumi dan menangis karena semua kesalahan dan penyesalannya.