“Selamat pagii” ucap Arumi kepada karyawannya saat ia berjalan masuk ke dalam butiknya.
“Selamat pagi Bu Arumi” Arumi pun tersenyum dan masuk ke dalam ruang kerjanya.
Arumi pun memasuki ruang kerjanya, ia menghela nafas menatap keluar gedung bertingkat itu, ia bersyukur untuk harini ini, hari dimana ia begitu merasa bahwa hidupnya begitu sempurna.
“Bu ini laporan minggu ini, kita ada undangan untuk fashion show yang diadakan 2 bulan lagi dan brand kita masuk dalam undangan, ini klien hari ini yang akan datang pukul 2 siang untuk fitting gaun pengantin dan keluarga, lalu pukul 4 sore ada klien juga akan datang sama seperti klien pertama, fitting gaun pengantin dan juga keluarga” ucap Tasya sekretaris Arumi menyerahkan semua laporan pada Arumi.
“Saya akan periksa, kamu boleh keluar” ucap Arumi.
“Baik bu, permisi” ucap Tasya, Arumi pun tersenyum.
Arumi mengecek semua laporan yang diberikan oleh Tasya dengan seksama, ia selalu berusaha bekerja dengan begitu baik, ditambah semua pekerjaannya dan usahanya saat ini adalah sebagai bentuk rasa suka yang mendalam terhadap fashion. Semua yang ia dapatkan ini tak lebih sebagai bentuk apa yang selama ini diimpikan oleh sang ibu juga yang begitu menyukai dunia fashion, namu karena keterbatasan sang ibu yang mempunyai penyakit semua impian itu harus sirna dan Arumi lah yang selalu berusaha untuk mewujudkan semua impian sang ibu yang telah lama meninggalkan mereka.
“Sya, ini laporan sudah saya cek, saya setujui semua, saya mau keluar sebentar, ada urusan yang harus saya selesaikan, kamu telfon saya ya sebelum pukul 2 siang” ucap Arumi.
“Baik bu” ucap Tasya, Arumi pun tersenyum dan pergi meninggalkan butiknya.
“Ini rapat terakhir kita sama klien, dan mulai rapat lagi untuk lusa, ini datanya udah gue rangkum jadi satu” ucap Ifran menyerahkan dokumen kepada Rizky.
“Oke thanks, kamu bisa keluar” ucap Rizky, Irfan menghela nafas melihat sikap Rizky yang tak pernah berubah.
“Oh ya, entar jam 2 siang aku mau izin nemenin Bella mau fitting gaun nikah, lu inget kan bulan depan gue mau nikah” ucap Irfan, Rizky hanya menghela nafas sejenak, ia sendiri lupa bahwa Irfan akan menikah.
“Maaf gue lupa” ucap Rizky.
“Tega banget lu ya” ucap Irfan.
“Sebulan lagi juga, lu juga bisa ingetin gue tiap hari sampe hari H, lu tau kan gue sibuk” ucap Irfan.
“Yahh, lu emang sibuk ama cewek-cewek di bar” ucap Irfan, ia pun pergi meninggalkan Rizky.
Rizky hanya menghela nafas sejenak, ia pun bingung dengan hidupnya saat ini, ia sudah tak punya lagi tujuan yang pasti, tak ada yang istimewa dari semua wanita-wanita yang selama ini ia kenal, tidak ada yang seperti Arumi.
“Halo, iya sayang” ucap Irfan saat menerima telfon dari Bella.
“Aku udah di depan kantor kamu nih, kamu udah izin kan ke Rizky?” ucap Bella.
“Aku udah izin kok, sebentar lagi aku keluar, kamu tunggu aja ya” ucap Irfan membereskan semua berkas diatas mejanya.
“Cepetan ya” ucap Bella.
“Iyaaa” ucap Irfan, ia pun segera keluar setelah selesai membereskan mejanya. Irfan berjalan menuju lift, namun ia melihat Rizky yang sudah berdiri di dalam lift.
“Lu ga masuk?” ucap Rizky, Irfan pun langsung masuk saat pintu lift akan tertutup.
“Lu mau kemana?” tanya Irfan.
“Mau keliling sebentar, udah lama ga lihat karyawan gue” ucap Rizky.
“Lu mau pergi?” tanya Rizky.
“Iya, Bella udah nunggu di depan” ucap Irfan.
“Okey” ucap Rizky.
“Lama ya?” ucap Irfan saat melihat wajah Bella yang sedikit cemberut.
“Banget” ucap Bella.
“Maaf dehh, tadi banyak banget yang harus aku jelasin ke Rizky” ucap Irfan, mereka pun pergi meninggalkan tempat itu.
“Kamu pesen gaun dimana?” tanya Irfan
“Padahal aku udah pernah loh bilang ke kamu, kamu pasti lupa” ucap Bella.
“Masa? Aku lupa” ucap Irfan.
“Hmm, aku pesen di Arumi Butik” ucap Bella, Irfan pun kaget, ia tahu butik itu milik Arumi mantan Rizky.
“Seriusan? Aku baru aja tau” ucap Irfan.
“Tuh kan kamu, aku tuh udah pernah ngomong ke kamu minta pendapat soal butik itu, tapi kamu selalu bilang terserah aku yang penting aku suka, terus sekarang kamu kaget, gimana sih” ucap Bella kesal.
“Memangnya ga ada butik yang lain ya?” tanya Irfan.
“Kata temen-temen aku di butik itu semuanya bagus-bagus banget, aku juga sempet liat di i********: milik butik itu juga bagus kok modelnya, rattingnya juga bagus, bahkan mereka akan adain fashion show 2 bulan lagi untuk brand mereka sendiri” ucap Bella menjelaskan, Irfan hanya menahan nafasnya sejenak, ia pun pasrah jika nanti harus bertemu dengan Arumi.
“Memangnya ada apa dengan butik itu?” tanya Bella penasaran.
Irfan pun diam sejenak, ia memang tak pernah menceritakan tentang hubungan Arumi dan Rizky, karena ia sendiri pun tak terlalu mencampuri hubungan mereka dulu, ia juga mengenal Bella setelah Arumi dan Rizky berpisah.
“Ga ada apa-apa kok, tempatnya kan lumayan jauh dari kantor, makanya aku tanya kenapa ga cari butik yang lebih deket aja” ucap Irfan.
“Ga jauh-jauh banget kok, masih di Jakarta juga” ucap Bella, Irfan hanya menghela nafas sejenak.
“Nah itu tempatnya” ucap Bella menunjukkan tempatnya, Irfan hanya mengangguk dan memarkirkan mobilnya, ia melihat tempat itu yang begitu elegant, menunjukkan pemiliknya begitu berkelas dan modern.
“Yuk” ucap Bella menarik tangan Irfan.
“Selamat datang di Arumi Butik, ada yang bisa saya bantu?” ucap Tasya.
“Permisi Mbak, saya Bella, yang kemarin udah janji mau fitting jam 2 siang” ucap Bella kepada Tasya.
“Sebentar ya saya cek datanya dulu” ucap Tasya.
“Bella Santoso, pemesanan tanggal 13 September, untuk gaun pengantin dan juga keluarga, benar?” ucap Tasya.
“Iya benar itu saya” ucap Bella, Tasya pun tersenyum.
“Baik mari ikut saya” ucap Tasya, ia membawa mereka ke ruangan fitting khusus untuk gaun pengantin.
“Silahkan duduk sebentar” ucap Tasya, ia pun pergi meninggalkan mereka untuk menyiapkan semua pesanan milik Bella sekaligus memanggil Arumi. Tak lama kemudian Arumi berjalan menuju ruangan itu, Irfan melihat dari kejauhan Arumi berjalan begitu anggun, wanita itu semakin cantik dari yang terakhir kali ia lihat 4 tahun lalu.
“Selamat siang dengan Mbak Bella?” ucap Arumi menyapa mereka, namun wajahnya seketika berubah setelah melihat Irfan, ia masih mengingat wajah orang-orang dari masalalunya, ia mencoba untuk bersikap seperti biasa.
“Iya saya Bella, ini calon suami saya” ucap Bella mengenalkan Irfan, Arumi pun mencoba tersenyum.
“Saya Arumi” ucap Arumi.
“Saya Irfan” ucap Irfan mengulurkan tangannya, Arumi pun membalasnya.
“Mbak Bella silahkan dilihat, ini semua pesanan Mbak Bella 2 bulan yang lalu, silahkan di cek kembali, dan ini untuk gaun pernikahannya silahkan di coba” ucap Arumi, Bella pun sibuk mencoba gaun pernikahan yang ia pesan bersama Irfan.
“Aku ga nyangka sebagus ini dari yang di foto, seneng banget rasanya” ucap Bella menatap dirinya di cermin dengan gaun pernikahan yang dikenakannya.
Tasya mengajak Bella untuk menyelesaikan pesanannya dihari itu juga karena Bella telah menyetujui semuanya, Irfan yang masih duduk menunggu Bella menyelesaikan semua datanya pun melihat Arumi yang masih membereskan sendirian, Irfan berjalan menghampiri Arumi.
“Ehemmmm” ucap Irfan, Arumi menyadari kehadiran pria itu.
“Gimana kabar kamu?” tanya Irfan, Arumi menghela nafas sejenak.
“Aku baik kok” ucap Arumi tersenyum canggung.
“Baguslah, aku kaget saat tau Bella pesan di butik kamu” ucap Irfan, Arumi hanya tersenyum.
“Oh ya, selamat ya atas pembukaan cabang butik kamu, aku sempet lihat di baliho” ucap Irfan.
“Makasih ya” ucap Arumi.
“Sama-sama, aku permisi dulu ya” ucap Irfan.
“Okey” ucap Arumi tersenyum, ia pun melihat mereka berdua pergi meninggalkan butiknya, ia menghela nafas, ia tak menyangka bisa bertemu dengan Irfan setelah 4 tahun ia benar-benar menjauh dari semua orang yang berhubungan dengan masalalunya.
“Aku lihat kamu sempet ngobrol sama Arumi, ngomongin apa? Kayanya kalian udah saling kenal” tanya Bella, Irfan pun bingung harus mulai dari mana untuk menceritakan hal itu.
“Ohh itu, sebenernya aku udah lama kenal Arumi, dia mantannya Rizky” ucap Irfan.
“Serius?” ucap Bella kaget.
“Kok kamu ga pernah cerita ke aku?” tanya Bella.
“Mereka udah putus 4 tahun yang lalu, untuk apa kita cerita ke kamu, aku juga ga mau ikut campur masalah mereka” ucap Irfan, Bella pun mengerti saat ia sadar menjalain hubungan dengan Irfan baru 2 tahun yang lalu.
“Kalau boleh tahu, mereka putus karena apa?” tanya Bella.
“Kenapa kamu ingin tahu, itu bukan masalah kamu Bel” ucap Irfan.
“Ya pengen tahu aja, heran aja sih, Arumi tuh cantik banget menurut aku, anggun, ngomongnya juga lembut banget, sukses lagi, ga mungkin kan mereka putus gitu aja” ucap Bella.
“Yang pasti semua itu salah Rizky, dia ga pernah bersyukur memiliki wanita seperti Arumi” ucap Irfan.
“Hmm sudah aku duga sih, Rizky juga kelakuannya ga baik” ucap Bella, Irfan hanya diam.
“Kamu hati-hati ya, telfon aku kalo udah sampe rumah” ucap Irfan begitu tiba di kantor.
“Iya, aku balik ya, daahhhh” ucap Bella, Irfan masuk setelah Bella pergi.
Tok…tok…tok…
“Masuk” ucap Rizky.
“Lu mau balik jam berapa?” tanya Irfan, ia melihat jam tangannya menunjukkan pukul 4 sore.
“Bentar lagi, gimana urusan lo tadi? Udah beres?” tanya Rizky.
“Ohh itu, udah kok” ucap Irfan, ia berfikir apakah ia harus mengatakan pada Rizky kalau dia bertemu dengan Arumi.
“Fan, entar lu pulang sendiri aja ya, aku mau pake mobil, ada urusan” ucap Rizky, Irfan pun mengurungkan niatnya untuk mengatakan hal itu.
“Ohh baiklah” ucap Irfan, Rizky menutup dokument dan menyerahkan pada Irfan, Irfan pun pergi meninggalkannya.
“Sya aku mau pulang, nanti laporannya kamu email aja ya, aku ada urusan soalnya” ucap Arumi kepada Tasya.
“Baik Bu, oh ya ini ada titipan dari Pak Irfan” ucap Tasya menyerahkan amplop putih kepada Arumi, Arumi pun menerima dengan bingung.
“Baiklah, terima kasih” ucap Arumi tersenyum, ia pun pergi meninggalkan butiknya.
Arumi masuk ke dalam mobilnya dan membuka amplop putih yang diberikan oleh Tasya, ia melihat sebuah undangan pernikahan yang belum bertuliskan nama, ia yakin Irfan memberikan undangan itu saat baru selesai dicetak, Arumi pun bingung apakah ia harus hadir atau tidak, ia pun yakin bahwa Rizky pasti akan datang, ia tak ingin bertemu dengan pria itu dan membuat dirinya tidak nyaman, meskipun kisah mereka telah berakhir 4 tahun yang lalu, namun rasa trauma dalam dirinya tak bisa ia hilangkan begitu saja.
Arumi meletakkan undangan itu di laci begitu saja, ia pun tak ingin pusing memikirkan hal itu, ia pun menjalankan mobilnya dengan tenang dan membuang semua fikirannya yang negatif.